
Kisah Miris Suamiku dan Kekasihnya
Bab 3
Kemudian, aku pergi ke rumah sakit untuk melakukan operasi aborsi. Seandainya aku melahirkan anak ini, dia tidak akan memiliki keluarga yang utuh. Perbuatanku sama saja dengan tidak bertanggung jawab kepadanya. Jadi, memilih untuk tidak melahirkan adalah pilihan terbaik.
Namun, aku tidak menyangka akan bertemu Jovin dan Selena di rumah sakit. Mereka baru saja keluar dari klinik kebidanan dan kandungan.
Jovin merangkul Selena dengan bersenda gurau. Mereka berdua kelihatannya sangat mesra.
Hanya saja, saat melihatku, Jovin segera melepaskan Selena, lalu menjelaskan kepadaku, “Aku temani Selena untuk melakukan pemeriksaan kandungan. Lina, kamu tahu sendiri, suaminya sudah meninggal. Dia seorang diri ….”
“Emm, aku tahu. Suamiku, kamu jaga dia dengan baik. Dia sendirian cukup kasihan,” ucapku dengan tersenyum.
Jovin pun membalas dengan tersenyum, “Lina, kamu memang baik hati. Aku nggak salah dalam memilih istri. Nanti malam kamu pulang ke rumah, biar aku masak buat kamu.”
Ketika kepikiran dengan masa lalu, jika aku mendengar dia berbicara seperti itu padaku, aku pun akan merasa sangat gembira. Namun sekarang, aku hanya merasa jijik.
“Nanti malam aku harus lembur. Kamu bawa Selena makan di rumah saja.”
Setelah meninggalkan tempat, tiba-tiba Selena mencariku di ruang kerjaku. Tatapannya kelihatan sangat galak. Dia langsung menutup pintu dengan rapat.
“Apa kamu tahu penyakitku?”
“Apa katamu? Aku nggak mengerti.” Aku menatap Selena sembari berlagak bodoh.
“Setelah aku melakukan pemeriksaan darah hari ini, kata dokter, aku mengidap penyakit HIV.”
“Itu masalahmu. Aku tahu atau nggak juga nggak ada pengaruhnya sama kamu.”
Selena mendengus. “Ternyata kamu tahu diri juga.”
“Asal kamu tahu, jangan sampai kamu bermain intrik. Kalau sampai aku menggila, aku akan menularkan penyakitku kepadamu.” Usai berbicara, Selena membalikkan tubuhnya dan meninggalkan tempat.
Tidak lama kemudian, aku berdiri di sisi jendela. Aku melihat di bawah sana, Jovin mencium Selena, kemudian mereka berdua meninggalkan tempat dengan gembira.
Aku merasa, seharusnya Jovin membawa Selena pulang ke rumah. Bagaimanapun, tadi aku sengaja mengatakan aku tidak akan pulang malam ini.
Sesuai dugaan, dari CCTV ruang tamu, aku melihat mereka berdua sedang berpelukan dan berciuman di sofa.
Tatapan Jovin kelihatan linglung. Suaranya terdengar agak terengah-engah. “Selena, bantu aku dengan mulut ….”
Aku sungguh mual ketika melihatnya.
Sebenarnya kamera CCTV ini sudah rusak lama. Itulah sebabnya Jovin berani bersikap kelewatan. Namun saat aku pulang tadi pagi, aku mencari orang untuk memperbaikinya.
Hanya ada suara mereka di dalam rekaman CCTV mobil. Aku masih butuh video tampak muka mereka.
Kali ini, semua barang bukti telah lengkap.
Keesokan paginya, aku menyerahkan video kepada pengacara. Satu minggu kemudian, Jovin mencariku dengan galak. Pada saat ini, aku sedang membereskan barang di dalam ruang rapat.
“Paulina, apa maksudmu?”
Sepertinya pengadilan sudah memberi tahu Jovin untuk menghadiri sidang.
Aku mengangkat kepalaku untuk melihat Jovin sekilas. “Ini rumah sakit. Harap tenang.”
Jovin tidak menghiraukanku, melainkan berkata dengan menggertakkan giginya, “Kenapa kamu mesti mengajukan cerai? Apa salahku?”
Aku sungguh merasa konyol.
Kenapa Jovin masih punya muka untuk mengucapkan kata-kata seperti itu?
Aku langsung membuka rekaman CCTV mobil untuk didengar Jovin.
Saat mendengar suara di dalam sana, raut wajah Jovin mulai memucat. “Semua itu hanya kecelakaan. Paulina, kamu dengar apa kataku. Aku nggak bisa menahan diriku karena aku nggak bisa menyentuhmu.”
Baru saja ucapan selesai diucapkan, tiba-tiba terdengar suara dari luar pintu. “Dokter, waktu itu aku lupa bertanya sama kamu. Kalau terjangkit penyakit HIV, apa anak juga akan ikut tertular?”
Suara itu adalah suara Selena.
Anda Mungkin Juga Suka





