APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kamu Akan Miskin, Mas!

Kamu Akan Miskin, Mas!

Pascapersalinan, mahligai pernikahanku berubah total. Sikapku mendingin kepada suami akibat goresan luka batin yang teramat perih. Rasa sakit hati yang mendalam ini mustahil sirna begitu saja dalam sekejap mata. Kini, keyakinanku telah bulat untuk menuntut sebuah keadilan. Bersiaplah, Mas, karena aku akan membalas semua perbuatanmu secara setimpal tanpa belas kasihan. Kamu tidak akan pernah bisa melarikan diri dari konsekuensi ini.
Bab
Bagikan

Bab 1

BAB 1

"Aduh, perutku sakit banget, Mas. Kayaknya mau melahirkan."

"Halah, tahan dulu sakitnya. Besok aja kalau mau melahirkan. Hari ini aku sibuk," katanya sambil mengibaskan tangan.

"Tapi, Mas—" Aku kembali meringis, terduduk di lantai. Dia masih saja tidak peduli, dia kira aku ini sedang bersandiwara.

"Kamu itu susah banget dibilangin. Tunda aja acara melahirkan itu."

Aku memegangi perut buncit, menatap miris ke Mas Reno yang pergi dari rumah. Dengan tertatih, aku keluar rumah. Mobil suamiku sudah tidak ada lagi di parkiran.

"Tolong!" teriakku lirih. Menatap sekitar, kembali berteriak.

Beberapa menit aku melakukan itu, tidak ada yang datang. Mas Reno memang benar-benar. Dia tidak mau tahu urusanku. Aku mengusap dahi yang berkeringat. Sepi, tidak ada siapa pun. Tidak mungkin aku berharap lebih, ini sepi sekali.

Dengan susah payah, aku mengambil dompet dan ponsel di dalam. Kemudian mengunci pintu rumah. Payah sekali keadaanku sekarang, tidak tau mau melakukan apa. Bahkan napasku tidak stabil sekali.

Baru berjalan beberapa langkah di jalan besar, aku berpapasan dengan tetangga depan rumah. Tetanggaku tampak kaget, langsung menghampiri dengan wajah panik.

"Loh, Bu Nina kenapa jalan sendirian? Aduh, mukanya kok pucat gitu?" Tetanggaku langsung membantu memegang aku yang berdiri saja sulit. Sakit sekali rasanya.

Alhamdulillah. Ada tetangga yang lewat. Aku memegangi tangannya. Napasku sejak tadi tidak beraturan, keringat terus mengalir dari kening.

"Tolong saya, Bu. Saya mau melahirkan." Aku berkata patah-patah, meminta bantuan padanya.

"Ya ampun, sebentar saya keluarin mobil dulu, Bu."

Kami menuju ke rumah sakit. Tetanggaku memang baik sekali, kebetulan saja dia belum pulang tadi. Untung tidak terlambat. Kalay terlambat, entah apa jadinya bayi yang sedang aku kandung ini. Aku mengusap wajah, menatap keluar kaca mobil.

"Kamu memang tidak punya perasaan, Mas."

***

"Selamat, Bu. Anaknya laki-laki. Tampan."

Aku menggendong bayi laki-laki yang diberikan dokter itu. Tampak tenang, membuatku tersenyum. Dia begitu tampan.

"Saya perlu hubungi Pak Reno, Bu?" tanya tetanggaku tadi. Dia tampak khawatir sekali dengan keadaanku.

"Tidak perlu. Terima kasih udah nganterin ke rumah sakit, sekaligus nemenin, Bu. Sekali lagi terima kasih." Aku benar-benar bersyukur bisa bertemu dengannya. Kalau tidak, tidak tau bagaimana nasib anakku sekarang.

"Saya malah senang, Bu. Ibu bantu saya banyak. Masa saya gak pernah bantu Ibu. Saya permisi dulu, Bu. Masih ada kerjaan di rumah."

"Iya. Jangan kasih tau suami saya kalau saya sudah melahirkan, ya, Bu."

Meskipun tetanggaku tampak kebingungan, tapi dia tetap mengangguk, tersenyum padaku. Kemudian keluar dari ruang rawatku.

"Selamat datang di dunia, Nak." Aku mengecup keningnya. Dia masih terlihat tenang.

"Sayangnya, Papa kamu tidak peduli," lanjutku. Mas Reno benar-benar tidak punya hati.

Aku mengusap pipi bayi yang masih merah itu. Papa yang tadi mengazani bayiku. Sekarang, sedang di kantin, bersama Mama. Aku memang sempat menghubungi kedua orangtuaku untuk bisa menemani lahiran sekaligus membantuku merawat bayi ini.

Ah, anak pertama kami. Ternyata, Mas Reno sama sekali tidak peduli. Bahkan saat aku hamil, mana pernah dia menanyakan aku mau makan apa, lebih ke bodo amat.

Ponselku berdering. Dia baru saja menelepon. Untuk apa dia menelepon? Aku mendengkus pelan, enggan mengangkat telepon tapi akhirnya menggeser tombol berwarna hijau di layar.

"Kamu di mana? Kok gak ada di rumah? Terus berantakan kayak gitu. Kamu itu gak beres jadi istri. Kerjaan cuma di rumah doang." Baru juga diangkat teleponnya, dia sudah marah-marah saja.

Salah satu sudut bibirku terangkat. Memangnya aku peduli?

Apakah aku peduli? Aku tidak akan peduli sama seperti kamu tidak mempedulikanku tadi, Mas!

"Terserah." Aku menjawab singkat.

"Loh, kok jawabannya terserah? Halo, Nina?"

Tanpa mengatakan apa pun lagi, aku mematikan telepon, meletakkan ponsel kembali ke atas meja, menyalakan mode hening. Kemudian mengembuskan napas pelan.

Dari dulu sampai sekarang, Mas Reno memang begitu, tapi aku tidak menyangka dia tidak peduli dengan kehamilanku. Padahal ini adalah anak pertama kami.

Denting pelan terdengar dari ponselku. Ada pesan masuk dari sahabat lama. Dia kutugaskan untuk mencari tau sesuatu tadi.

Mataku mengerjap pelan. Foto Mas Reno, mertua, juga iparku yang sedang jalan-jalan ke rekreasi mahal. Juga restoran mewah.

"Oh, jadi ini yang kamu bilang sibuk?" bisikku sambil tertawa pelan.

Sibuk menghabiskan uang? Wow.

Parahnya lagi, itu semua uangku. Selama kami menikah, mana pernah Mas Reno memberikan nafkah. Kehidupan kami bergantung ke usahaku.

Sayangnya, semua tabungan sudah aku belikan aset dan semuanya atau nama Mas Reno. Entah kenapa aku bisa melakukan hal itu.

Itu hal yang paling tidak masuk akal yang pernah aku lakukan.

"Ini bukan sekali atau dua kali."

Aku mengepalkan tangan. Pandanganku tertuju ke bayi yang masih terlihat tenang di gendonganku.

"Papamu sudah merasa kaya, Nak," kataku dengan senyum miris.

Kejadian tadi, membuatku berpikir ulang tentang cinta Mas Reno padaku. Sudah berapa lama aku terjebak dalam kebodohan ini?

"Aku akan membuatmu miskin kembali, Mas."

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Setelah Perceraian: Kasih Sayangnya yang Terlambat
9.8
Tiga tahun Giselle bertahan dalam pernikahan dingin, hanya menerima kebencian dari Lucian. Begitu menyerah dan memilih cerai, ia bangkit sebagai CEO rival yang disegani. Satu demi satu identitas rahasianya terkuak, mulai dari peretas andal hingga desainer elite. Lucian yang dulu memandang sebelah mata kini berbalik mengejarnya dengan obsesi besar. Namun, meski sang mantan suami memohon kesempatan kedua, bagi Giselle semuanya sudah terlambat.
Sampul Novel Istri Palsu Miliarder
8.7
Setelah berselingkuh, Vivienne mencoba menghabisi Soren Blackwood. Namun, anak buah sang miliarder justru salah menculik Kira, kembaran identik Vivienne. Kira terpaksa berpura-pura menjadi istri dari CEO kejam yang kini lumpuh tersebut. Di tengah dendam membara, Soren perlahan jatuh cinta pada Kira yang bersikap sangat berbeda. Bisakah rahasia ini terus tersimpan rapat? Bahaya mengintai saat Vivienne yang asli bersiap kembali merebut posisinya.
Sampul Novel Menaklukan CEO Mesum
8.2
Demi menyelamatkan sang ibu dari jeruji besi akibat penggelapan dana satu juta dolar, Bianca nekat menemui CEO pusat di Singapura, Steve Dvalton. Namun, Steve justru menawarkan kesepakatan gelap yang menuntut Bianca menjadi pemuas nafsunya. Terjebak dalam dilema besar antara kesetiaan pada sang kekasih dan keselamatan ibunya, Bianca terpaksa masuk ke dalam hubungan intim yang penuh tipu muslihat. Di sisi lain, Steve merasa sangat tertantang oleh keliaran Bianca di ranjang.
Sampul Novel Rahasia Gelap Istriku
9.7
Demi menuruti desakan ibunya untuk segera menikah, Satria memilih meminang Kinanti. Wanita itu adalah janda mendiang Pak Lurah yang meninggal secara janggal. Kinanti menerima lamaran tersebut, tetapi dengan satu syarat ganjil: Satria dilarang menemaninya di kamar belakang tiap malam Jumat Kliwon. Meski awalnya setuju demi cinta, Satria mulai didera rasa penasaran yang besar. Ia pun bertekad mengungkap misteri mengerikan yang disembunyikan sang istri di dalam ruangan itu.
Sampul Novel Taaruf dengan Anak Wanita Malam
9.6
Kebahagiaan Selina melambung ketika Aqsa, pemuda saleh dambaannya yang juga putra sahabat ayahnya, Ustaz Bashor, datang mengajak taaruf. Namun, impian indahnya runtuh seketika saat rahasia kelahirannya terbongkar. Selina ternyata anak angkat yang lahir dari rahim seorang wanita malam. Kenyataan pahit ini membuat keluarga Aqsa membatalkan lamaran sepihak. Di balik kepedihan mendalam itu, sanggupkah Selina menemukan ketulusan cinta yang menerima dirinya apa adanya?
Sampul Novel Takdir Memaksa Mereka Bersatu
9.2
Akibat kesalahpahaman, Raiden Valen terpaksa menikahi Elara Maylen demi menjaga nama baik keluarga serta rumah sakitnya. Raiden yang berkarakter dingin dan kaku sebenarnya pernah merasakan cinta di masa muda, sebelum akhirnya dikhianati oleh sahabat dekatnya sendiri. Namun, sosok Elara yang liar dan sulit diatur kini hadir mengacaukan keteraturan hidup Raiden. Di tengah pernikahan yang tak terduga ini, ia terjebak dalam pusaran konflik yang menguji nalar serta perasaannya.