APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kebohongan Suamiku Menjadi Kenyataan

Kebohongan Suamiku Menjadi Kenyataan

Demi menebus masa lalu, seorang suami berbohong bisa melihat sisa umur orang. Ia mengklaim cinta pertamanya hanya punya tujuh hari lagi, sedangkan istrinya masih puluhan tahun. Sang istri diam saat suaminya membawa wanita itu pulang, bernostalgia, hingga menggelar pernikahan megah dengan dirinya sebagai pengiring. Ia bahkan rela pindah ke kamar tamu bersama anaknya. Sang suami berjanji menebusnya nanti, tanpa tahu justru istrinya yang mengidap kanker dan akan wafat dalam tiga hari.
Bab
Bagikan

Bab 2

Lima hari yang lalu, aku didiagnosis menderita kanker otak. Waktuku yang tersisa hanya seminggu lagi. Aku telah memberi tahu Owen tentang hal itu, tetapi dia tidak percaya. Dia mengatakan bahwa aku hanya meniru orang dan ingin menyindir Arina. Berhubung dia tidak percaya, aku juga tidak menjelaskannya lagi.

Rasa sakit di kepalaku membuatku tidak bertenaga. Di tengah kelinglunganku, aku mendengar ketukan di pintu. Begitu membuka pintu, aku baru tahu bahwa Owen mengirim Bi Nina untuk memberiku hadiah. Hadiah itu adalah buket mawar kering yang dilapisi emas murni dan melambangkan keabadian.

Owen bahkan meminta Bi Nina untuk menyampaikan pesannya. Dia mengatakan bahwa bunga itu adalah kompensasi atas aku yang bersedia pindah keluar dari kamar kami dan dia yang merebut putriku.

Bi Nina adalah satu-satunya orang di vila ini yang benar-benar peduli padaku.

Dia tersenyum, lalu menahan rasa jijiknya terhadap Arina dan menasihatiku, "Tuan cuma dibutakan sesaat oleh seorang wanita penggoda. Berhubung dia memberimu hadiah semahal ini sebagai kompensasi, itu berarti dia masih peduli padamu. Mungkin saja semuanya akan kembali seperti semula beberapa hari lagi. Nyonya, bersabarlah."

Dengan ekspresi datar, aku meletakkan mawar itu di sudut ruangan secara asal. Sudah ada empat buket mawar yang identik di sudut kamar.

Kemudian, aku hanya mengangguk dengan acuh tak acuh. Sejak Owen mengarang cerita untuk berbohong padaku, dia pun menyuruh Bi Nina untuk diam-diam memberiku buket mawar ini setiap hari.

Bi Nina mungkin tidak menyadarinya, tetapi aku yang telah berbagi ranjang dengannya selama tiga tahun mana mungkin tidak sadar? Owen hanya mencoba untuk menebus rasa bersalahnya dan menipu dirinya sendiri. Bahkan saat mengirim bunga pun, dia melakukannya secara diam-diam. Dia sama sekali tidak menyadari dirinya bersalah.

Aku melirik bunga-bunga di sudut ruangan itu. Hanya tersisa dua buket terakhir. Setelah genap tujuh buket, aku mungkin sudah mati. Mana mungkin masih ada keabadian bagiku?

Kanker otak benar-benar sangat menyiksa. Setelah mengalami sakit kepala hebat semalaman, aku baru tertidur saat fajar. Namun, dering ponselku membuatku terbangun.

Aku menekan pelipisku kuat-kuat, lalu menjawab panggilan dari dokter yang merawatku.

Terdengar suara Dokter Ariel yang berkata dengan gembira, "Bu Kayla, ada obat yang baru saja dirilis di luar negeri. Obat itu bisa hambat penyebaran sel kanker otak. Stoknya terbatas dan aku pakai koneksiku untuk dapatkan satu botol. Obat ini mungkin ini bisa perpanjang hidupmu untuk sesaat. Kalau kamu butuh, datanglah ke rumah sakit untuk mengambilnya."

Setelah mendengarnya, aku menangis bahagia. Meskipun hanya demi putriku, aku juga mau hidup beberapa hari lebih lama. Jadi, aku langsung setuju dan pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan obat baru tersebut.

Dokter Ariel secara khusus mengingatkanku bahwa obat baru ini sangat berharga dan perlu disimpan dengan baik. Dia mengatakan bahwa obat itu bisa membantuku melewati dua hari terakhir dan bahkan memperpanjang hidupku hingga kelompok obat berikutnya diproduksi.

Dengan berlinang air mata, aku membayar obat itu dan menggenggamnya erat-erat. Saat meninggalkan tempat pengambilan obat di rumah sakit, aku bertemu Owen dan Arina yang juga datang untuk mengambil obat.

Melihat obat di tanganku, Owen langsung menghampiriku dengan gugup, lalu meraih tanganku dan bertanya, "Kamu sakit? Kenapa kamu datang ke rumah sakit untuk ambil obat?"

Owen memutarku dan mengamatiku secara saksama untuk mencoba mencari tahu aku kenapa.

Dalam beberapa hari terakhir, dia memang bersikap layaknya orang berkepribadian ganda. Dia tidak berhenti memberi perhatian kepadaku dan Arina secara bergantian, sampai-sampai aku mengira dia masih peduli padaku.

Aku pun merasa konyol dan dengan santainya melontarkan faktanya, "Emm, kanker. Hidupku nggak lama lagi."

Setelah mendengarnya, Owen pun tertegun.

Arina yang terlebih dahulu bereaksi. Dia langsung menangis tersedu-sedu dan berujar, "Kak Kayla, kamu jelas-jelas tahu aku menderita kanker dan hidupku setiap hari sangatlah menderita, tapi kamu masih saja bercanda denganku pakai hal ini."

"Benar juga. Kalau aku mati lebih cepat, aku nggak perlu bebani Kak Owen untuk merawatku lagi. Aku memang orang berumur pendek yang pantas mati! Biarkan saja aku mati!"

Seusai berbicara, Arina hendak memanjat jendela dan melompat keluar, tetapi segera dihentikan oleh Owen.

Owen yang merasa marah dan sakit hati pun berbalik dan memarahiku, "Kayla, kenapa kamu selalu pakai perihal kanker untuk provokasi Rina? Kamu begitu sehat, apa kamu tahu betapa menyiksanya penyakit itu? Kenapa orang egois yang berpura-pura sekarat sepertimu nggak segera dijemput raja neraka saja!Dia benar-benar buta!"

Setelah memakiku, Owen merebut obat dari tanganku dan lanjut berseru marah, "Aku mau tahu penyakit fatal apa yang kamu derita!"

"Jangan sentuh obatku!"

Mengetahui betapa berharganya obat baru ini, aku pun panik dan bergegas mengambilnya. Namun, Owen malah mendorongku dan memperhatikan botol putih yang tidak memiliki keterangan itu.

Obat itu masih dalam tahap percobaan sehingga botolnya tidak diberi label.

Arina berpura-pura lemah dan mengejekku, "Kak, kalau kamu mau sandiwara kena kanker, setidaknya kamu harus tulis sesuatu di botol prop itu. Kalau kamu begitu ceroboh, mana mungkin Kak Owen percaya padamu?"

"Kak Owen, entah apa isinya. Kamu nggak boleh biarkan Kak Kayla meminumnya. Gimana kalau nyawanya melayang setelah meminumnya?"

Aku melirik Arina dingin dan berujar sambil menggertakkan gigi, "Mau aku hidup atau mati setelah meminumnya, apa ... urusanmu ...."

Sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku, Owen sudah mengangkat tangannya dan melempar botol itu ke luar jendela.

Jendela itu menghadap ke danau buatan!

"Owen! Itu obat penyelamatku!" seruku dengan histeris. Mataku terlihat merah padam.

Owen langsung bergidik begitu melihat mataku yang penuh amarah. Setelah menikah, aku selalu bersikap lembut dan perhatian. Meskipun dia meninggalkanku sendiri untuk melahirkan karena harus pergi dinas, aku juga tidak pernah marah padanya setelah itu.

Ini adalah pertama kalinya aku marah padanya dan kupikir dia akan merasa bersalah.

Namun, ketika tersadar kembali, Owen hanya berkata dengan acuh tak acuh, "Kenapa? Karena sudah berpura-pura begitu lama, kamu sendiri juga benar-benar percaya kamu kena kanker dan akan segera mati? Jangan bersandiwara lagi. Kamu nggak akan bisa membodohiku, Kayla. Kamu cuma akan membuatku merasa jijik!"

Hatiku langsung tenggelam.

Pada saat ini, Arina menghampiriku dan berbisik di telingaku dengan sinis, "Kayla, obatnya sudah lenyap. Kamu cuma perlu tunggu ajal menjemputmu!"

Aku benar-benar terkejut. Arina tahu aku menderita kanker?

Aku menatapnya dengan kaget. Arina tahu betapa pentingnya obat itu bagiku, makanya dia sengaja ingin menghancurkannya. Namun, Owen malah menuruti perintahnya. Apakah itu berarti Owen juga tahu?

Aku tiba-tiba merasa duniaku berputar dan jatuh terduduk ke lantai dengan lemas. Aku merasa linglung untuk waktu yang sangat panjang. Dalam kelinglunganku, kedua orang itu telah berjalan pergi, tetapi suara mereka masih terngiang jelas di telingaku.

"Kak Owen, gimana kalau Kak Kayla benar-benar sakit?"

"Kalau sakit, ya diobati. Kalau nggak bisa disembuhkan, ya mati saja ...."

Kalau sakit, ya diobati. Kalau nggak bisa disembuhkan, ya mati saja .... Ini benar-benar adalah kalimat yang diucapkan orang-orang dari zaman dahulu.

Harapanku untuk hidup sudah pupus di tangan orang yang paling kucintai. Aku merasa bagaikan sudah jatuh ke dalam gua es dan mungkin tidak akan bisa keluar lagi.

Aku awalnya mengira Tuhan telah memberiku satu kesempatan lagi supaya aku bisa hidup demi putriku. Sekarang, harapan itu sudah sirna. Aku bahkan tidak sanggup untuk melindungi sebotol obat.

Mungkin, raja neraka benar-benar menginginkan nyawaku. Dia ingin memberitahuku untuk menyerah dan sudah saatnya aku pergi.

Aku meninggalkan rumah sakit dan pergi ke firma hukum.

Aku menyelesaikan penggabungan aset tidak lancar yang kumiliki, lalu menyerahkannya kepada seorang manajer. Aku juga mengalihkan semua aset lancarku ke rekening pribadi yang kusiapkan untuk putriku. Dengan penuh kesibukan dan semangat, aku menyusun surat wasiatku.

Namun, sebelum aku meninggalkan firma hukum, Owen meneleponku. Nada suaranya terdengar serius, tetapi ada sedikit kepanikan dalam suaranya.

"Apa yang kamu lakukan di firma hukum?"

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Cari "B89119" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B89119
Salin

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Amanda Rhea
9.1
Terlempar ke masa lalu, Amanda Rhea kembali dipertemukan dengan Hagana. Takdir unik kemudian menjalin ikatan misterius antara Amanda dan putri dari pria tersebut. Namun, kedamaian mereka terancam ketika iblis mimpi mulai muncul dan mencelakai orang-orang terdekat Amanda. Di tengah teror mencekam yang terus mengintai, mampukah cinta lama antara Amanda dan Hagana tumbuh kembali seiring takdir yang terus mempersatukan mereka?
Sampul Novel Dendam yang Terpendam: Cinta Sang CEO Terhalang Takdir
7.9
Zeesya Aleena Lawrence terbangun dari koma panjang dan mendapati pacarnya berkhianat. Di masa sulit ini, ia jatuh cinta pada pria misterius yang sangat mencintainya. Sialnya, kebahagiaan itu sirna saat rahasia masa lalu terbongkar. Pria tersebut rupanya dalang di balik tragedi berdarah yang menimpa keluarga Zeesya. Kini, ia menghadapi pilihan sulit antara menjaga cintanya atau menuntut balas atas takdir tragis keluarganya.
Sampul Novel Let's Watch the Stars Forever
7.9
Ataya, seorang gadis yang selalu didera rasa benci pada diri sendiri, menemukan titik balik hidupnya setelah bertemu dengan seorang pemuda yang memiliki kecintaan mendalam pada astronomi. Lewat pesona langit malam yang mereka amati bersama, ia perlahan mulai berdamai dan menghargai jati dirinya. Di tengah proses memulihkan luka batin tersebut, Ataya menyadari bahwa benih cinta yang tulus telah tumbuh untuk sosok lelaki yang setia mendampingi setiap langkahnya.
Sampul Novel Sebenarnya Dia Mesum Ma!
9.0
Sejak ayahnya tiada, Lunar tinggal bersama orang tua tiri dan mengenal tetangga aneh bernama Serafin. Secara mengejutkan, Serafin langsung menyatakan cinta dan melamar Lunar, sembari mengaku jujur bahwa dirinya gampang terangsang. Di balik kelakuan mesum itu, Lunar curiga Serafin adalah kaki tangan tantenya yang berniat merebut warisan. Apakah perasaan Serafin tulus, atau ada niat terselubung? Bisakah Lunar bertahan dari pesona pria misterius ini?
Sampul Novel Suamiku Mantan Casanova
8.2
Akibat trauma pengkhianatan masa lalu, Anneth Jennifer enggan jatuh cinta lagi. Namun, ia tidak bisa menolak desakan ibunya untuk dijodohkan dengan anak sahabat lamanya. Betapa terkejutnya Anneth saat tahu bahwa pria itu adalah Arsean Sinclair, sosok berengsek yang dulu pernah ia tolak. Arsean yang licik bersumpah tidak akan melepaskannya dan mengklaim Anneth sebagai miliknya. Anneth pun kini terperangkap dalam pernikahan tanpa rasa cinta bersama sang mantan casanova.
Sampul Novel Suamiku Sayang Suamiku Malang
9.7
Keadaan memaksa Tamara, wanita berwatak keras, merelakan kebebasannya untuk membina rumah tangga bersama Alif. Ia menjalani pernikahan dingin ini tanpa rasa cinta dan penuh kepasrahan. Meski diabaikan, Alif pantang menyerah dan terus berjuang keras meluluhkan hati istrinya agar mau menerimanya dengan tulus. Akankah pernikahan tanpa rasa ini runtuh di tengah jalan, atau justru kegigihan Alif yang mampu mengubah kebencian Tamara menjadi cinta sejati?