APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kekuatan Hati, Kekuatan Cinta

Kekuatan Hati, Kekuatan Cinta

Alira Santika, gadis berusia 19 tahun, terpaksa merelakan hubungannya dengan Raka demi pernikahan kontrak dengan pewaris ningrat bernama Dimas Aditya Wiratama. Keputusan ini ia ambil demi membiayai pengobatan ibunya. Namun, kehidupan barunya dipenuhi penderitaan akibat kekejaman Cynthia, istri pertama Dimas. Tanpa perlindungan dari suaminya, Alira harus berjuang sendirian menghadapi berbagai intrik kejam keluarga tersebut. Mampukah ia bertahan di tengah badai pengkhianatan ini?
Bab
Bagikan

Bab 1

Hujan deras mengguyur kota Jakarta malam itu. Setiap tetesnya seolah menambah kesedihan yang menempel di hati Alira Santika. Ia duduk di sisi ranjang ibunya, menatap wajah yang semakin lemah dan pucat. Mesin infus yang berdetak monoton mengisi keheningan kamar rumah sakit.

"Bu... ibu pasti bisa sembuh," ucap Alira pelan, menahan air matanya. Tangannya menggenggam jemari ibunya yang dingin. Namun ia tahu, kata-kata itu hanyalah penghiburan semu. Biaya pengobatan yang semakin menumpuk membuat Alira merasa tak berdaya. Setiap kali ia menoleh ke wajah ibunya, Alira seperti melihat masa depan yang semakin suram, seolah ada jurang yang siap menelan seluruh harapan mereka.

Pintu kamar terbuka pelan. Sosok pria paruh baya muncul, wajahnya dingin dan tak tersenyum. Pamannya, Gatot, membawa kantong hitam yang tebal. "Alira," suaranya terdengar tegas, tanpa emosi, "kamu harus membuat keputusan. Pengobatan ibu tidak akan diteruskan jika kamu menolak."

Alira menatap pamannya, matanya membara. "Keputusan apa, Pak?" tanyanya, suaranya bergetar.

Gatot meletakkan kantong itu di meja samping, lalu duduk di kursi. "Dimas Aditya Wiratama. Kamu harus menikah dengannya. Keluarga itu bersedia membiayai seluruh pengobatan ibumu, tapi syaratnya hanya satu. Kamu harus menjadi bagian dari mereka, sekarang juga."

Alira menelan ludah. Jantungnya terasa sesak. "Tapi... aku... aku sudah punya Raka. Kami... kami saling mencintai," suaranya hampir tak terdengar, seperti bisikan yang tercekat di tenggorokannya.

Pamannya menatapnya dingin. "Cinta itu tidak ada artinya saat nyawa ibumu terancam. Jika kamu menolak, jangan harap ada bantuan dari keluargamu sendiri. Kamu tahu sendiri biaya pengobatan itu bukan murah, dan ibu tak bisa menunggu."

Alira menunduk, air mata menetes di pipinya. Ia tahu pamannya tak akan mengalah. Ia tahu ia tak punya pilihan lain. Tapi hatinya menolak, seakan seluruh dunia sedang menghancurkan mimpinya yang sederhana: bisa hidup bersama Raka dan melihat ibunya sembuh tanpa harus menyerahkan dirinya pada orang yang bahkan belum ia kenal.

Pikiran itu masih bergelayut ketika teleponnya berdering. Suaranya yang lembut terdengar, namun di balik nada itu ada ketegangan yang sulit disembunyikan.

"Alira... ini Raka," suara pria di ujung telepon terdengar tegas namun lembut, "Aku dengar semuanya... apa yang terjadi?"

Alira menggigit bibirnya, mencoba menahan tangis. "Aku... aku tak tahu harus bagaimana, Ka. Pamanku... dia memaksa aku menikah dengan Dimas Wiratama. Kalau tidak, pengobatan ibu berhenti."

Raka terdiam sejenak. "Kamu... kamu serius?" Suaranya terdengar berat. "Alira... jangan lakukan itu. Kita bisa cari jalan lain. Aku akan menanggung semuanya. Jangan menyerah."

Alira tersenyum pahit. "Raka... aku ingin begitu, tapi... biaya itu terlalu besar. Aku tak ingin ibuku menderita hanya karena keegoisan kita."

Ada keheningan panjang di ujung telepon. Alira menutup matanya, menahan sakit di hatinya. "Maafkan aku..." bisiknya.

Hari berikutnya, Alira menemukan dirinya berada di mobil mewah, berjalan menuju rumah keluarga Wiratama yang megah di kawasan elit Jakarta. Gedung tinggi dan gerbang besarnya tampak mengintimidasi, seolah menegaskan siapa yang berkuasa di sana.

Saat pintu terbuka, sosok tinggi dan tegas menyambutnya. Dimas Aditya Wiratama, pewaris tunggal keluarga besar, berdiri dengan wajah dingin yang sulit ditebak. Rambut hitamnya rapi, mata cokelatnya tajam, memancarkan otoritas sejak pandangan pertama.

"Kamu Alira Santika?" Suaranya lembut, tapi nada formalnya membuat Alira merasa kecil di hadapannya.

"Ya, Pak," jawabnya pelan, menunduk hormat. Ia merasakan jantungnya berdebar kencang, campuran takut dan gelisah.

Dimas menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk. "Pamanku sudah memberitahuku. Jadi ini keputusanmu. Kamu akan tinggal di sini mulai sekarang. Semua akan diatur sesuai kehendak keluarga."

Alira mengangguk, meski hatinya bergolak. Setiap langkahnya di rumah itu terasa berat. Ia disambut oleh istri pertama Dimas, Cynthia, seorang wanita anggun tapi dengan tatapan tajam yang membuat Alira merasa terancam sejak pertama kali mereka bertemu.

"Selamat datang, Alira," Cynthia menyapa dengan senyum tipis, namun ada nada dingin yang tak bisa disembunyikan. "Semoga kamu betah tinggal di sini... setidaknya sampai peranmu selesai."

Alira menelan ludah, merasakan hawa permusuhan yang begitu pekat. Ia tahu, tantangan yang ia hadapi bukan hanya menahan rasa rindu pada Raka dan menjaga ibunya, tapi juga harus menghadapi Cynthia, yang tampaknya tidak berniat menyambutnya dengan hangat.

Hari-hari berikutnya di rumah itu terasa menyesakkan. Cynthia selalu menemukan cara untuk membuatnya merasa tidak diinginkan. Mulai dari komentar sinis tentang cara Alira berpakaian, hingga menyinggung kemampuan dan latar belakang keluarganya.

Suatu sore, Alira duduk di balkon rumah, menatap langit Jakarta yang mulai gelap. Hujan tipis mulai turun, dan setiap tetesnya seperti mengingatkan Alira akan keadaan ibunya di rumah sakit. Ia merindukan Raka. Ia merindukan kehidupan yang sederhana, di mana cinta dan keluarga menjadi alasan untuk tersenyum, bukan untuk merasa terjebak dalam ikatan yang dipaksakan.

"Alira," suara Dimas terdengar dari belakang, membuat Alira terkejut. Ia menoleh, melihat pria itu berdiri dengan tangan dimasukkan ke saku celana, menatapnya tanpa ekspresi.

"Ada apa, Pak?" tanyanya, mencoba terdengar tegas meski hatinya bergetar.

Dimas berjalan mendekat, duduk di kursi di sampingnya. "Aku tahu ini sulit untukmu. Aku juga... tidak meminta ini. Tapi keluargaku menuntutku, dan aku harus menuruti mereka. Namun..." ia menunduk, menatap jauh ke luar balkon, "aku tidak akan menyakitimu tanpa alasan. Kamu... kamu akan baik-baik saja, asalkan kita saling menghormati."

Alira menelan ludah. Kata-katanya terdengar ringan, tapi ada kehangatan kecil yang ia rasakan untuk pertama kalinya sejak tiba di rumah itu. Meski Dimas tampak dingin di luar, ada sisi manusia yang mungkin bisa ia percaya.

Namun, Cynthia selalu menjadi bayangan gelap yang mengintai setiap langkahnya. Beberapa hari kemudian, saat Alira menyiapkan minuman teh di dapur, Cynthia masuk tiba-tiba. "Alira, jangan sampai kau membuat kesalahan. Aku sudah melihatmu menatap Dimas terlalu lama. Jangan berharap ia akan peduli padamu. Rumah ini... rumahku juga, dan aku akan memastikan kamu tahu itu."

Alira menahan emosi, menegakkan tubuhnya. "Aku hanya... ingin tinggal di sini tanpa menimbulkan masalah, Bu Cynthia. Aku tidak ingin mengganggu siapa pun."

Cynthia menatapnya, senyum tipis muncul tapi matanya tetap tajam. "Kau pikir itu akan cukup? Dunia ini... dunia keluargaku... tidak pernah cukup bagi orang yang lemah, Alira."

Hari-hari itu berjalan lambat, dengan tekanan yang menumpuk. Alira sering terjaga hingga larut malam, menatap langit-langit kamar mewahnya yang terasa asing, dan memikirkan Raka yang jauh di sana. Ia tahu, cinta yang ia miliki bukan hal yang bisa ia biarkan mati, namun situasi memaksanya untuk bertahan.

Suatu malam, Alira menulis surat untuk Raka. Dengan air mata yang menetes, ia menuangkan semua isi hatinya: penyesalan, ketakutan, tapi juga tekad. Ia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa meski dunia menentangnya, ia tidak akan menyerah sepenuhnya. Ia akan menjaga ibunya, bertahan di rumah itu, dan mencari kesempatan untuk kembali pada Raka suatu hari nanti.

Di sisi lain, Dimas Aditya mulai memperhatikan sikap Alira yang berbeda. Ada keberanian yang tersembunyi di balik kelemahan dan kesedihan yang ia tunjukkan. Tanpa disadari, hatinya sedikit tergelitik oleh ketegaran itu, meski ia sendiri tidak mau mengakuinya. Ia tahu, pernikahan ini awalnya hanyalah kewajiban, tapi manusia tidak pernah bisa sepenuhnya mengendalikan hati mereka sendiri.

Dan begitulah, malam demi malam berlalu. Alira, gadis 19 tahun yang dipaksa menikah demi pengobatan ibunya, mulai menyadari bahwa hidupnya kini terikat oleh rantai-rantai keluarga yang besar dan penuh intrik. Setiap langkahnya akan diuji - oleh suami yang dingin, istri pertama yang penuh permusuhan, dan rasa cintanya sendiri yang tak bisa ia lepaskan.

Di luar jendela, hujan terus turun, seolah menandakan bahwa badai dalam hidup Alira baru saja dimulai.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta dari Pria yang Tak Terduga
9.1
Panggilan polisi seketika menghancurkan hidup Emily yang damai. Ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa Jaka Guntur, kekasihnya, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Di tengah badai emosi tersebut, sebuah ketidaksengajaan membawa Emily ke dalam hubungan satu malam bersama Jacob, paman dari Jaka. Kini, ia terjebak di tengah konflik rumit dan dilema asmara antara sang mantan kekasih dengan pria berkuasa yang merupakan paman mantannya itu.
Sampul Novel Dosenku Suami Posesif
9.6
Kehidupan Belinda Zevaya sebagai mahasiswi akhir mendadak kacau saat laptop untuk menyusun skripsinya rusak, sementara ia sedang mengalami krisis keuangan. Situasinya kian rumit karena ia harus berhadapan dengan Arez Bernando, dosen pembimbingnya yang terkenal sangat kejam dan ditakuti. Namun secara mengejutkan, Arez menawarkan jalan keluar tak biasa. Ia meminta Belinda bekerja di rumah pribadinya agar laptop itu diperbaiki dan kelulusannya bisa segera dibantu.
Sampul Novel Jangan Mencintaiku, Paman!
9.7
Ayu terpaksa mengungsi ke kediaman pamannya, Hideki, demi menghindari mertua yang kejam. Namun, satu malam di ranjang yang sama menghancurkan rumah tangganya hingga ia diusir tanpa sempat menjelaskan apa pun pada suaminya. Kini, Ayu yang merasa terhina terpaksa menumpang pada Hideki. Sayangnya, sikap sang paman berubah dingin, tak lagi sehangat dulu saat merawatnya sejak kecil. Rahasia besar apa yang disembunyikan Hideki? Akankah Ayu kembali pada suaminya atau terjerat cinta terlarang?
Sampul Novel Jangan Tinggalkan Aku
9.3
Alvira terpukul oleh kecelakaan tragis yang menewaskan orang tuanya dan membuat sang kakak koma. Terdesak biaya medis yang besar, ia terpaksa menawarkan dirinya di klub malam. Di sana, ia bertemu miliarder dingin bernama Damian Verrell. Damian menawari Avi kesepakatan menjadi wanita simpanannya dengan imbalan fantastis. Demi kesembuhan kakaknya, Avi rela menyerahkan harga dirinya dan masuk ke kehidupan Damian yang berkuasa namun berhati beku.
Sampul Novel Patah Hati Mendatangkan Pria yang Tepat
9.0
Lena dikhianati oleh tunangannya yang berselingkuh dengan ibu tirinya demi menguasai harta. Setelah dijebak tidur bersama orang asing, ia membalas dendam dengan membawa Delon, pria tampan yang dikira miskin, untuk merusak acara pertunangan tersebut. Faktanya, Delon adalah CEO berkuasa dari Grup Vit. Hubungan sandiwara mereka menjadi nyata saat Delon enggan pergi. Lena pun tersadar bahwa Delon adalah sosok dari masa lalunya. Akankah rahasia ini menyatukan mereka?
Sampul Novel Terjerat hasrat kakak ipar
9.3
Jeslin pulang untuk menghadiri pernikahan sang kakak, tetapi malam pertama justru membawa mimpi buruk. Ia menjadi korban kebiadaban kakak iparnya sendiri yang merenggut kesuciannya. Meski Jeslin mencoba kabur dan menghapus memori kelam itu, sang kakak ipar malah kian terobsesi padanya. Pria itu menolak melepas Jeslin dan terus menjeratnya dalam pusaran gairah obsesif yang merusak hidupnya tanpa ampun.