APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel LANGIT SENJA DAN JANJI KITA

LANGIT SENJA DAN JANJI KITA

Dua sahabat masa kecil yang sempat terpisah oleh waktu kini dipertemukan kembali lewat sebuah proyek sekolah yang tidak terduga. Pertemuan ini perlahan membangkitkan ingatan mereka tentang janji masa lalu yang pernah terucap di bawah langit senja. Di tengah kebersamaan yang terjalin lagi, mereka menyadari bahwa perasaan mendalam yang sekian lama terpendam ternyata tidak pernah benar-benar padam meski jarak dan waktu sempat memisahkan mereka.
Bab
Bagikan

Bab 1

Hari itu, cuaca di sekolah terasa sama seperti biasanya, namun bagi Luna, ada sesuatu yang berbeda. Angin sore menghembus lembut, menggoyangkan rambutnya ketika ia melangkah masuk ke ruang kelas, di mana ia dan beberapa siswa lain berkumpul untuk sebuah proyek sekolah. Papan tulis di depan ruangan dipenuhi dengan tulisan besar: *Proyek Kelompok: Pameran Sejarah Lokal.*

Luna menatap sekeliling ruangan, matanya menyisir wajah-wajah yang tak asing baginya, hingga akhirnya pandangannya terhenti pada satu sosok yang tak pernah ia duga akan dilihat lagi.

Raka.

Ia duduk di sudut ruangan, sibuk dengan buku catatannya, tampak tidak terlalu tertarik dengan suasana sekitarnya. Luna terdiam sejenak. Seolah waktu berhenti, ingatan masa kecilnya melintas begitu cepat, membawa kembali kenangan tentang seorang anak laki-laki yang dulu sangat dekat dengannya. Mereka dulu tidak terpisahkan. Setiap hari selepas sekolah, mereka akan berlarian di taman dekat rumah, membuat janji-janji kekanak-kanakan di bawah langit senja yang indah. Namun, seiring berjalannya waktu, kehidupan membawa mereka ke arah yang berbeda. Tanpa peringatan, persahabatan itu perlahan memudar.

Luna tidak pernah tahu alasan sebenarnya mengapa Raka menjauh. Mereka berdua bersekolah di tempat yang sama, namun bertahun-tahun tidak pernah berinteraksi. Dan sekarang, di sinilah mereka, dipertemukan kembali dalam sebuah proyek yang sama.

Guru mereka, Pak Arif, mulai membagi kelompok, dan dengan keberuntungan yang aneh, Luna dan Raka ditempatkan dalam kelompok yang sama. "Luna, Raka, kalian akan bekerja bersama-sama dengan Sinta dan Adi," ujar Pak Arif tanpa menyadari ketegangan yang tiba-tiba melingkupi ruangan itu.

Luna menelan ludah, gugup. Ia melirik Raka, yang terlihat tak menunjukkan reaksi apapun. Hatinya berdebar-debar saat ia melangkah mendekat ke meja di mana kelompok mereka akan berkumpul. Bagaimana ini akan berjalan? Apakah Raka masih mengingatnya? Ataukah ia sudah benar-benar melupakan masa lalu mereka?

"Luna," suara Sinta memecah lamunan Luna, "kamu setuju nggak kalau kita mulai riset dari buku-buku sejarah di perpustakaan?"

Luna mengangguk sambil tersenyum kaku, mencoba fokus pada pembicaraan, tapi pikirannya tak bisa lepas dari sosok Raka yang duduk di sebelahnya. Sesekali, ia meliriknya, mencari tanda-tanda pengakuan di mata Raka. Namun Raka tetap tenang, seperti tidak ada yang terjadi.

Setelah pertemuan kelompok selesai, Luna merasa ada sesuatu yang tidak terselesaikan. Ia berusaha mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan Raka. Sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, kata-kata itu keluar begitu saja.

"Raka," panggilnya, membuat Raka menoleh perlahan. Ada jeda sejenak sebelum Luna melanjutkan, "Kamu masih ingat aku?"

Raka terdiam, menatap Luna dengan pandangan yang sulit diartikan. Sekilas, matanya tampak mengenalinya, namun ada sesuatu yang menahan. Setelah beberapa detik yang terasa begitu lama, Raka mengangguk pelan.

"Iya, aku ingat," jawabnya singkat, tanpa senyuman, tanpa ekspresi lebih lanjut.

Jawaban itu membuat Luna sedikit lega, namun juga menambah kebingungannya. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan-mengapa mereka berhenti berbicara, mengapa Raka tiba-tiba menjauh bertahun-tahun lalu. Tapi melihat sikap dingin Raka, Luna menyadari bahwa mungkin, ini bukan saat yang tepat untuk menggali lebih dalam.

Hari itu berakhir dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, pertemuan dengan Raka membawa kenangan manis masa kecil kembali ke permukaan, namun di sisi lain, ia merasa ada jarak yang sangat besar di antara mereka sekarang. Jarak yang tak pernah ia pahami.

Saat Luna berjalan pulang, matahari mulai terbenam, menciptakan kilauan jingga di langit senja. Dia berhenti sejenak, memandangi langit yang sama seperti yang mereka tatap dulu, saat mereka masih kecil, saat segala sesuatu tampak lebih sederhana. Di bawah langit yang sama, Luna bertanya-tanya, apakah janji-janji masa kecil mereka masih tersisa? Ataukah semuanya sudah hilang bersama waktu?

Di kejauhan, Luna bisa merasakan bahwa ini bukanlah kebetulan. Pertemuan ini mungkin adalah kesempatan untuk mengungkap apa yang telah terkubur selama ini. Namun, ia juga tahu bahwa perjalanan ini tidak akan mudah. Karena di balik setiap kenangan indah, selalu ada rahasia yang tersembunyi di dalamnya.

Luna masih memandangi langit yang mulai memudar warnanya, teringat bagaimana dulu mereka sering kali berlomba-lomba menebak warna apa yang akan muncul di langit senja berikutnya. Saat itu, segalanya terasa begitu sederhana. Tidak ada rasa canggung, tidak ada jarak-hanya dua anak kecil yang menikmati waktu bersama. Namun sekarang, perasaan itu terasa jauh, seperti sebuah mimpi yang perlahan memudar.

Langkah kaki di belakangnya menyadarkannya dari lamunan. Luna berbalik dan terkejut melihat Raka berdiri tak jauh darinya, tangan dimasukkan ke saku seragam, matanya masih menatap ke bawah, seolah ragu untuk mendekat.

"Kamu masih suka lihat senja?" tanya Raka, suaranya pelan tapi jelas, memecah keheningan di antara mereka. Pertanyaan itu sederhana, tapi cukup untuk membuat dada Luna terasa sesak.

Ia mengangguk sambil tersenyum tipis. "Iya, masih," jawab Luna, menatap Raka dengan tatapan yang sarat pertanyaan, seolah meminta penjelasan tentang apa yang terjadi di antara mereka selama bertahun-tahun. Tapi, seperti yang diduganya, Raka tidak memberi jawaban. Hanya pertanyaan senja yang ia sampaikan, seakan itu sudah cukup untuk membuka percakapan pertama mereka setelah sekian lama.

"Kamu kenapa tiba-tiba menjauh?" Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Luna, meski ia tahu suasananya mungkin belum tepat. Namun, rasa penasaran yang terpendam selama bertahun-tahun itu tak bisa lagi ia tahan. Ia harus tahu.

Raka terlihat kaget mendengar pertanyaan itu, namun dengan cepat ia memasang ekspresi datar. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap Luna, seakan mencari kata-kata yang tepat, atau mungkin mencari cara untuk menghindar. Angin sore menghembus lembut, membuat suasana semakin dingin.

"Ada banyak hal yang terjadi waktu itu," kata Raka akhirnya, suaranya rendah dan berat. "Aku nggak tahu harus gimana, jadi aku pergi. Aku pikir... mungkin itu cara terbaik."

Luna menggigit bibirnya, mencoba menahan emosi yang tiba-tiba menyeruak. "Cara terbaik?" ulangnya pelan. "Kamu pikir dengan pergi begitu aja semua akan baik-baik aja?"

Raka tidak langsung menjawab. Ia memalingkan wajahnya, menatap senja yang hampir menghilang di balik cakrawala. "Aku nggak tahu, Luna. Mungkin aku salah. Tapi aku cuma anak kecil waktu itu, aku nggak ngerti apa yang aku rasain."

Kata-katanya membuat Luna terdiam. Rasa kecewa, marah, dan bingung bercampur aduk di dalam hatinya. Tapi di balik itu semua, ada sesuatu yang ia pahami. Waktu itu, mereka masih sangat muda. Mungkin benar, Raka tidak tahu bagaimana harus menghadapi perasaannya sendiri, apalagi pertemanan mereka yang mulai berubah.

"Aku juga nggak tahu," jawab Luna akhirnya, suaranya mulai melembut. "Aku cuma ingat, waktu itu aku kehilangan sahabatku, dan aku nggak ngerti kenapa."

Untuk pertama kalinya, Luna melihat sesuatu yang berbeda di mata Raka. Seperti ada rasa bersalah yang tersembunyi di balik sikap dinginnya. Dia mengangkat pandangannya dan berkata dengan nada yang lebih lembut dari sebelumnya, "Maaf."

Hanya satu kata, tapi itu cukup. Meskipun tidak bisa mengembalikan semua yang telah hilang, setidaknya itu adalah awal. Awal dari sesuatu yang mungkin bisa menyembuhkan luka yang telah lama mereka bawa.

Luna tersenyum kecil, merasakan sedikit beban di hatinya mulai terangkat. "Aku nggak tahu apa yang terjadi setelah ini, tapi mungkin kita bisa mulai lagi... pelan-pelan."

Raka mengangguk. "Iya, mungkin kita bisa," jawabnya dengan nada lebih tenang.

Mereka berdiri di sana untuk beberapa saat, tanpa kata-kata. Hanya ditemani oleh sisa-sisa cahaya senja yang perlahan menghilang, seakan memberi ruang untuk awal yang baru di antara mereka.

Hari itu, di bawah langit senja yang sama, Luna dan Raka tidak lagi dua orang asing yang dipisahkan oleh masa lalu. Mereka adalah dua orang yang berusaha menemukan kembali janji-janji yang dulu pernah mereka buat. Dan meskipun jalan di depan masih panjang, mereka tahu bahwa ini adalah langkah pertama menuju sesuatu yang lebih besar.

Senja akhirnya menghilang, meninggalkan langit yang gelap dan penuh bintang. Tapi bagi Luna, hari ini terasa seperti sebuah awal-awal dari perjalanan baru yang mungkin akan membawa mereka kembali ke masa-masa indah yang pernah hilang.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Luna merasa sedikit lebih ringan, seolah-olah bebannya sudah mulai terangkat sedikit demi sedikit. Raka mungkin belum sepenuhnya kembali, tapi dia ada di sana. Itu sudah cukup untuk sekarang.

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Istri Tomboy Sang CEO
8.8
Zella Polly, gadis tomboy yang tidak tahan dengan diskriminasi di rumahnya, harus menikah demi mendapatkan izin keluar dari sang ayah. Pada saat yang sama, CEO muda bernama Hugo Chavez terpaksa mencari istri untuk mengatasi rasa sakit hati setelah dikhianati kekasihnya. Demi kepentingan masing-masing, keduanya sepakat melakukan pernikahan kontrak. Akankah mereka berhasil menghadapi berbagai rintangan dan dinamika baru dalam kehidupan rumah tangga ini?
Sampul Novel Jodoh Terpilih
8.4
Akibat perbuatan Bulan yang tertangkap basah bermesraan dengan Arjuna, Mentari yang berketerbatasan harus menanggung akibatnya. Demi mengejar karier, Bulan menolak menikah dan menjadikan Mentari sebagai pengantin pengganti, meski sebenarnya ia dan Arjuna saling mencintai. Mentari pun terpaksa menikahi pria asing tersebut. Di tengah ujian cinta Bulan dan Arjuna, mampukah Mentari menemukan kebahagiaannya sendiri?
Sampul Novel Kupuaskan Nafsuku di Klub
8.2
Pasca putus cinta, hasrat besar yang dimiliki wanita ini tidak pernah lagi terpenuhi. Demi membantunya, sang sahabat mengajak dirinya bergabung ke sebuah klub lari malam yang tidak biasa, lengkap dengan celana khusus yang telah dipesan secara sengaja. Di tengah aktivitas yang sangat menguras tenaga tersebut, ia didera kelelahan hebat hingga kakinya lemas dan berulang kali memohon ampun. Saat mengira penderitaannya telah selesai, situasi mengejutkan terjadi ketika dua orang pria tiba-tiba melangkah masuk ke dalam tendanya.
Sampul Novel Pengantin Pengganti Yang Buruk Rupa
8.0
Angela selalu ditolak karena dianggap buruk rupa dan tak berharga. Hidupnya makin menderita saat dipaksa menggantikan kakak tirinya untuk menikah dengan Dimitri LaRocca. Dimitri adalah pemimpin mafia yang sangat ditakuti, kejam, buas, dan posesif. Kini, Angela harus terseret ke dalam dunia gelap pria misterius tersebut. Ia pun terjebak dalam sebuah pernikahan yang penuh dengan dominasi serta gairah yang berbahaya.
Sampul Novel Pesona Janda Anak Satu
8.9
Diusir dan diceraikan suami usai melahirkan anak laki-laki membuat hidup Laila hancur. Tragisnya, sang putra juga tak diakui keluarga suaminya meski berstatus pewaris. Tiga tahun berlalu, Laila bertransformasi menjadi wanita mandiri yang enggan membuka hati untuk cinta baru. Namun, keteguhannya goyah saat Malik, mantan kekasihnya, datang kembali demi mendapatkan cintanya. Akankah Laila menerima Malik atau tetap memilih hidup sendiri?
Sampul Novel Terjerat Pesona Sang Casanova
9.5
Bagi Regan, keputusan telah bulat dan penolakan bukanlah akhir dari segalanya. Ia justru tertantang untuk terus mengikat wanita yang sangat dipujanya. Walau perasaannya bertepuk sebelah tangan dan sang wanita berulang kali mencoba kabur, Regan takkan membiarkannya lolos. Obsesinya begitu kuat untuk menahan wanita itu di sisinya selamanya. Tak peduli seberapa keras ia ditolak dan dihindari, Regan bersumpah akan terus mengejar dan menjadikannya milik pribadi.