APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Karena Aku Ingin Mati, Aku Jadi Belok

Karena Aku Ingin Mati, Aku Jadi Belok

Gala sangat takut terluka secara emosional, sedangkan Lingga terobsesi pada popularitas meski sebenarnya muak dengan pujian. Di balik kepalsuan masing-masing, keduanya terjerat dalam relasi toksik yang diwarnai ancaman serta pemerasan demi mengejar kebahagiaan semu. Hubungan destruktif antara sosok yang fasik dan munafik ini memicu dinamika cinta yang kelam, di mana mereka saling menyakiti satu sama lain untuk memuaskan hasrat batin serta obsesi gelap mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Hari begitu cepat berlalu. Tahu-tahu sudah pagi saja. Aku beranjak dari tempat tidur menuju cermin.

Aku berdiri di depan cermin, memakai seragam abu-abu putih, bersiap untuk bertempur, bukan hanya dengan pelajaran sekolah, tetapi juga dengan masyarakat yang menyebut dirinya teman-teman dan guru-guru.

Ketika aku berjalan ke arah pintu untuk berangkat, langkahku tertahan. Ibu juga sedang menuju ke arah yang sama. Jantungku hampir lompat dari dadaku. Refleks, pikiranku berteriak: "Gala, putar balik! Tunggu Ibu pergi dulu!"

Namun aku menahan diri. Ku paksatubuhku tetap tenang, walau kecemasan menggigit-gigit dadaku. Wajah Ibu yang bisa meledak kapan saja dengan kemarahan tak terduga selalu menyimpan teror tersendiri pada diriku. Tapi yang lebih menakutkan dari amarahnya adalah tatapan itu. Tatapan yang seolah mengatakan bahwa aku ini adalah sebuah kegagalan. Sebuah penyesalan hidup yang tidak bisa diperbaiki. Padahal itu hanya perasangka ku saja... Mungkin.

Tetap saja, pikiran kacau itu cukup untuk membuatku gemetar.

"Bu, aku berangkat." Aku mengangkat tanganku sekadar memberi salam ketika melewati pintu.

"Hati-hati di jalan, Nak." Ibu menatapku lama. Seolah matanya ingin membakar tubuhku sampai aku menghilang dari pandangannya.

Aku berbalik dan melangkah pergi. Dalam hati, seperti otomatis, aku mengucapkan doa yang tak selalu kuingat tiap hari, tapi entah kenapa hari ini aku mengingatnya:

"Bismillahi tawakkaltu 'alallahi, la haula wa la quwwata illa billahil 'aliyyil 'azhim."

Doa itu seharusnya memberiku ketenangan. Tapi tidak hari ini.

Entah kenapa, sekalipun aku sudah mengucapkannya, aku tidak percaya bisa jadi anak pintar, apalagi berprestasi di sekolah. Tidak ada optimisme di sana. Hanya semacam do'a yang kuucapkan karena kebiasaan. Memilukan.

Yang lebih memilukan, wajah Ibu masih menempel kuat dalam pikiranku. Tatapannya mengekori langkahku seperti bayangan gelap yang tidak bisa dihindari.

Sebenarnya... Sebenarnya aku ingin mengumpat semua manusia.

Termasuk Ibuku sendiri.

Ya, bahkan dia.

Terdengar keji, bukan?

Aku tahu. Tapi aku tidak sedang mencari pembenaran. Aku hanya jujur. Aku sering merasa Ibu termasuk dalam daftar manusia yang ingin sekali kuumpati habis-habisan. Aku benci perasaan ini. Tapi aku juga benci bagaimana semua orang yang kuumpat menyebabkan diriku harus selalu kualat.

Kadang aku berpikir... mungkin aku hanya terlalu berprasangka buruk. Terlalu banyak menuduh orang lain padahal belum tentu mereka seburuk itu. Tapi... prasangka buruk ini seolah sudah menjadi bagian dari darah dangingku. Menyatu seperti sebuah kata istilah orang orang sudah mendarah daging. Sulit dihilangkan.

Dan yang lebih menyiksa: setiap kali aku berpikir buruk tentang orang lain, seolah-olah kutukan balik mengenai diriku sendiri. Kutukan yang kusebut sendiri, kuucapkan sendiri, dan kemudian melukai diriku sendiri.

Prasangka buruk itu seperti bom waktu. Meledak di dalam hati, mengacaukan pikiranku, membuatku ingin menjerit tanpa suara. Menjadikan hidup ini seperti lorong gelap tanpa ujung.

Lebih-lebih jika itu tentang Ibu.

Saat prasangka itu datang, aku tahu... aku takut. Takut jika kutukan itu menjadi nyata. Takut jika kelak aku menjadi seperti yang kubenci. Takut jika rasa benci itu suatu saat kembali padaku dalam bentuk yang lebih mengerikan.

Tapi... prasangka itu tidak bisa hilang. Ia datang lagi dan lagi, seperti monster dalam kegelapan. Menggerogoti tenagaku, pikiranku, jiwaku.

Aku tidak bisa mengeluh. Tidak bisa menyalahkan siapa pun. Karena perang ini adalah perang batinku sendiri.

Jika rasa sakit yang diberikan oleh orang lain adalah cambukan, maka rasa sakit yang ditanamkan oleh keluarga, tanpa mereka sadari... adalah kanker. Ia tumbuh diam-diam, menyebar pelan, tapi pasti menghancurkan dari dalam. Lebih menyakitkan, lebih menyiksa.

Hingga aku kehilangan gairah hidup.

Itulah pikiranku sekarang. Entah sampai kapan. Mungkin sampai aku bisa qana'ah (menerima semua ini sebagai bagian dari takdir dan hidup). Mungkin... saat itu semua ini akan jadi kenangan saja. Tapi belum itu, ayo kembali kerealita sekarang.

"Gala! Kau sudah kerjain PR PAI belum? Hari ini dikoreksi, loh!"

"Belum," jawabku malas.

Ketika bel masuk berbunyi, aku membuka buku Pendidikan Agama Islam. PR itu masih belum kukerjakan, jadi kutulis dan mengerjakannya saja dengan asal-asalan. Toh aku tidak peduli. Nilai bagus atau jelek, sama saja. Dunia tetap menyebalkan.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Sebuah suara terdengar di depan kelas. Suara guru. Tapi... tunggu. Suaranya berbeda?

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab murid-murid serempak.

Aku sendiri tidak menjawab. Masih sibuk menulis. Masih ingin menyelesaikan PR itu sebelum benar-benar terlambat.

"Itu yang masih menulis, bisa berhenti dulu?"

Suara guru itu mengarah padaku.

Sontak aku menutup bukuku tergesa-gesa. Duduk tegak. Memandang ke arah depan.

Dan dalam waktu 0,02 detik, aku tersentak.

Mataku membulat. Jantungku berdetak tak karuan. Nafasku tercekat.

Dia... Guru itu.

Sekali lagi aku ingin mati saja. Menghilang dari dunia. Bahkan jika harus ke neraka. Aku ingin lenyap tanpa abu dan tulang.

"Sedang belajar, ya?" tanyanya sambil menatapku.

"Tidak," jawabku pelan, dengan senyum kecil, berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Seolah aku belum pernah bertemu dia sebelumnya.

Lalu dia memperkenalkan diri. Katanya, dia akan menggantikan guru sebelumnya yang sedang cuti karena melahirkan.

Dunia seolah runtuh.

Aku duduk seperti tahanan yang menunggu putusan hakim. Dihukum mati, dibebaskan, atau dipenjara seumur hidup?

"Anak-anak, sudah sampai mana pelajaran sebelumnya?" tanya guru itu.

Hening.

"Loh, kenapa diam?" katanya lagi, menatap seluruh kelas.

"Coba salah satu dari kalian maju ke depan. Pak guru mau lihat buku salah satu dari kalian. Sudah sampai mana ibu guru sebelumnya mengajar."

Satu menit kemudian...

"Kenapa diam terus?!"

"Baiklah. Kalau tidak ada yang mau maju, biar Pak Guru saja yang tunjuk. Kalian setuju?"

"Iya, Pak," seru beberapa murid.

Aku menatap teman sebangkuku dengan tatapan tajam. Kenapa dia malah semangat begitu?! Rasanya ingin kubanting wajahnya ke meja.

Setelah dia duduk tenang, aku mencondongkan tubuh ke arahnya, brbisik di telinganya.

"Kenapa nggak lo aja yang maju?"

Tapi ternyata justru aku yang dipanggil.

"Itu kamu yang di sebelah situ! Ayo maju ke depan!"

Aku menunjuk diriku sendiri, memastikan.

"Ya kamu! Ayo ke sini!"

"Iya, Pak Guru," jawabku lemas.

Aku maju ke depan, membawa buku PR yang tadi kukerjakan asal-asalan. Jantungku berdetak kencang.

"Baiklah, kamu boleh duduk sekarang. Tapi Pak Guru pinjam bukunya sebentar, ya."

Aku menghela napas lega.

Ternyata... dia tidak mengungkit kejadian hari itu.

Aku memandangi wajahnya. Untuk pertama kalinya hari ini, ada rasa syukur dalam hatiku. Setidaknya, dia tidak membuka aibku di depan teman-teman. Tidak menelanjangiku di hadapan publik.

Untuk itu... aku ingin memberi penghormatan terdalam.

Terima kasih, Pak Guru. Setidaknya hari ini... kau tidak menambahi luka di hidupku yang sudah porak-poranda ini.

Kemudian kelas berjalan normal seperti sebelumnya walaupun yang mengajar ini guru baru. Ya, guru sebelumnya cuti melahirkan.

Jadi, dia guru pengganti sementara.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dikhianati oleh Orang yang Dicintai
9.1
Malam pertama Lana berubah menjadi mimpi buruk saat mendapati suaminya, Revan, berselingkuh dengan seorang pria. Di tengah keputusasaan karena dikhianati dan terjebak di rumah mertua, Lana kehilangan arah. Namun, sang ayah mertua, Henry, datang melindungi. Ketegasan Henry luluh demi menjaga menantunya yang rapuh. Dalam kesunyian yang mendalam, Lana mulai bergantung pada Henry hingga akhirnya hubungan terlarang di antara mereka berdua terjalin tak terkendali.
Sampul Novel GAIRAH TENGAH MALAM
9.5
Ekspedisi seorang fotografer alam liar ke pedalaman Amazon mempertemukannya dengan pemandu lokal yang tangguh. Ketertarikan kuat langsung terjalin di antara mereka di tengah keindahan hutan hujan yang penuh misteri. Namun, perjalanan ini tidak mudah karena mereka harus menghadapi berbagai ancaman maut yang menguji bertahan hidup. Di balik bahaya dan aksi menegangkan tersebut, tumbuh gairah romantis yang membara, menyatukan keduanya dalam petualangan penuh risiko.
Sampul Novel Kawin Kontrak dengan CEO Kejam
8.3
Penyiksaan yang tiada henti selalu terbayang di mata Elle, seorang Ayah yang seharusnya mengayomi malah sebaliknya dia dipaksa bekerja untuk mencari uang. Ayahnya semakin hari semakin gila. "Ayah, aku mohon hentikan!" isaknya sambil memohon. "Kamu menginginkan ini! Kamu seharusnya sudah menyiapkan uang yang aku butuhkan?!" "Ayah, hentikan! Sakit!" Elle seorang gadis berusia dua puluh dua tahun harus menanggung kehidupan yang pahit. Elle si gadis penari telanjang itulah profesinya saat ini. Kini ia bertekad untuk mengakhiri semua ini dia tidak ingin dijadikan budak lagi oleh Ayahnya, dia ingin keluar dari kehidupan yang kotor dia tidak ingin menjual tubuhnya lagi, malam ini adalah malam terakhir dia bekerja sebagai penari telanjang disebuah club.
Sampul Novel Kontrak Cinta Terlarang
8.8
Dua tahun menikah, Celine mendapati fakta bahwa Alister, suaminya, menyukai sesama jenis. Demi memenuhi tuntutan keluarga yang mendambakan kehadiran seorang anak, Alister membuat rencana nekat. Ia menyewa Jonathan untuk menghamili Celine lewat sebuah pernikahan kontrak. Kini, Celine terjebak dalam pusaran rencana gila tersebut. Ia menghadapi dilema moral yang sangat berat demi memuaskan ekspektasi semu keluarganya. Mampukah Celine menjalani skenario terlarang ini?
Sampul Novel Kurang dari tiga
9.2
Hubungan cinta Raka dan Cherry kini terancam retak akibat kehadiran Nadia. Raka merasa terus dikesampingkan oleh sang kekasih, yang selalu mendahulukan sahabat berkacamata tebalnya tersebut. Emosi Raka akhirnya memuncak begitu menyadari dirinya cuma menjadi prioritas kedua bagi Cherry. Namun, rasa cemburu yang membakar ini malah mengantarkan Raka pada sebuah titik balik tak terduga dalam hidupnya. Sanggupkah jalinan asmara mereka bertahan di tengah renggangnya prioritas Cherry?
Sampul Novel Love for Haphephobia
8.5
Demi membatalkan pernikahan ketiga sang ibu, Arkania Lintang Jagat berpura-pura mencintai calon saudara tirinya, Bintang. Ibunya yang sangsi akibat haphephobia yang diidap Lintang menuntut pembuktian. Di depan mantan kekasihnya, Ishan, Lintang nekat mencium Bintang. Tindakan nekat tersebut memicu obsesi Ishan untuk mendapatkan Lintang kembali, sementara hubungan Lintang dengan sepupu angkat Ishan itu justru menjadi kian rumit.