
Kesetiaan Yang Dikhianati
Bab 5
Mataku langsung berbinar dan meraih Stella ke dalam pelukanku.
“Om David ingat! Dia bakal datang sebentar lagi!”
Seketika, Stella langsung ceria kembali dan membuka lagi tutup pianonya. Lantunan piano pun mulai terdengar memenuhi ruangan.
“Ayah pernah bilang kalau aku bisa memainkan lagu twinkle twinkle little star, berarti aku anak pintar!”
“Ayah pasti akan sangat terkejut nanti!”
Sejak mendapat kabar itu, Stella terus bergumam penuh semangat, senyuman bahagia terukir di wajahnya.
Setengah jam kemudian, bel rumah berbunyi.
Stella meloncat-loncat kegirangan, berlari membuka pintu dan langsung terjun ke pelukan David.
“Ayah!”
Namun, Elvy berdiri di samping David, sementara di belakang mereka masuk rombongan besar tamu undangan, para tokoh terpandang di kalangan elit.
“Kok ada anak kecil yang asal memanggil orang ayah di rumah pernikahan David?”
“Siapa wanita itu? Bisa-bisanya masuk ke sini?! Cepat usir keluar!”
“Benar-benar sial….”
Satu per satu komentar pedas itu masuk ke telingaku. Tak lama kemudian, beberapa pengawal mendekat dan siap menyeretku pergi.
Hatiku langsung diliputi firasat buruk.
David benar-benar tega menyingkirkan kami dengan cara seperti ini?
Jantungku berdetak kencang. Aku menatapnya lekat-lekat, seolah tak peduli dengan hiruk-pikuk di sekeliling. Dengan suara nyaris berbisik, aku memanggilnya, “David?”
Namun, David reflek menyingkirkan Stella dari pelukannya, lalu menatapnya dengan marah, “Siapa yang menyuruhmu asal panggil begitu?!”
Setelah itu, dia menghindari tatapanku dan berkata pada semua orang, “Kami memang pernah bertemu, tapi nggak kenal. Mereka mungkin hanya sengaja datang untuk cari masalah.”
Entah sengaja atau tidak, Elvy sibuk memainkan gelang giok di pergelangan tangannya.
Dadaku serasa dihantam batu yang keras, seakan seluruh isi tubuhku ikut remuk.
Sembilan tahun kebersamaan dan kini hanya digantikan dengan ‘mencari masalah’.
Stella terdorong ke belakang hingga hampir terjatuh. Matanya langsung berkaca-kaca. Dia menarik napas tersengal, lalu dengan hati-hati mengganti panggilannya, “Om David….”
Dengan langkah terhuyung, Stella kembali ke arah piano dan duduk di bangkunya. Dia berkata dengan suara pelan, “Ayah… Om David, aku mau mainkan lagu untukmu.”
Stella sangat ingin bisa merayakan ulang tahun bersama ayahnya.
Dan dengan kepolosannya, dia percaya kalau menghidupkan kembali kenangan kecil itu, ayahnya akan kembali seperti dulu.
Namun, belum sempat jarinya menyentuh tuts pertama, sebuah tangan sudah menahan gerakannya. Pergelangan tangan yang putih dan ramping itu seakan mudah sekali dipatahkan.
Elvy tersenyum penuh kemenangan. Dengan sikap layaknya nyonya rumah, dia berkata, “Anak haram jangan mengacau di rumah pernikahan kami.”
Wajah Stella langsung pucat. Air matanya pun jatuh dan menetes ke lantai.
Namun, tidak ada seorang pun yang menunjukkan belas kasihan.
Melihat air mata putriku, tiba-tiba amarahku meledak. Aku berhasil melepaskan diri dari cengkeraman beberapa pengawal bertubuh besar, meraih vas kaca di samping dan menghantamkannya ke arah David.
David tak sempat menghindar, sudut tajam pecahan kaca itu menyayat keningnya, meninggalkan luka berdarah.
“Apa-apaan, berani-beraninya ganggu anak kecil!”
Napasku terengah-engah dan dengan mata berkaca-kaca, aku menatap David tanpa berkedip.
Kebenarannya cukup sederhana. Pesan itu sama sekali bukan dari David.
Itu ulah Elvy yang sengaja ingin memanfaatkan tangan David untuk mempermalukanku habis-habisan di depan semua orang.
Dengan begitu, David pun bisa dipaksa benar-benar memutuskan hubungan dengan kami.
Namun, aku tak berniat ikut dalam drama keluarga ini.
Anda Mungkin Juga Suka





