APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kencan Buta Salah Alamat

Kencan Buta Salah Alamat

Tujuh tahun Cinta terjebak friendzone demi menjaga hatinya untuk Raka. Namun, impian itu runtuh saat Raka memilih perempuan lain. Di tengah rasa patah hati, ia terpaksa menggantikan temannya pergi kencan buta. Sialnya, Cinta salah menemui orang dan malah berhadapan dengan calon bos barunya sendiri. Pertemuan yang salah alamat dan memalukan ini justru menjadi awal dari takdir baru yang menuntun Cinta pada belahan jiwa yang sesungguhnya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Pipi Cinta terasa dingin. Bukan karena AC, tapi karena lapisan es yang menempel di cermin.

Dia menekankan pipi kanannya pada permukaan cermin kamar mandi, berharap dinginnya bisa menyerap sensasi panas, perih, dan bodoh yang memenuhi kepalanya. Air mata? Sudah kering. Tisu bekas ingus dan air mata sudah menumpuk di tempat sampah kecil samping kloset, menjadi monumen kegagalannya selama tujuh tahun terakhir.

Tujuh tahun.

Tujuh tahun itu bukan waktu yang sebentar. Itu waktu yang cukup untuk menyelesaikan kuliah, punya gelar ganda, bahkan sempat ganti genre musik favorit tiga kali. Tapi, Cinta menghabiskan tujuh tahun itu hanya untuk satu orang: Raka.

Raka Adiputra, si manusia menyebalkan yang selama ini Cinta yakini adalah tulang rusuknya yang hilang. Selalu ada untuknya, selalu tertawa saat dia membuat lelucon garing, selalu membawakan matcha latte saat dia sedang stres mengerjakan deadline-semuanya terasa sempurna, seolah mereka sedang menjalani sebuah cerita romantis yang hanya menunggu bab "Jadian" tiba.

Namun, bab itu tidak pernah datang.

Justru, bab yang datang adalah "Raka dan Wanita Lain".

"Aku dan Luna mau serius, Cin," kata Raka tiga minggu lalu. Sambil menatap Cinta, tanpa sedikit pun keraguan atau rasa bersalah di matanya. Hanya ada kebahagiaan murni, kebahagiaan yang tidak pernah Raka tunjukkan saat mereka berdua saja.

Cinta masih ingat bagaimana ia berusaha mati-matian tersenyum saat itu. Ia ingat bagaimana tenggorokannya tercekat, dan ia hanya bisa berujar, "Oh, baguslah. Luna cantik, Ka."

Luna cantik, Ka. Kalimat itu sungguh munafik. Cinta ingin berteriak, ingin melempar cangkir kopi ke wajah Raka, ingin mengguncangnya sambil bilang, Aku di sini, tujuh tahun di sisimu! Apa aku nggak cukup cantik? Tapi, yang keluar hanyalah pujian standar yang menyakitkan.

Dan kini, tiga minggu setelah pengakuan itu, Cinta masih stuck di dalam kamar, mengutuk takdir dan dirinya sendiri yang terlalu pengecut untuk mengakui perasaan.

Kenapa nggak bilang? Kenapa harus jadi sahabat terus?

Jawabannya karena aku takut, bodoh.

Cinta melepaskan wajahnya dari cermin. Ia menatap pantulan dirinya: seorang wanita berusia 25 tahun, dengan rambut sebahu yang berantakan, mata sedikit bengkak, dan kaus kebesaran bergambar Doraemon yang sudah bolong di bagian lengan. Jauh dari kata "siap untuk move on".

Tiba-tiba, ponselnya bergetar kencang di atas wastafel. Nama "Bulan" muncul dengan ikon emoji bom meledak.

Cinta menghela napas. Hanya Bulan yang berani mengganggu proses self-pity dramatisnya.

"Apaan, sih?" sapa Cinta, suaranya terdengar serak.

"Ya ampun, Cinta! Akhirnya diangkat juga! Aku udah spam kamu dari tadi! Kamu udah makan, belum? Aku tahu kamu pasti cuma rebahan sambil dengerin lagu galau Korea." Suara Bulan langsung menembus, seolah dia tahu persis apa yang Cinta lakukan.

"Udah. Aku makan udara patah hati. Kenyang. Ada apa?" jawab Cinta dingin.

"Aduh, drama banget. Dengar, Cin, aku nggak mau dengerin ratapanmu lagi. Cukup. Kamu tahu nggak, aku ada masalah besar!" Bulan terdengar panik, dan itu berhasil menarik perhatian Cinta. Bulan jarang panik.

"Masalah apa? Deadline proyekmu belum selesai? Jangan bilang kamu lupa submit laporan keuangan lagi?"

"Bukan itu, Beb! Ini soal date. Blind date! Ingat, kan, yang aku ceritain sama client baru dari perusahaan Kencana Group, namanya Dio?"

"Dio? Cowok yang kamu bilang lumayan oke tapi too stiff itu?"

"Iya! Nah, malam ini, dia ngajakin ketemu. Katanya mau bahas detail kerjaan sekalian kenalan lebih lanjut. Aku udah bilang iya, tempatnya udah booked, tapi..." Suara Bulan mengecil, "Aku barusan dapat telepon. Ibuku masuk rumah sakit. Pendarahan usus. Aku harus ke sana sekarang juga."

Cinta terdiam. Urusan Ibu Bulan jelas jauh lebih penting dari kencan buta. "Ya ampun, Bulan! Cepat ke sana! Nggak usah khawatir soal Dio. Cancel aja."

"Nggak bisa, Cin! Dia ini client besar. Kalau aku cancel mendadak, dia bisa mikir aku nggak profesional dan kabur ke agensi lain! Reputasi perusahaan kita dipertaruhkan, Cin! Aku harus menjaga Dio ini tetap tertarik, setidaknya sampai besok pagi!"

"Terus?" Cinta mulai curiga ke mana arah pembicaraan ini.

"Terus... kamu kan lagi libur. Please, tolong aku, Cin. Gantikan aku!"

Cinta langsung menarik kepalanya menjauh dari ponsel. "Gila! Nggak mau!"

"Cinta, please! Cuma sebentar! Kamu cuma perlu dateng, senyum, bilang kamu Bulan, dengarkan dia ngomongin proyek, dan bilang kamu harus pulang duluan karena ada urusan mendesak. Aku janji, besok aku traktir kamu all-you-can-eat sepuasnya! Dua kali! Sampai kamu muntah!"

Cinta menyambar ponselnya lagi. "Bulan, kamu waras? Gantiin kencan buta? Dio nggak pernah lihat kamu, kan?"

"Belum! Kami cuma tukeran foto profil WhatsApp! Dan untungnya, wajah kita mirip-mirip gitu kalau dilihat dari kejauhan. Kamu cuma perlu pakai kacamata bingkai tebal dan iket rambut, biar auranya beda!" Bulan memohon, nadanya penuh keputusasaan.

Cinta menimbang-nimbang. Patah hati, di rumah sendirian, atau keluar dan berpura-pura menjadi orang lain selama satu jam? Pilihan kedua kedengarannya lebih... menghibur, setidaknya.

"Aku nggak tahu apa-apa soal Dio, soal proyekmu!"

"Nggak masalah! Bilang aja kamu lagi capek banget dan mau dengerin dia aja! Dia pasti suka cowok yang mau didengarkan! Cin, ini buat healing kamu juga! Kamu harus keluar, ganti baju, pakai make up! Jangan biarin Raka lihat kamu mengenaskan begini!"

Kata-kata terakhir Bulan menancap. Jangan biarin Raka lihat kamu mengenaskan begini.

"Oke. Aku gantiin. Tapi kalau Dio ternyata psikopat, aku bunuh kamu besok."

Bulan bersorak heboh. "Aku kirimin alamatnya sekarang! Restoran Italia yang super mewah di lantai atas gedung Astra. Namanya Il Cielo. Meja atas nama 'Dio'. Good luck, Cinta! You are my hero!"

Sambungan terputus. Cinta menatap pantulannya di cermin sekali lagi. Blind date. Dengan calon client Bulan. Demi menyelamatkan reputasi agensi. Demi melupakan Raka sejenak.

"Oke, Doraemon. Kita keluar dari sangkar ini," bisik Cinta pada kaus kumalnya.

Satu jam kemudian, Cinta berdiri di lobi restoran Italia yang namanya Il Cielo-yang benar-benar terasa seperti di langit karena terletak di lantai 38. Jantungnya berdebar kencang, campuran antara rasa gugup dan takjub melihat kemewahan di sekitarnya.

Ia sudah berusaha keras. Rambutnya yang sebahu kini ditata rapi. Ia memakai dress hitam sederhana tapi elegan yang selama ini tersimpan di lemari. Make up-nya tipis, hanya untuk menutupi jejak-jejak kesedihan. Ia bahkan menemukan kacamata bingkai tebal Bulan yang tersimpan di laci.

Cinta menghampiri seorang pelayan dan menyebutkan nama yang ia cari. "Saya dengan Tuan Dio. Meja atas nama Dio."

Pelayan itu tersenyum ramah dan mengarahkan Cinta ke pojok ruangan yang agak privat, dekat jendela besar dengan pemandangan lampu kota yang berkilauan.

"Meja Tuan Dio sudah menunggu, Nona."

Cinta menarik napas dalam-dalam. Ingat, kamu Bulan. Kamu profesional. Kamu cantik. Kamu di sini untuk proyek, bukan cinta.

Ia melangkahkan kaki perlahan. Di meja itu, sudah duduk seorang pria.

Pria itu membelakangi jendela, sehingga cahaya dari luar menciptakan siluet yang dramatis. Posturnya tegap, bahunya lebar, dan ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang terlihat sangat mahal. Rambutnya ditata rapi ke belakang. Aura di sekelilingnya langsung berteriak: keseriusan, otoritas, dan sangat-sangat-tampan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Abang Duda Kesayangan
9.5
Pertemuan tak sengaja dengan seorang duda menawan setelah Dilara Aysila Airene menolong seorang nenek di jalan menjadi awal dari segalanya. Terpikat oleh ketampanan sang pria, Dilara jatuh cinta dan bertekad merebut hatinya. Demi menarik perhatian sang idaman, ia meluncurkan berbagai rayuan hingga aksi konyol. Akankah misi cinta Dilara ini berakhir manis atau justru menghadapi rintangan? Ikuti perjuangan unik gadis ini dalam mengejar cinta sang duda.
Sampul Novel Aku Meninggalkan Tunanganku di Pesta Pernikahan
9.0
Hubungan kami hancur saat Jake berpaling pada Elsie, gadis yang ia sponsori. Walau Jake sempat memilihku dan mengusir Elsie, insiden tenggelamnya gadis itu di hari pertunangan kami membalikkan keadaan. Jake panik, menyalahkanku, dan menyebut Elsie sebagai masa depannya. Ketika ia melepas tanganku demi mengejar perempuan itu, aku sadar kisah kami telah berakhir. Tidak ada lagi alasan bagiku untuk bertahan di pesta pernikahan yang kini terasa hampa ini.
Sampul Novel Cinta Segitiga Yang Rumit
9.6
Alana Putri Pratama menjalani pernikahan dingin bersama Raihan Wijaya. Bagi Raihan, Alana hanyalah alat untuk memicu kecemburuan mantan kekasihnya. Saat sang cinta pertama kembali hadir, Alana diabaikan sepenuhnya dalam kehampaan. Di masa sulit ini, muncullah Daniel Sanjaya, seorang CEO tampan yang mulai mendekati Alana. Akankah Raihan tersadar sebelum istrinya berpaling, ataukah obsesi masa lalu akan menghancurkan segalanya?
Sampul Novel MALAM TERAKHIR DI KOTA
8.7
Menjelang hari pernikahan, seorang pria merayakan malam terakhirnya sebagai lajang bersama sahabat terdekat. Namun, pesta tersebut berubah tegang ketika rahasia kelam masa lalu yang lama terpendam mendadak terbongkar. Kebenaran tersembunyi ini kini mengancam masa depan yang telah ia rancang. Di tengah gemerlap kota, ikatan persahabatan mereka diuji secara ekstrem, sementara rencana pernikahannya terancam batal akibat badai konflik yang tak terduga.
Sampul Novel Om Teman Masa Kecil Ayah
9.3
Perjalanan pulang menggunakan bus tidur di hari libur menjadi awal dari peristiwa yang tak terlupakan. Setelah kembali dari toilet dalam kondisi kabin yang gelap gulita, sebuah kekeliruan terjadi saat mencari ranjang. Di balik tirai yang salah, seorang pria misterius telah menunggu. Alih-alih boneka silikon yang baru dibeli untuk memuaskan hasrat, pertemuan tak terduga di atas ranjang sempit itu justru menuntun pada pergulatan intim yang intens dan penuh gairah panas di tengah malam.
Sampul Novel Pertunangan Berdarah
8.2
Sebuah unggahan konsultasi yang viral di media sosial menarik perhatianku. Di sana, seorang netizen mengaku mengidap HIV namun sengaja merahasiakan kondisi medis tersebut dari tunangannya. Didorong rasa penasaran, aku mulai menelusuri detail demi detail dalam kisah yang memicu kemarahan publik itu. Namun, kecurigaan berubah menjadi kengerian saat aku menyadari bahwa sosok pacar yang sedang dijebak dalam rencana pernikahan mematikan tersebut memiliki kemiripan mutlak dengan diriku sendiri.