APKDock Logo
Sampul Novel Hingga Menjadi Kita

Hingga Menjadi Kita

9.7 / 10.0
Nissa, seorang siswi SMA, jatuh cinta pada guru Bahasa Indonesianya yang tampan, Ilyas. Ia melakukan berbagai cara untuk menarik perhatian sang guru di sekolah. Namun, akankah Ilyas membalas perasaan muridnya? Ataukah perbedaan usia dan status sosial menjadi penghalang mereka? Di tengah keraguan ini, Ilyas dihadapkan pada pilihan untuk menikahi wanita dewasa. Akankah cinta remaja Nissa berbalas manis atau berakhir bertepuk sebelah tangan?

Hingga Menjadi Kita Bab 1

"Nisa, letakkan cerminnya!" seruku, pada gadis berambut pendek itu.

Gadis itu mendongak, lalu menjawab dengan santainya. "Woke, Pak."

Kuembuskan napas berat. Harus sabar menghadapi siswi rewel itu. Kadang bersikap sopan, tetapi tidak jarang bersikap seenak jidat.

"Baik, sekarang buka halaman 55. Hari ini kita akan mempelajari Bab 5, tentang karya sastra puisi."

Para siswa menurut, tetapi lagi-lagi tidak dengan Nisa. Ia malah sibuk menyisir rambut sebahunya. Ada-ada saja yang dilakukan, membuatku geram.

"Nisa!" teriakku, sedikit emosi, "fokus pelajaran, jangan dandan terus!"

"Ashiaap!" Sisir yang dipegang, kini diletakkan di meja.

Aku berjalan mendekatinya, lalu menodongkan tangan untuk menyita barang yang mengalihkan perhatiannya itu ketimbang memperhatikanku.

"Sini, cermin dan sisirnya. Saya sita."

Wajahnya cemberut, lain dengan teman-temannya yang tertawa. "Kalau disita, Nisa pakai apa, dong? Emang Bapak mau gantiin yang baru?"

Haish!

Beli baru boleh saja. Masalahnya, memang ia mau dibelikan barang murah seharga di bawah lima puluh ribu? Dompet sedang masa kritis, bagaimana mungkin aku bisa menggantikan yang baru dan lebih mahal?

"Pak Sayang!"

"Eh!" Aku terlonjak. "Apa?"

Sorak-sorai dan tawa memenuhi seisi kelas. Memang aku pelawak yang patut ditertawakan? Kehidupanku saja sudah penuh jenaka. Namun, ketampananku menjadi plus-nya.

"Barusan kamu manggil saya apa? Coba ulangi!" desakku, membuat gadis itu menutup mulut menggunakan kedua tangannya.

Ia pikir, aku tidak mendengar?

"Manggil 'Pak Sayang', emang nggak boleh?"

Aku mendelik. Berani sekali mengatakannya.

"Kenapa harus ada kata 'Sayang'? Cukup panggil 'Pak' atau 'Pak Ilyas'."

Apa-apaan sembarangan menambahi embel-embel 'sayang'. Memang aku guru apa? Cukup dikenal sebagai guru mata pelajaran Bahasa Indonesia yang banyak fans di media sosial.

"Emangnya nggak boleh kalau anak didiknya sayang sama gurunya?" Pertanyaan konyol itu disambut suitan siswa lain.

"Boleh, tapi nggak gitu caranya. Saya nggak suka."

"Terus, sukanya yang kayak gimana?"

"Siswa yang nggak banyak tingkah. Kelihatan manis," kataku, sambil berlalu ke kursi guru.

"Berarti saya, dong?"

Aku berbalik, lalu menatapnya tajam. "Kamu?"

"Saya 'kan manis, Pak. Masih nggak mau ngakuin?"

Lagi-lagi, aku hanya bisa mengembuskan napas berat. Meladeni siswi itu, harus ekstra sabar. Untung aku bukan kang rayu seperti buaya pada umumnya, hanya kang baper yang pura-pura cuek di depan mereka. Aslinya? Ya, tetap biasa-biasa saja. Maksudnya baper kalau telat gajian.

"Iya, kamu manis." Gadis itu tersenyum, mengedip-ngedipkan matanya. "Tapi masih kalah sama gula."

Penghuni kelas tertawa serentak. Kulihat wajahnya memerah, mungkin menahan malu atau marah. Peduli apa, memang begitu kenyataannya. Berani mengawali, berani menerima akhir, bukan?

***

Jam pelajaran Bahasa Indonesia telah usai, itu berarti, waktunya pulang. Selesai berdoa dan menyalamiku, para siswa berbondong keluar kelas, kecuali Nisa. Dia memang suka cari perhatian, membuatku pegal meladeninya.

"Mana cerminnya, Pak?"

"Ada."

Gadis itu mendekat. "Mana?"

"Cermin kamu saya sita. Masak waktu pelajaran bawa barang begituan. Nggak teladan banget jadi siswa."

"Kata siapa saya nggak teladan?" tanyanya, mengerucutkan bibir.

Kumiringkan kepala, menatapnya yang masih menampakkan wajah masam. Sebenarnya manis, tetapi bukan seleraku. Dia terlalu bar-bar sebagai siswa perempuan kepada gurunya.

Bukan berarti tidak baik, hanya saja aku lebih suka wanita yang dewasa, umur dan pemikirannya.

"Kalau siswa teladan, apa prestasi yang bisa kamu banggakan sekarang?"

"Prestasi saya, mencintai Bapak."

Allahu Akbar!

Mengingat kejadian di kelas tadi, membuatku merenung di taman samping rumah ini. Bagaimana bisa seorang siswa mencintai gurunya sendiri? Apalagi guru baru sepertiku yang masih tiga bulan mengajar, wajar bukan kalau heran?

Tahu begitu, aku memilih kelas XI A yang terlihat kalem-kalem. Berbeda jauh dengan XI B yang membuatku lelah dan nyaris gila.

"Den Ilyas!" panggil Lili, anak Mbok Dami yang bekerja di rumahku. Rumah milik Mama, ding.

Aku yang semula fokus dengan koran, mendongak. "Sudah berapa kali saya bilang? Jangan panggil Den."

Gadis seusiaku itu menggaruk kepala. “I–iya, Den. Eh, Yas. Mau dibuatkan minum apa? Yang seger-seger kayaknya enak apalagi ini sedang sayang-sayangnya. Eh, siang-siangnya."

"Air putih hangat saja, Li. "

Gadis berambut panjang itu mengangguk, lalu berbalik. Aku menatap punggungnya yang menghilang di pintu.

Tak lama, ia datang membawa nampan berisi segelas air dan camilan. "Ini minumannya, Den. Eh, Yas."

Bisa kudengar embusan napasnya yang kasar. “Kenapa harus panggil nama langsung, sih? Kan, saya jadi ndak enak.”

“Nggak apa-apa. Kan, saya yang minta.”

Aku membalas dengan tersenyum, membuatnya malu-malu kucing. Kalau sedang seperti itu, ia terlihat seperti di bawah umurku dan kalau aku mengantarnya ke pasar kami sering dikira kakak adik. Anehnya, aku tidak marah, justru senang.

Sudah sejak lama, aku menginginkan seorang adik, tetapi harapan itu sirna. Papa meninggal beberapa tahun yang lalu. Dan sampai sekarang, Mama tidak ada niat untuk menikah lagi, meskipun usianya bisa dibilang masih muda untuk ibu anak usia 23 tahun kurang.

"Ini cemilannya, jangan lupa dimakan, Yas,” ucapnya, membuatku tersadar. “Nanti kalau ndak makan, malah jatuh cinta. Eh, jatuh hati. Duh, maksudnya jatuh sakit."

Perempuan itu menjadi salah tingkah, seperti hari-hari sebelumnya. Semenjak aku pulang kuliah dari kota seberang dan memilih mengajar di kota kelahiran. Aku menahan tawa untuk tidak menyembur di depannya. Pipi yang sudah merona itu takutnya terbakar.

Aku mengangguk dan mengulas senyum. Ia tipe gadis cerewet, tetapi menyenangkan karena kadang bisa menghiburku yang sering pusing mengoreksi tugas anak-anak. Seperti gadis desa pada umumnya, ia sopan dan lembut. Tidak jarang pula membuatku senyum-senyum sendiri melihat tingkahnya.

Bukan suka, hanya saja aku senang, setidaknya Mbok Dami tidak sendirian lagi. Ia ditemani putrinya yang baru lulus kuliah dan mengisi waktunya untuk menunggu panggilan kerja. Aku salut dengan kerja keras assisten Mama yang sudah bekerja puluhan tahun itu. Beliau rela banting tulang demi mencari rezeki untuk pendidikan yang layak atas ketiga anaknya.

"Jangan lupa dimakan, ya. Saya tinggal dulu ke belakang. Kalau rindu, bilang. Ndak baik kalau dipendam." Setelah mengucapkan itu, ia berlalu tanpa menengok ke belakang.

Niatnya ingin memintanya menemani, tetapi kadung pergi, ya sudah. Besok lagi.

Menikmati tanaman yang rapi karena dirawat suami Mbok Dami, mataku termanjakan oleh keindahannya. Dasar, jomblo, bisanya manja sama tanaman. Sama istri kapan?

Sebenarnya aku bukan tipe orang yang muluk-muluk, walaupun termasuk kategori ganteng. Hidung tidak terlalu mancung atau pesek, bibir tipis yang merona dari lahir, bentuk wajah oval, tetapi bukan lonjong. Kata orang-orang, yang paling indah adalah bagian mata, hitamnya memabukkan.

Harapannya memiliki istri yang salihah, penurut, perhatian, dan tidak banyak omong atau protes. Sesimpel itu, tetapi nyatanya belum ada yang nyantol, maksudnya belum ada yang cocok di hati.

Bukan bermaksud mempromosikan diri, lebih tepatnya menjabarkan ciri-ciri seorang Ilyas Aldevaro, bukan Aldebaran di sinetron itu, muka saja yang mirip. Eh, enggak, ding. Masih gantengan aku.

Melihat gelas berisi air putih, gegas kuambil, lalu meneguknya hingga tandas.

"Jangan lupa dimakan, ya. Saya tinggal dulu ke belakang. Kalau rindu, bilang. Ndak baik kalau dipendam."

Lanjut Membaca

Daftar Isi Hingga Menjadi Kita

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Derita Menantu Jelita
9.5
Kehidupan rumah tangga dalam novel modern "Derita Menantu Jelita" berubah drastis setelah sang suami mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan tragis. Situasi kian rumit ketika ayah mertua memutuskan tinggal bersama mereka. Demi menjaga kelangsungan garis keturunan, sang suami nekat melakukan aksi ekstrem dengan diam-diam membius istri dan ayahnya sendiri. Keputusan tersebut memicu rangkaian peristiwa misteri yang tak terkendali dan mengubah nasib mereka selamanya.
Sampul Novel DOSEN ITU SUAMIKU
9.5
Kehidupan kampus Bunga mendadak gempar setelah ia mengetahui kebenaran yang mengejutkan. Ezza, pria yang dijodohkan dengannya dan kini sah menjadi suaminya, tiba-tiba hadir sebagai dosen baru di sana. Kemunculan Ezza yang tidak disangka-sangka ini langsung memicu kecurigaan besar dalam benak Bunga. Ia pun mulai menyangsikan tujuan sebenarnya dari sang suami. Apakah ada rencana rahasia yang disembunyikan Ezza, ataukah semua ini murni ketidaksengajaan?
Sampul Novel Gadis 100 juta (fatamorgana)
9.6
Demi menebus adiknya yang diculik, Daiva Gayatri Maheswari terpaksa menjual kesuciannya kepada Keyko Khayang Gumelar seharga 100 juta rupiah. Namun, takdir membawanya bertemu Damian, seorang duda tampan, di sebuah supermarket tanpa sengaja. Kini, Daiva berada di persimpangan asmara saat kedua pria itu mulai memperebutkan cintanya. Siapakah yang akan Daiva pilih sebagai pendamping hidupnya di tengah bayang-bayang masa lalu yang kelam?
Sampul Novel IPARKU, CANDU SUAMIKU
9.8
Nadia Antika rela bersabar atas perlakuan buruk ibu mertuanya demi membina rumah tangga bersama Askara Brahma selama dua tahun. Namun, kehangatan Askara mendadak hilang dan ia berubah menjadi sangat dingin. Perubahan drastis ini memicu kecurigaan Nadia akan adanya rahasia kelam. Akankah ia sanggup menghadapi kenyataan pahit saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan adik iparnya sendiri di dalam rumah mereka?
Sampul Novel Istri Untuk Suamiku
8.6
Divonis kanker rahim stadium lanjut membuat Fatma harus mengubur mimpinya memiliki keturunan. Demi kebahagiaan sang suami, Satria, ia rela memintanya untuk beristri lagi. Namun, di balik keputusannya, terungkap fakta menyakitkan bahwa Satria sebenarnya tidak pernah mencintai Fatma. Walau Satria sempat menolak demi menjaga perasaannya, Fatma tetap memohon sambil menangis agar keinginan terakhirnya dikabulkan sebagai bukti ketulusan cintanya.
Sampul Novel Jadi Wanita
9.1
Sota, pemuda malas berusia dua puluh tahun, lebih memilih menganggur dan sibuk dengan gawainya meski ia sangat cerdas dan licik. Kebiasaan buruk ini membuat ibunya, Artisa, merasa sangat khawatir. Sebagai pekerja keras yang juga punya sisi licik, Artisa bertekad mengubah tabiat putranya secara total. Ia pun mengambil langkah ekstrem dengan mengubah fisik Sota. Akankah rencana drastis Artisa berhasil mengubah jati diri sang anak melalui transformasi tubuh ini?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan