APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Karena Aku Ingin Mati, Aku Jadi Belok

Karena Aku Ingin Mati, Aku Jadi Belok

Gala sangat takut terluka secara emosional, sedangkan Lingga terobsesi pada popularitas meski sebenarnya muak dengan pujian. Di balik kepalsuan masing-masing, keduanya terjerat dalam relasi toksik yang diwarnai ancaman serta pemerasan demi mengejar kebahagiaan semu. Hubungan destruktif antara sosok yang fasik dan munafik ini memicu dinamika cinta yang kelam, di mana mereka saling menyakiti satu sama lain untuk memuaskan hasrat batin serta obsesi gelap mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

Kebaikan itu pernah datang sejenak. Tapi dalam semalam saja, semua sirna seperti embun yang menguap saat mentari menampakkan diri. Aku kembali menjadi manusia yang penuh kepura-puraan, rendah diri, hidup tanpa kebahagiaan. Seperti pengecut yang takut disakiti manusia, aku dan guru itu tidak pernah benar-benar bicara. Kami bertemu, bersisian di lorong, tapi hanya sebagai bayangan dalam dunia masing-masing. Dia tetap guru pengganti. Aku, murid transparan. Tanpa waktu. Tanpa keberadaan.

Padahal, dia pernah menyelamatkanku sekali.

Namun rasa cemas dan takut akan aib membuatku seperti diburu. Bayangan bahwa hal itu akan terbongkar, bahwa semuanya akan tahu, membuatku menggigil, membuatku merasa jijik pada diri sendiri. Kadang, bukan aku yang dihina, tapi aku merasa seakan setiap hinaan itu ditujukan kepadaku. Lucu, bukan?

"Aku jijik melihat hal busuk ini!!"

"Buang! Cepat buang!"

"Orang tuanya sudah meninggal... menyedihkan."

"Busuk sekali baunya, aku tidak tahan."

"Jelek sekali. Aku benci bentuknya."

Semua kata itu... Bukan untukku. Tapi dalam kepalaku, mereka menampar wajahku, menusuk dadaku. Entah sejak kapan, setiap kali seseorang dihina, aku merasa akulah yang dimaksud. Jelek. Busuk. Menyedihkan itu adalah diriku.

Bayangan-bayangan itu hidup dalam kepalaku, menari-nari, terus berputar hingga aku tak bisa fokus. Aku ingin kabur dari kenyataan. Ingin mati. Bunuh diri.

Tapi, aku tahu... aku tidak bisa mengulanginya lagi.

Jika aku benar-benar mati waktu itu, keluargaku akan hancur. Akan merasa bersalah dan terbelah. Tubuhku ini, kata hatiku, bukan milikku sepenuhnya. Orang tuaku punya hak atasnya. Aku tidak bisa bunuh diri sesuka hati.

"Yah, itu benar!" Aku membenarkan suara hatiku dengan rasa bersalah.

Lagipula, mengucap syahadat di ujung ajal mungkin bisa membuka pintu surga, tapi jika aku yang membunuh diriku sendiri? Bukankah itu berarti aku mendahului takdir dan ketetapan Allah? Maka apa gunanya surga terbuka jika tubuhku dilempar ke dalam neraka yang tak berujung?

Membayangkannya saja sangat mengerikan jika ada diposisi ini.

Aku dipenuhi penyesalan yang tak pernah selesai. Tapi tetap saja, di dunia nyata, aku memilih kabur dalam delusi.

Lucunya, aku malah malu berbuat baik. Padahal aku tahu itu tipuan setan. Tapi aku tidak bisa menolaknya. Setan itu membisikkan dosa, dan aku menuruti. Langkahku makin gelap, dan aku tahu itu.

Semua ini... semua kekacauan ini dimulai sejak hari aku membuka pintu kamar adikku.

Waktu itu, aku hanya ingin kabur dari kecemasan yang menggunung di dadaku. Tapi langkah kecil itu menjadi kutukan, membuka aib yang terus membayangiku. Seperti melihat kalajengking di hadapanmu, kau tahu jika kau tak berbuat ulah dengan-nya, dia tak akan menyengat. Tapi begitu tersentuh, bisa jadi sengatannya mematikan.

Aku membuka pintu kamar itu.

"Sister!" Seruku ringan, berpura-pura santai.

Aku memeluk bahunya, mencoba melihat apa yang ditontonnya di layar ponsel.

"Lepas, Kak!" katanya cepat.

"Apa yang kau tonton, Sister?"

Dia mendongak, tidak tampak bersalah atau gugup ketahuan menonton pornografi.

"Tidak lihat? Ini, porno."

Di mataku, gambar itu tampak seperti dua belatung menggeliat.

"Menjijikan," gumamku, lebih ke arah diriku sendiri. Setiap kali aku mengucapkan kata itu, ada suara kecil di dalam hati yang berkata: "Itu kamu sendiri bukan yang menjijikan."

Sister menatapku tajam, ekspresinya berubah jadi ketidak percayaan.

"Apa kau sakit?" begitulah kira-kira jika di ucapkan melalui wajahnya yang seolah berbicara.

"Kalau jijik, pergi sana!" katanya ketus.

Dia mendorongku ke luar kamar dan membanting pintu.

"Jangan rusak kebahagiaan orang," katanya sebelum menutup pintu.

Aku berdiri di depan pintu tertutup itu, linglung. Bahagia? Apakah menonton manusia saling menggeliat bisa membuat seseorang bahagia? Apakah itu bisa membuatku berhenti takut pada manusia? Jika benar, kalau itu bisa menghapus rasa takut ini... apakah aku juga harus mencobanya?

Keesokan harinya, saat berjalan menuju sekolah, aku masih memikirkan hal itu. Apa yang sebenarnya membuat manusia mencari kebahagiaan dari tubuh yang saling bersentuhan? Sampai sekarang pun, aku belum paham.

Tapi yang kutahu, aku makin menjauh dari diriku kerumunan, mengurung diri sendiri.

Setelah jam pelajaran pertama selesai, ada waktu luang sebelum guru masuk. Diriku memutuskan untuk keluar buang air kecil.

Dalam perjalanan ke kamar mandi itu pikiran untuk menonton pornografi sekelebat muncul.

Akhirnya rasa penasaran itu mengalahkan analisis rasional dan pikiran penasaran itu akhirnya menang.

Bagus setan, kamu berhasil menipuku, sekalipun aku mengetahuinya, itu tidak bisa menahan keinginan burukku untuk mencoba menuruti napsu.

Sebut saja keinginan buruk sebagai nafsu.

Aku tahu setan hanya berbisik ke hati manusia.

Aku tidak bisa mengumpati setan dan iblis itu.

Semua yang akan terjadi ke depan itulah yang kulakukan. Aku hanya bisa terima kalah, tertipu oleh tipu muslihat yang tidak menghasilkan apa-apa.

Aku sedikit melompat tepi kolam kamar mandi, diriku duduk di tepian kolam itu bersandar pada tembok.

Merogoh sakuku celana, laluku ku nyalakan ponsel untuk membuka situs web porno dengan rasa keingintahuan yang sangat besar.

Di ponsel itu kutonton video pornografi sampai selesai. Ku lirik tubuh bagian vitalku yang bangun dengan heran?

Aku bernafsu ?!!!!!?!??!

Memalukan!!!!!!

Tok tok tok

Siapa yang mengetuk pintu kamar mandi!

Begitu ku buka pintu, seakan kejadian menonton porno itu tidak pernah terjadi padaku. Seolah olah aku belum pernah menonton pornografi di dalam kamar mandi sampai membuat penis ku regresi.

"Nak, jangan cum di kamar mandi, itu dosa!".

"Begitu ya, pak." Aku hanya bisa cengengesan menatap guru itu .

"Ah, sial !!!!!! aku ketahuan."

Selalu seperti ini, sekalipun guru itu tidak mengungkit kejadian kamar mandi waktu itu, tetap saja, aku sangat takut, mungkin guru itu yang melakukan c***. Oh tidak mungkin dia pernah melakukan c*** di situ juga.

"Memakluminya. Yah, guru itu memakluminya."

"Juga tidak pernah mengungkit-ungkit soal menonton pornografi itu lagi."

Tapi yang aku takutkan bukan itu, yang ku takutkan jika guru itu berbicara tentang hal itu pada orang yang bermulut besar dan akhirnya aibku itu menyebar tanpa ku ketahui.

Itulah yang terus menghantuiku.

Berpikir setiap manusia yang bertemu denganku pasti mengetahui aib ini, aku makin suram saja memikirkannya.

'Lihat pria itu melakukan c*** di sini!!'

'Bocah ini menonton pornografi ditempat ini dan itu'

Pria itu saat berbicara dan saling menatap denganku, hatinya terus mengingat aib-aib yang pernah terjadi padaku.

Padahal dia tidak mengatakan apapun. Hanya berbicara seperti biasa.

Itu hanya pikiranku saja setiap manusia yang mengenalku tahu aib tubuhku ini. Aku semakin takut.

Untuk menatap...

Mendekati mereka...

Berbicara dengan yang lain...

Sampai semua yang berhubungan dengan manusia itu ku anggap menakutkan dan menyeramkan. Kejadian ini yang mendorong ku terus untuk menonton pornografi.

Membuatku tak perduli kesedihan besar yang menanti.

Merasakan kebahagiaan atau suka saat menonton hal-hal yang tidak senonoh ini aku tidak merasakannya.

Aku masih melihatnya seperti...

Melihat belatung yang menggeliat sangat menjijikan.

Tapi dengan menonton pornografi itu membuatku melupakan kehidupan dunia yang menakutkan.

Kehidupan manusia itu seperti medan perang.

Lebih baik bersembunyi dari manusia yang menakutkan itu.

"Gila Gala, kenapa kamu semakin jatuh?"

"Apa yang jatuh?"

"Tidak Bu, aku berangkat ke sekolah,ya Bu."

"Jangan nakal di sekolah!"

"Iya Bu. Dah, aku berangkat!"

Berakhirlah diriku yang setiap hari selalu menonton pornografi.

Sampai setiap celah otakku berisi dengan kumpulan hal-hal mesum setiap harinya.

Dengan menonton pornografi membuatku sebagai manusia menjadi semakin bodoh dan melupakan ajaran agama Islam.

Ditambah ilmu-ilmu yang kudapat juga hilang. Hilang dari ingatan memori otaku.

Sekarang Otaku hanya penuh sampah-sampah mesum, gambar pornografi yang terus terngiang-ngiang.

Itu sedikit mengesalkan dan menjengkelkan

Yang paling menakutkan dalam sekejap rasa penyesalan menjadi bodoh ini hilang, dilebur pikiran pornografi. Walaupun aku sedikit menyesal, percuma saja, keburukan itu menang.

Hari demi hari aku menjadi semakin ekstrem.

Menonton pornografi dari sm, 3p, np, 2p dan seterusnya tidak memuaskan ku.

................

Diruang kelas aku terus terbengong

"Gala. Mukamu Aneh, kenapa, ya?"

"Hah. Terus kenapa?"

"Kelihatan kusam, sangat jelek. Jika kau menjadi gelisah olehku. Maaf oke."

Dengan raut wajah heran, teman sebangku ku itu menggosok wajahku dengan keras.

Sambil bergumam yang masih bisa didengar olehku.

'Berminyak tidak, berdebu juga tidak, kenapa kelihatan putih kusam?'

"Apa yang kamu lakukan sampai wajah berseri-seri dulu hilang?!"

"Mungkin.... aku tidak melakukan apapun. Aku tidak melakukan hal-hal buruk seperti itu. Berhenti mengoreksi, dasar anjay sialan!!!"

"Begitu, ya. Hehehe."

Hal yang dikatakan temanku yang selalu anggap bodoh selama ini, membuatku tercengang. Orang bodoh seperti dia saja bisa tahu apa sejelas itu efek menonton porno. Jika orang bodoh pun melihatnya. Bagaimana dengan orang normal.

Apa yang lebih pintar dari si bodoh ini juga melihatnya?

Jika itu terjadi itu sungguh memalukan.

Selama tidak ada yang bilang padaku, aku juga tidak akan peduli kalau mereka tau kalau otakku hanya berpikir tentang halal mesum.

Selama mereka tetap bungkam tidak jadi masalah bagiku.

Dulu aku berpikir nikmat itu dalam makan dan minum.

Lezatnya makanan enak. Minuman yang dingin mewah. Atau... apapun itu yang berkelas dan mewah.

Ternyata dugaan itu salah kaprah, yang nikmat tanpa terasa itu ditutupi aibnya.

Apalagi jika Allah menutup aibku di akherat, aku mungkin akan menangis tersedu sedu. Tuhanku maha mengetahui!

Hari-hariku silih berganti, aku makin tidak puas hanya dengan menonton pornografi.

Ternyata dengan menonton pornografi iblis musuhku itu berbisik 'ayo lakukan hal yang membuat kebahagiaan yang meletup-letup'

Aku ikuti bisikan nafsu itu.

Memang benar orang yang melakukan dosa tidak takut saat tidak ada manusia yang mengetahuinya.

Padahal ada yang mengawasi tingkah dan gerak-gerik manusia. Bahkan manusia tidak mengenal dirinya dengan baik, tapi Allah lebih mengenal ciptaannya.

"Hahaha, Gala kau orang fasik menjijikan."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Dianggap Pembunuh Cinta Sejati Suamiku
9.7
Dituduh sebagai penyebab kematian Charlene, cinta sejati suaminya, seorang istri tewas mengenaskan setelah diracuni dan ditikam oleh suaminya sendiri yang berprofesi sebagai dokter. Namun, ia mendapat kesempatan kedua dan terbangun di masa lalu, tepat di hari ia menderita pankreatitis akut demi suaminya. Kali ini, sang suami memilih mengabaikannya dan berlari menyelamatkan Charlene. Saat sang istri memutuskan untuk melepaskannya, pria itu justru berlutut memohon agar ia kembali.
Sampul Novel Harta, Tahta, Perjodohan
8.8
Demi ambisi orang tua, dua remaja SMA terjebak dalam rencana perjodohan paksa. Laluna Hasywa, gadis rupawan berpendirian kokoh, menolak keras karena meragukan ketulusan calon suaminya. Sebaliknya, Biru Al Arsakha, sang pewaris tampan Arsakha Company, sempat menolak sebelum akhirnya berbalik arah. Kini, Biru harus berjuang keras demi meluluhkan hati Laluna yang begitu keras. Akankah kegigihan sang pewaris mampu meruntuhkan benteng pertahanan gadis pilihannya?
Sampul Novel Hot Sugar Daddy
9.6
Amanda Fletcher sangat membenci Logan Caldwell yang berhati dingin dan perfeksionis. Namun, satu malam yang intim mengubah segalanya dan memicu getaran tak biasa. Keadaan kian pelik ketika Amanda mendapati Logan menjadi dosen baru di kelas seninya. Terjebak dalam relasi dosen dan mahasiswi, kini mereka dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan ego masing-masing atau membiarkan benih asmara meluluhkan kekakuan hati Logan yang sangat dingin.
Sampul Novel Kodrat (Menjadi Wanita)
8.0
Demi kebahagiaan dua sahabatnya, Reyna Anastasya yang tomboy rela berkorban apa saja. Gadis yang biasa dipanggil Rey ini harus menjalani kehidupan rahasia sebagai istri kedua tanpa diketahui oleh siapa pun. Namun lambat laun, posisi yang ia jalani justru menyeretnya ke dalam situasi rumit yang menekan batin. Di tengah badai konflik tak terduga yang terus menghantam, sanggupkah Rey tetap kuat dan bertahan menghadapi takdir hidupnya yang kian pelik?
Sampul Novel Mendadak Dinikahi CEO
9.7
Chayana menghadiri resepsi pernikahan Ray, sang CEO, demi menyelidiki pengkhianatan Damian. Namun, ia justru mendapati pacarnya bermesraan dengan perempuan hamil. Saat dunianya runtuh, Ray tiba-tiba menyeret Chayana ke pelaminan dan menikahinya secara paksa. Setelah akad nikah usai, nasib Chayana berubah drastis. Ia kini terikat dengan suami baru yang tidak pernah ia duga, tanpa menyadari kegilaan yang tersimpan rapat di balik sosok dingin Ray.
Sampul Novel Terjerat Cinta Nona Arogan
8.5
Di usia 24 tahun, Theresa Daniella sukses memimpin perusahaan sebagai CEO. Namun, pesonanya gagal memikat seorang barista yang dua tahun lebih muda darinya. Menghadapi penolakan, Echa tidak menyerah. Ia memanfaatkan kekayaannya dengan menawarkan bantuan biaya pengobatan ibu pria tersebut. Sebagai gantinya, mereka harus menikah. Sang barista pun sepakat, tetapi ia mengajukan syarat mutlak bahwa pernikahan mereka hanyalah sebuah ikatan kontrak tanpa landasan cinta.