
Kata Cinta Membuat Sakit Hati
Bab 2
Aku membalikkan badan, menatap langsung ke arah Joshua.
Dia sama sekali tidak peduli dengan penampilanku yang berantakan, hanya mengerutkan kening.
"Siapa yang menyuruhmu datang mencariku ke rumah sakit tanpa izin? Aku sudah bilang kalau ini tempat aku bekerja, bukan tempat hiburan," kata Joshua.
Wajah seriusnya kini benar-benar berbeda dari sikap lembut yang dia tunjukkan pada Bella tadi.
Seharusnya aku merasa sedih, sama seperti setiap kali dia mengabaikanku sebelumnya.
Namun, kali ini yang aku rasakan hanyalah dingin yang menusuk di dada.
"Kamu mengatakan di telepon kalau kamu sakit, jadi aku datang untuk menjengukmu," jawabku.
Hari ini aku menunggu seharian di depan Kantor Catatan Sipil. Baru saat jam kerja selesai, aku berhasil menghubungi Joshua.
Dia mengatakan bahwa dirinya sedang sakit, sementara aku langsung datang tanpa berpikir panjang.
Sekarang, aku bersyukur aku datang.
Jika tidak, mungkin aku masih akan terus dipermainkan seperti ini.
Joshua tertegun sejenak, lalu mengalihkan pandangan dengan rasa bersalah.
"Kamu salah dengar. Yang sakit bukan aku, tapi Be …."
"Nggak, ini salahku."
Aku memotong ucapannya.
Ini memang salahku.
Sejak awal memang salahku.
"Kalau begitu, aku nggak akan mengganggu kalian lagi," kataku.
Aku berbalik untuk pergi.
Joshua tidak mengejarku, karena Bella sedang menangis.
"Apa Bu Amelia marah padaku? Semua ini salahku .… Kenapa aku selalu sakit .…"
Joshua menenangkannya dengan suara lembut, "Bukan salahmu. Itu karena hatinya yang terlalu picik."
Aku mempercepat langkahku.
Di dalam mobil saat perjalanan pulang, aku menerima telepon dari Joshua.
Sebenarnya aku tidak ingin mengangkatnya, tetapi dia terus menelepon.
"Halo?"
"Kamu akhir-akhir ini seharusnya nggak terlalu sibuk, 'kan?"
Suara Joshua kini terdengar lembut.
Aku hanya diam, tidak menjawab.
Namun, dia tetap melanjutkan kata-katanya sendiri.
"Bella baru saja menjalani operasi kecil, dia harus dirawat inap selama tiga hari."
"Kamu juga nggak ada kesibukan, 'kan? Jadi, selama tiga hari ini kamu bisa memasak, lalu membawakan makanan untuknya setiap hari."
"Dia hanya seorang gadis yang baru mulai bekerja, nggak ada siapa-siapa di sisinya untuk merawatnya. Kamu adalah istri gurunya, jadi kamu harus merawatnya."
Saat menyebutkan tentang Bella, kata-kata Joshua dipenuhi dengan rasa sayang.
Padahal demi pria itu, aku sampai bertengkar hebat dengan orang tuaku, hingga akhirnya memutuskan hubungan dengan keluargaku. Aku sering terbangun dengan air mata karena merindukan rumahku.
Di kota yang asing ini, satu-satunya orang yang aku kenal hanyalah Joshua.
Namun, pria itu tak pernah memperhatikanku dengan kepedulian seperti itu.
Karena ketika mencintai seseorang, barulah kamu akan peduli padanya.
Aku butuh waktu lima tahun untuk aku memahami hal ini.
Karena aku terus diam, Joshua seperti ingin mengatakan sesuatu lagi.
Namun, aku langsung memotongnya, "Baiklah."
Telepon di seberang langsung hening.
Joshua mungkin tidak menyangka aku akan setuju secepat itu.
Lagi pula, ini adalah masalah memasak untuk wanita lain, wanita yang begitu dekat dengannya.
Namun, yang tidak Joshua tahu, aku sudah membuat keputusan untuk meninggalkannya.
Sebelum keluar dari rumah sakit tadi, aku sudah membuat janji untuk melakukan operasi aborsi dalam tiga hari, juga membeli tiket pesawat pulang untuk hari itu.
Joshua pernah berkata padaku bahwa selembar surat nikah tidak bisa mengikatnya, hanya cintaku yang bisa.
Namun, jika cintaku pun tidak bisa mengikatnya, aku tidak menginginkan pria itu lagi.
Setelah sampai di rumah, aku menggunakan air dingin untuk mandi.
Pemanas air sudah rusak setengah bulan lalu. Hanya butuh satu suku cadang kecil untuk memperbaikinya.
Joshua mengatakan tidak perlu memanggil teknisi, dia sendiri yang akan mengurusnya.
Namun, selama hari-hari berikutnya, dia selalu mengatakan sedang sibuk karena harus merawat Bella yang selalu saja dalam masalah.
Aku terus menunggu, sama seperti aku menunggu pernikahan yang pernah dia janjikan.
Namun, hubungan kami sama seperti pemanas air itu, yang sudah lama rusak.
Dengan menahan rasa sakit, aku akhirnya mencari tukang reparasi profesional lewat internet.
Saat pemanas air akhirnya diperbaiki, hatiku pun ikut tenang.
Ternyata, tanpa Joshua pun aku masih bisa tetap hidup.
Sepanjang malam itu, Joshua tidak pulang.
Keesokan harinya, seperti yang dijanjikan, aku membawakan makanan untuk Bella.
Malam kedua, Joshua masih belum pulang juga.
Siang di hari ketiga, saat aku turun membawa kotak makan, aku melihat Joshua berdiri di pinggir jalan menungguku.
Dia bersandar di pintu mobil sambil merokok, wajah sampingnya tampak tampan.
Aku tak menyangka dia akan datang tiba-tiba. Aku merasa cukup terkejut.
Namun, pria itu langsung berjalan ke arahku, mengambil kotak makanan dari tanganku, lalu berkata, "Terima kasih atas kerja kerasmu …."
Tentang masalah mengurus surat nikah denganku, dia terus menundanya. Namun, jika ini adalah tentang membawakan makanan untuk Bella, dia begitu antusias.
Aku merasa itu lucu. Aku pun tertawa dalam hati.
Kemudian, dia menyentuh rambutku yang terurai di sisi telinga, lalu berkata, "Maaf, aku yang salah karena sekali lagi nggak menepati janji. Begini saja, setelah Bella keluar dari rumah sakit, kita akan langsung mengurus surat nikah, ya?”
Aku tidak lagi merasa bahagia seperti dulu. Pikiranku hanya dipenuhi cara untuk menolaknya.
Sampai ponselnya tiba-tiba berdering.
Sekilas, tulisan nama Bella di layar menusuk mataku.
Baru dua detik berbicara di telepon, Joshua langsung berbalik dengan cemas.
"Bella merasa nggak enak badan, aku harus ke sana dulu. Kamu pulanglah, jaga dirimu baik-baik," kata pria itu.
Sama seperti 16 kali sebelumnya, telepon dari Bella adalah perintah, sementara Joshua adalah pelayan paling setia.
Aku menatap punggungnya yang menjauh, lalu mulai berkemas begitu aku sampai di rumah.
Karena aku yang menyesuaikan diri dengan kehidupannya, barang-barangku di rumah ini tidak banyak. Hanya dalam waktu singkat, semuanya sudah rapi di dalam koper.
Aku memandang sekeliling, menyadari bahwa meskipun semua barangku sudah dikemas, rumah ini tidak berubah sedikit pun.
Seolah kehadiranku selama ini sama sekali tidak berarti.
Saat hendak beristirahat, tiba-tiba pesan baru masuk di ponselku. Pesan itu bertuliskan, [Ini Bella.]
Aku pun berniat membalasnya.
Namun, aku langsung menyesal pada detik berikutnya.
Aku sudah menduga wanita ini tidak memiliki niat yang baik, tetapi aku tidak menyangka dia tidak berbasa-basi.
Anda Mungkin Juga Suka





