APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kupuaskan Nafsuku di Klub

Kupuaskan Nafsuku di Klub

Pasca putus cinta, hasrat besar yang dimiliki wanita ini tidak pernah lagi terpenuhi. Demi membantunya, sang sahabat mengajak dirinya bergabung ke sebuah klub lari malam yang tidak biasa, lengkap dengan celana khusus yang telah dipesan secara sengaja. Di tengah aktivitas yang sangat menguras tenaga tersebut, ia didera kelelahan hebat hingga kakinya lemas dan berulang kali memohon ampun. Saat mengira penderitaannya telah selesai, situasi mengejutkan terjadi ketika dua orang pria tiba-tiba melangkah masuk ke dalam tendanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Pada akhir lari malam itu, seluruh tubuhku tampak seperti baru saja mengalami pertarungan cinta yang hebat.

Kakiku terasa lemas, basah oleh keringat, bahkan napasku pun bergetar dengan cara yang tidak semestinya.

"Kamu berlari dengan baik untuk pertama kalinya." Dimas menyerahkan handuk kepadaku, sekali lagi terlihat seolah-olah tidak ada yang terjadi.

Aku mengambil handuk itu, mencoba untuk tetap tenang, tetapi aku merasa seluruh tubuhku gemetar.

"Kamu belum pernah mengikuti kelas peregangan, 'kan?"

Aku menatapnya, tenggorokanku kering sampai terasa sesak. "Peregangan apa?"

Dia menatapku sambil tersenyum, suaranya rendah dan menggoda, "Peregangan yang membuat tubuhmu lebih rileks."

Setelah mengatakan itu, dia berbalik, lalu masuk ke dalam tenda.

Laura muncul dari sisi lain, lalu duduk di sampingku. Wajahnya dipenuhi dengan kebahagiaan karena merasa puas.

"Jangan takut, wanita nakal. Lari pertamaku lebih buruk darimu. Aku kembali dengan kaki selemas mi," ujar Laura.

Aku bertanya kepadanya dengan ragu-ragu, "Uh …. Bagaimana caranya melakukan kelas peregangan itu?"

Dia tersenyum seperti rubah licik. "Kamu akan tahu begitu kamu masuk."

Aku menelan ludah.

Tenda itu hanya diterangi dengan lampu kecil yang redup. Lantainya ditutupi dengan matras yoga, sementara di udara ada aroma mint dan sedikit ... keringat pria.

Dimas berdiri di tepi matras sambil menjulurkan jarinya ke arahku.

"Datanglah padaku, membungkuklah, lalu hadapkan wajahmu sejauh mungkin ke lantai," ujar pria itu.

Aku membeku di tempat, masih mencerna kata-katanya.

Ketika dia melihatku tidak bergerak, dia mengangkat alisnya, lalu berkata, "Apa kamu takut aku akan memakanmu?"

Aku tidak bisa mengatakan apa-apa, hanya bisa mengikuti instruksinya.

Telapak tangan yang panas mendarat di bagian belakang pahaku, bergerak ke atas menyusuri garis-garis otot.

"Otot-ototmu terlalu tegang, perlu dilonggarkan sedikit."

Setiap gerakan jarinya seperti menyalakan api.

Ketika dia menyentuh pangkal pinggulku, tubuhku tersentak.

"Jangan bersembunyi." Suaranya merendah, "Lakukan peregangan secara perlahan, atau kamu akan mudah terluka."

"Kamu … kamu menyentuhku …."

"Di mana?"

"Kamu jelas tahu."

Dimas tidak mengatakan apa-apa, hanya perlahan-lahan bergerak ke atas. Ujung jarinya dengan lembut menekan noda basah di area selangkangan celanaku.

"Ini adalah tempat yang paling mudah membuat gugup," kata Dimas.

Napasku tercekat. Aku mencoba melepaskan diri, tetapi pinggulku ditahan dengan lembut olehnya.

"Tenang saja." Telapak tangannya yang hangat menekanku. "Kamu harus mempelajari peregangan malam ini."

Kata-katanya seperti sebuah mantra, yang perlahan-lahan menghilangkan sisa-sisa kewaspadaanku.

Aku tidak berani menggerakkan tubuhku. Namun, bagian itu perlahan menegang dan bergetar, seakan merindukan kehadiran yang lebih dalam.

Tiba-tiba, Dimas menyelipkan satu tangan di bawah pinggangku, menopang bahuku dengan tangan yang lain, lalu membalikkan tubuhku.

Lututnya berada di antara kedua kakiku, seolah memaksaku untuk melebarkannya.

Aku mengepalkan tangan tanpa sadar, suaraku bergetar, "Kamu …. Apa yang kamu lakukan …."

Dia tidak menjawab, hanya menatap kain yang basah kuyup oleh keringat, serta menempel di dadaku.

"Apa kamu tahu?" Dia menundukkan kepala, membuat wajahnya berada dekat dengan dadaku. Napasnya memburu ketika berkata, "Aku sangat suka melihatmu ketakutan, tapi juga menginginkannya di saat yang sama."

Tenggorokanku tercekat. Aku tidak bisa menghentikan kakiku yang mulai melemas.

"Kamu …. Jangan main-main …."

"Menurutmu apa yang aku lakukan di kelas?" Dimas tersenyum di telingaku. "Mandy, aku sudah merasakan keinginanmu malam ini."

Tubuhku membeku, tanpa sadar aku mencoba menopang tubuhku untuk berdiri. Namun, dia menekan pergelangan tanganku, membuat seluruh tubuhku tenggelam ke dalam matras, tidak bisa bergerak.

"Nggak …" erangku dengan wajah memerah.

Dimas membungkuk, bibirnya hampir menyentuh tulang selangkaku.

"Melihat penampilanmu sekarang, apakah kamu nggak menginginkannya, atau kamu nggak ingin berhenti?" tanyanya.

Saat otakku seakan hampir meledak, tirai tenda dibuka oleh seseorang.

Seorang pria yang bertelanjang dada melangkah masuk sambil membawa dua botol anggur di tangannya.

Dia menatapku sambil menjilati sudut mulutnya. "Kak Dimas, gadis ini …. Apa kamu ingin bermain bertiga malam ini?"

Panas yang menyengat di tubuhku belum reda, tetapi hatiku sudah kembali bergetar. "Bermain bertiga?"

Dimas hanya menjawab dengan acuh tak acuh, "Tentu saja dia bersedia."

Dia menatapku dengan tangan yang masih menekan pangkal kakiku. Tatapannya sedikit turun ketika dia berujar, "Mandy, bermain bertiga adalah cara terbaik bagi kita untuk menghilangkan stres."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tak Mau Dimadu
9.7
"Aku menolak dipoligami!" tegas diriku. Tidak ada istri yang sudi berbagi cinta, begitu pula denganku. Keadaan terasa kian menyiksa karena calon maduku ternyata perempuan dari masa lalu yang pernah mengisi hati suamiku. Naya, ingatlah ini: sampai embusan napas terakhirku, aku bersumpah takkan membiarkanmu merebut suamiku. Aku akan berjuang mempertahankan pernikahan ini dan memastikan kau tidak akan pernah bisa memilikinya kembali.
Sampul Novel Anak Kembar Rahasia Milyader
9.2
Akibat kekeliruan kecil di depan Ben Clayton, CEO New York yang sangat berkuasa, hidup Ivy Anderson kini terancam. Ben yang terobsesi mulai melancarkan siasat licik untuk menjebak Ivy, bahkan mendekati anak kembar Ivy, Terra dan Terry. Demi melindungi buah hatinya, Ivy terpaksa menyerah pada ancaman kejam pria tersebut. Mampukah Ivy melarikan diri dari jeratan berbahaya ini, atau ia akan selamanya terjebak dalam kendali dominasi Ben yang gelap?
Sampul Novel Ayah Mertuaku, Musuhku
8.3
Kehilangan suami membuat dunia Laras runtuh, tetapi perhatian hangat mertuanya menjadi kekuatan baru. Namun, Rizqan, sang kakak ipar, ternyata memendam perasaan mendalam padanya. Ketika malam berhujan mempertemukan mereka di ruang tamu, obrolan intim pun tak terhindarkan. Rizqan akhirnya menyatakan cinta rahasianya, memicu kebimbangan besar di hati Laras. Di tengah keheningan malam, keduanya pun hanyut dalam pesona terlarang yang melenyapkan kesedihan mereka.
Sampul Novel Disekap Wanita Yang Menginginkan Suamiku
8.9
Niat Laras menyelamatkan diri dari rumah justru berujung petaka ketika ia dan ketiga anaknya diculik sopir travel. Di tempat penyekapan yang kejam, ia harus kehilangan salah satu buah hatinya. Tragedi memilukan ini menyalut dendam mendalam, memicu tekadnya membongkar dalang serta motif di balik aksi keji ini. Kini, Laras harus berjuang demi menyelamatkan anak-anaknya yang tersisa sekaligus meloloskan diri dari ancaman maut yang mengintai.
Sampul Novel Gairah
8.4
Cinta sering kali dianggap indah, tetapi bagaimana jika perasaan itu tumbuh untuk seseorang yang telah berkomitmen dengan sosok yang sangat kita sayangi? Kisah romansa dewasa ini menyoroti pergolakan batin yang menyiksa serta hasrat terlarang yang membara. Di tengah situasi yang begitu rumit, kesetiaan dan hati nurani para tokohnya benar-benar diuji dalam menghadapi dilema asmara yang penuh rintangan ini.
Sampul Novel Kehangatan selimut cinta
8.7
Sophia, seorang wanita berparas unik dengan gairah asmara membara, tiba-tiba dihadapkan pada situasi menegangkan. Saat hendak melangkah keluar dari kamarnya, sebuah tangan misterius mencengkeram bahunya dengan kasar dari belakang. Tubuhnya seketika terdorong hingga terbentur dinding di dekat pintu. Sophia yang terkejut hampir saja berteriak histeris, namun sebuah tangan lain langsung membungkam mulutnya dengan paksa. Pertemuan tak terduga yang penuh desakan ini memicu ketegangan yang begitu mendalam.