APKDock Logo
Sampul Novel Jebakan Cinta Pertama untuk Kesayangan Bos

Jebakan Cinta Pertama untuk Kesayangan Bos

8.2 / 10.0
Agnes bermimpi menata ulang hidupnya setelah delapan tahun yang kelam. Namun, asa itu hancur saat Gerald Ogawa, cinta pertamanya, muncul kembali. Alih-alih membawa kasih, Gerald datang penuh dendam atas pengkhianatan masa lalu dan berniat merebut posisi kerja Agnes. Di tengah himpitan tersebut, Agnes harus tegar berjuang sendirian demi menghidupi sang buah hati. Sanggupkah ia bertahan dari kekejaman Gerald ketika rahasia lama mulai terbongkar dan menguji kembali perasaan mereka?

Jebakan Cinta Pertama untuk Kesayangan Bos Bab 1

Stiletto merah muda dari perempuan cantik itu menggema di koridor lantai lima. Ia terus berlari setelah keluar lift untuk menghadiri rapat yang secara mendadak jadwalnya terbentuk.

Kening Agnes sudah bercucuran peluh dengan jantung yang bergemuruh cepat saat kehadirannya sangat terlambat, lebih dari dua puluh lima menit.

Jadwal rapat masuk di grup pukul lima pagi, sedangkan ia masih berada di hotel yang tidak jauh dari Bandar Udara Internasional Ngurah Rai.

Keputusan Agnes menghabiskan akhir pekan ke Jakarta tidaklah tepat. Kali ini, ia harus berurusan dengan masalah besar, terkait etos kerja dan kredibilitas yang dirinya bangun enam bulan lalu sejak bekerja di sini.

“Maaf, Pak. Saya datang terlambat.”

Agnes menunduk.

Napas perempuan itu tersengal setelah sampai di ambang pintu. Tapi ia tidak bisa menampik, jika dirinya tengah mengumpat karena rasa malu mendapatkan atensi penuh tertuju pada dirinya.

Agnes sempat kaget dengan jumlah karyawan lebih dari sepuluh, berbeda dari apa yang dibayangkan Agnes. Kesialannya berkali lipat dan pasti akan dicap buruk oleh beberapa kepala divisi. Banyak pasang mata menatap Agnes beragam, tapi tidak sedikit yang memperlihatkan tatapan sinis.

Begitupula tatapan dingin dari pria blasteran Jepang – Indonesia, telah menunggu presentasi Agnes dimulai sejak awal.

“Anda tahu pukul berapa rapat ini dimulai, Ibu Agnes Zefanya?”

Suara dingin itu menggetarkan tubuh Agnes. Gemuruh jantung perempuan yang pagi ini mengurai rambut panjangnya tertegun, tidak sanggup mendongak dan menatap sorot penuh intimidasi pria yang duduk di kursi kebesarannya.

“Ma-af, P-pak,” cicit Agnes memberanikan diri menatap perlahan manik hitam di seberang sana.

Keadaan ruangan menjadi tegang, tapi berbeda dengan sang direktur utama yang masih duduk dengan menaruh kedua tangan di atas meja. Ia menautkan jemari tangan, menujukan sorot mata pada Agnes yang masih gugup di pintu ruang rapat.

“Saya ... saya hanya menggunakan waktu akhir pekan untuk berangkat ke Jakarta.”

“Sedang membela diri?” Agnes menggeleng cepat tanpa menatap sang dirut.

Perempuan itu bersiap untuk memberikan penjelasan, kejujuran yang siapa tahu akan menyelamatkan Agnes.

Namun, ucapan telak bernada dingin itu menjadi pukulan kuat yang berakhir perih pada relung hati Agnes.

“Ibu Fiani, sudah saya katakan untuk tidak memberi peluang pada seorang wanita yang memiliki anak, kan? Apalagi dia seorang janda yang bercerai dengan suaminya.”

“Jadi, ini bisa menjadi alasan dia sesuka hati meninggalkan resort. Seharusnya dia bisa berkomitmen untuk tinggal sementara waktu di sini, lalu bisa pergi ke mana pun dia mau dengan waktu libur yang panjang.”

“Maaf, Pak Gerald,” balas Fiani, menunduk minta maaf dengan penuh sesal.

Perempuan berstatus sebagai HRD itu tidak berani melihat sorot tajam dan penuh kebencian mengenai rapat yang gagal pagi ini. “Saya akan bertanggungjawab atas kesalahan yang dilakukan Ibu Agnes.”

“Suruh dia datang ke ruangan saya sekarang juga,” sahut pria tinggi bertubuh atletis itu, beranjak meninggalkan ruangan tanpa mengakhiri rapat.

Kedua lutut Agnes lemas saat Gerald hanya melewati dirinya tanpa menatap dirinya. Ia menahan bulir air mata yang menggenang di pelupuk, terasa begitu sakit ucapan dari Direktur Utama tersebut.

“Bu, Anda dipanggil Pak Gerald ke ruangannya sekarang.”

Fiani menyadarkan rasa sakit yang dirasakan Agnes. Perempuan itu menatap kepala HRD yang masih bisa menghargainya. Setidaknya, meskipun ia bekerja sebagai General Manager di sini. Tidak ada kalimat baik yang Agnes terima, kecuali cacian dan bisik kecil mengenai rapat yang hancur hari ini.

**

Agnes menghapus sudut matanya sebelum membuka ruang kerja Gerald.

Ucapan Gerald terus saja terngiang di pikiran Agnes, menghancurkan harga diri juga memberikan tatapan lebih buruk untuk kali pertama ia berada di resort.

Ruangan dirut mencekam ketika tidak ada suara yang menginterupis ataupun sambutan dari tatapan hangat Gerald.

Perempuan itu duduk, lalu meminta maaf dan mengesampingkan perih hatinya. Kalimat itu benar-benar menghancurkan Agnes. “Setahu saya tidak ada jadwal rapat hari ini, Pak,” ungkapnya mengawali pembicaraan saat pria yang masih memiliki darah Jepang itu hanya diam.

“Itu sebabnya saya pulang ke Jakarta, lalu menginap sementara waktu di hotel dekat bandara setelah tiba di Bali. Karena pesawat saya baru landing jam sebelas malam. Saya juga belum bisa pergi saat itu agar sampai ke mari.”

Ini alasan lain karena jarak resort Gerald cukup strategis bagi wisatawan lokal maupun mancanegara dengan segala aspek yang mereka pikirkan sangat layak menjadi tempat singgah. Bahkan, resort ini terletak di pesisir pantai indah dan memiliki view cantik.

Tapi bagi mereka yang ingin singgah. Membutuhkan waktu lebih dari satu setengah jam dari pusat kota, dan hanya selisih tipis dari jarak antar bandara untuk tiba di sini.

“Apa penjelasan kamu bisa saya terima?”

Agnes menelan saliva susah payah.

Pria berparas tampan dengan sorot tajam itu menatap lurus Agnes. Merasa ditatap penuh intimidasi, Agnes kembali tertunduk, menautkan kedua jemari tangan di atas pangkuan.

“Hari ini kamu berurusan dengan saya dua kali.”

Brak!

Satu berkas ditaruh kuat di atas meja kerja tersebut. Perempuan itu tertegun saat kedua telapak tangan pria itu menumpu di sisi berkas dan menatap Agnes tegas dari balik manik hitam. Kepala Gerald sedikit dimiringkan lalu berucap sinis, “Bisa kamu pahami mengenai judul berkas ini?”

Jemari itu terketuk di atas berkas.

Tiba-tiba, jantung Agnes berdegup kuat, melihat dan membolak balik lembar pekerjaannya berakhir tidak benar.

Ia menggeleng samar. “Ta-pi, Pak ... saya yakin, penyelenggaraan pesta tersebut sudah sesuai, termasuk satu hari sebelumnya saya check langsung ke lapangan,” balasnya.

“Satu hari sebelum penyelenggaraan pesta meriah, lalu kamu menjadi penanggung jawab yang tidak kompeten.”

“Apa bukti di dalam ini belum cukup? Kamu meninggalkan acara tanpa bertanggungjawab sampai pesta itu selesai! Anak buah yang kamu andalkan dan beberapa kesalahan teknis lain, membuat nama baik resort ini tercoreng!”

Agnes menunduk dalam.

Kedua tangannya gemetar memegang ujung berkas.

“Jika belum siap bekerja di sini, lebih baik kamu resign. Saya masih berharap ada yang bisa menggantikan posisi kamu sebagai GM, berstatus lajang dan sangat patuh dengan tanggung jawabnya.”

“Tidak seperti kamu yang langsung mengambil kesempatan kembali ke Jakarta, lalu meninggalkan pesta dan berakhir datang terlambat pagi ini.”

Gerald tersenyum miring, menatap Agnes dengan tatapan tajam. “Seharusnya saya tahu, jika rumah tangga kamu hancur. Sudah dipastikan untuk urusan pekerjaan pun tidak becus kamu selesaikan.”

Sayatan perih kembali dirasakan Agnes berkali lipat. Ia terkesiap, merasakan air mata luruh tanpa bisa ditahan. Perempuan itu dengan cepat menghapusnya, tapi tidak bisa menyembuhkan sakit hati oleh ucapan Gerald yang semakin keterlaluan.

“Mungkin rumah tangga yang hancur dan pekerjaan yang berantakan. Sebuah Sebab akibat yang kamu lakukan pada saya di masa lalu.”

“Perselingkuhan yang membawa keburukan untuk kamu di masa depan.”

Perempuan itu membeku. Dadanya bergemuruh cepat ketika Gerald mengucapkan hal tersebut.

Agnes mendongak, menatap tidak percaya dengan perasaan terluka. “Kamu sedang mengungkit masa lalu? Mengaitkan permasalahan kita dengan pekerjaan?”

“Apa kamu begitu benci sama aku, Ge? Sampai urusan pekerjaan kamu campuradukkan dengan masalah kita dulu?”

Gerald tersenyum miring melihat langsung satu bulir air mata itu jatuh tepat di hadapannya. Ia sadar, sebuah tangis kesedihan yang dibuat sebaik mungkin dari Agnes.

Agnes menarik napas dalam, lalu mengembuskannya dengan berdiri di depan Gerald. Pria itu menegakkan tubuh dan memberikan tatapan menantang.

Jemari tangan itu menghapus kasar air matanya. “Tadinya aku masih berusaha diam, membiarkan kamu mempermalukanku depan jajaran di ruang rapat.”

“Statusku sebagai GM, tapi aku nggak pernah dihargai kamu sedikitpun. Bahkan, setelah pertemuan kita minggu lalu untuk kali pertama ... kamu benar-benar melukai perasaanku.”

“Karena aku nggak suka kamu berada di sini,” desis Gerald menatap tajam Agnes.

Agnes mendengkus mengejek. Ia membuang pandangan sesaat ketika sorot itu penuh kebencian.

Tidak ada lagi tatapan memuja dan penuh cinta yang selalu diberikan Gerald padanya. “Dan kamu telah merusak reputasi resort ini.”

Perempuan itu mengangguk pelan, lalu meraih berkas dan memperlihatkan tepat di depan wajah Gerald. “Kamu mempermasalahkan berkas ini juga, kan? Baik. Aku selesaikan dalam tiga hari kedepan untuk evaluasi lebih lanjut dan aku jamin ... kesalahan bukan ada di timku.”

“Silakan.”

“Tapi sampai semua kesalahan benar ada di tim kamu. Kamu harus kembali berurusan denganku.”

Sorot manik perempuan itu membalas tegas tatapan dingin Gerald. Ia mengangguk tegas, berusaha untuk memanfaatkan kesempatan sekali lagi.

Ia yang merupakan bawahan, harus menahan seluruh rasa egois agar tidak balas meledakkan emosi pada Gerald. Agnes memilih mengalah. Tiga hari,” tekannya dan berlalu, bergegas menuju pintu ruang kerja Gerald.

“Ya. Tiga hari adalah kesempatan yang harus kamu manfaatkan.”

“Jika gagal. Kamu harus memuaskanku semalam penuh.”

**

Lanjut Membaca

Daftar Isi Jebakan Cinta Pertama untuk Kesayangan Bos

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Aku Istrimu, Bukan Pengganti Pengasuh Anakmu
8.6
Lima tahun membina rumah tangga tanpa buah hati, Salma dikhianati saat Rifky memutuskan berpoligami demi anak. Padahal, mereka telah berjuang bersama menjalani pengobatan medis hingga Rifky dinyatakan sembuh. Sayangnya, sang suami justru menikahi perempuan pilihan ibunya ketimbang setia pada Salma. Kini, Salma dihadapkan pada pilihan sulit: tetap bertahan dalam pernikahan yang tak lagi utuh, atau berani bercerai demi menjaga martabat serta prinsip hidupnya.
Sampul Novel Aku Pernah Mencintaimu, Sebatas Itu
8.8
Selama lebih dari dua dekade, Talia Lewis selalu menjadi pusat perhatian dan dimanjakan oleh Tristan Howard. Talia sangat meyakini bahwa masa depan mereka akan diisi dengan pernikahan, kehadiran anak-anak, dan kebahagiaan abadi yang romantis. Namun, keyakinan itu runtuh seketika saat Tristan pulang membawa seorang gadis asing. Kenyataan pahit harus dihadapi Talia ketika pria yang dicintainya itu justru memperkenalkan gadis tersebut sebagai calon kakak iparnya.
Sampul Novel Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan
8.9
Hidup miskin bersama Randi, seorang kuli bangunan berpenghasilan minim dan berwatak keras, membuat Lina frustrasi. Di tengah impitan ekonomi, ia berpaling pada Damar, tetangganya yang mapan. Meski bantuan materi dan perhatian dari Damar diam-diam menyelesaikan masalah keuangannya, rasa bersalah perlahan menyiksa Lina setiap kali melihat perjuangan suaminya. Kini, ia terjebak dalam dilema besar antara mengejar kelayakan hidup atau menjaga kesetiaan pernikahannya.
Sampul Novel Mahasiswi Simpanan Dosen Liar
9.0
Zeya Scopuso merasa ada yang tidak beres saat bimbingan skripsinya dipindahkan ke kamar pribadi. Ketika dia menanyakan alasan pemilihan tempat yang tidak biasa itu, sang dosen pembimbing, Delson Weather, justru memberi jawaban mengejutkan. Sambil mengusap paha mahasiswinya dengan lembut namun penuh arti, Delson menyatakan siap memberikan bimbingan khusus yang tak pernah terbayangkan oleh Zeya sebelumnya.
Sampul Novel Takdir Cinta yang Malang
7.9
Tepat pada hari ulang tahun pernikahan yang kelima, Anna Wesley mendatangi firma hukum untuk menyiapkan dokumen perceraian dari Rio Ansari. Keputusan ini diambil setelah Rio mengusir Anna demi menghindari kesalahpahaman dengan sekretarisnya, Sella, yang diundang makan di rumah mereka. Selama lima tahun, Rio selalu merahasiakan pernikahan mereka di kantor. Menyadari suaminya lebih mementingkan wanita lain, Anna memilih menyudahi hubungan ini.
Sampul Novel THE  HERA'S KING
8.1
King, pria berumur 27 tahun, awalnya sangat kesal dengan keluguan Hera. Sifat gadis baik itu selalu memicu emosinya hingga memunculkan rasa benci. Namun, seiring waktu, kebencian tersebut justru terkikis dan berubah menjadi cinta yang begitu dalam. Kini, King harus berjuang keras demi memenangkan hati sang gadis polos. Mampukah ia menumbuhkan rasa cinta yang sama di hati Hera? Ikuti kisah perjuangan romantis mereka di sini.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan