APKDock Logo
Sampul Novel Calamity Of Love

Calamity Of Love

9.4 / 10.0
Camilio Danielle Osvaldo, pemuda ber-IQ 150 berprestasi militer tinggi, terpuruk akibat patah hati mendalam. Di tengah keputusasaan, Mike menawarinya bergabung dengan sindikat mafia global, Black Nostra. Walau sempat menolak demi hati nurani, keteguhan Camilio runtuh saat menyaksikan solidaritas luar biasa di kelompok tersebut. Di balik dunia kriminal yang keras, ia justru menemukan kehangatan sebuah keluarga yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Calamity Of Love Bab 1

"Mommm...," seru Camilio panik saat melihat tubuh ibunya terkulai di dekat almari hias di ruang keluarga.

Ia baru saja keluar dari kamarnya, bersiap berangkat ke sekolah, ketika pemandangan itu menghentikan langkahnya. Camilio segera berlari, menyangga tubuh ibunya agar kepalanya tidak membentur lantai. Dengan hati-hati, ia memapah ibunya ke sofa.

Setelah melepas ransel sekolahnya, ia meraih gagang telepon yang menjuntai lepas dari genggaman sang ibu. Namun, panggilan di seberang telah terputus. Tanpa membuang waktu, Camilio meletakkan kembali telepon itu, mengambil botol minyak angin di meja, dan bergegas ke dapur untuk mengisi segelas air.

"Mom, bangun... Mom," bisik Camilio cemas sambil menggoyang lengan ibunya dengan lembut. Ia mengoleskan minyak angin ke pelipis dan hidung ibunya, berharap aroma tajam itu memulihkan kesadarannya.

Sepuluh menit terasa seperti seabad. Perlahan, mata Catharina terbuka. Wanita itu menatap anaknya dengan pandangan kosong sebelum air matanya mengalir deras. Dengan tangan gemetar, ia menangkup wajah Camilio, suaranya bergetar saat berkata, "Tadi... telepon dari atasan ayahmu. Mereka bilang... ayahmu... t-tertembak... dan... tewas."

Seperti tersambar petir, tubuh Camilio membeku. Napasnya tercekat, tak sanggup memproses kabar itu. "Daddy..." gumamnya pelan sebelum akhirnya memeluk ibunya erat.

Catharina menangis tersedu-sedu dalam pelukan anaknya. Suaminya, Benhardi Osvaldo, telah pergi untuk selamanya. Benhardi adalah seorang Letnan Kolonel di Angkatan Darat yang ditugaskan ke Detroit, Michigan, kota yang kerap dirundung konflik rasial sejak abad ke-20. Di sana, subuh tadi, hidupnya berakhir tragis. Sebuah peluru menembus lehernya, bagian yang tidak terlindungi rompi anti peluru. Ia gugur bersama dua rekan lainnya dalam serangan mendadak oleh kelompok perusuh.

Hari berikutnya, jenazah Benhardi diterbangkan ke New York dan dimakamkan secara militer di Woodlawn Cemetery of Elmira. Upacara pemakaman itu penuh dengan penghormatan. Salvo tembakan mengiringi kepergiannya, sementara Camilio berdiri tegak di samping ibunya, berusaha kuat meskipun matanya berkaca-kaca.

Setelah selesai, mereka pulang ke rumah dalam keheningan. Camilio mengantar ibunya ke kamar untuk beristirahat sebelum ia sendiri duduk termenung di sofa ruang tengah. Matanya tertuju pada foto keluarga yang tergantung di dinding, diambil dua tahun lalu saat Benhardi dipromosikan menjadi Letnan Kolonel. Dalam foto itu, mereka bertiga tersenyum bahagia: Benhardi berdiri gagah di seragam militernya, Catharina duduk di depan mereka, dan Camilio berdiri di samping ayahnya.

Di sebelah foto itu, ada potret Benhardi seorang diri. Sosoknya tampak sangat berwibawa. "Dad, aku ingin menunjukkan pialaku padamu saat kau pulang. Aku juara satu lomba matematika internasional dan juara dua lomba sains internasional. Aku ingin membuatmu bangga. Tapi kenapa kau pergi begitu cepat?" gumamnya lirih.

Air matanya kembali mengalir. Camilio mengusap wajahnya dengan kasar, mengingat pesan ayahnya: seorang lelaki sejati tidak boleh mudah menangis. Tapi rasa kehilangan itu terlalu besar untuk dibendung.

Malamnya, setelah makan, Camilio mencoba menghibur ibunya. Mereka duduk bersama di sofa, berbicara pelan-pelan. Catharina mulai bercerita, "Hampir setahun terakhir, ayahmu membuka toko bahan makanan dan meminta Mom mengelolanya. Katanya, untuk mengisi waktu luang sambil menunggumu tumbuh dewasa. Ayahmu bilang, toko itu juga tabungan untuk masa tua kami nanti."

Camilio mengangguk sambil mendengarkan. "Aku tahu Dad selalu berpikir jauh ke depan. Itu salah satu hal yang paling aku kagumi darinya."

Catharina tersenyum tipis. "Ayahmu memang seperti itu. Dia selalu memikirkan segala kemungkinan. Tapi Mom tidak pernah menduga, ternyata itu semua firasat... seolah dia tahu waktu bersama kami tidak akan lama lagi."

"Mom," kata Camilio, menatap ibunya dengan mata yang penuh kesungguhan. "Kita tahu Dad adalah seorang prajurit negara. Kita harus siap mental menghadapi segala risikonya. Aku ini anak laki-lakinya, Mom. Aku bisa menggantikan Dad untuk menjagamu."

Catharina menatap anaknya dengan penuh kasih. "Kau baru 17 tahun, Cam. Tapi cara bicara dan pemikiranmu sudah seperti orang dewasa saja."

Camilio tersenyum kecil. "Aku ini anak Benhardi Osvaldo, Mom. Jadi harus berbeda."

Keduanya tertawa kecil, meski rasa duka masih begitu pekat di udara. Catharina melanjutkan, "Kita bukan keluarga kaya, tapi peninggalan ayahmu cukup untuk hidup layak. Ada tabungan, rumah sendiri, mobil, dan usaha toko yang sedang berkembang. Kau tidak perlu khawatir soal biaya hidup atau pendidikanmu. Fokus saja pada sekolahmu, ya?"

Camilio mengangguk patuh. "Ya, Mom. Aku paham."

Meskipun begitu, Camilio tahu tugasnya kini jauh lebih berat. Ibunya adalah sosok yang kuat dan mandiri, tapi ia sadar bahwa kehilangan suami tentu meninggalkan luka yang dalam. Sebagai anak tunggal, ia merasa bertanggung jawab untuk menjadi pelindung dan penopang ibunya.

Catharina menghela napas panjang sebelum berkata lagi, "Mom masih kuat, Cam. Kau fokus saja pada pendidikanmu. Nanti uang jasa negara dari ayahmu akan Mom simpan untuk biaya kuliahmu. Kau sudah harus memikirkan jurusan apa yang akan kau ambil."

"Aku sudah punya beberapa pilihan, Mom. Tapi aku ingin mempertimbangkannya dengan matang sebelum berdiskusi denganmu," jawab Camilio dengan senyuman tipis.

Catharina tersenyum bangga. Dalam hati, ia bersyukur memiliki anak seperti Camilio. Meski masih remaja, anak itu telah menunjukkan kedewasaan yang luar biasa. Kini, mereka hanya bisa saling menguatkan untuk melanjutkan hidup tanpa Benhardi Osvaldo, pria yang selalu menjadi pilar keluarga mereka.

Setelah percakapan itu, malam terasa lebih sunyi dari biasanya. Camilio kembali ke kamarnya, tetapi tidur enggan datang. Ia terus memikirkan kata-kata terakhir ayahnya sebelum berangkat sepuluh hari lalu. "Jaga ibumu baik-baik, Cam. Kau laki-laki satu-satunya di keluarga ini."

Pagi harinya, Camilio bangun lebih awal. Ia memutuskan untuk membantu ibunya di toko sebelum pergi ke sekolah. Sesampainya di toko, ia menyadari betapa sibuknya ibunya selama ini. Lima pegawai yang bekerja di sana memang cekatan, tetapi tetap saja Catharina terlihat sibuk mengawasi segala sesuatunya.

"Mom, biar aku bantu hari ini," kata Camilio sambil mengenakan celemek.

"Tidak usah, Cam. Kau harus fokus pada sekolahmu," jawab Catharina sambil tersenyum lembut.

"Tapi aku ingin membantu. Setidaknya sampai semuanya berjalan lebih stabil."

Catharina menatap anaknya dengan bangga. "Baiklah, tapi jangan sampai terlambat ke sekolah."

Hari itu berlalu dengan cepat. Meski lelah, Camilio merasa puas bisa membantu ibunya. Ia tahu, ini baru awal dari perjalanan panjang mereka tanpa Benhardi. Namun, ia bertekad untuk menjalani setiap langkah dengan penuh tanggung jawab, seperti yang selalu diajarkan ayahnya.

To Be Continued...

Lanjut Membaca

Daftar Isi Calamity Of Love

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Cinta yang Dipaksakan Berakhir Tragis
9.0
Sejak kecil, Wira dan Raisa tidak pernah akur. Namun, perjodohan keluarga memaksa mereka bersatu. Wira bersumpah menolak menikahi Raisa, sementara Raisa justru menantangnya. Pada hari pernikahan, Wira sengaja melepaskan puluhan ayam untuk mempermalukan Raisa, tetapi Raisa menghadapinya dengan tenang hingga membuat Wira memperingatkannya tentang penyesalan. Tiga tahun membina rumah tangga, Raisa akhirnya memahami arti peringatan itu setelah memergoki perselingkuhan Wira yang ke-99 kalinya.
Sampul Novel Dendam Ayahku & Takdir Cinta
9.7
Bagi Liana, cinta hanyalah transaksi fisik sementara demi meraih kemandirian finansial. Namun, hidupnya berubah saat Prabu, putra dari musuh bebuyutannya, bertunangan dengan Kinar. Berniat merusak kebahagiaan mereka sebagai aksi balas dendam, sebuah kekacauan di hari pernikahan justru memaksa Liana mengenakan gaun pengantin. Kini, ia terjebak menjadi istri pengganti dari pria yang sangat ingin ia hancurkan.
Sampul Novel Menceraikan Suamiku yang Menghamili Wanita Lain
8.9
Di tengah perjuangan berat menjalani program bayi tabung yang sudah memasuki bulan keempat, sebuah kenyataan pahit menghantamku. Tetangga sekaligus teman masa kecil suamiku tiba-tiba mengunggah foto kehamilan dengan takarir "Buah cinta kami. Sekeluarga bertiga." Di dalam foto tersebut, tampak jelas tangan suamiku sedang membentuk simbol hati bersamanya. Hal yang paling menyakitkan dan ironis adalah jemari suamiku masih melingkar cincin pernikahan kami yang sah.
Sampul Novel Om Bule Menjadi Kekasihku
8.4
Saat berlibur selama 12 hari di Luzern, Ela, seorang pegawai swasta, bertemu dengan pengusaha properti asal Libanon bernama Ali. Hubungan dekat mereka mendadak diterpa isu miring ketika paparazzi menuding Ela sebagai perusak hubungan Ali dan artis Nihan. Namun, Ali mengejutkan publik dengan mengumumkan Ela sebagai pacarnya saat konferensi pers. Walau Ela sempat bimbang karena kendala jarak antarnegara, Ali nekat datang ke Jakarta untuk membuktikan cintanya.
Sampul Novel Terima Kasih atas Luka yang Kau Berikan, Mas!
8.5
Kehangatan sikap Bram kini sirna tanpa bekas. Hatiku hancur saat menyaksikan suamiku sendiri berselingkuh dengan adik kandungku. Demi buah hati dan keutuhan rumah tangga, aku mencoba memaafkan mereka. Namun, setahun berlalu, pengkhianatan itu kembali terulang. Lewat pesan singkat yang tak senonoh, aku tahu hubungan terlarang mereka masih berjalan. Kini, aku dihadapkan pada pilihan sulit: terus bertahan atau mengakhiri pernikahan yang menyakitkan ini.
Sampul Novel War In Life
9.8
Tragedi maut merenggut nyawa Airin, menghancurkan kebahagiaan keluarga konglomeratnya. Ghea, putrinya, menolak pasrah dan mulai menyelidiki kecelakaan mencurigakan tersebut. Di tengah pencarian kebenaran, ia bertemu pria misterius di hotel mewah yang bersedia membantunya. Bersama-sama, mereka menghadapi bahaya demi membongkar konspirasi yang terkubur. Namun, di balik ketegangan misteri ini, benih asmara perlahan mulai tumbuh di antara keduanya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan