APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ketika Cinta Mati, Dendam Dimulai

Ketika Cinta Mati, Dendam Dimulai

Kehidupan jurnalis investigasi Eva Anindita hancur setelah putranya tewas tragis. Bukannya membela, sang suami, Jaksa David Adiwijaya, malah menjebloskan Eva ke penjara demi melindungi pelaku tabrak lari bernama Karin. Tiga tahun berlalu, Eva bebas dengan duka mendalam karena kehilangan anak keduanya di sel. Saat mengetahui David kini bahagia bersama Karin, amarah Eva tak terbendung. Ia siap membalas dendam atas segala pengkhianatan keji mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Wajah David tetap tanpa ekspresi. Matanya, yang dulu begitu penuh cinta untukku, kini dingin membekukan.

"Itu sudah berlalu, Eva. Sudah berakhir."

"Berakhir?" Kata itu adalah desahan tercekik. "Putraku meninggal. Aku kehilangan tiga tahun hidupku di dalam sangkar. Tidak ada yang berakhir."

Ruangan itu miring. Jantungku terasa seperti diremas dalam cengkeraman, setiap detaknya adalah tusukan rasa sakit yang baru. Aku terhuyung, getaran di anggota tubuhku menjadi tak terkendali.

Sejenak, aku melihat kilatan kekhawatiran di matanya. Hanya sekejap.

"Eva," katanya, suaranya rendah memperingatkan. Dia mengambil langkah cepat ke arahku, seolah ingin menangkapku.

Tapi kemudian ponselnya bergetar. Nada dering kartun yang ceria yang belum pernah kudengar sebelumnya.

Dia berhenti. Tubuhnya menegang. Dia melirik layar, dan seluruh posturnya berubah. Kilatan kekhawatiran itu hilang, digantikan oleh kelembutan seorang ayah yang lelah.

"Aku sedang dalam perjalanan," katanya ke telepon, suaranya lembut. "Ya, aku akan membelikan kue kering favoritnya. Jangan biarkan dia menangis."

Dia menutup telepon. Keheningan di ruangan itu memekakkan telinga.

Aku ingat bagaimana dia dulu pada Leo. Keras. Menuntut. Leo pernah menangis meminta kue kering sebelum makan malam dan David mengirimnya ke kamarnya tanpa makan malam. Dia selalu bilang dia sedang membangun karakter, membuatnya kuat.

Tapi anak baru ini, anak Karin, mendapatkan kue kering hanya karena menangis.

Aku mencengkeram sandaran kursi agar tidak pingsan di depannya. Harga diriku adalah satu-satunya yang tersisa.

Dia ragu-ragu, tatapannya tertuju padaku sejenak sebelum dia berbalik untuk pergi.

"Istirahatlah. Kita bicara besok."

Dia mulai berjalan keluar pintu, lalu berhenti. "Kode alarmnya masih sama. Aku akan meneleponmu."

Rumahku? Apakah ini masih rumahku? Pikiran itu adalah tawa pahit di tenggorokanku.

Dia pergi. Pintu depan tertutup, menjerumuskan rumah ke dalam senja yang lebih dalam. Duniaku, yang dulu begitu cerah, kini hanya nuansa abu-abu dan hitam.

Aku tidak ingin berada di rumah ini, tapi aku tidak punya tempat lain untuk pergi. Dan ada sesuatu yang harus kutemukan.

Aku menaiki tangga, kakiku terasa berat, dan pergi ke kamar Leo.

Kamar itu kosong.

Benar-benar kosong. Tempat tidur mobil balapnya hilang. Rak buku yang penuh dengan cerita favoritnya hilang. Dinding biru pucat, yang dulu dipenuhi gambar krayon dinosaurus dan kapal roketnya, telah dicat ulang dengan warna putih steril yang impersonal.

Mereka telah menghapusnya.

"Kau bajingan, David," bisikku pada ruangan kosong itu. "Bagaimana kau bisa begitu kejam?"

Lututku lemas. Aku merosot ke dinding, cat baru yang halus terasa dingin di punggungku. Suara serak, seperti binatang, keluar dari tenggorokanku, jeritan kesakitan murni yang tak terencerkan.

Aku menangis sampai kosong, sampai tenggorokanku serak dan mataku bengkak. Lelah, aku terhuyung-huyung masuk ke kamar tidur utama. Kamar tidur kami.

Bagian kecil yang bodoh dari diriku berharap dia mungkin menyimpan sesuatu milik Leo di sini. Selimut favorit. Satu mainan yang terlupakan.

Kamar itu persis seperti saat kutinggalkan tiga tahun lalu. Tirai tebal yang sama, tempat tidur king-size yang sama. Pakaianku masih tergantung di lemari, botol-botol parfumku masih berjejer di meja rias.

Kenapa? Kenapa menyimpan barang-barangku jika dia punya keluarga baru? Apakah dia membawa wanita itu ke sini?

Aku membuka laci meja samping tempat tidurku, tanganku gemetar. Aku tidak tahu apa yang kucari.

Dan kemudian aku melihatnya.

Terselip di belakang, di balik jurnal-jurnal lamaku, ada sebuah kotak kecil pakaian dalam yang belum dibuka. Mahal. Sutra dan renda. Sama sekali bukan gayaku. Itu gaya Karin.

Aku tahu, pada saat yang menyayat hati itu, apa sebenarnya itu. Dan aku tahu mengapa dia menyimpan barang-barangku.

Rumah ini bukan kuil untuk pernikahan kami yang telah mati. Itu adalah taman bermain pribadi mereka. Mereka akan datang ke sini, ke tempat tidur kami, dikelilingi oleh hantuku, dan memainkan permainan mereka yang menyimpang. Memikirkannya saja membuatku mual.

Aku berlari ke kamar mandi dan muntah ke toilet, muntah sampai tidak ada yang tersisa selain empedu pahit. Tubuhku lemah, semangatku hancur. Aku pingsan di lantai ubin yang dingin, dunia memudar menjadi hitam.

Aku terbangun oleh cahaya fajar yang remang-remang menyaring melalui jendela. Aku berada di tempat tidur. Seseorang telah memindahkanku dari lantai kamar mandi dan menyelimutiku.

David berdiri di dekat jendela, menatapku. Ekspresinya adalah salah satu yang tidak pernah kulihat selama bertahun-tahun. Lembut. Penuh rasa sakit. Untuk sesaat yang mengerikan, kupikir aku melihat cinta di matanya.

Pikiran itu membuatku ingin muntah lagi.

Suaraku serak. "Kenapa kau tidak membuang barang-barangku?"

Aku duduk, menarik selimut di sekelilingku seperti baju zirah.

"Kenapa kau tidak menyingkirkanku sepenuhnya, David? Apakah lebih menyenangkan bagimu dan Karin bercinta di tempat tidurku, tahu aku membusuk di sel?"

Wajahnya mengeras. Momen kelembutan singkat itu lenyap.

"Jadi kau tahu," katanya. Itu bukan pertanyaan.

"Aku melihatmu. Di pemakaman. Bersamanya. Dan putramu."

Dia tidak menyangkalnya. Dia hanya berdiri di sana, sebuah patung yang diukir dari ambisi dan kebohongan.

"Kami punya anak, ya," katanya, suaranya datar.

Duniaku, yang kupikir sudah hancur, hancur menjadi debu yang lebih halus. Setiap kenangan akan cintanya, janjinya, bisikan manisnya, berubah menjadi abu di benakku.

Aku teringat dia memelukku seumur hidup yang lalu, berjanji untuk melindungiku. Aku teringat dia menangis bahagia saat Leo lahir.

"Kenapa tidak ceraikan saja aku?" tanyaku, suaraku nyaris tak terdengar. "Kenapa membuatku melalui semua ini?"

Dia mengatupkan rahangnya. "Citra perceraian yang berantakan selama kampanye gubernur tidak baik, Eva. Seorang duda yang berduka adalah sosok yang jauh lebih simpatik."

Dia berbicara tentang Leo. Seperti aset politik.

"Tapi ketika aku mendapatkan nominasi," lanjutnya, suaranya dingin dan masuk akal, "dan pemilihan sudah aman, aku akan menceraikan Karin. Kau dan aku bisa bersama lagi."

Aku menatapnya, pikiranku berjuang untuk memproses keberaniannya yang luar biasa dan mengerikan. Dia menyimpanku. Seperti setelan cadangan di belakang lemari. Pilihan nyaman untuk kembali ketika perselingkuhannya dengan sang pewaris telah mencapai tujuannya.

Dia tidak berubah sama sekali. Dia masih anak laki-laki kejam yang sama dari daerah kumuh, bersedia melakukan apa saja, mengorbankan siapa saja, untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Beautiful ESCAPE
8.3
Rasa ingin tahu menyeret Louisa Gonzales, resepsionis hotel berusia 24 tahun, ke dalam petaka setelah ia tidak sengaja melihat aksi pembunuhan oleh gangster asal Italia. Kini, hidupnya dikendalikan oleh sang bos mafia, Dominic Theodoretti, yang memanfaatkan masa lalu Louisa sebagai peretas ahli. Saat terperangkap di Sisilia di tengah ancaman mematikan, ia terpaksa membongkar rahasia kehamilannya kepada Dominic demi bisa bertahan hidup dan merencanakan pelarian bersama.
Sampul Novel Demi Selingkuhan, Kakak Rela Mengorbankan Kami
8.4
Akibat kelalaian sang kakak yang membawa seluruh pengawal demi selingkuhannya, rumah mereka diserang musuh lama. Ibu terluka parah, dan meski bantuan akhirnya datang, sang selingkuhan menghilang serta meninggalkan surat fitnah. Hal ini memicu dendam sang kakak yang tega membunuh adiknya sendiri demi merebut takhta ahli waris perusahaan. Namun, maut bukan akhir. Sang protagonis terbangun kembali di masa lalu, tepat ketika pintu vila mulai didobrak oleh musuh yang haus darah.
Sampul Novel Immortal Soul
9.1
Di dunia ini, kekuatan kultivasi hanya dikuasai oleh pemilik ikatan spiritual yang kuat, sementara mereka yang berakar fana ditakdirkan hidup biasa saja. Mo Wuji terperangkap dalam kasta fana tersebut karena keterbatasan bakatnya. Namun, ia menolak tunduk pada nasib yang tidak adil ini. Saksikan perjuangan keras Mo Wuji dalam menembus batas kemampuan dan melampaui takdir kelamnya demi membuktikan bahwa seorang manusia biasa juga bisa menjadi luar biasa.
Sampul Novel Kafan Hitam
9.6
Kematian tragis Mbah Atim, sang penjaga makam yang jasadnya ditemukan tanpa kepala, mencekam Desa Ciboeh. Teror mistis mulai menghantui warga, mendorong pemuda lulusan pesantren bernama Rojali untuk menyelidiki misteri ini. Pencariannya justru mengungkap rahasia kelam masa lalu desa, kasus hilangnya warga, kelompok rahasia Kalong Hideung, hingga takdir pribadinya. Di tengah situasi genting tersebut, ia mendapat tawaran bantuan dari kekuatan gaib.
Sampul Novel Pembalasan Pada Keluarga Mantan Calon Suamiku
9.1
Demi keadilan bagi diri dan ibunya, Azzalyn bangkit membawa dendam membara. Kehilangan orang-orang tercinta akibat kekejaman musuh telah menghapus seluruh rasa takutnya. Di tengah perjuangan, ia dikejutkan oleh kenyataan bahwa sang ayah rupanya masih hidup, walau ada masa lalu kelam yang menyertainya. Meski badai persoalan terus datang menghimpit, Azzalyn bertekad untuk tetap bertahan dan membalas setiap kejahatan mereka.
Sampul Novel Penderitaan yang Dipaksa Tersenyum
9.0
Hidup Liana hancur setelah Revan, suaminya, menjual dirinya kepada bos mafia Eropa yang kejam, Dominic Valente, demi melunasi utang judi. Di balik sifat dinginnya, Dominic justru terpikat oleh ketulusan Liana hingga malam kebersamaan mereka menghasilkan sebuah kehamilan. Namun, sebelum Dominic sempat menolongnya, Revan kembali menyeret Liana untuk disiksa sebagai budak. Di saat Dominic mengerahkan segalanya untuk mencari Liana, wanita itu berjuang bertahan hidup demi bayi di kandungannya.