
Kutandatangani Dosa Mereka
Bab 2
"Kamu juga tahu, sekarang Hanaya sedang hamil, emosinya agak tidak stabil ... "
Aku tanpa ekspresi mengalihkan pandangan dan langsung menuju ke kamar tidur.
Begitu pintu terbuka, aroma parfum menyengat langsung menyerbu hidungku.
Di atas ranjang tergeletak berantakan beberapa pakaian dalam seksi yang jelas bukan milikku, sementara di meja samping ranjang terpajang foto mesra Hanaya dan Ferdi.
"Kalian tidur di ranjangku?"
Aku berbalik dan menatapnya dengan dingin.
Ferdi panik dan buru-buru menjelaskan.
"Itu cuma sementara! Setelah Hanaya melahirkan, aku akan suruh dia pindah ... "
"Tidak perlu."
Aku memotong ucapannya, "Aku ke sini hanya untuk mengambil barang-barangku."
Aku berjalan cepat menuju lemari, tapi begitu dibuka, isinya sudah penuh dengan pakaian bermerek milik Hanaya.
Pakaian aku diserakkan sembarangan ke dalam sebuah koper, lalu dilempar begitu saja di sudut ruangan.
"Tiara, jangan begini ... "
Ferdi mencoba menggenggam tanganku dan berkata, "Aku tahu ini berat buatmu, tapi ... "
Aku mengibaskan tangannya, saat hendak menarik koper dan pergi, notifikasi mendadak muncul di layar ponsel.
[Berita Menggemparkan! Mantra putri Keluarga Lindra menandatangani surat pengakuan kesalahan, mengakui mencuri rahasia Perusahaan Lukito!]
Di bawah berita terpopuler, semua komentar menyatakan keterkejutan.
["Astaga, putri Keluarga Lindra yang terhormat bisa-bisanya mencuri rahasia perusahaan?"]
["Awalnya aku kira dia cuma menggantikan Hanaya sebagai kambing hitam, tak menyangka ternyata benar-benar dialah pelakunya!"]
["Orang seperti ini pantas masuk penjara!"]
Mataku membelalak, aku menatap Ferdi dengan tatapan tak percaya.
Aku sudah menuruti permintaannya dan menandatangani surat itu, tapi dia bahkan tak sanggup menepati janjinya untuk merahasiakannya.
Ferdi melihat isi layar ponselku, wajahnya tampak canggung.
"Ini ... Tiara, dengar dulu penjelasanku ... "
"Aku ... Awalnya aku memang ingin merahasiakannya, tapi kamu juga tahu, Hanaya sedang hamil, dan dia juga termasuk salah satu tersangka, untuk melindunginya, jadi ... "
Saat kekecewaan yang terlalu dalam, yang tersisa hanyalah ketenangan.
"Tak apa."
Aku menyembunyikan emosi di mata, lalu menyimpan ponsel.
"Lagipula tiga hari lagi juga akan sidang."
Ferdi jelas merasa lega, lalu memegang tanganku dengan pura-pura tulus.
"Tiara, syukurlah kamu bisa mengerti. Kamu tenang saja, setelah kamu masuk, aku akan menjaga ayah ibumu dengan baik-baik."
Aku menahan rasa mual dan menarik kembali tanganku, lalu memilih kamar lain untuk tinggal.
"Di tengah malam yang sunyi, aku menelpon sebuah nomor yang sudah lama tersimpan."
Begitu telepon tersambung, aku menarik napas dalam-dalam.
"Pak Lukito, saya Tiara Lindra. Ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan langsung dengan Anda."
Keesokan paginya, aku bangun lebih awal dan merapikan segalanya.
Namun tepat saat aku hendak keluar rumah, aku bertemu dengan Ferdi di pintu masuk.
Melihat penampilanku yang sudah rapi, dia mengerutkan dahinya.
"Pagi-pagi begini, mau ke mana?"
"Ada urusan."
Aku menunduk mengganti sepatu, menghindari tatapannya.
Tiba-tiba Ferdi menekan gagang pintu dengan tangannya, nada suaranya berubah dingin.
"Sekarang ini adalah masa yang sangat sensitif, sebaiknya kamu jangan sembarangan keluar."
"Kamu sekarang dalam masa penangguhan penahanan, bagaimana kalau ada orang yang mengenalimu ... "
Aku tak ingin berdebat dengannya, langsung berkata dengan suara dingin.
"Minggir."
Wajah Ferdi langsung menggelap. Dia mencengkeram pergelangan tanganku dengan keras membuatku meringis kesakitan.
"Tiara, sebaiknya kamu menyadari keadaanmu sekarang!"
Aku berusaha melepaskan diri, tapi dia malah menarikku ke lantai atas.
Jarinya mencengkeram dagingku seperti sebuah penjepit besi.
"Kelihatannya aku terlalu baik padamu ... "
Dia tiba-tiba melepaskanku, menepuk-nepuk tangan, lalu dua sosok pria berbaju hitam langsung muncul di sampingnya.
"Ikat dia dan kurung di ruang bawah tanah, jangan biarkan dia keluar sebelum persidangan!"
Begitu Ferdi memberikan perintah, dua pria berbaju hitam itu langsung mengikatku.
Aku berusaha keras melawan tapi sia-sia, hanya bisa menatap Ferdi dengan tatapan tajam sambil meninggikan nada suara.
Anda Mungkin Juga Suka





