
Kesetiaan Yang Dikhianati
Bab 3
Aku tak berkomentar dan melepas gelang itu, tapi masih menggenggamnya erat di telapak tanganku.
Seketika, suasana membeku.
Lalu tiba-tiba aku tersenyum tipis, mengangkat gelang giok itu, lalu menyerahkan pada Elvy.
David hanya menundukkan kepala tanpa sepatah kata pun sejak tadi.
Menyedihkan sekali.
Barusan aku masih berharap dia akan mengenali gelang ini, lalu menghentikan Elvy.
Ternyata aku yang terlalu banyak berharap.
Aku tersenyum dan berkata, “Kamu pasti terlihat cantik memakainya.”
Kemudian aku menggendong Stella lebih erat, berbalik dan melangkah pergi.
“Eh, Lily….” panggil David menahanku, tapi langsung dipotong oleh ibunya.
“Biar saja dia pergi! Wanita seperti itu nggak ada gunanya di sini, malah nggak baik untuk si bayi….”
Di sampingnya, Elvy terkejut dan berkata, “David, sepertinya bayinya gerak!”
“Apa? Biar kurasakan….”
Aku berjalan cepat, suara mereka makin lama makin jauh, hingga akhirnya tak terdengar lagi.
Sampai di rumah, Stella masih belum bisa menerima kenyataan kalau dirinya sudah kehilangan sosok ayahnya. Wajah mungilnya tetap mengerut, air mata masih menempel di ujung mata, pipinya memerah karena terlalu banyak menangis.
Dia menarik tanganku, berbicara dengan suara yang serak bercampur tangis, “Aku mau ayah merayakan ulang tahunku….”
Hatiku ikut perih mendengarnya. Aku menyibakkan poni basahnya ke samping telinga, lalu menggendongnya ke pangkuanku. Kemudian, dengan lembut aku mengoreksi, “Stella, kamu harus panggil om sekarang. Dia bukan ayahmu lagi.”
“Ikut ibu pulang ke rumah, ya?”
“Tapi, bukannya ini rumah Stella?” tanya putriku dengan suara yang hampir serak karena menangis.
“Ini rumah Om David, bukan rumah ibu dan Stella.”
“Tunggu sebentar lagi, ibu membawamu pulang ke rumah, ya.”
Mata Stella yang masih basah menoleh ke sudut ruang tamu, ke arah piano hitam. Itu adalah hadiah ulang tahunnya tahun lalu dari David.
Saat itu, Stella begitu gembira. Seharian penuh berlarian sambil bersorak, merengek ingin diajari bermain piano oleh ayahnya. Lalu berkata dirinya adalah putri Stella paling bahagia di dunia.
Saat itu, David tertawa dan terlihat tatapan matanya yang penuh kasih sayang seorang ayah untuk putrinya.
Namun, semua itu sudah berlalu.
“Bolehkah aku merayakan ulang tahun bersama ayah sekali lagi?”
Dia masih begitu kecil, belum bisa memaksanya untuk mengganti panggilan.
Aku pun tidak memarahinya, hanya mengusap lembut kepalanya dan menjawab, “Iya, nanti ibu bilang pada Om David.”
Stella sudah ikut terseret ke dalam pertikaian orang dewasa yang penuh air mata.
Yang bisa kulakukan hanyalah sebisanya memberi dia sedikit kebahagiaan yang utuh.
Anda Mungkin Juga Suka





