
Kehangatan Cinta
Bab 3
Setelah menunggu lama, Hans belum juga pulang.
Aku melihat unggahan foto pemandangan di taman bermain di Whatsapp-nya.
Ada foto Shawn yang terlihat gembira bermain, ada juga mereka bertiga foto bersama, bahkan ada juga foto mesra Yeni merangkul tangan Hans.
Ada keterangan.
"Momen yang nggak boleh terlewatkan lagi."
Aku yang dulu pasti akan segera menghubunginya seperti orang gila dan menanyakan apa maksudnya.
Namun, selama dua bulan ini aku sudah mulai terbiasa dan tidak marah-marah lagi seperti dulu.
Aku sepenuhnya bersikap cuek.
Bahkan, aku memberi emotikon jempol pada unggahan foto itu.
Sepertinya mereka tidak akan pulang malam ini.
Suara katak di luar rumah makin membuat suasana rumah makin hening.
Aku menatap koper yang sudah kusiapkan, lalu aku memotretnya.
Aku mengunggah foto di Whatsapp dan memberi keterangan.
"Nggak perlu menunggunya lagi."
Hans melihat unggahanku.
Keesokan harinya, Hans buru-buru pulang.
Sesampainya di rumah, dia melihatku duduk di sofa.
Hans melempar kunci mobil ke meja, kemudian berkata dengan marah, "Mau sampai kapan kamu terus mengancam mau pergi? Kalau memang berani, pergi sekarang juga! Apa maksud unggahanmu di Whatsapp? Kamu nggak malu? Aku masih punya harga diri! Ayahku sampai menghubungiku dan menanyakan apa yang terjadi. Tujuanmu hanya untuk mengacaukan hidupku, 'kan?"
Dengan tatapan dingin, aku melihat ekspresi marahnya. Aku merasa ada kegembiraan dalam hatiku.
Siapa yang duluan melakukan hal memalukan? Hans atau Yeni "kekasih tersayangnya"?
"Benar, aku mau pergi." Suaraku begitu tenang hingga membuatnya merinding. Aku mengambil surat cerai dari tas, lalu melempar ke arahnya. "Pak Hans, silakan tanda tangan."
Hans tertegun. Dia tidak menyangka bahwa aku serius kali ini.
"Awalnya, kemarin aku mau beli obat dan pulang untuk membalut lukamu. Tapi, Yeni dan Shawn memintaku menemani mereka bermain, aku juga nggak bisa berbuat apa-apa." Pembelaan dirinya terdengar konyol.
"Lagi pula, bukankah kondisimu sudah membaik? Kamu hanya mengalami luka ringan, haruskah kamu meributkan masalah kecil ini?" ejeknya.
Aku tersenyum sinis. Sambil menatapnya tajam, aku menjawab dengan tegas, "Harus!"
Ekspresi Hans berubah muram. Dia terlihat sukar memercayai hal ini. "Kamu benaran mau cerai?"
"Ya!" jawabku tegas.
Hans menyipitkan mata sambil bertanya sinis, "Apa kamu nggak mempertimbangkan Shawn?"
Kata-kata itu menusuk hatiku. Ternyata Hans mengetahui titik lemahku.
"Hans, jangan libatkan Shawn dalam masalah kita." Aku berusaha menahan gejolak hatiku agar suaraku tetap terdengar tenang. "Shawn akan ikut denganku, aku yang akan merawatnya."
"Enteng sekali kamu bicara." Hans menatapku tajam, lalu berkata dengan sinis, "Memangnya kamu mampu membesarkan Shawn seorang diri? Apa kamu mampu menghidupinya?"
Aku tiba-tiba menyadari sesuatu. Dulu aku memutuskan menjadi ibu rumah tangga.
Bahkan, aku nggak mampu menghidupi diriku sendiri.
Aku adalah anak yatim piatu. Sejak kecil, aku dibesarkan di panti asuhan. Aku hidup dari bantuan sosial.
Sejak kecil, Hans hanya dibesarkan oleh ayahnya.
Lalu, ayahnya sakit-sakitan.
Waktu itu, Shawn masih kecil, terpaksa aku berhenti kerja dan sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga.
Setelah terdiam sejenak, akhirnya aku menjawab, "Oke, hak asuh anak kuberikan padamu, aku juga nggak mau ambil hartamu, tapi kamu harus kembalikan uangku sebanyak 400 juta yang kamu pinjam sebelum menikah."
Dulu aku memberikan seluruh tabunganku untuk modal Hans membuka usaha.
Hans tahu persis betapa pentingnya 400 juta bagiku saat itu.
Aku tulus mencintainya.
Aku selalu berusaha mempertahankan perasaan ini.
Sayangnya, suamiku tidak menghargainya.
"Demi bercerai denganku, kamu rela melepas anakmu sendiri?"
Aku menjawab dengan tersenyum, "Ya, aku rela."
Hans merasa heran, akhirnya dia sadar bahwa aku serius kali ini.
Anda Mungkin Juga Suka





