
Kutandatangani Dosa Mereka
Bab 3
"Ferdi, kamu bermaksud mengurungku?"
Tatapan matanya dalam dan penuh makna.
"Tiara, jangan salahkan aku, ini kamu yang memaksaku."
Ruang bawah tanah itu dingin dan lembap, satu-satunya sumber cahaya adalah sebuah bola lampu kuning redup.
Ferdi berdiri di depan pintu, wajahnya tak terlihat jelas karena cahaya yang memancar dari belakangnya.
Dengan nada dingin dia berkata, "Sebelum sidang, kamu tetap tinggal di sini."
Begitu ucapannya selesai, anak buahnya langsung mendorongku masuk.
Langkahku goyah, tubuhku terhuyung dan membentur dinding, bahuku terasa nyeri luar biasa.
"Ugh ... "
Aku mengerang kesakitan, lalu menatapnya dengan mata penuh kebencian.
Mata pria itu berkedip sejenak, lalu memerintahkan mereka untuk melepaskan tali yang mengikatku.
Dia mengeluarkan sebuah kalung yang dipenuhi berlian dari dalam saku.
"Tiara ... " suaranya terdengar seolah menyesal.
"Kalung ini aku pesan khusus untukmu. Anggap saja sebagai kompensasi."
Dia menyerahkan kalung itu di hadapanku, berlian-berlian itu berkilauan dengan cahaya menyilaukan di bawah lampu yang redup.
Aku menatapnya dengan dingin, tanpa mengulurkan tangan.
"Kenapa? Kamu takut aku kabur, jadi pakai barang ini untuk menenangkanku?"
Raut wajah Ferdi membeku sesaat, lalu dia menghela napas.
"Aku hanya ingin kamu tahu, aku masih ada perasaan kepadamu."
Aku tertawa sinis dan berkata, "Ferdi, apakah perasaanmu hanyalah membuatku menanggung kejahatan untuk kekasihmu, lalu mengurungku di ruang bawah tanah?"
Wajahnya Ferdi mengeras, belum sempat membuka mulut, suara Hanaya terdengar dari atas tangga.
Dia melangkah turun dengan cepat, dan langsung merebut kotak kalung itu.
"Cantiknya kalung ini!"
"Kak Ferdi, ini buat aku ya?"
Ferdi tertegun sejenak.
"Hanaya, itu sebenarnya buat ... "
"Aku nggak peduli, pokoknya aku mau!"
Hanaya langsung mengenakan kalung itu ke lehernya, kemudian merengek dengan tidak puas.
"Kakak sebentar lagi akan masuk penjara, memakai kalung secantik ini juga sia-sia."
Ferdi memandangku, lalu menatap Hanaya, akhirnya dengan penuh kasih sayang menyerah.
"Baiklah, kalau kamu suka, ambil saja."
Hanaya sudah mendapatkan keuntungan, tapi masih saja tidak puas.
Dia mengerutkan kening dan berkata, "Tapi kalau hadiah kakak diberikan padaku, lalu bagaimana dengan kakak? Bagaimana kalau ... "
Dia berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis, melepaskan kalung lamanya yang sudah usang dari lehernya, lalu menyerahkannya padaku sambil berkata, "Bagaimana kalau kalung ini saja dijadikan hadiah untuk kakak?"
Ferdi pura-pura tidak tahu tentang perilaku buruknya, lalu berkata padaku, "Tiara, kamu lihat kan bagaimana perhatiannya Hanaya padamu, aku yakin kalian berdua pasti bisa akur di masa depan."
Aku menatap kalung perak itu yang memantulkan kilau redup di bawah cahaya lampu, lalu tertawa pelan penuh ironi.
Ferdi melanjutkan berkata, "Oh iya, Tiara, mengingat Hanaya sudah hamil, sedangkan kamu ... "
Dia terdiam sejenak, "Dokter pernah bilang kamu sulit punya anak, maka aku memutuskan untuk membatalkan pertunangan kita dan menikahi Hanaya."
Meski aku sudah menyiapkan diri secara mental, kata-kata itu tetap terasa seperti pisau yang menusuk jantungku.
"Tapi kamu jangan khawatir, aku bukan orang yang sekejam itu."
"Setelah kamu keluar dari penjara, aku akan mencarikan tempat tinggal dan pekerjaan untukmu, bagaimanapun, kita dulu pernah ... "
Aku tertawa dingin sambil memotong ucapannya, "Ferdi, kamu benar-benar kira aku akan percaya omong kosongmu?"
Hanaya merangkul lengannya Ferdi sambil menatapku dengan pandangan merendahkan.
"Kakak, jangan tak tahu diri."
"Kak Ferdi cuma kasihan sama kamu, wanita seperti kamu yang tidak bisa punya anak, siapa lagi yang mau?"
Aku mengepalkan tangan erat-erat, kuku-kuku menancap dalam ke telapak tanganku.
Rasa sakit membuatku tetap sadar, mengingatkanku untuk tidak bertindak gegabah.
Saat ini masih belum waktunya untuk melawan balik.
Di tengah malam, pintu ruang bawah tanah tiba-tiba dibuka oleh seseorang.
Aku mengernyit dan menatap ke atas, lalu melihat Hanaya masuk ke dalam.
Hanaya melangkah masuk ke ruang bawah tanah dengan sepatu hak tinggi, memandangku dari atas dengan pandangan merendahkan, sambil tersenyum penuh kesombongan.
Anda Mungkin Juga Suka





