APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ketika Suami Tak Lagi Peduli

Ketika Suami Tak Lagi Peduli

Arista mendambakan pernikahan harmonis bersama Yoga, tetapi kenyataan pahit yang harus ia telan. Usai melepas pekerjaannya demi mengabdi pada suami, ia justru ditelantarkan tanpa nafkah dengan dalih upah yang ditangguhkan. Batas kesabaran Arista runtuh kala kebohongan Yoga terbongkar di tengah kondisi anak mereka yang jatuh sakit. Kini, ia bertekad membongkar motif di balik sikap dingin sang suami. Misteri kelam apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Yoga?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Mas, kamu tidak boleh egois seperti ini, kita harus menuruti saran dari dokter!" Aku berseru tidak terima, tidak peduli hari mulai beranjak pagi. Banyak orang-orang yang berlalu lalang di koridor rumah sakit.

Mas Yoga bersikeras supaya Zidan tidak diopname. Ia ingin Zidan menjalani rawat jalan saja. Aku tidak mengerti mengapa Mas Yoga menjadi kepala batu seperti ini. Padahal yang paling penting saat ini adalah keselamatan putra kami.

Aku tidak kuat melihat Zidan terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Ia sudah buang air lebih dari lima kali. Aku lihat Zidan tidak mampu lagi meneteskan air mata. Menurut dokter ini adalah salah satu tanda dehidrasi. Andai saja kemampuan bicaranya sudah sebaik orang dewasa, ia pasti akan berkeluh kesah.

Sorot mata Zidan yang sendu serasa mengoyak habis hatiku. Aku tidak akan tega bila putraku satu-satunya tidak ditangani dengan baik. Namun Mas Yoga terus meninggikan ego, berkata jika Zidan tidak perlu ditangani seserius itu. Padahal dokter yang lebih mengerti kondisi Zidan dibandingkan dirinya.

"Diare itu penyakit yang tidak parah. Masa harus diopname segala. Minum oralit juga sembuh," tegas Mas Yoga bersikukuh. Wajahnya merah padam. Aku menatapnya dengan tatapan tidak percaya, tidak parah dia bilang? Jika terjadi sesuatu yang buruk pada Zidan, tentu Mas Yoga yang pertama kali akan kusalahkan!

"Mas, ini bukan masalah parah atau tidak. Ini menyangkut kesehatan Zidan, putra kita!" serangku balik. Urat pada perpotongan leherku pasti menonjol keluar karena aku tidak bisa memendam amarah lebih lama lagi. Aku tidak boleh menuruti perkataan Mas Yoga kali ini.

Kuliat dia langsung meraup wajahnya sendiri. Ia menatap ke arah lain dengan pandangan tak terbaca. Aku masih menatap tajam Mas Yoga, menunggu pria itu mengudarakan suaranya.

"Aku tidak punya uang, Rista. Kalau Zidan diopname aku harus membayar pakai apa?" ujarnya dengan nada pelan.

Tidak ada lagi nada tinggi yang terucap dari bibir Mas Yoga. Mendengarnya, bahuku langsung meluruh.

"Tidak punya uang? Seharusnya kamu sudah menerima gaji sejak dua hari yang lalu. Kemana semua gaji itu?!" tanyaku berseru. Aku menahan air mata, menolak menangis di depan Mas Yoga.

Namun dia tidak menjawab pertanyaanku. Mas Yoga malah memalingkan wajah agar tidak bersitatap dengan mataku.

"Baik, kita lupakan tentang gaji bulan ini. Mungkin kamu akan berkata gajinya ditunda lagi. Tapi seharusnya masih ada sedikit sisa tabunganku dan THR tahun lalu kan, Mas?" tanyaku kembali. Aku mencoba mencari peluang lain agar Zidan segera ditangani.

Mas Yoga menatapku kembali. Dia mendesah panjang seraya membasahi bibir. Aku tetap diam. Naluriku mengatakan dia sedang mencari pembenaran.

"ATM dan tabunganku hilang. Aku sama sekali tidak punya uang," akunya sebagai alasan. Tawa sumbangku kembali terdengar, semudah itukah Mas Yoaga mengatakannya? Apakah dia tidak tahu jika gelagatnya sudah menjelaskan jika dia sedang mengarang cerita?

"Mas, mengaku saja. Kamu ingin lepas dari tanggung jawabmu sebagai kepala rumah tangga?" tanyaku menahan diri supaya tidak menangis.

Mas Yoga menatapku dengan pandangan terkejut. Mungkin ia tercengang karena ini pertama kalinya aku berani membentaknya. Lepas dari tanggung jawab berarti siap melepas identitas sebagai seorang suami. Mas Yoga tidak pernah memerankan diri sebagai kepala rumah tangga yang patut untuk dihormati.

"Arista, jangan berkata sembarangan! Katamu-katamu itu tidak pantas diucapkan oleh seorang istri!" sungutnya memarahiku.

"Tidak pantas? Aku pikir kelakuan Mas yang tidak pantas sebagai kepala keluarga!"

Aku berseru untuk kesekian kalinya. Air mataku menetes tepat setelah menyelesaikan perkataanku. Langkah kakiku berjalan lurus menyusuri koridor. Aku menangis bukan karena meratapi pernikahan kami. Namun karena Zidan tidak bisa ditangani sebelum biaya administrasi terpenuhi. Bahkan saat aku melangkah pergi, Mas Yoga tidak berminat untuk mengejar atau menghampiri. Sebenarnya apa yang aku harapkan dari pernikahan ini?

***

Aku memutuskan untuk mengabari Ibu lewat telpon mengenai keadaan Zidan. Sekaligus aku terpaksa meminjam uang dari Ibu untuk membayar biaya perawatan Zidan di rumah sakit. Ibu terkejut bukan main mendengar permohonanku, namun ia segera mentransfer sejumlah uang yang aku butuhkan.

Karena terlalu mengkhawatirkan Zidan, ibu memilih datang ke Jakarta dengan pesawat. Aku tidak bisa mencegahnya. Barangkali Ibu ingin melihat kondisi cucunya secara langsung. Selain itu sejak aku ikut Mas Yoga ke Jakarta, kami sudah cukup lama tidak bertatap muka.

"Arista, putriku," panggil Ibu.

Kami berpelukan setelah aku menunggu di depan pintu utama rumah sakit. Aku langsung mendekap ibu lebih erat guna menyalurkan rasa rindu. Aku tersenyum setelah kami menguraikan pelukan. Ibu menghembuskan napas seraya menatapku.

"Kamu sudah membayar biaya administrasinya?"

"Sudah, Bu. Aku sedang menunggu proses pemindahan Zidan ke ruang rawat. Maaf membuat Ibu repot kali ini," balasku melirih.

Ibu tidak menjawab. Kami berdua pergi ke tempat pemeriksaan Zidan. Aku menyerahkan bukti nota pembayaran kepada Ibu. Sementara aku meminta Ibu duduk di kursi tunggu. Ia pasti merasa lelah karena jarak Yogyakarta dan Jakarta tidaklah dekat. Aku benar-benar merasa bersalah sudah menyusahkan Ibu di hari tuanya.

Melihatku mendekat, ibu menepuk pelan sisi kursi kosong di sampingnya. Aku menurut, lantas mendudukkan diri di samping Ibu.

"Arista, kamu harus belajar tegas menghadapi suamimu. Ibu merasa janggal karena uang kalian lenyap begitu saja. Katamu Yoga juga sering telat gajian. Kamu harus menyelidiki Yoga secepatnya," ujar Ibu. Aku diam sebentar, mencoba meresapi nasehat ibuku kali ini.

Sejak dulu Ibu selalu mewanti-wanti agar aku bisa bekerja sendiri. Ibu takut hal seperti sekarang terjadi. Ibu sudah tahu kondisi pernikahanku yang tak jauh berbeda dengannnya dulu. Maka dari itu, ia memintaku waspada setiap saat.

"Arista, jamu mendengar nasehat Ibu kan?"

Pertanyaan itu mengudara. Aku menoleh cepat, lalu mengangguk mantap satu kali. Sudah cukup lama aku ingin menyelidiki apa yang terjadi sebenarnya dengan Mas Yoga. Namun semuanya tertunda karena kesibukanku menjaga Zidan.

"Setelah Zidan membaik dan keluar dari rumah sakit, aku pasti akan menyelidiki Mas Yoga," jawabku mantap.

Ibu tersenyum, mungkin merasa lega setelah aku menuruti nasehatnya. Tidak ada yang salah, aku hanya ingin mencari tahu penyebab Mas Yoga berubah drastis.

Perbincangan kami berakhir karena Zidan dipindahkan ke ruang rawat oleh dua orang petugas. Ibu kuminta pulang ke rumahku sebentar dengan taksi untuk membersihkan diri.

Aku menunggu di depan ruang rawat sementara dokter masih di dalam. Kulihat Mas Yoga bersandar tak jauh dari pintu tanpa menatap ke arahku. Ia juga tidak menyapa Ibu. Kami bungkam satu sama lain. Pikiranku bercabang antara kondisi Zidan dan misi memulai penyelidikan.

Dering pada ponsel terdengar, aku ikut menolehkan atensi pada Mas Yoga yang tengah merogoh saku jeans yang dikenakannya. Aku memperhatikan tiap detail ekspresi wajahnya. Dia tampak terkejut saat menatap layar gawainya menyala dalam genggaman tangan. Dahiku berkerut, merasa penasaran dibuatnya.

Mas Yoga tampak cemas dan gelisah setelah menolak panggilan telpon tersebut. Dia menatapku sembari mengedipkan mata, jelas ada yang salah di sini. Aku tetap tidak berniat untuk membuka suara. Memilih memalingkan wajah agar tidak terus menerus memusatkan pandang ke arahnya.

Derap langkah kaki yang terdengar membuatku kembali mengubaf fokus. Aku membalikkan tubuh tatkala mendapati Mas Yoga berlari meninggalkanku dengan mimik panik. Kedua alisku menyatu, merasa keheranan dengan apa yang baru saja terjadi. Rasa penasaranku semakin tinggi, siapa yang baru saja menghubungi Mas Yoga? Mengapa dia menolak mengangkatnya dengan raut wajah gelisah?

'Ibu benar, aku memang harus menyelidiki Mas Yoga cepat atau lambat,' gumamku di dalam hati.

Untuk saat ini, lebih baik memprioritaskan kesembuhan putraku. Zidan membutuhkan aku.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Durhaka Tidak Berguna
8.5
Usai berjuang menghidupi putranya lewat restoran kecil, seorang janda memenangkan lotre 160 miliar rupiah tepat sebelum pernikahan sang anak. Berniat pensiun, ia justru menghadapi penolakan kasar dari calon menantunya. Setelah mengirim uang satu miliar akibat laporan kecelakaan palsu sang putra, ia menerjang badai menuju kota tujuan. Di sana, ia mendapati putranya sedang melangsungkan pernikahan mewah, bersujud pada cinta pertama mendiang suaminya, dan bersanding dengan suaminya yang dikira telah tewas sepuluh tahun lalu.
Sampul Novel Cinta tanpa koma
9.2
Bagi Rudi, Rindu adalah cinta pertama dan terakhirnya. Namun, keyakinan itu runtuh saat Jaka, sahabat karibnya sendiri, merebut Rindu. Di tengah kehancuran hatinya, Rudi berusaha ikhlas dan tegar menerima kenyataan pahit tersebut. Meski waktu berlalu dan banyak wanita baru mencoba mendekatinya, kenangan masa kecil bersama Rindu tak pernah pudar dari benaknya. Akankah keteguhan hati dan kesetiaan Rudi berujung pada kebahagiaan? Ikuti kisah perjuangan cintanya yang penuh liku.
Sampul Novel KAMINI (Wanita Penuh Kasih Sayang)
9.4
Pasca melahirkan anak untuk Dirandra Ekadanta dan istri pertamanya, Kamini Citra Kirana diusir begitu saja. Meski dibuang dengan uang kompensasi agar tidak kembali, ia pergi membawa sebuah rahasia besar yang memicunya untuk bangkit. Lima tahun berselang, takdir justru menyeret Kamini kembali ke hadapan masa lalu dan keluarga yang dahulu mencampakkannya. Mampukah ia menghadapi situasi rumit ini? Akankah rahasia yang ia simpan rapat selama ini mengubah segalanya saat mereka bertemu lagi?
Sampul Novel Melepas Suamiku Demi Adikku
8.9
Pernikahan Anisa runtuh setelah skandal keji sang suami terbongkar. Pria yang sangat ia sayangi itu rupanya tega bermain api di belakangnya bersama Laura, adik tirinya sendiri. Rasa sakit hati Anisa kian mendalam saat mengetahui bahwa kini Laura sedang berbadan dua akibat perselingkuhan tersebut. Di tengah kepedihan yang luar biasa, Anisa akhirnya memilih mundur dan merelakan suaminya menikahi Laura demi bayi di kandungan adik tirinya itu.
Sampul Novel Merebut Hati Suamiku
8.4
Pernikahan di lingkungan pesantren antara Kayshilla Chandra dan Aaraf Ibrahim terjadi karena perjodohan orang tua. Namun, Aaraf berterus terang belum bisa mencintai Kayshilla sebab masih mengharapkan wanita lain. Kenyataan pahit ini memaksa Kayshilla berjuang menghadapi bayang-bayang masa lalu sang suami. Di tengah badai ujian rumah tangga, sanggupkah ketulusan dan kesabaran Kayshilla mencairkan sikap dingin Aaraf demi meraih cinta seutuhnya?
Sampul Novel Misteri Reagan Harvest
9.0
Clare Stewart, mahasiswi pintar yang terbelenggu perjodohan sejak kecil, awalnya enggan peduli pada calon suaminya. Namun, hatinya goyah setelah jatuh cinta kepada Reagan Harvest, senior kampus yang ternyata putra kaya raya dari sahabat ayahnya. Di tengah cinta yang membara, Clare terjebak dilema antara takdir keluarga atau perasaannya. Reagan pun memohon agar hubungan mereka tetap bertahan sebelum pernikahan paksa itu tiba. Akankah Clare memilih cintanya?