
Kakak Iparku Ratu Iblis
Bab 2
Sebuah tangan menutup mulutku rapat-rapat. Kata "Kak" berubah menjadi isak tertahan di tenggorokanku.
"Rossa?" Kakakku kembali memanggil. Aku berusaha sekuat tenaga mengeluarkan suara untuk menarik perhatian kakakku. Namun, kami berada di bilik toilet paling ujung. Beberapa orang membungkamku kuat-kuat sehingga suaraku sama sekali tidak terdengar sampai ke luar pintu.
Setelah beberapa saat, aku mendengar suara langkah kaki kakakku yang pergi menjauh.
"Kak Hera, aku juga nggak menyalahkan wanita murahan ini, yang ingin mendekati Pak Yogi. Pak Yogi baru berusia tiga puluh tahun, tapi sudah mampu membuat perusahaannya menjadi peringkat kelima di negara ini. Selain itu, dia juga tampan dan gagah. Pria sehebat Pak Yogi pasti akan didambakan oleh orang lain."
"Tapi, Kak Hera nggak usah khawatir. Kalian sudah menikah selama lima tahun. Kamulah satu-satunya yang ada di hati Pak Yogi."
Hera mendengus dingin. "Itu sudah pasti."
Hera mencengkeram daguku. "Memang benar. Dulu, aku menjebak Yogi agar aku bisa mengandung anaknya dan dia mau menikahiku. Tapi, itu nggak berarti kamu juga bisa melakukan hal yang sama."
"Putraku adalah segalanya bagiku. Aku nggak akan pernah membiarkan siapa pun mengancam posisi putraku!"
"Nggak ada yang bisa merebut suamiku. Hari ini, akan kutunjukkan kepadamu seperti apa nasib dari anak seorang wanita simpanan!"
Mata Hera memerah dan aku merasa sedikit putus asa.
Kakakku tidak pernah menceritakan kepadaku mengenai kisahnya dan Hera. Kakak hanya mengatakan jika dia sudah menikah, memiliki anak, dan hidup bahagia. Akan tetapi, aku tidak pernah jika ternyata mereka menikah karena anak itu.
Itu sebabnya, Hera menjadi begitu marah ketika melihat perutku dan tidak bisa berpikir jernih.
Dodo sekarang tengah terbaring di ranjang rumah sakit. Hera begitu takut kehilangan kakakku, sehingga ingin menyingkirkan siapa saja yang bisa mengancam posisinya.
Namun, tidak boleh terjadi apa-apa pada anak dalam perutku ini. Aku menatap Hera dengan memelas, memohon kepadanya agar memberiku kesempatan untuk menjelaskan.
Akan tetapi, Hera mendengus dingin. "Untuk siapa kamu menunjukkan wajah memelasmu itu? Para pria mungkin akan merasa iba, tapi nggak denganku!"
Salah seorang anak buahnya menendangku beberapa kali. "Beraninya mengandung anak Pak Yogi. Tapi lihat, apa kamu masih bisa hidup untuk melahirkannya."
Pada titik itu, ponselku tiba-tiba berdering. Layar ponsel menyala dan muncul tulisan di sana, "Andalanku."
Kakakku yang meneleponku.
Kakak pasti cemas karena tidak bisa menemukanku.
Hera mengambil ponselku dan mengangkatnya. Terdengar suara kakakku. "Rossa, kamu ada di mana?"
Wajah Hera langsung berubah dan dia menutup telepon tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Putraku masih terbaring di ranjang rumah sakit, berada di antara hidup dan mati. Tapi, dia benar-benar mencarimu ke seluruh dunia."
Cahaya di mataku langsung padam.
Hera menatapku dengan marah. "Kenapa suamiku yang harus kamu andalkan?"
Hera menggertakkan giginya dan menatapku. "Robek pakaian wanita murahan ini, ambil fotonya, dan unggah ke internet. Aku ingin seluruh dunia tahu bagaimana wanita murahan ini merayu suamiku!"
Aku menggeleng ketakutan. Namun, pisau cutter itu diarahkan kepadaku tanpa ragu. Terdengar suara robekan pakaian yang begitu tajam. Tak lama kemudian, pakaianku yang tipis itu terkoyak dan menggantung begitu saja, tidak lagi bisa menutupi tubuhku.
Rasa malu yang luar biasa menyelimuti sekujur tubuhku. Namun, yang lebih kukhawatirkan adalah anakku, karena perutku yang sedang hamil itu terpampang dengan jelas di depan mereka.
Air mataku mengalir karena putus asa. Akan tetapi, mereka melepaskan tangan yang membungkam mulutku.
Aku buru-buru memanfaatkan kesempatan ini untuk menjelaskan, "Aku ini adiknya Yogi."
Namun, malah terdengar tawa penuh ejekan.
Aku melanjutkan kata-kataku. "Aku kembali ke negara ini untuk menyelamatkan putramu."
Anda Mungkin Juga Suka





