
Kehangatan Cinta
Bab 2
Aku buru-buru meraih ponselnya, tapi lukaku terbuka lagi.
"Sret!"
Hans mengambil ponsel dan menjawab telepon.
Terdengar suara putraku mengatakan, "Ayah, Tante Yeni ingin mengajak Shawn pergi ke taman bermain."
Selanjutnya, Yeni berkata dengan suara centil, "Kak Hans, aku mau mengajak Shawn ke taman bermain, tapi kami nggak ada kendaraan. Bisakah kamu mengantar kami?"
Ketika aku ingin mengatakan sesuatu, Hans langsung mengabaikanku.
Hans berjalan ke pintu keluar sambil berkata, "Tunggu sebentar, aku segera ke sana."
Setelah menutup telepon, Hans menoleh ke arahku, lalu berkata, "Tunggu aku pulang." Hans membuka pintu dan bersiap-siap pergi.
Aku memanggilnya, "Hans!"
Sambil mengernyit, Hans berkata dengan kesal, "Ada apa lagi? Hanya luka ringan, kamu ingin aku mengantarmu ke rumah sakit? Tolong mengalah sedikit, jangan selalu …."
Aku memotong kata-katanya.
"Aku hanya mau mengingatkanmu. Taman hiburan sangat panas, jangan lupa bawakan topi dan botol minum buat Shawn."
Bagaimanapun juga, Shawn tetap adalah anak kandungku.
Hans tertegun. Dia merasa aneh karena tidak biasanya aku membiarkan dia pergi. Hans menjawab, "Oke."
Beberapa saat kemudian, Hans berkata, "Aku mengira kamu akan cemburu dan melarangku pergi. Tolong mengalah sedikit, toh hanya antar anak kita pergi ke taman bermain."
Hans mengambil barangnya, kemudian berkata dengan ragu, "Aku pergi sebentar, kamu tunggu di rumah. Nanti aku belikan obat dan membantu membalut lukamu." Setelah mengatakan itu, Hans buru-buru pergi.
Dulu mungkin aku akan marah besar, tetapi sekarang aku mati rasa.
Aku teringat belum lama ini, aku menjaga ayahnya yang sakit sampai larut malam.
Selesai menjaga ayahnya, kondisi di luar sangat gelap.
Rumah sakit ini berada di tempat terpencil, jadi jalanan sepi dan menakutkan.
Tiupan angin malam yang dingin membuatku kedinginan.
"Nomor yang Anda tuju sedang sibuk, cobalah sesaat lagi …."
Telepon Hans terus sibuk, aku sudah setengah jam mencoba menghubunginya.
Sampai akhirnya, aku berhasil menghubunginya.
"Aku sudah setengah jam mencoba menghubungimu, kenapa kamu nggak angkat? Aku baru selesai dan menunggumu di depan rumah sakit, tolong …." Sebelum aku sempat mengatakan "Tolong jemput aku", Hans menyelaku.
"Aku sekarang masih sibuk memperbaiki lampu Yeni."
"Kamu ini terlalu cemburu. Sudah kubilang, Yeni takut gelap, jadi aku terus meneleponnya."
Lalu, terdengar suara putraku mengatakan, "Bu, berhentilah ribut. Bersikaplah lebih dewasa dan lakukan semuanya secara mandiri, bukankah itu yang ibu selalu ajarkan padaku?"
Ternyata tadi Yeni menghubungi mereka dan mengatakan bahwa lampu di rumahnya rusak.
Mereka sedang sibuk memperbaiki lampu Yeni, jadi tidak punya waktu menjemputku!
"Ayah menyuruh ibu pulang naik taksi."
Sambungan telepon langsung terputus.
Mereka tidak memberiku kesempatan berbicara ….
Padahal sebelum ke rumah sakit, aku mengingatkan mereka untuk menjemputku, bahkan Hans juga sudah meyakinkanku bahwa dia pasti menjemputku.
…
Apa boleh buat, aku terus menunggu taksi di tengah tiupan angin malam yang dingin.
Akhirnya, aku naik taksi. Karena punya kebiasaan mabuk perjalanan, aku memilih duduk di depan.
Baru masuk mobil, sopir berusaha menyentuhku
dengan memakai alasan sabuk pengaman bermasalah.
Selama di perjalanan, sopir itu berusaha mencari informasi apakah aku sendirian di rumah atau tidak.
Aku menghubungi Hans karena ketakutan. Sayangnya, Hans tidak angkat.
Aku juga tidak bisa menghubungi Shawn.
Aku terpaksa berbicara dengan diriku sendiri sepanjang perjalanan, seolah-olah aku sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Dengan cara itu, aku berhasil pulang dengan aman.
Namun, rumahku sangat gelap dan sepi.
Rumahku jauh lebih sepi daripada di luar.
Anda Mungkin Juga Suka





