APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kecurangan Maduku

Kecurangan Maduku

Demi masa depan anak-anak dan ekonomi keluarga, Andin Rosemala rela bekerja keras di perantauan. Ia sangat memegang teguh kesucian pernikahan bersama Rendy Prawira. Sialnya, di saat Andin berjuang di kota lain, Rendy malah tega berkhianat dan diam-diam menikahi Ayu. Menghadapi kepedihan atas kecurangan sang suami, sanggupkah Andin bertahan? Akankah Rendy meninggalkan istri mudanya, atau justru Ayu yang akan merebut kendali atas segalanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Minggu pagi. . .

Andin pamit pulang kerumahnya, mengajak kedua anaknya. Mengendarai motor matic yang biasa dibawa kerja suaminya. Menerobos melewati jalanan sempit, jalan pintas yang tak dilalui mobil-mobil besar seperti container. Jalan yang biasa dilewati Radit dan Dini. Memilih jalan pintas adalah ide yang benar, mengingat Andin yang tak lincah mengendarai motor.

Baru melaju beberapa meter, Radit dan Dini merengek minta jajan. Andin merogoh saku celananya, beruntung ada uang selembar berwarna ungu. Uang yang sengaja ia bawa, takut jika kehabisan bensin dijalan.

Menstater maticnya kembali, sebelum benar-benar menekan gas digenggamannya, Andin ingat kakaknya Rania. Rumah Rania berada tak jauh dari warung ini. Memutar stang motor, sebelum berangkat Andin juga akan berpamitan pada Rania. Saudara kandung Andin satu-satunya.

"Loh Bun, kok belok?" Protes Radit yang sadar jika laju motornya berbalik arah.

"Iya, kerumah uwak dulu ya sebentar." Jelas Andin.

Terlihat Rania sedang duduk di teras rumah bersama Angga suaminya. Berdiri dari duduknya saat tahu Adik dan Keponakannya datang.

"Eh. Anak uwak tumben main minta anter Bunda?" Rania menggendong Dini dan menciuminya.

Rania belum dikaruniai seorang anak, wajar jika ia dan suami begitu menyayangi kedua keponakannya itu. Andin menyetandarkan motor maticnya. Menyusul kedua anaknya yang lebih dulu berlari ke uwak nya.

"Ini dari rumah Ibu mbak, semalem aku dan anak-anak nginep disana." Jelas Andin

Rania mengangguk, menurunkan sibungsu. "Rendy kemana kok nggak ikut?"

Andin tersenyum tipis, mengingat Rendy yang sedang reuni tanpa keluarga nya. "Mas Rendy reuni mbak, mungkin nanti siang pulangnya, tadi dijemput mas Tono." Tak bilang jika Rendy sebenarnya menginap di pantai, takut jika Kakaknya marah.

Rania mempersilahkan Andin masuk. Angga sudah di dalam, terlihat ia menyetel kan televisi dan mengambilkan beberapa camilan untuk keponakannya. Andin menyampaikan maksud kedatangannya. Rania memanggil Angga untuk ngobrol bersama

Ketiganya duduk diruang tamu. Andin membuka obrolan. "Mbak, aku kesini mau pamit, nanti jam tiga aku mau berangkat ke Jakarta, ikut Mbak Wati." Andin menjelaskan alasannya merantau ke Jakarta. Salah satunya karena keuangan Rendy yang tak mencukupi.

Rania terkejut dengan penjelasan Adiknya. Angga sama terkejutnya. Menurut Angga ada yang tak beres dengan suami iparnya itu. Ia yang sama pegawai negeri seperti Rendy, tahu betul gaji yang diterima setiap bulannya. Meski ia bekerja di instansi yang berbeda.

"Kamu yakin mau pergi dek? Gimana nanti dengan Radit dan Dini?" Rani bertanya. Matanya sudah berkaca-kaca. Adik satu-satunya yang ia sayangi harus berjuang demi rumah tangganya. Jelas Rania tak tega.

"Gimana ceritanya gaji Rendy nggak cukup, Rendy itu pegawai negeri lho dek, harusnya kalo cuma untuk ngidupin kalian bertiga itu sangat cukup, untuk sekolah anak-anak harusnya juga ada, nanti biar Kakak yang tanyakan ke Rendy dek.! Kamu jangan berangkat dulu." Jelas Angga panjang lebar.

Andin mulai panik, saat melihat perubahan wajah kedua Kakaknya. "Nggak usah Kak, mungkin mas Rendy kasih ke adiknya yang mengurus bapak yang udah keluar masuk rumah sakit. Aku nggak papa Kak, Mbak."

Andin menunduk menahan matanya yang terasa panas. Andin beruntung memiliki ipar yang menyayanginya seperti adik sendiri.

Niatnya sudah bulat, Andin tak akan mengubah keputusannya. Berharap semuanya akan baik-baik saja. Andin tak melihat gelagat aneh dari suaminya. Andin begitu mempercayai Rendy. Bagi Andin, suaminya adalah lelaki terbaik setelah Ayahnya.

Andin pamit pulang, Rania memeluknya erat. Menangisi kepedihan Adiknya

"Aku pulang dulu ya Mbak, titip Radit dan Dini ya Mbak nanti kalo aku udah berangkat." Ucap Andin.

Radit dan Dini sudah menunggunya dimotor. Andin melangkah keluar rumah, Rania menahan tangan adiknya.

"Tunggu," ucap Rania tertahan. Mengambil benda pipih yang ada dimeja ruang tamu, membukanya mengambil benda kecil di dalamnya. Memberikan telepon pintarnya pada Andin. Rania tahu jika Andin tak memiliki benda pipih yang digilai manusia diabad ini.

Andin tercengang. "Apa ini mbak?" Tanyanya pada Rania.

"Ini kamu bawa aja, biar mbak bisa ngubungin kamu, ntar kamu belikan nomor baru ya, setelah itu kamu kirimkan pesan ke Kak Angga, biar Kak Angga simpan nomor kamu.!"

Ingin menolak, tapi Andin menyadari jika benda satu ini sangat penting, sedang ia tak memiliki nya. "Terus Mbak pake apa?"

Rania mengelus lembut lengan adiknya. "Ntar biar Mbak. . . " Belum selesai Rania menjawab, Angga lebih dulu menyahut.

"Udah bawa aja, ntar Mbak Rani biar Kakak belikan lagi. Dan jangan berpikir untuk menggantinya." Tegas Angga.

Andin kembali memeluk Kakaknya. Air mata yang susah payah ia tahan sejak tadi, akhirnya lolos juga. Hingga Andin tergugu.

Melajukan motor maticnya menuju rumah, tak lupa ia mampir ke sebuah conter untuk membeli nomor baru. Merogoh saku celana, ternyata tak ada apapun disana. Teringat jika tadi Dini diberi selembar uang berwarna biru oleh Rania. Andin meminjamnya, berjanji akan menggantinya nanti.

Sampai pelataran rumah jam sepuluh pagi, terlihat pintu masih tertutup rapat, lampu teras juga masih menyala. "Apa mas Rendy belum pulang ya.?" Batinnya.

Gelisah saat jam terus berputar, sedang Rendy tak kunjung pulang. Andin bolak-balik keluar masuk rumah. Menunggu kepulangan suaminya. Sampai ia teringat sesuatu.

"Ah iya, diponsel Mbak Rania pasti ada nomor mas Rendy." Gumamnya berbicara dengan angin.

Andin menghidupkan ponsel pemberian Rania. Mencari nomor suaminya. Setelah ketemu ia menekannya. Menuliskan sebuah kalimat

[ Mas, kok belum pulang? Andin ]

Pesan terkirim, tanda centang dua berwarna biru.

"Sepertinya sudah dibaca." Jawabnya sendiri.

"Mas sudah di depan dek." Teriak Rendy dari luar.

Tersenyum sendiri saat mendengar suara Rendy dari balik pintu. Rendy menjelaskan keterlambatannya pulang, dengan mudahnya Andin percaya semua yang Rendy katakan.

Terlebih Rendy pulang membawa buah tangan untuk Andin dan kedua anaknya.

Bahagia sebuah keluarga adalah berkumpul dan bercanda tawa bersama.

Jam setengah tiga, Andin diantarkan Rendy menuju halte bus, bersama dengan Wati yang diantarkan oleh adiknya. Sebelumnya Andi terlebih dahulu menitipkan Radit dan Dini tempat neneknya. Hatinya masih nyeri, teringat bagaimana tadi si bungsu meronta tak mau ditinggalkan. Ibu mana yang tega melihat anaknya menangisi perpisahannya dengan sang Ibu. Ibu mana yang tega meninggalkan anaknya tanpa alasan. Begitu pilu.

Bus berwarna biru tujuan Jakarta sudah siap jalan. Andin dan Wati penumpang terakhir. Pamit pada suami tercinta, mencium tangannya. Berbalik melangkah memasuki bus. Andin melambaikan tangannya. Rendy masih setia menunggu keberangkatan bus yang ditumpangi istrinya. Sampai tak terlihat lagi.

Andin mengelap ingus yang menetes dari hidungnya, air matanya enggan berhenti. Jauh berbeda dengan Wati yang sama sekali tak nampak kesedihan diraut wajahnya. Mungkin karena Wati sudah biasa. Wati mengelus punggung Andin, memberinya banyak wejangan. Baginya Andin sudah seperti saudara.

"Udah ndin, namanya pertama pisah sama anak ya gitu. Sedih itu sudah pasti, tapi kalo kamu nangis terus begini, anakmu di rumah akan gelisah." Ucap Wati lembut, mencoba menenangkan temannya ini.

Tak menanggapi, Andin membuang pandangannya ke kaca jendela. Melihat lalu lalang mobil disana, tapi ingatannya hanya pada kedua anak yang ditinggalkannya.

"Ya Tuhan, jagalah suami dan kedua anakku." Ucapnya dalam hati, mencoba tenang dan kuat.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta dari Pria yang Tak Terduga
9.1
Panggilan polisi seketika menghancurkan hidup Emily yang damai. Ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa Jaka Guntur, kekasihnya, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Di tengah badai emosi tersebut, sebuah ketidaksengajaan membawa Emily ke dalam hubungan satu malam bersama Jacob, paman dari Jaka. Kini, ia terjebak di tengah konflik rumit dan dilema asmara antara sang mantan kekasih dengan pria berkuasa yang merupakan paman mantannya itu.
Sampul Novel Menikahi Mantan Pacar Teman
9.0
Dunia Mei runtuh saat pria impiannya sejak SMA menikah dengan sahabatnya. Di tengah pesta pernikahan yang menyakitkan itu, Juna datang membawa lamaran tak terduga. Meski mapan dan menawan, mantan kekasih sahabatnya itu juga sedang patah hati. Juna menawarkan sebuah pernikahan tanpa cinta sebagai jalan mencari kebahagiaan baru. Akankah persatuan dua jiwa yang terluka ini menjadi obat penawar lara, atau justru menggoreskan luka yang jauh lebih perih?
Sampul Novel Noda Penyesalan
8.5
Malam pertama yang seharusnya indah bagi Zahra justru berujung petaka. Beberapa jam setelah ijab kabul, Raja, suaminya yang berprofesi sebagai perwira polisi, langsung menjatuhkan talak. Padahal, seluruh proses pernikahan mereka berjalan tanpa hambatan. Zahra dituduh tidak perawan lagi hanya karena tidak berdarah saat berhubungan intim. Fitnah kejam ini seketika menghancurkan hati dan hidup Zahra dalam sekejap akibat penolakan sang suami.
Sampul Novel Saya dan Miliarder Cantik
8.3
Kehidupan tersembunyi Mateo terancam setelah Hillary, miliarder sombong, hadir dan memicu rasa ingin tahu Serina, jurnalis yang menyelidiki masa lalunya. Terjebak kasus pembunuhan masa lalu, Mateo terpaksa bersekutu dengan mereka untuk menyingkap kebenaran tragedi keji tersebut. Di tengah ancaman berbahaya, ketiganya harus menghadapi musuh tangguh dan menguji keyakinan mereka. Akankah keadilan terwujud, atau masa lalu justru menghancurkan mereka?
Sampul Novel Tawanan Cinta Mafia Psikopat
8.4
Kehidupan Livy hancur setelah disekap oleh Arthur Lucifer, gembong mafia Italia yang sangat kejam. Di bawah ancaman, ia dipaksa menyusup ke D'Fantazio Fuel demi mencuri data rahasia perusahaan minyak tersebut. Tak hanya menghadapi misi yang mengancam nyawa, Livy juga terperangkap dalam obsesi intim sang mafia yang posesif. Harapan bebasnya pupus saat Arthur bersumpah tak akan melepaskannya. Sanggupkah Livy meloloskan diri, atau ia justru akan takluk pada pesona sang psikopat?
Sampul Novel Titik Noda
8.9
Kehancuran rumah tangga dimulai saat suami mengaku khilaf atas pengkhianatannya. Hati sang istri hancur karena sosok yang mereka bantu biayai sekolahnya justru menjadi perusak pernikahan mereka. Niat tulus mengangkat derajat orang lain malah berbuah penderitaan mendalam. Terinspirasi dari kisah nyata, novel ini menyoroti hukum tabur tuai yang nyata terjadi. Mampukah sang istri menemukan hikmah di balik ujian berat yang kini meremukkan mahligai pernikahannya?