
Kehamilan Berujung Perceraian
Bab 3
"Malam ini Erika akan mengundang teman-temannya untuk merayakan kehamilannya."
Regha memotong perkataanku sebelum aku sempat mengatakan penolakanku.
"Dia ingat padamu dan ingin kamu datang untuk ikut merasakan kegembiraannya. Jadi, berhenti bersikap nggak peka begitu."
Aku tertawa dingin dan mengiakan perkataannya.
Bagaimanapun, hatiku juga sudah mati, pengacara perceraian pun sudah dihubungi.
Aku tidak akan disakiti lagi oleh cara dan trik-trik yang dimainkan Erika.
Duduk di dalam ruang pribadi, Erika yang berpakaian rapi datang terlambat.
Aku sempat dirawat di rumah sakit selama beberapa hari dan tidak sempat menyiapkan penampilanku dengan baik. Jadi, keadaanku cukup berantakan.
Sebaliknya, dia tampak seperti bunga yang menarik perhatian semua kumbang.
Orang-orang yang datang pun memujinya tanpa henti.
"Pelukis cantik kita benar-benar terlihat sangat segar. Dia menolak banyak laki-laki hanya karena ingin menjadi ibu tunggal."
"Itu karena Erika punya uang dan waktu luang. Dia bisa membesarkan anak sendirian, tidak seperti seseorang pengangguran yang bisanya cuma mengulurkan tangan dan minta uang sama suami."
Semua tatapan di sekeliling seakan tertuju kepadaku saat mendengar sarkasme itu.
Erika tertawa dan memesan beberapa minuman, mengatakan bahwa malam ini dia akan mentraktir kami.
Semua orang menyarankan agar kami bermain jujur atau tantangan untuk meningkatkan suasana.
Ujung botol kosong pertama mengarah pada Erika. Dia berkata dengan cemberut, "Aku pilih jujur saja."
Sahabatnya bertanya kepadanya, "Erika, kamu punya anak dari hasil tabung, apa kamu akan membuat anakmu memanggil Regha sebagai ayah nantinya?"
Erika mengusap-usap perutnya dan tersenyum ke arahku.
"Kak Louisa, aku tahu kamu keberatan dan marah sama Regha dalam beberapa hari ini. Tapi, kamu tenang saja, aku nggak akan merusak rumah tangga kalian. Lagipula, kamu juga tahu sendiri kalau aku ingin menikah dengan Regha, mana mungkin kamu bisa tetap jadi istrinya?"
"Tapi, kalau kamu nggak bisa punya anak, saat tua nanti aku akan minta anakku buat menghormatimu dan Regha. Kalau nggak, hari tuamu pasti akan sangat menyedihkan."
Orang-orang di sekitar memujinya karena terlalu baik.
Hatiku sangat tenang, bahkan aku tidak mengerutkan alis sedikit pun.
Di masa lalu, terutama dalam dua tahun terakhir ketika perusahaan Regha sedang naik daun, Erika tiba-tiba masuk ke dalam hidupku dan sering muncul di sisi Regha.
Awalnya aku terkejut, marah, cemburu dan kesal.
Namun, pilihan tegas Regha yang memilih Erika berulang kali dan memarahiku karena tidak bersikap pengertian karena memfitnah mereka sudah membuatku mati rasa.
"Aku nggak keberatan. Sebenarnya, kalau aku harus bercerai sekarang pun nggak masalah buatku."
Wajah Regha langsung berubah muram, memintaku tidak mengucapkan kata-kata penuh emosi seperti itu.
Aku tersenyum tenang. "Lebih baik kamu jangan terlalu percaya diri, merasa kalau kamu sepenting itu di hatiku."
Mata Regha berkilat panik, tetapi dengan cepat menjadi tenang.
"Sudah, jangan merajuk begitu. Erita sudah bermurah hati dan begitu memikirkanmu. Beberapa hari ini aku memang nggak bisa nemenin kamu, tapi beberapa hari ke depan aku bakal di rumah terus. Apa kamu puas?"
Sadar suasana jadi tidak nyaman, orang di sebelah langsung menyarahkan untuk memulai permainan selanjutnya.
Kali ini ujung botol mengarah kepadaku.
Aku akan memilih jujur, tetapi Erika tiba-tiba berbicara mendahuluiku
"Aku sudah pilih jujur sebelumnya, jadi kamu pilih tantangan saja."
Aku meliriknya dengan sorot dingin saat dia berulah, tetapi itu bukan masalah.
Pada akhirnya, tugas yang aku dapatkan adalah mencium lawan jenis pertama yang aku temui saat keluar dari pintu.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Regha mendorong tiga botol anggur ke depanku.
"Dia nggak bisa melakukannya, jadi dia akan minum tiga botol."
Semua orang tertawa terbahak-bahak dan setuju dengan perkataannya.
Ada suamiku di sini, rasanya sangat tidak etis kalau aku mencium laki-laki lain.
Namun, aku langsung berdiri. "Kenapa? Bukankah ini permainan yang Erika ingin aku lakukan? Aku juga bukannya nggak bisa melakukannya."
Regha tersentak berdiri, ekspresinya langsung berubah menjadi sangat tidak senang.
"Louisa, kamu sengaja melawanku sampai begini?"
Aku benar-benar tidak mengerti. Dia memberikan tabung spermanya agar Erika bisa hamil dan tidak menganggap ini sebagai masalah besar. Dia ingin aku tidak membuat masalah karena hal ini.
Kenapa dia jadi marah saat aku hanya melakukan permainan saja?
Erika bergegas mendekati kami dan melerai pertengkaran kami. Sorot matanya entah disengaja atau tidak mengarah ke perutku. "Kadar alkohol minuman ini cukup rendah, jadi nggak bahaya kalaupun kamu minum."
Mendengar hal ini, Regha menjadi makin marah dan langsung membuka tutup botol minuman itu, menyuapkannya ke mulutku.
"Semuanya sudah mencoba ngertiin kamu, jadi jangan merusak suasana."
Aku tersedak alkohol dan banyak yang tumpah karena tindakan Regha yang terlalu kasar. Tumpahan itu mengenai mata dan wajahku.
Aku langsung panik saat membayangkan janin di dalam perutku. Aku melangkah mundur, mengibaskan tangan mencoba melarikan diri.
Tiba-tiba, sesuatu menyandung kakiku dan membuatku terjatuh dengan keras di lantai marmer ruang pribadi ini.
Rasa sakit yang tajam menghantam pinggang bagian bawahku. Aku berteriak kesakitan sambil melindungi perutku.
Wajah Regha terlihat sedikit khawatir. Dia mengulurkan tangan untuk menarikku sambil mengatakan, "Kamu cuma jatuh saja sudah seperti mau mati."
Pada saat itu, seruan terdengar di sekitar.
"Darah! Ada banyak darah di lantai!"
Anda Mungkin Juga Suka





