
Kematian Anakku, Perceraianku!
Bab 2
Setelah pemakaman Louis berakhir, aku pergi ke rumah sakit. Di bangsal VIP, lengan putra Raya diperban. Anak itu tampak bercerita dengan penuh semangat.
Ketika melihatku, ekspresi Thomas sontak berubah drastis. Dia buru-buru menghampiri. "Siapa yang menyuruhmu kemari? Kondisi Xander baru stabil. Jangan buat masalah di sini!"
"Thomas, anakmu sudah mati, tapi kamu masih sempat meladeni anak orang lain?" bentakku. Anak dan ibu di dalam bangsal pun menatapku dengan terkejut.
Ekspresi Thomas menjadi makin masam. Dia mendorongku supaya lebih jauh dari bangsal, lalu memperingatkanku, "Lillia, hentikan semua ini. Raya membesarkan anak sendirian. Sebagai kepala sekolah, apa salahnya aku membantu dia? Lagian, Louis menindas Xander selama ini. Kali ini, Louis melukai lengan Xander. Atas dasar apa kamu membuat keributan di rumah sakit?"
Aku sudah tahu Thomas akan menjawab begini. Aku sudah menghafal alasannya. Raya dan suaminya telah bercerai, jadi Thomas selalu menjaga mereka. Aku dan suamiku tidak bercerai, tetapi suamiku sibuk melayani wanita lain.
Ayah Xander mencampakkannya, tetapi dia masih mendapat cinta kasih ayah dari Thomas. Adapun anakku, kematiannya seperti bukan masalah besar.
Jendela di rumah rusak. Angin musim dingin berembus masuk. Thomas malah sibuk memasak hidangan yang baru dipelajarinya untuk Raya. Dia menyuruhku mencari tukang untuk memperbaiki jendela. Katanya, dia bukan tukang dan aku tidak boleh terus mengandalkannya.
Suatu hari aku jatuh sakit, tetapi tetap mengajar. Thomas malah membawa Raya menghadiri rapat di provinsi sekaligus jalan-jalan dengan menggunakan uang pemerintah. Dia pun menyuruhku untuk tidak cemburu.
Bahkan dalam hal jabatan, aku tidak boleh berada di atas Raya. Thomas bilang ini karena dia adalah kepala sekolah. Dia harus profesional dan tidak boleh hanya memikirkanku.
Saat pergi dinas, Thomas sering membeli hadiah dan mainan untuk Xander. Anak itu pun selalu memamerkannya di hadapan Louis. Ini membuat Louis kesal sampai menghancurkan satu-satunya mainan yang diberikan Thomas untuknya.
Anak Raya sangat munafik. Dia terlihat seperti anak baik-baik, tetapi nyatanya sering ikut menindas Louis di sekolah. Namun, Thomas tidak percaya. Dia malah dihasut supaya percaya Louis yang telah menindas mereka.
Setiap kali mereka mengadu, Louis akan dipukul sampai terluka. Entah sudah berapa kali masalah seperti ini terjadi. Aku sampai tidak bisa menghitungnya lagi.
Aku menatap wajah marah Thomas dan tiba-tiba merasa lucu. "Nggak masalah kalau aku dilarang datang ke rumah sakit. Kita cerai saja."
Aku menyerahkan surat perjanjian cerai kepadanya. Sebelum hari ini, aku sudah menandatanganinya duluan.
"Lillia, kamu nggak ada habis-habisnya ya! Beraninya kamu mengancamku dengan suara perjanjian cerai!" hardik Thomas.
Thomas mengira aku memaksanya untuk kembali. Padahal, faktanya adalah aku tidak ingin melihat wajahnya meski hanya untuk sedetik.
"Kalau kamu nggak mau tanda tangan, aku cari pengacara ...."
"Papa, lenganku sakit sekali ...."
Thomas langsung berlari ke bangsal. Di dalam sana, terdengar suaranya yang dipenuhi cinta kasih. "Xander, Papa di sini. Jangan takut."
Aku menatap ketiga orang yang berada di bangsal. Seketika, aku ingin tertawa terbahak-bahak. Jika Thomas bersikap selembut ini kepada Louis, Louis tidak mungkin sekecewa itu sebelum mati.
Inilah suami yang kupilih dan ayah anakku. Louis, maafkan Mama. Mama sudah salah karena mencarikanmu papa seperti ini.
Aku mengambil surat perjanjian cerai, lalu melemparkannya ke dalam bangsal. Kemudian, aku pergi tanpa menoleh.
Anda Mungkin Juga Suka





