APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ketulusan Cinta Amira

Ketulusan Cinta Amira

Amira rela melakukan apa saja demi membiayai pengobatan ibunya. Takdir lalu membawanya bertemu Ziyan, seorang duda. Setelah menyelamatkan anak Ziyan, Amira pun diangkat menjadi pengasuh bocah tersebut. Namun, hidup Amira kembali kacau ketika Dimas hadir. Ternyata, adik Ziyan itu adalah mantan pacar yang dulu pernah Amira sakiti. Kini, rahasia masa lalu mereka mengancam keberadaan Amira di lingkungan keluarga besar Ziyan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Mendapat tamparan, lelaki itu geram. Dia lantas ingin membalas tamparan Amira, tetapi Irene datang dan menahannya.

"Maafkan dia, Pak. Dia baru bekerja di sini. Jadi, dia belum tahu dengan situasi di tempat ini," jelas Irene.

Lelaki itu menatap Amira dengan kesal. "Untung ada Irene, kalau tidak aku akan menghajarmu," ucap lelaki itu sambil menyentuh pipi kirinya yang ditampar Amira.

Irene lantas membawa Amira ke ruangannya. "Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menamparnya?" tanya Irene marah.

"Dia telah menyentuhku. Itu pelecehan!"

Irene tersenyum sinis. "Amira, jangan membuatku tertawa. Di tempat ini, itu hal yang biasa. Mereka itu adalah mesin pencetak uang buat kita. Jika pelayananmu bagus, mereka akan memberikanmu uang. Bahkan, kamu bisa menjadi wanita mereka. Apa kamu tidak mengerti akan hal itu?"

Ucapan Irene membuat Amira merasa kalau dirinya telah salah langkah. Dia terduduk memikirkan nasib diri yang kini berada dalam dunia yang sangat berbeda. Dunia yang ingin dihindarinya.

"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus berada di lingkungan kerja seperti ini? Kalau aku meninggalkan tempat ini, apa aku bisa mendapatkan pekerjaan untuk membayar biaya rumah sakit ibu?" batin Amira dalam kebimbangan.

Amira dihadapkan pada pilihan yang sulit. Hati kecilnya ingin dia pergi meninggalkan tempat itu. Namun, akalnya masih mengharapkan pekerjaan yang belum tentu bisa dia dapatkan setelah pergi dari tempat itu.

Dengan berat hati, dia kembali memulai pekerjaannya. Kali ini, dia bertekad untuk menjaga dirinya. Dia tidak akan terjerumus seperti karyawan yang lain.

Gadis-gadis itu begitu senang saat dipeluk oleh lelaki yang berpenampilan necis dengan dompet yang tebal. Amira hanya tersenyum miris saat melihat mereka diajak keluar entah ke mana.

Sebagai karyawan baru, dia belum terlalu paham dengan keadaan tempat itu. Namun, hari demi hari dia makin menyadari kalau tempat itu tak lebih seperti sebuah tempat pelacuran berkedok kafe.

Sudah hampir sebulan Amira bekerja di tempat itu. Sebaik mungkin, dia memberikan pelayanan yang wajar. Walau dia menyadari, tidak semua pelanggan memiliki tujuan yang buruk saat berkunjung ke sana. Bahkan, ada beberapa orang yang dengan tulus memberikan tip padanya.

"Ambil uang ini. Sayang, gadis baik sepertimu harus bekerja di tempat ini," ucap salah satu pelanggan sambil memberikan beberapa lembar uang padanya.

Amira lalu menerimanya seraya tersenyum.

"Terima kasih, Pak."

Lelaki paruh baya itu mengangguk dan beranjak pergi. Amira tersenyum melihat uang itu. Setidaknya, uang yang dihasilkannya selama ini hampir mencukupi untuk membayar biaya pengobatan ibunya.

"Bagaimana, kerja di tempatku enak, bukan? Aku perhatikan, kamu mulai disukai oleh pelangganku. Ternyata aku tidak salah mengajakmu bekerja di sini," ucap Irene sambil duduk di salah satu kursi.

Amira hanya tersenyum. "Terima kasih, tapi aku tidak akan bekerja di sini dalam waktu yang lama. Aku ingin mencari pekerjaan lain. Maaf, aku tidak ingin menyinggungmu, tapi ...."

"Aku mengerti. Ah, sudahlah. Lakukan saja apa maumu." Irene lantas bangkit dan meninggalkan Amira.

Saat waktu luang, Amira berusaha mencari pekerjaan lain. Dia tidak ingin bekerja di kafe selamanya. Dia merasa kalau pekerjaan itu tidaklah cocok untuknya. Walau begitu, dia hanya bisa bersabar karena penghasilan dari sana sangat menggiurkan. Namun, hati kecilnya selalu berontak dan ingin meninggalkan tempat itu.

Walau sudah mencari pekerjaan, nyatanya nasib baik belum juga menghampirinya. Dengan hanya bermodalkan ijazah SMA, dia tidak mungkin bisa mendapatkan pekerjaan kantoran.

Amira duduk di bangku taman sambil memperhatikan buku tabungannya. Yang tersisa hanya beberapa ratus ribu saja. Dia juga sudah berusaha menghemat. Bajunya hanya beberapa lembar dan tidak pernah membeli yang baru. Beruntung, Irene memberikannya beberapa potong baju.

Amira sudah membayar tunggakan biaya rumah sakit dari uang pemberian Irene dan tip dari pelanggan. Itu pun masih kurang. Bahkan, dia tidak merasakan uang hasil jerih payahnya sendiri. Semuanya habis untuk biaya rumah sakit ibunya. Walau begitu, dia tidak mengeluh. Semua dilakukannya dengan ikhlas sebagai bakti pada wanita yang sudah melahirkan dan merawatnya sejak lahir ke dunia.

Saat ini, Amira tengah bersiap di ruang ganti. Dia ditugaskan untuk melayani pelanggan yang akan datang untuk mengadakan pertemuan di sana.

"Kamu harus melayani mereka dengan baik. Mereka adalah para pengusaha muda. Ingat, jangan ceroboh," ucap Irene mewanti-wanti.

Bersama dua orang gadis lainnya, Amira menyuguhkan beberapa pesanan. Di dalam ruangan khusus, pertemuan itu dilaksanakan. Sudah ada dua orang lelaki di tempat itu. Sepertinya, mereka masih menunggu salah satu teman yang masih dalam perjalanan.

"Kalian bertiga jangan keluar dari sini. Aku ingin kalian melayani kami," ucap salah satu lelaki pada Amira dan dua temannya.

"Baik, Pak!" jawab dua gadis dengan kompak. Sementara Amira hanya diam.

"Hei, kamu dengar 'kan apa yang aku bilang tadi?" tanya lelaki itu pada Amira.

"Iya, Pak!"

Lelaki berusia tiga puluh tahunan itu menatap Amira. Dia memperhatikan Amira saat menghidangkan beberapa pesanan di atas meja. "Ternyata dia sangat cantik. Malam ini aku harus bisa bersamanya," batinnya dengan tatapan tak biasa.

"Maaf, aku terlambat," ucap seorang lelaki yang baru saja datang.

"Ah, silakan duduk. Tidak apa-apa, Pak. Itu tidak jadi masalah," jawab seorang lelaki seraya tersenyum ramah.

Lelaki yang baru datang itu lantas duduk. Dia melihat hidangan yang sudah tersaji di atas meja. Dia tersenyum.

"Jadi, apa kita bisa mulai pembicaraan kerjasamanya?" tanya seorang lelaki sambil mengeluarkan sebuah map.

"Baiklah, kita mulai," jawab lelaki yang baru datang. Dia lantas membaca lembaran yang ada di dalam map. Kepalanya tampak manggut-manggut saat membaca kata demi kata di kertas itu. Tak lama, dia pun meletakkan map di atas meja.

"Baiklah, aku setuju dengan kerjasama kita. Aku akan menandatanganinya sekarang."

Tanpa ragu, dia lantas menandatangani lampiran kerjasama antar dua perusahaan. Kedua lelaki itu tersenyum lebar saat lelaki itu menyetujui kerjasama mereka. Setelah selesai, ketiga gadis lantas dipersilakan untuk ikut bergabung.

"Maaf, tapi aku tidak butuh dengan pelayanan ini." Lelaki itu menolak halus saat rekan kerjanya menawarkan seorang wanita padanya. "Karena urusannya sudah selesai, maka aku akan pergi," lanjutnya sambil menyimpan surat perjanjian kerjasama di dalam tasnya.

"Kenapa buru-buru? Kita nikmati saja malam ini. Apa Bapak tidak suka gadis-gadis ini? Aku akan meminta untuk membawakan gadis yang lebih cantik dari mereka."

"Tidak perlu!"

Lelaki itu lantas bangkit dan berniat pergi. Akan tetapi, langkahnya tertahan saat mendengar suara seorang gadis yang menolak saat disentuh. Sontak, dia pun berbalik. Tatapan matanya tertuju pada Amira yang berusaha melepaskan tangannya dari genggaman salah satu rekan bisnisnya.

"Apa kamu ingin dia menyentuhmu?" tanyanya pada Amira. Amira lantas menggeleng. "Lepaskan dia! Jangan buat malu di tempat ini," lanjutnya sambil menatap lelaki itu.

Lelaki itu tersenyum sinis. Dia kemudian melepaskan tangan Amira dengan kasar.

"Jangan munafik! Bukankah, kamu juga menginginkannya? Katakan saja, jangan malu. Empat tahun menduda bukanlah perkara gampang. Seharusnya, kamu ...."

"Cukup!"

Lelaki itu terdiam. Dia menatap wajah lelaki yang berdiri di depannya dengan lekat.

"Ah, untung saja aku belum beranjak dari tempat ini. Jadi, aku bisa tahu kelakuan rekan bisnisku yang tidak bermoral. Baiklah, aku rasa kerjasama kita berakhir sampai di sini."

Tanpa ragu, dia lalu merobek kertas perjanjian mereka.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dikhianati Suami, Diremehkan Mertua
9.1
Demi melindungi putranya, Alena bersembunyi selama tujuh tahun dari kejaran Keluarga Whitmore. Namun, kedamaiannya sirna ketika ia diculik dan disekap di sebuah kastil tua terpencil. Di tempat itu, sang mantan suami, Dorian Whitmore, menuduh Alena menyembunyikan anak laki-laki mereka yang lain. Alena menegaskan hanya Julian Ezra Callahan yang hidup, sementara kembarannya telah tiada. Kini ia harus menghadapi Dorian demi mengungkap misteri masa lalu.
Sampul Novel Dipaksa Menjadi Boneka di Hadapan Istri Palsu
9.5
Demi donor jantung kakeknya, Sakti terpaksa menduakan Anjani, istri yatim piatunya, dengan menikahi Mala secara rahasia. Pernikahan kedua ini ia jalani di bawah ancaman sang ayah yang membahayakan keselamatan Anjani. Setahun bertahan dalam kepalsuan, rahasia kelam ini akhirnya terbongkar. Kini, Sakti harus berjuang mempertahankan rumah tangganya yang hancur akibat benturan status sosial, tekanan keluarga, dan pengkhianatan yang melukai hati Anjani.
Sampul Novel Istri Yang Diabaikan
9.5
Saat hamil tua, Lili mengalami kemalangan akibat kelalaian suaminya, Azzam. Ia terjatuh tanpa ada yang menolong hingga harus kehilangan sang buah hati. Walau Azzam sangat menyesali perbuatannya dan bertekad untuk berubah sewaktu Lili dalam kondisi kritis, situasi justru kian memburuk. Desakan tiada henti dari sang ibu mertua membuat Lili akhirnya memilih kabur dari rumah. Kini, Azzam harus berjuang melacak istrinya demi memperbaiki ikatan pernikahan mereka yang telah retak.
Sampul Novel Mimpi Yang Retak
7.9
Kemegahan rumah tangga keluarga Johnson nyatanya cuma kedok belaka. Alice memendam kepedihan mendalam di balik senyumannya, sedangkan Daniel begitu berambisi mempertahankan citra suksesnya. Begitu rahasia kelam perlahan terbongkar dan rasa percaya lenyap, mereka dihadapkan pada pilihan sulit: menyatukan kembali mimpi yang hancur atau terus terperosok dalam kepalsuan. Kisah penuh pengkhianatan ini menguji peluang kebahagiaan sejati di tengah puing kehancuran.
Sampul Novel Pengkhianatannya Membangkitkan Kekuatan Sejatinya
8.9
Lima tahun aku berkorban di balik nama 'Aura' untuk kesuksesan Revan. Namun, aku justru memergokinya bermesraan dengan sang asisten, Kyra. Bukannya menyesal, Revan malah menyalahkanku atas kesalahan Kyra dan mengusirku di depan para eksekutif. Dia lupa siapa sosok di balik kariernya. Di tengah kehancuranku, CTO kami datang dan mengungkap identitasku yang sebenarnya sebagai pemilik asli perusahaan di hadapan Revan yang syok.
Sampul Novel Penyesalan Lebih Murah Dari Debu
9.5
Sepuluh tahun mendampingi Dr. Ethan Caldwell yang dingin, aku tak pernah boleh menyentuhnya. Ia bahkan tega menjebakku dengan pria lain demi hasrat fisikku. Setelah aku hampir bunuh diri, sikapnya sempat melunak. Namun, semua sirna saat aku melihatnya bermesraan dengan Clara. Ethan bahkan tega menghinaku kotor demi membela wanita itu. Akhirnya, aku memilih menyerah dan mengakhiri hubungan yang penuh penderitaan ini.