
Kematian Anakku, Perceraianku!
Bab 3
Aku datang ke firma hukum yang sangat terkenal untuk berkonsultasi dengan pengacara tentang perundungan yang dialami di sekolah.
Para anak kurang ajar itu tidak boleh berkeliaran bebas begitu saja setelah Louis meninggal. Jangan sampai mereka mencelakai anak lain lagi.
Sebelum pergi, aku mendengar seseorang memanggil namaku. "Lillia?"
Terlihat wajah Lionel yang dipenuhi senyuman. Lionel masih sama seperti yang ada di benakku. Dia tampan dan ceria.
Aku menggigit bibir, merasa agak malu pada pria yang pernah mengejarku saat kuliah dulu. Lionel menyodorkanku air dan bertanya, "Apa aku boleh tanya kenapa kamu kemari? Apa ada yang bisa kubantu?"
Seolah-olah melihat keraguanku, Lionel tersenyum dan meneruskan, "Aku pengacara di sini. Kamu boleh memberitahuku kalau ada masalah."
Aku mendongak dengan terkejut. Lionel malah tersenyum ramah padaku. Setelah mengobrol cukup lama, Lionel hampir memahami keseluruhan situasi. Namun, dia tidak terlihat bersimpati ataupun kasihan padaku.
Hal ini membuatku merasa lega. Aku seperti sedang mengobrol dengan pengacara profesional dan bukan teman.
Tiba-tiba, ponselku berdering. Thomas mengirimiku pesan.
[ Sudah jam berapa? Kenapa masih belum pulang? ]
Aku menatap pesan itu sesaat. Ini pertama kalinya aku tidak membalas pesan Thomas. Tanpa ragu sedikit pun, aku langsung mematikan ponselku.
Lionel hanya melihat dan tidak mengatakan apa pun. Ketika kami meninggalkan kafe, di luar turun hujan. Lionel membuka payungnya dan hendak mengantarku pulang.
Setelah aku menolak dengan lembut, sebuah sosok tiba-tiba menyerbu ke arahku. "Lillia! Aku meneleponmu belasan kali! Kamu malah matiin ponsel dan menghilang dariku!"
Ekspresi Thomas tampak murka. Ketika melihat Lionel yang tampan dan cerdas, dia terkekeh-kekeh dan mencela, "Rupanya kamu kencan dengan pecundang ini. Pantas saja, kamu nggak punya waktu untuk urus anak."
"Anak? Kamu masih berani membahas soal anak denganku?" Kalimat Thomas langsung menyakiti hatiku. Aku teringat pada ekspresi kecewa dan tak berdaya Louis sebelum meninggal.
Thomas menunjukku dan membentak, "Ya! Ibu macam apa kamu? Tengah malam masih keluyuran di luar! Anakmu juga nggak ada di rumah! Lihat dulu gimana Raya mendidik anaknya!"
"Ya! Raya sangat pintar mendidik anaknya! Kalau begitu, kamu jadi suaminya dan jadi ayah anaknya saja! Lagian, anaknya memanggilmu papa, 'kan?" timpalku.
Thomas termangu. Suaranya makin lantang. "Lillia, jadi orang jangan perhitungan begini! Dia nggak punya ayah. Apa salahnya dia menganggapku sebagai ayahnya?"
Aku mendongak dan menarik napas dalam-dalam untuk menahan kepedihan dalam hatiku. Aku tidak ingin berbasa-basi dengan bajingan ini lagi.
"Thomas, kamu sudah tanda tangan surat perjanjian cerai itu?" Kemudian, aku menatap Lionel dan berkata, "Ini pengacaraku. Dia yang bertanggung jawab atas kasus perceraianku dan kasus intimidasi Louis."
Kelopak mata Thomas sontak berkedut. "Apa maksudmu? Kamu mau memasukkan putramu ke penjara?"
Lionel yang tidak tahan lagi akhirnya bersuara, "Setahuku, yang ditindas adalah putramu. Selain itu, dia sudah meninggal tiga hari lalu."
Anda Mungkin Juga Suka





