APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kebohongan Suamiku Menjadi Kenyataan

Kebohongan Suamiku Menjadi Kenyataan

Demi menebus masa lalu, seorang suami berbohong bisa melihat sisa umur orang. Ia mengklaim cinta pertamanya hanya punya tujuh hari lagi, sedangkan istrinya masih puluhan tahun. Sang istri diam saat suaminya membawa wanita itu pulang, bernostalgia, hingga menggelar pernikahan megah dengan dirinya sebagai pengiring. Ia bahkan rela pindah ke kamar tamu bersama anaknya. Sang suami berjanji menebusnya nanti, tanpa tahu justru istrinya yang mengidap kanker dan akan wafat dalam tiga hari.
Bab
Bagikan

Bab 1

Demi menebus penyesalannya dengan cinta pertamanya, suamiku berbohong dengan mengatakan bahwa dirinya mampu melihat rentang hidup setiap orang. Dia mengatakan bahwa aku masih memiliki masa hidup selama 60 tahun, sedangkan cinta pertamanya hanya punya tujuh hari lagi.

Jadi, selama tujuh hari itu, dia ingin memenuhi janji yang pernah dibuatnya dengan cinta pertamanya ketika mereka masih muda. Dia membawa cinta pertamanya pulang dan merawatnya secara pribadi.

Ketika mereka kembali ke kampus untuk bernostalgia dan saling jatuh cinta lagi, aku tidak membuat keributan.

Ketika dia menyatakan cinta kepada cinta pertamanya, lalu mengadakan resepsi pernikahan termegah seabad dengan aku sebagai pengiring pengantinnya, aku juga tidak protes.

Hingga akhirnya, dia hendak menembus batas terakhir di antara pria dan wanita dengan cinta pertamanya di kamar pengantin kami. Dengan rasa bersalah di mata, pria itu memohon padaku untuk pindah dari kamar kami.

Para pembantu di rumah menertawakanku, tetapi aku hanya tersenyum dan mengangguk setuju. Kemudian, aku mengemasi barang-barangku dan pindah ke kamar tamu di sebelah bersama anak kami.

Melihatku berperilaku sepatuh biasanya, suamiku berlinang air mata dan berujar, "Aku janji, ini terakhir kalinya aku membuatmu menderita. Begitu Rina meninggal, aku akan tebus semua ini padamu."

Namun, dia tidak tahu bahwa aku sudah menyadari kebohongannya sejak awal. Dia juga tidak tahu bahwa orang yang sebenarnya menderita kanker dan hanya punya tujuh hari untuk hidup adalah aku.

Tiga hari lagi, aku akan mati.

"Dia benar-benar pindah ke kamar tamu di sebelah dengan begitu menyedihkan? Apa dia nggak akan kena serangan jantung kalau dengar suara mereka di tengah malam?"

"Kenapa? Kamu mau bantu? Memangnya kamu nggak lihat betapa Tuan memanjakan Nona Arina? Sekarang, dia itu bukan siapa-siapa. Kamu masih nggak tahu siapa yang harus kamu hormati?"

"Tuan dan Nona Arina memang lebih cocok sih."

Aku menggendong anakku sambil mendorong keluar kardus-kardus dari kamar, lalu berjalan bolak-balik untuk memindahkan barang ke kamar sebelah. Aku melirik ke sekeliling untuk mencari bantuan, tetapi tidak ada yang menanggapi.

Pada hari kelima setelah aku didiagnosis menderita penyakit terminal, suamiku dan cinta pertamanya ingin tidur bersama di dalam kamar kami.

Para pembantu menyimpan semua fotoku dan dia, seprai kami, serta barang lainnya di dalam kamar. Kemudian, mereka mengganti seprainya dengan yang berwarna merah, juga meletakkan barang-barang pribadi Arina dan foto-foto pernikahan mereka di atas meja.

Owen mengamati semuanya dengan dingin. Tanpa melirikku sedikit pun, dia berjongkok di samping sofa, lalu menyuapi Arina makan stroberi dengan hati-hati dan penuh perhatian.

Dia berkata dengan penuh kasih sayang, "Aku pernah berjanji padamu bahwa kamu akan punya segala sesuatu yang seharusnya dimiliki seorang pengantin baru. Aku nggak akan biarkan kamu dirugikan. Ayo, buka mulutmu ...."

Putri yang berada dalam pelukanku merasa ada yang tidak beres dan merengek, tetapi Owen mengabaikannya. Hati dan matanya hanya dipenuhi cinta yang mendalam untuk cinta pertamanya. Namun, dia malah membuatku dan putrinya sendiri menjadi bahan tertawaan orang-orang.

Aku menggendong putriku sambil menenangkannya. Gelombang kepahitan membuncah dalam hatiku. Apa boleh buat, aku akan segera mati.

Aku lanjut memindahkan kotak. Setelah menyelesaikan semuanya, aku tidak ingin berbicara dan berencana untuk kembali ke kamar. Namun, saat aku melewati ruang tamu, Arina malah tidak bersedia membiarkanku pergi.

Owen membujuknya cukup lama sebelum Arina berbicara dengan ragu dan sedih, "Hidupku tinggal beberapa hari dan aku nggak bisa punya anak. Aku mau jaga anak kalian selama beberapa hari untuk merasakan perasaan menjadi seorang ibu, tapi aku takut menyinggung Kak Kayla ...."

Dalam seketika, beberapa pasang mata langsung tertuju padaku, sedangkan aku menatap Owen lekat-lekat.

Dia telah membiarkan selingkuhannya tinggal di rumah kami dan membuatku menjadi bahan tertawaan para pembantu. Apa dia tega merenggut anak kami dan memisahkanku dengan anak kami sebelum ajal menjemputku?

Begitu melihat wajah penuh kemurungan wanita cantik di hadapannya, Owen pun merasa tidak tega. Dia menatapku dan berkata dengan sungguh-sungguh, "Kayla, kamu bahkan bersedia membiarkannya tinggal rumah kita. Kamu nggak akan keberatan untuk biarkan Rina jaga anak kita, 'kan?"

Aku hampir lupa bahwa Arina adalah wanita yang ingin dinikahi Owen ketika masih muda. Jika bukan karena Owen begitu mencintai Arina hingga lebih rela putus daripada membatasi masa depannya, mereka seharusnya sudah menikah sejak lama dan aku tidak mungkin memiliki kesempatan untuk menjadi istri Owen.

Aku menjadi istri Owen hanya karena kami cocok. Selain tanggung jawab, dia tidak menaruh perasaan lain terhadapku.

Aku melawan rasa sakit di kepalaku dan bertanya, "Gimana kalau aku keberatan? Ini putri kita, dia baru berusia sebulan."

Gerakan Owen yang sedang menusuk buah terhenti. Dia berbalik dan menatapku dengan dingin. "Sudah kubilang, aku cuma mau pinjam anak kita selama tiga hari. Rina sudah sekarat dan belum pernah jadi seorang ibu. Apa salahnya kamu mengalah? Hidupmu masih panjang. Kamu akan punya banyak waktu untuk rawat anak kita."

"Dia ini putriku! Nggak ada seorang pun boleh merebutnya dariku tanpa persetujuanku," ucapku dengan tegas.

Aku mengalami pendarahan hebat seharian sebelum melahirkan putriku dan aku hanya punya tiga hari lagi. Jika aku tidak lebih sering menemani putriku, aku tidak akan pernah bisa melihatnya lagi.

"Kayla, aku nggak nyangka kamu begitu egois. Kamu bahkan nggak bisa menunggu tiga hari?" Owen mengerutkan kening. Nadanya terdengar muram.

"Aku memang ...." (nggak bisa nunggu lagi.)

Namun, sebelum aku sempat menyelesaikan kata-kataku, Owen sudah memerintahkan pembantu untuk menahanku. Dia langsung merebut putriku dan menyerahkannya kepada Arina.

Aku menggertakkan gigi dan menatapnya dengan mata memerah. Hatiku bagaikan sedang menetes darah karena disayat oleh pisau yang tajam. Namun, Arina malah tersenyum berseri-seri. Dia menatapku dengan penuh kemenangan.

Pada saat ini, rasa sakit di tubuhku sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan rasa sakit di hatiku. Aku berjuang melepaskan diri dari pembantu, lalu menerjang ke depan dan hendak merebut kembali putriku.

Saat berhasil menggenggam ujung kain bedong, aku merasa gembira. Namun, aku tiba-tiba menyadari senyum licik yang tersungging di bibir Arina. Tepat ketika aku merasa bingung, tubuh Arina tiba-tiba jatuh ke belakang dan kain bedong dalam genggamannya tiba-tiba terlepas.

Melihat putriku hampir jatuh, aku segera mengulurkan tangan dan meraihnya, lalu mendekapnya erat-erat. Momentum itu membuatku terempas ke lantai. Sikuku terasa sangat sakit.

Terdengar teriakan kaget dari sekeliling.

Sementara itu, Owen berhasil menangkap Arina. Arina meringkuk dalam pelukan Owen, lalu berujar dengan panik dan sedih, "Kak Kayla, kalau kamu nggak bersedia pinjamkan anakmu padaku, ngomong saja. Kamu nggak perlu jadikan anakmu sebagai tameng untuk menindasku ...."

Pembantu di samping juga melangkah maju dan membela Arina. "Nyonya, kamu terlalu berlebihan! Nona masih begitu kecil. Kalau dia jatuh dan kepalanya terluka, dia nggak mungkin bisa diselamatkan!"

Setelah mendengar ucapan itu, Owen yang awalnya melihatku rela jatuh demi melindungi anak seketika merasa kecewa dan marah.

"Kayla, kenapa kamu sekejam itu! Bisa-bisanya kamu pakai anak sebagai alat untuk menindas Rina! Kamu nggak pantas jadi seorang ibu!"

Seusai berbicara, dia merebut putriku, lalu berujar, "Kamu tinggal saja di kamar pembantu selama beberapa hari ke depan dan layanilah Rina dengan baik."

Seusai berbicara, Owen melihat aku yang mengalirkan air mata sambil meringkuk di lantai. Dia pun tertegun dan tiba-tiba merasa khawatir. "Kamu nggak enak badan?"

Sementara itu, Arina mengangkat bahu dan berkata, "Kak Kayla, kepalamu nggak terbentur kok. Kenapa kamu bertingkah seperti sudah gegar otak? Apa kamu mau buat Kak Owen merasa sakit hati? Anakmu saja nggak nangis, tapi kamu yang sebagai orang dewasa malah menangis kesakitan. Kayaknya itu kurang baik deh?"

Kekhawatiran di mata Owen seketika memudar dan berubah menjadi rasa kesal. "Jangan bertingkah layaknya orang mati. Di atas kepalamu, jelas-jelas tertulis masa hidupmu masih ada 60 tahun. Kamu nggak bisa membodohiku."

Hatiku terasa sangat sakit. Jelas-jelas, dia yang berbohong padaku selama ini.

Mengenang kembali momen-momen indah yang kami lalui setelah aku menikah kilat dengan Owen, semuanya tiba-tiba terasa seperti mimpi.

Di masa akhir kehamilanku, Owen menolak banyak pekerjaan. Setiap hari, dia memasakkan sup bergizi untukku, juga membantuku mengoleskan minyak karena khawatir kehamilanku akan meninggalkan stretch mark. Bahkan ketika aku sedang berada dalam kondisi paling bengkak dan jelek gara-gara hamil, dia juga tidak merasa risih untuk mencium dan memelukku ....

Namun, Arina baru muncul selama lima hari dan semuanya telah berubah. Owen begitu melindungi Arina hingga bahkan pembantu di rumah juga berpihak padanya. Sementara itu, aku ditinggal sendirian dan terisolasi.

Setelah rasa sakitku mereda, aku duduk di lantai. Semua orang di ruang tamu telah pergi.

Owen melarangku bertemu putri kami selama beberapa hari berikutnya. Bahkan koper yang baru saja kupindahkan ke kamar tamu juga telah dipindahkannya ke kamar pembantu.

Aku merasa tidak enak badan dan hendak kembali ke kamar. Alhasil, Arina malah menghentikanku.

"Kak Kayla, aku mau bawa Bichon-ku tinggal di sini. Gimana kalau kamu tidur di ruang bawah tanah dulu untuk beberapa hari?"

Aku menggertakkan gigi dan melirik Owen yang berada di belakangnya dengan marah.

Owen mengerutkan bibirnya dan menghentikan Arina, yang mana merupakan hal yang sangat jarang terjadi. "Sudahlah, biarkan saja anjingmu tinggal di kamar tamu sebelah. Kamar pembantu lebih cocok untuknya."

Begitu mendengar ucapan Owen, Arina langsung berlari ke atas sambil tersenyum gembira untuk menyiapkan rumah anjing.

Setelahnya, Owen baru menghiburku, "Kayla, aku cuma mau tebus penyesalannya sebelum dia meninggal. Aku janji, aku cuma akan tinggal bareng Rina selama tiga hari lagi. Setelah tiga hari ini, kita masih bisa lanjut bersama selama 60 tahun. Dia itu cuma tamu dan kamu masih adalah istri sahku. Nggak akan ada yang berubah."

Owen mengelus kepalaku dan melanjutkan, "Yang patuh, ya. Kamu harus lebih murah hati. Setelahnya, aku nggak akan biarkan kamu menderita lagi."

Seusai berbicara, dia menurunkan tangannya dan pergi. Namun, dia tidak tahu bahwa aku tidak punya waktu untuk bersikap murah hati. Kami tidak lagi memiliki masa depan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan inginku Selingkuh
9.1
Menjunjung tinggi kesetiaan tak melindungi Ruela dari pengkhianatan Frans. Suaminya itu justru berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Alih-alih meratapi nasib, Ruela memilih bangkit demi menuntut balas. Di tengah rencana pembalasan dendam tersebut, takdir mempertemukannya dengan Felix, pemuda yang melewati malam penuh gairah bersamanya. Mampukah Ruela menghancurkan para pengkhianat di hidupnya? Inilah kisah penuh luka, ambisi, dan pertemuan tak terduga.
Sampul Novel MENGEJAR CINTA ANAK KYAI
9.8
Andre, putra konglomerat yang putus asa akibat paksaan nikah orang tuanya, batal mengakhiri hidup setelah diselamatkan oleh Amira, seorang anak kyai. Peristiwa itu mendorong Andre untuk hijrah dan memperdalam agama demi memikat hati Amira. Sayangnya, impiannya runtuh seketika saat melihat Amira bertunangan dengan Adam. Andre kini dihadapkan pada pilihan sulit: bangkit berjuang mendapatkan cintanya atau menyerah dan kembali terpuruk dalam depresi.
Sampul Novel Pemuas Nafsu Tuan Muda 21+
8.6
Demi memperbaiki taraf hidup neneknya, Nada, siswi SMA, rela mengambil pekerjaan tidak biasa untuk menyusui Daffa yang sedang lumpuh. Interaksi ini terus berjalan sampai fisik Daffa pulih total. Begitu tugasnya selesai dan Nada hendak melangkah pergi, Daffa justru menolak melepaskannya. Rupanya, pemuda itu telah terobsesi dan kecanduan pada sosok Nada. Akankah Nada berhasil meloloskan diri, atau justru terperangkap selamanya dalam jerat Daffa?
Sampul Novel PENGANTIN TITIPAN
9.2
Kamila jatuh cinta pada Dion, mahasiswa KKN yang berani melamarnya tanpa restu keluarga. Namun di hari pernikahan, Dion malah kabur dan meminta Aldin Nabastala, seorang duda, untuk menggantikannya. Demi menjaga nama baik ayahnya, Kamila terpaksa menikah dengan Aldin walau hatinya masih untuk Dion. Seiring waktu, kepribadian shaliha Kamila membuat Aldin jatuh hati. Akankah Aldin merelakan istrinya kembali saat Dion saat cinta mulai tumbuh?
Sampul Novel Secret Family
9.1
Model bernama Jasmine terjebak hubungan terlarang dengan putra mantan suaminya, yang seketika kacau dan memicu kemarahan akibat kehadiran Lilo. Sementara itu, Sica yang dahulu ditelantarkan sang ibu kini menjalin kedekatan dengan teman masa kecilnya. Namun, kedatangan Rannu mulai mengusik ketenangan hidup Sica. Sebagai kelanjutan kisah generasi lalu, sanggupkah Jasmine dan Sica memilih jalan yang benar, atau justru kembali terperangkap dalam pusaran dilema serupa?
Sampul Novel The Rich Sugar Baby
9.0
Dunia Alenia runtuh sejak ibunya tiada, diperparah oleh sang ayah yang abai setelah menikah lagi. Luka hatinya kian menganga saat tunangan yang sangat ia percayai justru tega berkhianat. Enggan terus terjebak dalam hubungan beracun yang merusak mentalnya, Alenia nekat mengambil langkah ekstrem demi keluar dari penderitaan tersebut. Ia memutuskan untuk menjalin asmara dengan seorang pria dewasa yang memiliki perbedaan usia hingga tiga belas tahun lebih tua darinya.