APKDock Logo
Sampul Novel Karena Aku Ingin Mati, Aku Jadi Belok

Karena Aku Ingin Mati, Aku Jadi Belok

8.2 / 10.0
Gala sangat takut terluka secara emosional, sedangkan Lingga terobsesi pada popularitas meski sebenarnya muak dengan pujian. Di balik kepalsuan masing-masing, keduanya terjerat dalam relasi toksik yang diwarnai ancaman serta pemerasan demi mengejar kebahagiaan semu. Hubungan destruktif antara sosok yang fasik dan munafik ini memicu dinamika cinta yang kelam, di mana mereka saling menyakiti satu sama lain untuk memuaskan hasrat batin serta obsesi gelap mereka.

Karena Aku Ingin Mati, Aku Jadi Belok Bab 1

Tut tut tut... juuu jesssss... juuuuu jessss...

Pung pung pung... Dedeg Dedeg Dedeg... pung...

Suara klakson kereta api berbunyi, mengingatkan orang yang sedang berbaring di tengah-tengah rel kereta api.

"Datang!!!"

Seorang pria muda berbaring terlentang di tengah rel kereta api yang sangat sepi dari manusia.

Sebenarnya, aku berniat bunuh diri. Hidup selalu menguras tenaga dan otak.

Pemuda itu mendengarnya. Suara kereta api semakin mendekat.

Dedeg... Dedeg... pung pung pung...

Klakson kereta api itu begitu nyaring, membuat pemuda itu sedikit bergetar.

"Tenang, Gala. Nggak perlu takut. Rasa sakitnya cuma sebentar, jangan panik. Ayolah, Gala... nggak perlu takut untuk bunuh diri. Penderitaanmu cuma sebentar."

Pemuda itu sudah memposisikan dirinya agar, jika kereta lewat, kepala dan tubuhnya berpisah.Dia melakukan ini agar tidak perlu merenggang nyawa terlalu lama.Tapi tetap saja menakutkan... terlindas kereta api.

Pung pung... Dedeg Dedeg pung...

"Sampai jumpa, dunia!!"

Ia memejamkan mata, sambil berbaring, memangku kedua tangan di atas dadanya. Kepalanya tepat di atas rel kereta api. Ia menunggu keajaiban, meski ia sendiri tidak mengerti, keajaiban apa yang ia maksud.

Sebelum sempat terlindas, aku merasakan ada seseorang...

Mungkin...

Aku juga tidak tahu siapa yang menarik kakiku.

"Ughhh..."

Dedeg Dedeg Dedeg Dedeg... pungggggg... pung...

Angin kencang berhembus sangat keras.

Kereta api itu melewati pemuda yang jatuh di pinggiran rel kereta api yang tidak sempat terlindas.

Bukannya berterima kasih karena sudah diselamatkan, pemuda itu malah mengumpat dengan keras dan tidak senang.

"Jalang! Oh... sakit. Siapa yang menarik kakiku?!"

Kepalaku sakit. Apa aku terbentur besi tadi?

"Ikut aku."

Ucapan itu keluar dari seseorang yang menyelamatkan pemuda itu.

Lalu, ia menampar dengan keras pemuda yang akan bunuh diri tadi.

Aku yang merasa tertampar pun hanya diam saja, mencoba mencerna ucapan dan maksud pria keajaiban itu.

Kalau dilihat-lihat, wajahnya tampan walaupun sedikit tertutup debu.

Ya, sebagai sesama pria aku akui, pria itu cukup tampan... tidak, aku lebih tampan darinya.

Kuikuti dia sampai ke sebuah perkampungan. Aku juga tidak yakin apakah ini bisa disebut perkampungan.

Malam harinya, di rumah penyelamatku, aku disuruh menginap di rumah penyelamatku itu.

Dia bilang begini padaku:

"Hari ini kamu menginap di sini!" Penyelamatku itu menunjuk ruang tidur. Tidak disebut kamar tidur pun rasanya masih agak canggung, karena tempat tidur itu hanya terlihat sangat kecil dan kusut dibanding kemewahan rumahku.

"Besok kamu boleh pergi! Oh ya, juga jangan bunuh diri di hadapanku!"

"Begitu, ya? Apa kau tak tertarik kenapa aku bunuh diri?!" Kudekati pria itu sambil mencondongkan badanku ke arahnya.

"Tidak sama sekali, tidak!"

Pria itu mendorongku ke kamar dengan paksa, lalu menguncinya dari luar.

Aku mencoba segala cara agar pintu itu bisa terbuka. Tapi sayangnya, hasilnya nihil tidak bisa dibuka sama sekali. Aku hanya bisa menyerah, lalu berteriak dengan keras:

"Woi... setidaknya kasih tahu namamu? Aku Tegek Gala!"

Setelah hening beberapa menit, dari balik pintu aku mendengar penyelamatku menyebutkan namanya:

"Sono Kelingga, itu namaku."

Setelah itu, aku mencoba segala cara agar bisa bercakap-cakap dengannya, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Hanya keheningan sepi. Walaupun aku memancing percakapan dengan segala cara, dia tetap bungkam.

..........

Kukuruyuk... Kukuruyuk...

Kukuruyuk...

Lingga langsung bangun ketika mendengar suara ayam berkokok. Lalu, dirinya bersiap untuk salat sunnah dua rakaat di malam hari.

Lingga berjalan ke arah kamar mandi tepat pukul 01.05 dini hari untuk mandi, agar pikirannya jernih, dan mengambil air wudhu. Selanjutnya, ia langsung salat Tahajud dan Witir sambil menahan pegal di tubuhnya. Pegal ini disebabkan karena tidur hanya memakai alas karpet. Mau bagaimana lagi? Kamar tidurnya sedang dihuni oleh tamu yang berniat bunuh diri itu.

Lingga mengangkat tangannya berdoa setelah menyebut Asmaul Husna, istighfar, lalu bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Kemudian, ia memanjatkan doanya:

"Ya Allah, berikanlah hidayah dan petunjuk pada saudaraku yang berniat bunuh diri. Ya Allah, semoga Engkau menunjukkan jalan yang benar. Allahumma sholli 'ala Muhammad."

Setelah itu, Lingga kembali rebahan di karpet sambil beristighfar 100 kali dan menyebut tasbih, sampai tidak terasa dirinya tertidur lelap.

Gala, yang memperhatikannya, pun terheran-heran.

Apa sebegitu seriusnya sampai dia tidak menyadari kalau aku sejak tadi memperhatikannya, ya?

Benar. Dari tadi, sejak suara berisik di kamar mandi, aku sudah bangun. Hanya saja, aku tetap diam di depan pintu, melihat bagaimana orang yang menggagalkan niat bunuh diriku itu sedang beribadah.

Ya, aku hanya diam di depan pintu. Mengawasi apa yang dilakukan pria ini, sehingga tubuhku sakit karena duduk bersandar di sana cukup lama. Aku cukup kagum padanya, yang bisa beribadah dengan keadaan seperti itu.

Apa ini rupa "penggagal bunuh diriku."

Atau hanya pikiranku saja? Kenapa wajahnya terlihat berkilau, seakan mempunyai cahayanya sendiri?

Aku mendekati pria yang tertidur saat bertasbih dan beristighfar. Aku tahu dia masih mempunyai sedikit kesadaran, jadi aku meninggalkan pesan padanya:

"Aku pergi. Terima kasih atas tumpanganmu malam ini."

Aku tahu pasti, dia yang tertidur itu pasti mendengarnya. Bukannya sombong, tapi terlihat dari kesehariannya, dia tipe pria yang tidak bisa tidur nyenyak.

Berhenti sejenak di depan pintu keluar, aku berucap lagi pada pria yang tertidur itu:

"Aku tidak akan berterima kasih karena kau telah menyelamatkanku. Bagiku, itu adalah sebuah kejahatan yang sangat besar... karena menggagalkan bunuh diriku."

Sekarang, tekad untuk bunuh diriku sudah melemah.

Membuka pintu pelan-pelan, lalu aku pergi dari rumah itu. Bagiku, pertemuan dengan Lingga adalah sebuah episode yang tidak terlalu penting dalam keseharian hidupnya.

Aku pergi dari rumah itu dengan keadaan bingung, tepat mendekati azan Subuh. Aku mendengarnya di masjid sudah ada tadarusan. Aku tidak tahu arah di daerah desa ini.

"Di desa mana aku sekarang? Oh, aku harus bagaimana sekarang?! Ini di mana?! Apa yang harus kulakukan?"

Dalam kebingungan yang tak kunjung selesai itu, aku memutuskan untuk mendekati suara tadarusan di masjid itu.

Semakin dekat dengan suara azan, aku merasakan langkah kakiku semakin berat.

"Itu bukan tempat untukku..."

Hal itu yang terlintas dalam benakku.

Akhirnya, aku paksa diriku untuk membuka pintu masjid itu. Pelan-pelan, tapi kubuka dengan penuh keyakinan.

Saat kubuka masjid itu, seseorang tersenyum kepadaku, seolah dia tahu apa yang akan kulakukan.

"Nak, kamu mau salat Tahajud?"

"Siapa, Paman? Aku baru pertama kali di sini!"

"Oh, pelancong tersesat, ya?"

Tersesat.

Bahaya dong kalau benar-benar tersesat...

"Nih, apa kamu mau Paman pinjamkan ponsel?" Ucap paman itu sambil mengangkat ponselnya.

"Tidak perlu."

Dengan terburu-buru aku menghentikan uluran tangan yang memegang ponsel itu. Aku harus cepat-cepat pergi...

"Pemuda sekarang aneh-aneh," Paman itu menggelengkan kepala.

Bernapas dengan berat lalu mengeluarkannya perlahan. Setelah berhasil lolos dari bapak itu, aku duduk bersandar ke tembok, di saf barisan pertama dalam masjid. Saat pertama menghadapi paman itu, batinku berkecamuk.

Aku berpikir dengan gelisah, gila-gilaan memeras otak.

Tatapan ramah paman itu... menakutkan.

Gala mengelus dadanya, tersengal-sengal.

Detak jantungnya berpacu sangat cepat... sampai berkeringat dingin.

Dia terus berkeringat dingin didalam hati.

Dari luar tidak terlihat sama sekali keadaan janggal-nya. Siapapun yang melihatnya hanya akan mengira dia pria cuek yang memegangi dadanya sambil berdiam diri.

Aku memegang dadaku sampai merasa rileks, mencoba menenangkan pikiran gila-gilaan itu.

"Ya Allah, sebenarnya aku sangat takut dengan manusia. Kenapa mereka selalu memandangku saat berbicara? Ya Allah, Engkau tahu segala yang ada di dada manusia. Aku takut tatapan mereka yang selalu menghakimiku..."

Gala terisak dalam diam, air matanya terus mengucur tanpa bisa dibendung.

"Ya Allah Yang Maha Berbalas Kasih, maafkanlah hamba-Mu yang fasik ini dan kufur nikmat, ya Allah."

"Engkau sangat baik, ya Allah. Sedangkan diriku yang hina ini sangat takut untuk melanjutkan hidup. Aku pikir, hidup selama 19 tahun ini hanya membebani orang lain."

Sejujurnya...kemarin saat akan bunuh diri aku hanya berpikir, menjelang detik-detik terakhir sebelum terlindas kereta api aku akan bersyahadat. Dalam hadis, begitu yang aku baca syahadat pasti membuka pintu surga. Aku dengar, orang yang menjelang matinya mengucapkan syahadat, pasti masuk surga.

Tapi entah kenapa, hati kecilku berbicara lain... Seakan ini salah dan pernyataan ini tidak memiliki argumen kuat, ini membuatku tidak pernah berhenti untuk berpikiran buruk.

Apa aku akan disucikan dulu dari dosaku di neraka?

Berapa tahun kan itu?!

Setiap yang bertobat pasti diampuni, aku pikir juga begitu. Aku memang mempercayainya. Aku mempercayai itu dan yakin tentangnya. Hanya saja aku malu dengan noda dosa itu. Yah, walaupun diampuni... tapi masih berbekas.

Menakutkan membayangkannya.

Itu saja sudah menakutkan.

Membayangkannya saja menakutkan.

Membuatku khawatir... jika dosa-dosa kecil dan besar menumpuk. Tapi yang lebih menakutkan adalah...

Aku khawatir, jika dosa-dosa itu, tanpa aku sadari... menjerumuskanku.

Hal-hal menakutkan itu juga salah satu penyebab keinginan untuk bunuh diri.

"Ya Allah, semoga Engkau menutup aibku di dunia dan akhirat. Ya Allah, Engkau mengetahui apa yang otak dangkal ini telah rusak dan perbuat."

Pikiran-pikiran itu ada dan terlintas dalam hati kecilku. Dalam kenyataan hidupku di dunia, aku tetap menjadi orang fasik, yang bodoh, yang suka berpura-pura.

"Semoga aku menjadi apa yang baik di sisi-Mu, ya Allah."

Aamiin.

Berbekal naluri manusia yang tidak ingin hidup susah dan sengsara, aku berhasil dengan selamat pulang ke rumah yang paling aku takuti, yang paling enggan untuk kudatangi, dan juga tempat... yang paling kurindukan.

Tok tok tok.

"Assalamu'alaikum."

Ketukan pintu itu berlangsung lama, tapi tidak ada yang menjawab. Baru setelah yang ketiga kali, ada yang menjawabnya.

Bukannya disambut dengan ekspresi bahagia dari kedua orang tuaku... aku malah disuguhi penampakan muram dari ibuku.

"Habis dari mana?! Begadang di rumah siapa?! Kamu kenapa pulang setiap hari hanya saat mau berangkat sekolah?!"

Adikku yang ikut berdiri di samping ibuku ikut berbicara dengan nada sarkasme:

"Biasa, Bu. Anak cowok, main mulu..."

Ucap adik perempuanku, sinis. Aku tak membalas ucapan mereka. Aku langsung ke kamar, mengunci pintu, rebahan... tak bernyawa.

"Mereka tidak mengerti... tapi aku juga tidak memberitahu keluhanku."

Gala begitu tersayat hatinya, putus asa untuk hidup.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Karena Aku Ingin Mati, Aku Jadi Belok

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Dosa Berbalut Cinta
8.6
Saschya terjebak dalam neraka pernikahan penuh kekerasan bersama Adnan, sosok suami yang tega menyiksanya demi membalas dendam kepada mertua. Di tengah penderitaan fisik dan batin yang tiada henti, orang dari masa lalu Saschya mendadak hadir kembali. Apakah kedatangan sosok tersebut akan menjadi penyelamat yang membebaskannya dari jeratan kejam Adnan, atau justru memicu prahara baru dalam kehidupannya yang telah hancur?
Sampul Novel Gairah Berbahaya Si Gadis Lugu
9.2
Niat tulus Rheina menyelamatkan sahabatnya dari tuan tanah malah berujung pelik. Sang ayah justru menikahi sahabatnya itu sebagai istri keempat, menyeret Rheina ke dalam lingkaran konflik keluarga yang kelam dan merusak hidupnya. Di tengah kerasnya tekanan hidup yang dipenuhi kata kasar dan adegan dewasa, gadis lugu ini terjebak dalam cinta segitiga yang rumit. Saksikan perjuangan emosional Rheina menghadapi takdirnya yang sarat liku.
Sampul Novel Istri Rahasianya, Aib Publiknya
8.1
Dunia dokterku hancur saat merawat Evelyn Santoso, pasien VIP yang menangisi tunangannya. Pria di foto itu adalah Bima, suamiku, yang ternyata bernama asli Brama Wijaya, seorang taipan kejam. Saat Brama datang, ia sama sekali tidak mengenaliku. Ia memeluk Evelyn dan membisikkan janji manis yang dulu sering ia katakan padaku. Melalui tatapan matanya yang sangat dingin, Brama menegaskan bahwa pernikahan kami hanyalah sebuah aib rahasia yang harus segera ia lenyapkan selamanya.
Sampul Novel Misteri Ular Xaver
8.5
Sepulang dari Kota Xaver, ibu membawa patung dewa ular yang diklaim bisa membuatnya awet muda jika disembah dengan darah menstruasi perawan. Aku dipaksa menyerahkan darahku, bahkan rambutku dipotong untuk dililitkan di kepala patung itu. Ibu tidak tahu bahwa aku menyimpan rahasia pernah menginap dengan pacarku saat kuliah. Dua bulan kemudian, kebohongan ini berbuah petaka saat kulit ibu mulai dipenuhi bercak biru mirip sisik dan mulai mengelupas layaknya ular asli.
Sampul Novel P. S. I LOVE YOU
8.5
Kehidupan Cyra Alesha, mahasiswi berumur dua puluh tahun yang bekerja paruh waktu di kota besar, berubah drastis akibat kesalahpahaman dengan Felix Domil. CEO muda yang kejam sekaligus pewaris tunggal tersebut tega menyiksa dan menginjak harga diri Cyra. Di tengah penderitaan itu, Cyra justru terpikat oleh pesona sang miliarder. Kini, ia dihadapkan pada pilihan sulit: terus bertahan menghadapi kekejaman Felix atau memilih berontak untuk membebaskan dirinya.
Sampul Novel PRIME MINISTRE'S DAUGHTER
8.2
Demi menikahi Eleanore, putri perdana menteri yang berhati dingin, Ken rela menghalalkan segala cara. Sayangnya, pernikahan impian keponakan raja ini berubah menjadi mimpi buruk saat Ken mengungkap sebuah rahasia kelam masa lalu istrinya. Rasa cinta Ken seketika berubah menjadi kebencian yang mendalam. Meski menderita dan terus disakiti akibat perubahan sikap suaminya yang sangat drastis, Eleanore memilih bertahan demi cinta di tengah konflik masa lalu yang sulit termaafkan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan