
Keperkasaan Sang Mertua
Bab 3
Orang Mesum!
Saat merasakan tangan kasar seorang pria yang menyentuh bokongku dengan kuat, aku langsung menyadari aku sedang bertemu dengan orang mesum di kereta bawah tanah!
Wanita yang cantik dan berpenampilan menarik hampir selalu berhadapan dengan orang mesum di kereta bawah tanah, kereta api, atau bus. Pelaku biasanya mencari wanita yang sendirian, lalu memanfaatkan kesempatan untuk berbuat tidak pantas.
Karena berada di tempat ramai, banyak wanita memilih untuk tidak berteriak karena takut mempermalukan diri sendiri saat dilecehkan oleh orang mesum. Orang mesum justru memanfaatkan rasa takut ini untuk lecehkan mereka.
Hari ini, aku mengenakan pakaian yang cukup dewasa. Atasan yang kukenakan adalah blazer wanita yang dipadukan dengan kemeja putih di dalamnya, dengan dua kancing bagian kerah terbuka, sehingga memperlihatkan bagian payudaraku.
Untuk bawahan, aku memakai rok pendek ketat. Karena hari ini aku sangat tersiksa oleh penyakit kecanduanku, aku sempat pergi ke kamar mandi dan menggunakan mainan untuk meredakannya. Stoking hitam yang tadinya kupakai akhirnya aku buang ke tempat sampah kamar mandi karena sudah terkena bekas-bekas kegairahanku.
Sekarang, sepasang kakiku yang putih dan panjang terlihat jelas, dengan mengenakan sepatu hak tinggi hitam bersol merah. Setiap pria normal yang melihat penampilanku pasti tidak akan bisa menahan diri untuk tidak melirik beberapa kali.
Wajahku termasuk tipe dewasa dan memesona. Suamiku pernah bilang, seiring bertambahnya usiaku, aura dewasaku di wajahku justru makin kuat. Singkatnya, aku terlahir dengan wajah yang menggoda seperti rubah.
Makin tua usiaku, makin tampak lebih menggoda.
Jadi, wajar saja jika aku menjadi sasaran orang mesum di kereta bawah tanah.
Berpenampilan seksi dan cantik bukanlah kesalahan kami sebagai wanita. Kami memang kelompok yang rentan, sehingga sering kali menjadi sasaran pelecehan oleh pria.
Saat itu, kereta bawah tanah cukup penuh, dan karena sentuhan tangan itu sangat tersembunyi, aku pun sulit mengenali siapa yang menyentuhku.
Sebagai wanita yang masih menjaga harga diri, tentu aku tidak mungkin berteriak di depan umum. Hal memalukan seperti itu tidak akan aku lakukan. Namun, membiarkan orang seenaknya mengambil keuntungan dariku, aku...
Sepasang tangan di bokongku tiba-tiba meluncur ke bawah, menyusup masuk ke dalam rok ketat yang aku kenakan, lalu mulai bergerak liar di dalamnya.
"Ah!"
Tubuhku langsung gemetar dan aku tidak bisa menahan teriakanku.
Benar saja, teriakanku ini menarik perhatian beberapa orang ke arahku.
Seketika aku merasa sangat malu dan wajahku memerah karena tatapan mereka. Aku pun menundukkan kepala, menutup mulutku, dan berusaha sekuat mungkin untuk tidak mengeluarkan suara lagi.
Pria itu tampaknya memang sudah terbiasa melakukan hal seperti ini. Dia sangat paham tubuh wanita dan menyusup ke balik rok tanpa kesulitan. Dia tahu persis dari mana harus menyerang langsung ke sasaran, tanpa harus repot. Sekali bertindak, langsung menyerang ke bagian paling sensitif!
Tangan asing yang hangat itu bergerak bebas di bawah rok ketatku. Terkadang meremas bokongku dengan kencang, lalu meluncur ke paha dan memutar-mutar jarinya dengan lembut.
Sensasi menggigil dan menggelitik menyebar dari bawah ke seluruh tubuhku. Aku begitu nyaman sampai hampir ingin berteriak, sementara tubuhku gemetar karena gairah yang meluap.
Aku menutup mulutku, mataku membelalak, dan wajahku memperlihatkan ekspresi nyaman dan menahan diri.
Ya Tuhan, pria ini benar-benar ahli!
Hanya dengan kedua tangannya saja, dia bisa membuat seorang wanita yang memiliki penyakit pecandu sepertiku terangsang sampai seperti ini. Bagaimana jika penisnya benar-benar masuk? Bukankah itu akan nikmat sekali?
Hmm… ah… aku tidak tahan…
Sekadar membayangkannya saja, tubuhku sudah gemetar tidak karuan. Celana dalam yang baru saja aku ganti siang tadi… sudah basah lagi.
Terlebih lagi, saat tangannya menyusup ke balik rokku, orang mesum yang menggodaku ini berbisik pelan, "Wanita sekarang memang nggak tahu malu, keluar tanpa pakai apa-apa di bawah."
Perkataannya membuat pipiku memanas, rasa malu memenuhi hatiku.
Pagi tadi aku memang memakai stoking ke kantor, tapi tanpa celana pendek. Siangnya, karena sudah menyelesaikan kebutuhan, stoking itu aku buang. Jadi sekarang, aku hanya memakai celana dalam kecil berwarna ungu.
Begitu aku membungkuk atau orang-orang itu menunduk, keburukanku akan langsung terlihat oleh mereka.
Pria itu tidak berniat melepaskanku dan gerakan tangannya malah makin berani.
Karena aku tidak mengenakan celana pendek, sepertinya pria itu menganggapku sebagai wanita tidak tahu malu yang bisa dia lecehkan.
Tubuhku gemetar, tanganku mencengkeram erat tiang kereta, kakiku mengatup rapat, dan wajahku memerah.
Melihatku menutup kaki, pria itu mendengus kesal, lalu mengangkat tangan dan menampar bokongku dengan keras.
Aku menjerit pelan dan tubuh bergetar menahan sakit.
"Siapa yang suruh kamu tutup kaki? Buka!"
Entah karena takut atau karena harapan tersembunyi, aku pun membuka kakiku perlahan. Pria di belakangku terkekeh puas sebelum kembali melecehkanku.
Rasa penasaranku terlalu besar. Aku menahan air mata dan menoleh sebentar. Dalam sekejap, wajahku langsung memerah.
Tidak kusangka, pria tinggi besar yang sedang melecehkanku itu ternyata adalah ayah mertua yang sebentar lagi akan menginap di rumahku selama beberapa hari!
Anda Mungkin Juga Suka





