
Kesetiaan Yang Dikhianati
Bab 4
Stella bangun lebih pagi dari biasanya di hari ulang tahunnya, lalu memilih gaun putri kesayangannya.
Belajar dari pengalaman sebelumnya, aku sudah mengirim pesan pada David sejak tiga hari sebelumnya, tapi tidak ada balasan sama sekali.
Stella baru saja selesai memainkan sebuah lagu di piano, lalu menoleh padaku dengan penuh harap.
Dia sudah menyiapkan diri untuk memainkan lagu twinkle twinkle little star yang diajarkan David tahun lalu padanya dan beberapa hari ini dia selalu beratih berkali-kali.
Namun, hanya satu tatapan di antara kami, seolah dia pun mengerti semuanya.
Bocah kecil itu pun menunduk, lalu perlahan menutup tutup piano.
“Ayah sibuk, nggak sempat datang.”
Stella membuka kotak kue, memotong sepotong kue kecil.
“Ibu, nggak apa-apa. Kita bisa dapat lebih banyak kalau hanya makan berdua.”
Ketegaran hatinya yang dipaksakan itu, serasa menusuk dadaku dalam-dalam.
Tiba-tiba, aku merasa begitu tak berguna. Bahkan tak mampu memenuhi satu keinginan kecil putriku.
Aku menarik napas, lalu kembali membuka ruang obrolanku dengan David.
[Stella hanya ingin merayakan ulang tahun sekali ini saja bersamamu.]
[Kamu bahkan nggak bisa memenuhi keinginan sekecil ini?]
Lima menit kemudian, terdengar suara notifikasi.
[Kalian mulai saja dulu, aku bakal rayakan ulang tahun susulan untuk Stella.]
Belum sempat aku marah, pesannya langsung ditarik, kemudian dia mengirim satu pesan baru.
[Aku ke sana sekarang.]
Anda Mungkin Juga Suka





