APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kembalinya Arsitek Hebat Bernama Diah

Kembalinya Arsitek Hebat Bernama Diah

Di hari jadi pernikahan kelima, Diah memergoki Bara berselingkuh dengan sepupunya sendiri, Fathia. Bara bahkan menghina Diah sebagai istri yang menjemukan, tanpa menyadari istrinya itu tengah mengandung anaknya. Kecewa berat atas pengkhianatan ini, Diah memilih merahasiakan kehamilannya. Ia pun bersandiwara menjadi istri penurut selama tiga hari terakhir sebelum akhirnya pergi selamanya demi memulai lembaran hidup baru tanpa Bara.
Bab
Bagikan

Bab 2

Diah (POV):

Ketenangan itu, sebuah lapisan es tipis di atas gunung berapi yang siap meletus, membungkus setiap gerak-gerikku. Aku tidak bisa tinggal di sini, di rumah ini yang kini terasa seperti penjara mewah. Pikiranku mencari jalan keluar, sebuah pelarian.

Pagi itu, ponselku bergetar. Sebuah email dari Hanafi Angkawidjaja. Mentor lamaku. Dia menawarkan proyek restorasi kastil tua di Eropa. Proyek impianku, yang dulu kuberikan untuk Bara. Jantungku berdebar, bukan karena kegembiraan, melainkan karena sebuah kemungkinan baru. Sebuah jalan keluar yang nyata.

Keputusanku bulat. Aku akan pergi. Total, tanpa jejak. Tiga hari. Aku akan bersandiwara menjadi istri sempurna selama tiga hari itu.

Bara masuk ke kamar tidur, senyumnya cerah, sebuah topeng yang dipakainya begitu sempurna. "Diah, sayang. Kau sudah tidur? Aku mencarimu."

Tangannya mengulur untuk membelai rambutku. Aku menahan diri untuk tidak menghindar. Sentuhannya terasa hambar, bahkan menjijikkan.

"Aku hanya merasa sedikit lelah, Bara," kataku, suaraku stabil, bahkan terlalu stabil. Aku terkejut dengan diriku sendiri.

"Kau pasti kelelahan. Akhir-akhir ini kau terlihat pucat," katanya, pura-pura khawatir. Sebuah perhatian kosong. Bagaimana mungkin dia tidak menyadari apa yang terjadi padaku? Atau lebih tepatnya, dia tidak pernah benar-benar melihatku.

'Kau terlihat lelah. Apa yang terjadi?' tanyanya, matanya menatapku, mencoba mencari tahu.

'Tidak ada, hanya sedikit pusing. Mungkin aku butuh istirahat lebih,' jawabku, sambil tersenyum tipis. Senyum itu, terasa begitu berat di pipiku.

'Kau tahu, aku tidak suka melihatmu sakit. Kau adalah duniaku, Diah. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku,' katanya, memelukku erat. Pelukannya menyesakkan. Kata-katanya, sebuah janji palsu yang mengambang di udara.

Aku tahu semua ini adalah kebohongan. Bagaimana bisa dia bicara seperti itu, sementara tadi malam aku mendengar dia meremehkanku di telepon? Bagaimana bisa dia begitu munafik?

"Bara," panggilku, suaraku rendah. "Bagaimana kalau suatu hari nanti, aku menemukanmu dengan wanita lain? Apa yang akan kau lakukan?"

Dia tertawa, tawa yang meremehkan. "Kau ini bicara apa, Diah? Tentu saja tidak akan terjadi. Aku hanya mencintaimu. Kau wanitaku."

'Tidak ada yang bisa menggantikanmu. Kau adalah rumahku,' katanya, lalu mencium puncak kepalaku. Aku memejamkan mata, menahan rasa mual.

'Benarkah?' Aku bertanya, suaraku hampir berbisik. 'Jadi, tidak ada wanita lain yang bisa membuatmu merasa lebih hidup, lebih menarik?'

'Tentu saja tidak, sayang. Jangan pikirkan hal itu. Kau adalah yang terbaik,' jawabnya, meyakinkanku. Dia tidak tahu bahwa setiap kata-katanya adalah pisau yang mengiris hatiku.

Aku tahu dia berbohong. Aku tahu dia sedang berbohong. Dan aku mengiyakan setiap kebohongannya. Aku menarik diri dari pelukannya.

'Aku ingin mandi,' kataku, rasanya aku ingin segera membersihkan sentuhan tangannya dari kulitku.

Aku berjalan ke kamar mandi, mengunci pintu. Air mata yang kutahan sejak tadi, kini tumpah ruah. Aku menatap pantulanku di cermin, seorang wanita yang hancur, namun dengan mata yang dipenuhi tekad.

Aku harus mengakhiri sandiwara ini.

Pagi itu, saat aku duduk di meja makan, ponselku berdering. Nomor tak dikenal.

"Halo, Diah?" Suara di seberang terdengar panik. "Ini Fathia. Tolong aku, Diah. Aku... aku hamil."

Jantungku berdetak kencang. Fathia hamil. Anak siapa? Bara? Pasti Bara.

"Fathia, kau bicara apa?" tanyaku, mencoba menjaga suaraku tetap tenang.

"Aku... aku tidak tahu harus bagaimana. Bara..." Dia terisak.

Suara Bara dari ruang kerjanya memotong tanganku yang gemetar.

'Diah, sayang, kau sudah siap? Aku akan mengantarmu ke butik untuk mencoba gaun pestamu nanti malam.'

Aku mematikan telepon. Aku tahu. Aku tahu semuanya sekarang. Fathia hamil anak Bara. Dan aku hamil anak Bara.

Ada kilasan memori, Bara menertawakan ide memiliki anak. "Untuk apa terburu-buru, Diah? Kita masih muda. Nikmati saja hidup kita." Kata-kata itu berputar-putar di kepalaku. Dia tidak menginginkan anak denganku, tapi dia menghamili Fathia.

Kemarahan itu, dingin dan tajam, menyelimuti diriku. Aku merasa dikhianati, dipermalukan. Aku melihat tanganku yang gemetar. Aku tidak bisa lagi bertahan di sini.

Ponselku kembali bergetar. Kali ini panggilan video dari Hanafi Angkawidjaja.

"Diah, bagaimana kabarmu?" Suaranya hangat, penuh perhatian. "Kudengar kau belum menanggapi tawaran proyek kastil itu."

"Aku akan mengambilnya, pak Hanafi," kataku, suaraku penuh tekad. "Aku akan mengambilnya. Tapi ada syarat."

"Syarat?" Dia mengerutkan kening.

"Aku ingin semua jejak Diah Darwis lenyap. Aku akan pergi, dan Diah Darwis tidak akan pernah kembali ke Indonesia."

Hanafi terdiam sejenak. "Diah, ini keputusan besar. Kau yakin?"

"Lebih dari yakin," kataku, mataku berkaca-kaca. "Aku ingin memulai hidup baru. Tanpa Bara. Tanpa Fathia. Tanpa kenangan buruk ini."

"Tapi... keluargamu?" tanyanya, ragu.

'Aku tidak punya keluarga lagi, Pak Hanafi. Kecuali diriku sendiri. Dan anakku,' kataku dalam hati, memegang perutku.

"Keluargaku..." Aku tersenyum pahit. "Keluarga mana yang kau maksud, Pak Hanafi? Pria yang kujadikan suami itu? Atau sepupuku yang kutolong dengan segenap hatiku?"

"Diah..." Hanafi terdengar sedih.

"Aku sudah kehilangan segalanya, Pak Hanafi. Sekarang, aku hanya ingin diriku kembali. Dan memastikan mereka tidak pernah menemukanku."

"Baiklah, Diah. Aku akan mengurusnya. Tapi ini tidak akan mudah."

"Aku tahu," kataku. "Aku sudah terbiasa dengan yang tidak mudah."

Aku mengakhiri panggilan. Aku merasa sedikit lega, seperti beban berat telah terangkat dari pundakku. Tapi di waktu yang sama, kepalaku berputar-putar. Aku akan pergi. Aku akan membawa anak kami pergi.

Aku berdiri, mematung di tengah ruangan. Suara Bara terdengar lagi, "Diah, sayang, ayo kita pergi. Aku sudah menunggu."

Pintu kamar terbuka dan Bara berdiri di sana, menatapku.

"Ada apa, sayang? Kau baik-baik saja?" tanyanya, ekspresinya penuh kekhawatiran.

Aku menatapnya. Pria yang telah menghancurkan hidupku. Pria yang akan segera kehilangan segalanya.

'Aku akan lebih dari baik-baik saja, Bara,' pikirku. 'Kau yang tidak.'

Aku tersenyum padanya, senyum yang begitu dingin, begitu mematikan, sehingga aku sendiri terkejut.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Become True
9.2
Suara berat yang sangat dirindukan itu tiba-tiba terdengar, membuat sang gadis berlesung pipi terpaku. Air matanya kembali mengalir deras, namun kali ini dipenuhi rasa bahagia yang luar biasa. Sosok yang selalu ia sebut dalam doa dan harapannya kini nyata berdiri di depannya. Pertemuan tak disangka ini seketika membangkitkan memori lama yang sempat sirna. Dia telah kembali untuk mewujudkan semua mimpi yang selama ini tersimpan rapat.
Sampul Novel Beetwen love and hate
9.2
Hati Hendra hancur setelah dicampakkan Luna yang memilih mengejar karier model dan lelaki lain. Di masa terpuruknya, sebuah kecelakaan mempertemukan Hendra dengan Nita, sosok tulus yang menyelamatkannya. Perlahan, kebaikan Nita berhasil menyembuhkan luka di hati Hendra yang sempat menutup diri. Namun, saat hubungan mereka mulai erat, Luna kembali hadir dan meminta Hendra kembali. Kini, Hendra bimbang memilih masa lalu kelamnya atau masa depan hangat bersama Nita.
Sampul Novel Cintaku Bersemi Di Sekolah
9.7
Dodo, pemuda asal pinggiran Garut, merasa dirinya jauh lebih menawan dibanding aktor terkenal meski namanya serupa. Sebagai remaja, ia mendambakan kisah cinta sekolah yang indah layaknya lirik lagu legendaris. Fokus utamanya adalah memenangkan hati Mitha. Meski sadar wajahnya tak setampan Donnie dan tergolong biasa saja, Dodo tetap membulatkan tekad. Ia siap menempuh segala cara demi menjalin kenangan romantis bersama gadis pujaannya tersebut.
Sampul Novel Derita Istri Penurut
9.7
Arini selalu patuh pada Bagas, suaminya, walau kerap mendapat perlakuan kasar. Demi melindungi orang tua, ia memendam penderitaan itu rapat-rapat. Namun, batas kesabaran Arini akhirnya habis, mendorongnya melayangkan gugatan cerai ke pengadilan agama. Di tengah kemarahan Bagas yang meluap, mampukah ia meluluhkan hati sang istri? Ataukah kepedihan batin yang terlanjur mengendap lama membuat tekad Arini untuk berpisah tidak bisa digoyahkan lagi?
Sampul Novel Ditinggalkan Karena Burik
9.6
Andra menceraikan Aisyah begitu saja karena kondisi fisiknya yang dinilai kurang menarik. Tak disangka, Aisyah bangkit dan berubah menjadi wanita yang sangat menawan, memicu penyesalan besar di hati mantan suaminya. Konflik kian rumit saat mereka berdua terpaksa bersandiwara sebagai pasangan harmonis demi menjaga perasaan orang tua. Di balik kepura-puraan itu, luka masa lalu dan kenyataan pahit terus membayangi hubungan mereka.
Sampul Novel Kakak Ipar Rasa Pacar
7.9
Niat Nadia memberikan kejutan ulang tahun untuk Raka berujung pahit saat memergoki sang tunangan berselingkuh dengan kakak kandungnya, Tania. Pernikahan yang diimpikan pun hancur seketika. Setelah diusir dari rumah, Nadia menemui kakak iparnya, Darren, untuk membeberkan perselingkuhan tersebut. Sama-sama dikhianati, mereka sepakat bersatu demi membalas dendam. Namun, saat rencana mulai dijalankan, kedekatan mereka justru menumbuhkan benih cinta yang tak terduga.