APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kontrak Cinta: Rahasia dan Janji

Kontrak Cinta: Rahasia dan Janji

Clara Martins terancam kehilangan toko roti peninggalan neneknya di São Paulo akibat lilitan utang dan pengkhianatan. Di tengah keputusasaan, Enzo Albuquerque hadir menawarkan solusi. Mantan kekasihnya yang kini menjadi pengusaha dingin itu mengajukan pernikahan kontrak setahun demi melindungi posisinya dari intrik keluarga. Namun, hidup bersama justru membangkitkan kembali rasa yang dulu ada. Kini, Clara harus menyembunyikan kehamilannya, sementara Enzo menyimpan rahasia besar yang dapat menghancurkan hubungan mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Deru mesin bus tua menelan kesunyian jalanan saat Clara berbelok di tikungan. Ia melangkah cepat, mendekap erat dompetnya, seolah cukup untuk melindungi koin-koin yang dibawanya dan nilainya, yang seakan menyusut setiap langkah.

Udara panas, tetapi ia mengenakan mantel tipis, berusaha menyembunyikan pakaiannya yang bernoda tepung. Gula masih menempel di pergelangan tangannya, mengingatkan pada kue pagi itu. Ia bahkan tak sempat membersihkannya sampai bersih sebelum pergi.

"Kau butuh pinjaman. Liburan. Apa pun."

Suaranya sendiri bergema, mengulangi apa yang akan dikatakan Dona Amélia seandainya ia masih hidup. Namun di saat yang sama, bagian lain dari dirinya berteriak lebih keras: "Jangan terima pemberian. Jangan terima remah-remah. Kau bisa melakukannya sendiri."

Ia berhenti di depan bank pertama dan menarik napas dalam-dalam. Papan nama emas berkilauan seperti sebuah janji. Ia melangkah masuk, mengabaikan AC dingin yang membuatnya menggigil. Di antrean, Clara memeriksa dokumen-dokumen: laporan, kwitansi, faktur. Semuanya tertata rapi, semuanya menunjukkan bahwa toko roti itu masih laris, masih memiliki pelanggan setia. Ia hanya butuh waktu.

Ketika akhirnya ia duduk berhadapan dengan manajer, seorang pria berjas abu-abu yang tampak bosan merasakan gejolak di perutnya.

"Nona Clara Martins?" Ia membetulkan kacamatanya, membolak-balik halaman seperti orang yang sedang membolak-balik majalah lama. "Eh... Martins Bakery, kan? Perusahaan perseorangan... Sepertinya pendapatan bulanannya tidak cukup untuk menutupi utang yang menumpuk."

Clara duduk tegak di kursinya, mencoba menahan kecemasannya.

"Tapi saya punya pelanggan tetap. Jika saya bisa memodernisasi pajangan, mengadakan promosi, membayar pemasok di muka, saya bisa menggandakan penjualan selama liburan Juni. Saya hanya butuh tenggat waktu, istirahat."

Pria itu berdeham dan mengetik sesuatu di komputer. Bunyi tombol-tombolnya seperti palu yang menghantam setiap hal negatif ke dalam jiwanya. "Nona Clara, sayangnya, riwayat kredit Anda sangat buruk. Tidak ada jaminan apa pun selain ruang komersial itu sendiri, yang, dari yang saya lihat, milik perusahaan konstruksi Albuquerque." Ia mendongak, tanpa ekspresi. "Itu benar-benar membatasi pilihan Anda."

Ia mengatupkan bibirnya, berusaha menahan amarahnya. Tentu saja, nama Albuquerque akan selalu ada di sana, seperti bayangan di balik setiap pintu yang tertutup.

"Tidak bisakah Anda membuat pengecualian?" desaknya, nyaris berbisik. "Saya bekerja keras, saya membayar semua vendor saya. Jika saya kehilangan toko, saya bahkan tidak bisa membayar utang saya."

"Saya mengerti situasi Anda," katanya otomatis. "Tapi kami tidak bisa membantu Anda sekarang." Clara meninggalkan bank dengan kaki gemetar. Matahari sudah mulai terbenam, membuat jalan menjadi jingga. Keringat mengucur di tengkuknya, tetapi rasa dingin itu berasal dari dalam.

Ia menarik napas dalam-dalam, mengabaikan sesak di dadanya, dan menuju ke cabang kedua, di seberang jalan. Lebih banyak antrean, lebih banyak dokumen, lebih banyak tatapan iba. Penolakan lagi. Saat ia pergi, ponselnya bergetar. Sebuah pesan suara. Itu Luísa.

"Teman, telepon aku segera setelah kau mendengar ini! Aku khawatir. Kudengar kau mendapat notifikasi." Datanglah malam ini, kita bicara, oke?" Aku akan membantumu dengan apa pun yang kau butuhkan!

Clara menggenggam telepon di tangannya. Luísa telah menjadi temannya sejak SMA, salah satu dari mereka yang tahu semua rahasianya, bahkan yang ingin ia kubur. Undangan itu tulus: Luísa selalu murah hati. Kaya, menikah dengan seorang pengacara yang selalu menawarkan "pinjaman tanpa bunga." Tapi Clara tahu rasa pahit dari setiap bantuan.

Ia memasukkan telepon ke sakunya, tanpa menjawab. Ia tidak akan mempermalukan dirinya sendiri. Ia tidak akan berutang budi yang tak bisa ia bayar.

Ia berhenti di bank ketiga sebelum kembali ke halte bus. Manajernya, yang lebih ramah daripada yang lain, bahkan menawarinya kopi. Ia tersenyum saat menolak pinjaman itu, sesantai ia mengomentari ramalan cuaca. Ketika akhirnya ia duduk di bangku kayu di halte bus, Clara merasakan kesemutan di kakinya. Kantong plastik berisi belanjaan untuk hari berikutnya membebani pangkuannya. Ia harus terus memanggang, berjualan, tersenyum. Dunia yang tak ia Akan berhenti. Karena ia kelelahan.

Ponselnya bergetar lagi. Pesan lain, kali ini dari Ana, sepupu jauh yang mengetahui utang itu.

"Sepupu, tinggallah bersamaku sebentar, tutup toko roti ini! Ini cuma tempat tua, kau masih muda, kau bisa kerja di toko roti mana pun. Kau tak perlu repot-repot begini!"

Clara merasa darahnya mendidih. Bagaimana ia bisa menjelaskan kepada mereka bahwa ini bukan sekadar tempat tua? Itu satu-satunya hal yang masih menghubungkannya dengan neneknya, ayahnya, dengan masa kecilnya yang masih masuk akal.

Ia menatap langit, di mana matahari mulai menghilang di balik gedung-gedung tinggi yang menelan kota.

"Kalau aku tak memperjuangkan ini, aku tak akan punya apa-apa lagi."

Ia mengusap wajahnya, berusaha menahan air matanya. Ia membuka dompetnya dan mengeluarkan buku catatan menguning tempat ia menuliskan pesanannya. Besok ia akan membuat dua kue ulang tahun, empat lusin brigadeiro, dan setumpuk kue jahe untuk sekolah di lingkungannya. Pekerjaan. Bertahan hidup.

Tiba-tiba, ia teringat sesuatu yang ia benci untuk diingat. Suatu malam, bertahun-tahun yang lalu, Enzo Albuquerque sedang bersandar di pintu toko roti, masih mengenakan setelan jasnya, senyum merekah di sudut bibirnya.

"Kau tak perlu bekerja sekeras itu, Clarita. Ikut aku. Aku akan membereskan semuanya."

Ia berkata tidak. Harga diri, malu. Mungkin takut. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, di sanalah ia berada, pemilik gedung, pemilik jalan, pemilik sebagian takdirnya.

Ia merasakan sesak di dadanya. Haruskah ia menelan semua yang telah ia telan untuk mengetuk pintunya? Tidak. Ia tak bisa. Belum saatnya.

Bus itu tiba, mengepulkan asap hitam ke wajahnya. Ia naik perlahan, membayar dengan koin yang telah dihitungnya, lalu duduk di dekat jendela.

Saat bus mulai berjalan, Clara melihat bayangannya di kaca yang kotor: rambutnya disanggul asal-asalan, lingkaran hitam di bawah matanya, dahinya berkerut khawatir. Namun jauh di dalam matanya, ada percikan. Kecil, tetapi hidup. "Sebanyak apa pun bank menolakku, aku akan menemukan jalan. Bahkan jika aku harus menjual brigadeiro di depan gedung Enzo Albuquerque."

Dan, untuk pertama kalinya hari itu, senyum tipis yang nyaris tak terlihat mengembang di bibirnya. Ia masih punya kekuatan untuk berjuang. Dan selama masih ada kekuatan, akan selalu ada harapan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Delasio
8.0
Kebiasaan Alesio mempermainkan wanita hancur seketika saat Adela mempermalukannya di depan publik. Namun, ketika musuh-musuh berdatangan untuk menjatuhkan Alesio, Adela justru hadir menyelamatkannya. Dari sana, hubungan mereka berkembang menjadi persahabatan erat. Sayangnya, kedekatan ini perlahan menguak rahasia kelam masa lalu yang saling terikat. Saat luka lama terungkap, Alesio memilih menjauh dan menyesali persahabatan yang kini dianggapnya tak pernah boleh ada.
Sampul Novel Gairang seorang pembantu penggoda
8.3
Demi menyokong keluarganya, Hana yang baru berumur dua puluh tahun nekat merantau dan bekerja jadi pelayan di rumah seorang triliuner rupawan. Terbuai oleh harta, ia sengaja memikat sang majikan hingga terseret dalam hubungan rahasia yang penuh gairah di dalam mansion mewah tersebut. Semua itu ia lakukan demi uang. Namun, rasa jenuh akhirnya datang dan ia ingin menyudahi segalanya. Sanggupkah Hana membebaskan diri dari jeratan materi dan kepuasan yang menggiurkan yang membelenggunya?
Sampul Novel Sang Abdi
8.0
Kirana, gadis tunarungu yang kesulitan mendapat jodoh, dinikahkan ayahnya dengan Farhan, duda berumur empat puluh tahun. Farhan setuju karena utang budi, tetapi ia mengajukan syarat ekstrem yang wajib dipatuhi keluarga Kirana. Kini, Kirana harus berbakti dalam pernikahan yang gelap, di mana suaminya masih berhubungan intim dengan anak angkatnya bahkan ibu kandung Kirana. Sanggupkah kesabaran Kirana berujung bahagia?
Sampul Novel Sembilan Pilihan, Satu Perpisahan Terakhir
8.7
Pernikahan perjodohan Bima denganku hanya menjadi alat untuk membuktikan cintanya pada Shania. Sembilan kali dia tega menelantarkanku demi perempuan itu, bahkan membiarkanku terluka di jalan tol saat badai. Kelelahan menjadi yang kedua membuat perasaanku mati rasa. Ketika Shania berniat mempermalukanku di galeri, aku membalasnya dengan berkelas. Di saat yang sama, Bima tanpa sadar menandatangani surat cerai yang kuselipkan, mengakhiri penderitaanku.
Sampul Novel Terjebak Cinta dan Gairah Mantan Suami
7.9
Nazharina mengira perceraian akan mengakhiri luka batinnya. Namun, takdir berkata lain saat Arian, mantan suaminya yang dulu begitu dingin, tiba-tiba menjadi bos baru di tempat kerjanya. Kini, pria itu berubah drastis menjadi sangat posesif dan mengawasi setiap langkah Nazharina. Di tengah kecemburuan dan proteksi ketat sang mantan, Nazharina pun bimbang. Apakah sikap ekstrem Arian ini adalah wujud cinta sejati, atau hanya obsesi kelam untuk menguasai dirinya lagi?
Sampul Novel Terjebak Pesona CEO Dingin
8.5
Dunia Arlena runtuh seketika akibat pengkhianatan sang kekasih. Saat terpuruk, kecerobohan asisten membuatnya salah masuk kamar hingga kesuciannya direnggut oleh Leonard Hartanto, CEO yang sombong. Takdir tak terduga mempertemukan mereka lagi dalam sebuah perjodohan keluarga. Demi menghindari jodoh pilihan sang ibu, Leonard yang didera rasa bersalah memutuskan menikahi Arlena. Di tengah kepedihan hati dan masa lalu kelam Leonard, mampukah pernikahan rapuh ini bertahan?