APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kanjeng Ratu Minta Mantu

Kanjeng Ratu Minta Mantu

Melanjutkan kisah dari Tante, Mau kan jadi Mamaku?, sekuel ini menghadirkan dilema horor yang unik. Bagi seorang lulusan baru, kejaran makhluk halus rupanya tidak ada apa-apanya dibanding desakan sang ibu yang sangat berambisi mencarikannya pasangan hidup. Teror perjodohan setiap hari ini terasa jauh lebih mengerikan bagi sang protagonis. Ikuti perjuangan jenakanya menghadapi tuntutan keluarga di tengah gangguan mistis yang penuh misteri.
Bab
Bagikan

Bab 2

“Ya, udah. Kalau gitu. Al berangkat dulu, ya, Mak?”

“Iye, bae-bae lo di jalan, ya? Jangan ngebut-ngebut. Inget lo tuh Alvaro, bukan Valentino Rossi. Jadi Emak nggak mau lihat lo begayaan di jalanan. Bukan ape-ape, Emak mah takut lo pulang tinggal separo. Nanti nggak ada yang bisa Emak banggain lagi di arisan RT.”

Aku diam-diam mencebik kesal di belakang Emak. Saat mendengar nasihat bijaknya untuk Abang semata wayangku, Alvaro Ananta. Nggak usah kepo. Lapaknya ada di sebelah, kok. Tengokin aja kalau penasaran. Palingan kalian jatuh cinta.

Soalnya Abangku ini ganteng banget! Paling ganteng malahan di rumah ini dan nggak ada tandingannya satu pun. Kenapa? Ya, karena memang cuma dia cowok satu-satunya di rumah ini. Nggak ada lagi. Bapak? Jangan bahas, nanti emakku ngamuk. Oke?

“Iya, Mak. Al tahu, kok. Ya udah, Al berangkat sekarang. Asalamualaikum,” pamit Abang Al yang langsung mencium punggung tangan Emak.

“Wa’alaikumsalam,” balas Emak kemudian. Pun aku diam-diam menjawab salam tersebut dalam, hati. Soalnya aku nggak ikut mengantar Abang Al tadi sampai depan rumah. Jadi, emak nggak tahu kalau sedang aku kepoin mereka. Eh!

Lagian, buat apa pula aku nganter Abang Al sampe depan mobilnya kayak gitu? Emang aku istrinya? Itu, sih, Emak Kanjeng aja yang memang lebay. Maklum, anak kesayangan, cuy!

“Ngapin kamu di sana, Nur?!”

Eh, Ayam! Reuwas aing!

Aku pun sontak berjengit kaget. Saat tahu-tahu Emak Kanjeng menghardikku begitu saja. Asli! Nih emak keturunan Ninja Hatori kayaknya, kagak ada suaranya pas nongol. Bikin aku auto jantungan aja!

“Apa, sih, Mak. Orang Nur lagi ngaca, kok.” Aku pun lalu pura-pura membenarkan hijabku di depan cermin lemari pajangan.

Padahal aslinya, hijabku udah cetar membahana kok. Tegak berdiri tanpa ada yang bisa menggoyahkan. Jadi, udah nggak perlu lagi dibehahi.

“Ngaca, mulu! Ganjen, lo!” cibir Emak, sambil mendaratkan pantatnya di sofa tamu dan meraih remot TV untuk mencari stasiun sinetron kesayangannya. Bisalah, sinetron catatan utang.

“Ih, sapa yang ganjen, coba? Orang cuma benerin hijab aja dikatain genjen. Di mana letak ganjennya, Mak?” Aku pun langsung protes Tentu saja karena Emak kalau sudah ngomong nggak ada saringannya.

“Iye, iye, terserah lo aja deh, Nur. Udah diem. Gue lagi nonton TV, jangan ganggu konsentrasi gue. Nanti feel konsentrasinya nggak dapet.”

Alah! Belagu tenan nih emak satu. Nonton sinetron aja pakai bahas konsetrasi sama feel.  Orang alur ceritanya begitu-begitu terus tiap hari. Feel apalagi coba yang harus dicari. Feel gamparin valakor? 

“Lagian, ngapa lo masih di rumah, sih, jam segini? Kagak kerja lo?” tanya Emak lagi, tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun padaku. Pokoknya, dia benar-benar khusyuk sekali lihat TV, tanpa peduli apa pun lagi.

“Ini juga lagi nunggu ojol, Mak,” sahutku seadanya.

“Oh ...” Kali ini Emak hanya bergumam singkat. Ya, karena mungkin terbawa alur sinteron, yang sedang menayangkan sang aktris menangis tersedu, diiringi sountrack sejuta umat.

Hadew! Repot dah kalau punya Emak maniak sinetron gini. Apa aja di cuekin. Baiklah. Kayaknya aku mendingan pergi sekarang aja, karena Emak sudah tidak bisa diganggu.

“Ya, udah. Nur berangkat, ya, Mak?” pamitku kemudian.

“Iya, gih sono!” balas Emak yang malah mengusirku.

Tak ayal, aku pun langsung mendengus kesal, karena perlakuan pilih kasih Emak yang memang sudah biasa dia tunjukan selama ini. Tenang saja, aku gak marah, kok. Soalnya aku udah biasa dari dulu diperlakukan kayak gini. Jadi ... dibawa asyik aja, Say!

Setelah meraih dan mencium punggung tangan Emak. Aku pun langsung melenggang riang ke arah gerbang rumah, demi menunggu ojol pesananku. Untungnya, aku nggak harus menunggu lama, karena baru beberapa menit aku menunggu, mobil pesananku sudah muncul tak jauh dari tempatku.

“Pagi, Mbak. Sesuai aplikasi, ya?” sapa Sang Sopir ramah, saat aku baru saja masuk bangku belakang mobil tersebut.

“Iya, Pak. Tepat di—”

Brak!

Blam!

“Pak buruan jalan, Pak!”

Ucapanku sontak terhenti, ketika tiba-tiba seseorang masuk ke sebelahku begitu saja dan main asal perintah. Orang itu memakai hodie hitam, dengan kupluk terpasang rapih dan tersemat masker yang menutupi area hidung hingga mulutnya.

Eh? Siapa ini? Seenaknya saja nyuruh-nyuruh orang. Dikata dia Boss, apa?

“Heh?! Kamu siapa? Seenaknya saja masuk mobil orang dan main asal perintah sembarangan. Ini mobil saya yang pesen, ya? Situ kok nggak sopan banget main asal serobot. Diajarin tata krama nggak waktu di sekolah?”

Alhasil, aku pun langsung jualan elpiji efek diserobot seperti ini. Soalnya, aku udah naik ojol mobil loh. Biar keren dan nggak usah berebut tempat duduk gitu maksudnya. Eh, malah masih aja diserobot orang. Lah, apa bedanya nih mobil sama kopaja?

Merasa ditegur, orang itu pun lalu melirik ke arahku dan seenaknya saja memindai aku, seperti snack di swalayan. Membuat aku auto risih seketika. Pengen aku colok aja tuh mata abu-abunya.

Eh, tunggu! Benar juga, sih. Mata nih orang abu-abu, Guys! Cakep banget pokoknya. Itu berarti, dia bukan orang Indonesia, dong? Waduh, Jangan-jangan dia teroris!

“Sorry, tapi aku sedang buru-buru sekali saat ini. Nanti aku bayar uang bensinnya,” ucapnya sopan, dengan napas yang agak tersengal.

Lah, nih teroris lagi bengek, ya? Tunggu dulu! Apa katanya barusan? Dia lagi lagi buru-buru. Buru-buru dulu apa, nih? Buru-buru kabur dari polisi atau buru-buru minggat dari uberan warga? Wah, nggak bisa dibiarin kalau kayak gini!

“Enak aja! Situ pikir saya miskin banget, sampai nggak mampu bayar uang bensin si Mamang Ojol? Heh?! Gini-gini saya juga masih punya duit kalau cuma beli bensin doang, mah.”

“Bukan begitu—”

“Lagian situ siapa, sih? Kenal kagak, akrab juga kagak, main asal nyelonong aja. Nawarin patungan gantiin uang bensin lagi. Situ buronan polisi, ya? Atau maling yang lagi diuber warga makanya buru-buru?”

“Bukan, saya bukan—”

“Kalau bukan buronan atau maling, terus situ siapa? Kenapa maen asal nyelonong?” cecarku tanpa henti. 

Enak aja mau nyerobot aku yang udah posisi enak begini. Nggak semudah itu ya, Bwambang!

“Ah, atau situ copet, ya? Keciduk lagi beraksi makanya—”

Set!

Grep!

Omelanku sontak terhenti, saat pria itu tiba-tiba saja membuka masker dan merangkum wajahku dengan kedua tangan besarnya. Lalu ...

“Saya bukan buronan, maling atau pun pencopet seperti yang kamu tuduhkan tadi. Saya cuma sedang buru-buru, karena lagi ada meeting pagi hari ini. Jadi, bisa saya numpang mobil ini?” ucapnya lembut. Membuat aku linglung seketika.

Fix, dia memang bukan penjahat seperti yang aku tuduhkan tadi, melainkan Setan! Sayangnya, setan kali ini gantengnya nggak kaleng-kaleng. 

Nyaris bikin aku auto terhipnotis dan tanpa sadar menepuk bahu Kang Sopir sambil bilang, “Tarik deh, Mang!”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anakku Jadi Saksi Perselingkuhan Suamiku sama Sahabatku
8.8
Perayaan ulang tahun pernikahan kelima Ivana dan Lionel berubah menjadi mimpi buruk yang terekam kamera. Lionel tega berselingkuh dengan Regina, sahabat Ivana, tepat di ranjang mereka. Pengkhianatan ini terasa kian menyakitkan karena putra kandung Ivana justru bersekongkol menjaga pintu agar ibunya tidak memergoki mereka. Di tengah kemesraan itu, Lionel mengungkapkan keengganannya menambah keturunan dengan Ivana, mengaku muak melihat bekas luka operasi di perut istrinya demi melahirkan anak mereka.
Sampul Novel Gairah Membara: Cinta Tak Pernah Mati
8.4
Kusuma Hadi menghina Dewi Nayaka tanpa tahu siapa dia sebenarnya, bahkan menyuruh orang membuangnya ke laut. Penyesalan mendalam menghampirinya saat sang sekretaris mengungkap bahwa wanita itu adalah istrinya sendiri. Kusuma pun berbalik melimpahinya dengan kasih sayang. Namun, di tengah kemesraan yang terlihat begitu harmonis, publik tiba-tiba dikejutkan oleh kabar perceraian tak terduga dari pasangan ini.
Sampul Novel Kirana, Cinta Sejatiku
9.1
Pernikahan tanpa cinta membuat Sendra Wijayanto merasa hampa hingga menganggap hubungan intim dengan istrinya sebagai rutinitas belaka. Saat cinta sejatinya, Kirana Larasati, kembali dari luar negeri, keduanya langsung menjalin hubungan gelap. Menghadapi sikap sombong Kirana yang menuntutnya mundur, sang istri tidak tinggal diam. Ia justru melemparkan surat cerai dengan dingin dan menantang Kirana untuk membuat Sendra menandatanganinya, menolak untuk kalah dalam perebutan harga diri ini.
Sampul Novel Mamaku yang Cantik dan Pengagum Misteriusnya
8.0
Dikhianati dan dijebak dalam cinta satu malam, Alisa pulang membawa anak kembar. Kini, ia bekerja untuk Marvin, CEO genius yang diam-diam menyamar sebagai Primus demi melindungi identitasnya. Situasi pelik terjadi ketika Alisa menyadari bahwa Primus adalah pria dari masa lalunya. Terjebak di antara dua persona dari pria yang sama, mampukah Alisa mengungkap rahasia Marvin? Bagaimana sang CEO akan bereaksi saat mengetahui keberadaan kedua anak kandungnya?
Sampul Novel Scandal Married With CEO
8.9
Penyatuan dua dinasti bisnis besar lewat pernikahan Sean Gibert dan Qiena William terlihat tanpa cela. Sean adalah pemimpin yang ambisius, sedangkan Qiena merupakan direktur cerdas sekaligus ibu berbakti. Namun, tuntutan dari Sean memicu keretakan di balik citra ideal mereka. Di tengah badai tersebut, Qiena justru merasakan cinta sejati pertamanya pada Jack. Kini, ia dihadapkan pada dilema besar: bertahan demi keutuhan keluarga atau mengejar kebahagiaannya bersama pria lain.
Sampul Novel SENYUM DI TAMAN SEKOLAH
9.3
Seorang pemuda yang terbiasa menyendiri kerap menghabiskan waktu di taman sekolah yang sepi. Kehidupan sunyinya berubah total sejak kehadiran seorang gadis ceria yang selalu tersenyum hangat. Pertemuan tidak sengaja itu perlahan membawa warna baru yang cerah dalam kesehariannya yang semula terasa hampa. Sosok gadis tersebut pun mulai mengubah cara pandangnya dalam menjalani hari-hari di sekolah.