APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kukira Dia Cinta, Ternyata Pemberi Luka

Kukira Dia Cinta, Ternyata Pemberi Luka

Saat Riko Fosa dan keluarganya bersiap menghalangi Nisa di rumah sakit demi kelahiran anak Erni, Nisa justru memilih tidak hadir. Riko yang mengira istrinya hanya egois karena tidak mau menerima anak tersebut, berniat memaafkannya jika Nisa bersedia meminta maaf. Namun, Riko tidak menyadari bahwa Nisa telah mengambil keputusan besar. Dia mendaftarkan diri ke PBB untuk menjadi dokter lintas batas dan bersiap mencabut kewarganegaraannya, meninggalkan Riko selamanya tanpa ada kesempatan untuk bertemu lagi.
Bab
Bagikan

Bab 4

"Kak Nisa, tadi dari jauh aku melihat seseorang mirip sekali denganmu. Tapi, Riko malah bersikeras bilang kamu nggak mungkin ada di sini," ucap Erni.

Tatapannya kemudian jatuh pada lembaran brosur lowongan kerja yang ada di tanganku. Dia tersenyum seolah-olah mengerti segalanya.

"Ternyata kamu sedang mencari pekerjaan, ya? Tapi kenapa sampai terpikir untuk jadi pelayan?"

"Sekalipun kamu sedang kesal sama Kak Riko, nggak perlu sampai menyakiti dirimu sendiri seperti ini …. "

Aku diam saja. Brosur itu sebenarnya baru saja diselipkan oleh seorang gadis muda di pinggir jalan. Melihat dia berdiri membagikan selebaran di tengah cuaca yang dingin, aku pun hanya sekadar menerimanya.

Lantaran aku tidak berkata apa pun dan hanya menggenggam selebaran itu erat-erat, sorot mata Erni tampak menyiratkan rasa puas, sementara senyumnya menjadi makin congkak.

"Kalau dari awal kamu bilang sedang mencari pekerjaan, mungkin aku bisa bantu sesuatu. Bagaimanapun juga, kita ini satu keluarga. Kalau kamu hidup dengan baik, Riko dan anaknya juga akan punya sandaran di masa depan, aku pun bisa tenang," timpal Erni.

Bagi orang lain, kesunyianku saat itu mungkin tampak seperti pengakuan diam-diam.

Ekspresi Riko yang semula hanya tampak bingung, seketika berubah kelam. Alisnya mengernyit, wajahnya tampak emosi, dan tatapan yang diarahkan padaku penuh dengan penghinaan.

"Apa yang mau dikenalkan? Dia sendiri yang bersikeras berhenti dari pekerjaan dokter yang bagus itu. Sekarang meski sampai kelaparan di jalan pun, nggak ada yang patut dikasihani."

"Nisa, nggak kusangka demi memaksaku melepaskan anak ini, kamu bisa bertindak begitu keji. Aku benar-benar kecewa padamu!" pungkas Riko dengan ketus.

Aku menatap wajahnya yang dulu begitu kukenal, tetapi kini terasa sangat asing. Masih kuingat, di awal pernikahan kami, ketika aku ingin berhenti kerja karena persaingan tidak sehat di rumah sakit, Riko memelukku dan menepuk lembut punggungku, lalu menenangkan dengan suara hangat, "Kita ini suami-istri, satu kesatuan. Apa pun keputusanmu, aku akan mendukungnya. Berhenti kerja bukan masalah besar. Sayang, aku akan selalu bersamamu."

Namun, sekarang, dia justru membiarkan perempuan lain menghina dan merendahkanku di depan umum. Dia telah melupakan janji yang dulu diucapkannya, seolah juga melupakan cinta mendalam yang pernah kami miliki. Bahkan kedua mertuaku hanya menggeleng dengan wajah sangat jijik.

"Nisa, kau ini wanita mandul, cuma tahu kerja dan jarang di rumah. Apa yang bisa kamu bandingkan dengan Erni?"

"Dengan sifatmu seperti ini, wajar kalau Riko mencari wanita lain. Ini salah siapa? Salahmu sendiri karena nggak punya daya tarik!"

Kata-kata mereka makin menjadi-jadi, hingga orang-orang yang lewat mulai menatap kami dengan penasaran. Tanganku yang terkulai di sisi tubuh mengepal dengan erat hingga kuku menancap ke dalam daging.

Saat aku hendak berbicara, Erni tiba-tiba mendekatiku dan berkata, "Kami sedang bersiap untuk memotret foto keluarga. Kak Nisa, ayo ikut juga. Lagi pula, nanti di sisa hidupku, aku juga akan menitipkan Riko dan anak ini kepadamu."

Aku menatapnya sekilas, tanpa berkata apa-apa. Riko yang berada di sampingku tampak tidak senang. Dia segera merangkul Erni, melindunginya, lalu menatapku dengan tatapan penuh penghinaan.

"Erni, aku tahu kamu berhati baik, tapi orang seperti dia belum tentu tahu berterima kasih."

"Nisa, untuk siapa kamu menunjukkan ekspresi seperti itu? Kamu ikut atau nggak ikut, terserah padamu. Tapi, kalau kamu ikut foto, yang ada hanya merusak citra keluarga kami."

Selesai berbicara, Riko langsung menggandeng Erni pergi menuju studio foto.

"Kalau begitu, kami duluan ya, Kak Nisa. Aku nggak ganggu kamu cari kerja lagi," ujar Erni.

Sebelum pergi, Erni sempat melirikku dengan pandangan sarat makna.

Melihat punggung mereka yang makin menjauh, hatiku sudah tidak bergolak lagi. Di mata orang lain, mereka tampak seperti keluarga yang harmonis dan bahagia. Jika itu kehidupan yang diinginkan Riko, biarlah aku melepaskannya dengan lapang.

Beberapa hari sebelum aku pergi, tepat tiga hari menjelang keberangkatan, aku menerima pesan dari direktur rumah sakit.

Dia mengatakan bahwa dokter ahli yang pernah membantuku kebetulan sedang berada di dalam negeri untuk menghadiri forum medis. Dokter ahli ini juga bisa menyempatkan waktu untuk memeriksa asma ibu mertuaku.

Ibu mertuaku memang sudah lama mengidap asma. Meski kini kondisinya terkendali, penyakit itu kerap kambuh sewaktu-waktu. Beberapa tahun lalu bahkan sempat dilarikan ke rumah sakit untuk pertolongan darurat.

Selama ini, akulah yang terus merawat dan menyesuaikan pola hidupnya. Bahkan ketika aku melanjutkan pendidikan di luar negeri, aku masih meminta bantuan rekan-rekan dokter di sana untuk mengumpulkan kasus serupa agar bisa kupelajari lebih dalam.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gadis Bucin Dan Cowok Dingin
8.3
Logika kerap kali buta karena asmara, menyisakan luka mendalam di dalam dada. Walau diwarnai kepedihan dan obsesi, perasaan ini rupanya menyimpan kekuatan misterius. Siapa sangka, kasih sayang justru hadir sebagai obat paling mujarab untuk memulihkan duka? Kisah ini mengulas bagaimana keajaiban sebuah rasa mampu menyentuh relung jiwa terdalam, sekaligus mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan yang nyata bagi mereka yang merasakannya.
Sampul Novel Hanya Pria Tak Berguna
9.3
Lima tahun membina rumah tangga, pernikahan ini hancur seketika saat Vincent Amjaya membawa pulang cinta pertamanya, Cindy Harris, yang tengah hamil tiga bulan. Alih-alih merasa bersalah, Vincent justru menuntut istrinya untuk menampung wanita itu di rumah pernikahan milik keluarga sang istri. Lupa bahwa seluruh keluarganya hidup dari kekayaan sang istri, kesombongan Vincent memicu serangan balik. Tanpa ragu, sang istri memutuskan menghentikan semua bantuan finansial dan segera menyiapkan surat cerai.
Sampul Novel Harga Seorang Ratu Mafia
9.5
Pernikahan politikku dengan Marco Ricci demi menyatukan dua klan besar Jakarta hancur setelah aku memergokinya bermesraan dengan Angelia, gadis yatim yang diklaim sebagai adiknya. Menyadari diri ini hanya alat kekuasaan sementara cinta Marco milik wanita lain, aku memilih berontak. Kubatalkan pertunangan kami, lalu kuputuskan menikahi Dante Wiryawan, rival terberat keluarga kami. Aliansi baru yang tak terduga kini resmi dimulai.
Sampul Novel On CEO's Bed
8.6
Alyssa nekat mendatangi kediaman Assa Zachary demi menghindari kejaran penagih utang sang ayah. Ia membawa surat wasiat, berharap sang miliarder mau membereskan masalah keuangan keluarganya. Namun, harapannya hancur saat ia justru dikurung di dalam rumah megah tersebut. Kini, Alyssa harus bertahan di tengah ketidakpastian janji Assa. Mampukah ia lolos, atau justru akan terseret semakin dalam ke dalam kehidupan penuh rahasia gelap milik pria itu?
Sampul Novel Saat Istriku Memilih Mati
8.0
Kematian mendadak sang istri yang mengakhiri hidupnya sendiri menyisakan kepedihan mendalam bagi suami dan ketiga anak lelaki mereka yang masih kecil. Tanpa peringatan apa pun, rahasia kelam di balik keputusan tragis ini perlahan terkuak. Sang suami, yang awalnya merasa telah membangun keluarga yang ideal, kini harus menghadapi dampak buruk dari perilakunya selama ini. Di bawah tekanan dari pihak mertua, ia kini hanya bisa menyesali kesalahan masa lalu yang mustahil untuk ia ubah kembali.
Sampul Novel Tingkat Nol Cinta, Bagian 2
9.7
Pelanggaran aturan sakral oleh Lucía Vega dan Bruno Ortega akhirnya terdeteksi sistem NCA. Hubungan terlarang mereka kini terancam oleh Julián Iriarte, analis yang mulai mengendus konspirasi emosional ini. Lucía dan Bruno tidak lagi tunduk, menjadikan cinta mereka senjata untuk mengancam stabilitas kekuasaan. Tanpa jalan kembali, mereka harus menghadapi perang terbuka saat semua topeng hancur dan masa lalu menghantui. Demi menang, mereka siap menghancurkan segalanya.