
Kakak Iparku, Pengagum Rahasiaku
Bab 2
Saat pandanganku mulai kabur, aku mendengar suara marah yang menggema. "Sialan, nggak tahan lagi, gimana kalau kita cari wanita saja?"
Saat itu, suara pria lain terdengar menjawab, "Hehe, nggak perlu. Kamu lupa ada Bi Karina yang masak untuk kita ....."
"Benar juga, ada Bi Karina. Wanita itu kelihatan montok, pasti luar biasa sekali!"
Setelah berkata demikian, salah satu pria berlari keluar dengan penuh semangat.
Bibi Karina?
Mendengar nama itu, tiba-tiba aku teringat pada seorang wanita paruh baya yang masih memikat. Dia adalah juru masak di proyek konstruksi suamiku dan tinggal di rumah sebelah.
Karina adalah seorang ibu tunggal, anaknya sedang duduk di bangku SMA. Meskipun usianya tidak semuda aku, dia masih memiliki daya tarik tersendiri. Mereka memanggil Karina ke sini sekarang, mungkinkah mereka berniat untuk ....
Memikirkan hal itu, jantungku berdegup kencang.
Benar saja, beberapa menit kemudian, seorang pria datang membawa Karina masuk ke dalam.
"Kenapa kalian dua nyari aku?" Baru saja Karina menanyakan hal ini, langsung terdengar jeritan yang menyusul. Sebab, dia melihat seorang pria yang duduk dengan telanjang.
Baru saja Karina hendak berbalik dan melarikan diri, dia telah dihalangi pria lainnya. Karina merasa agak ketakutan. "Ma ... mau apa kalian?" tanyanya.
"Mau nidurin kamu!"
Bahkan aku saja merasa malu mendengar ucapan seperti itu. Wajah Karina juga tentunya menjadi merah padam. Air matanya juga hampir berlinang.
Namun, dia tetap memberi peringatan dengan suara gemetaran, "Kalian jangan sembarangan. Kalau nggak, aku bakal teriak."
"Bi Karina, teriak saja. Tapi, kalau anak kesayanganmu melihat kondisimu begini, dia bakal mikir gimana? Ibu yang bersusah payah membesarkannya ternyata begitu haus belaian pria."
Pria itu memegang ponsel yang menunjukkan video bahwa Karina sedang telanjang dan memuaskan dirinya dengan mainan orang dewasa. Karina merasa terkejut dan ketakutan. Air matanya telah berderai deras.
"Ka ... kalian sebenarnya mau apa?" tanyanya.
"Berbaring," jawab salah seorang pria sambil melepas sabuk pinggangnya dan menunjuk ke talenan di samping.
Begitu kulihat ... bukankah itu adalah talenan yang tadi kugunakan untuk memotong sayur? Mereka mau melecehkan Karina di atas talenan itu? Liar sekali!
Saat ini, Karina telah menangis tersedu-sedu. Namun, mereka bertiga sama sekali tidak peduli dan malah terus mendesaknya dengan galak.
Karina terpaksa berbaring di papan itu dengan menahan rasa malunya. Detik berikutnya, aku langsung mendengar tawa dari beberapa orang itu. "Lihat, dia nggak pakai apa-apa!"
Aku pun tidak bisa menahan keterkejutanku.
Karina menggigit bibirnya dengan penuh rasa malu dan berkata dengan suara gemetar, "Aku cuma seorang ibu tunggal yang kesepian, tapi aku bukan wanita murahan. Aku nggak sehina itu. Kumohon, jangan perlakukan aku seperti ini."
Salah seorang pria menepuk bokong Karina sambil berkata, "Wanita murahan, kamu masih mau pura-pura? Lihat saja sebasah apa bagian bawahmu ini?"
Mereka merobek pakaian Karina dengan cepat hingga nyaris tidak menutupi tubuhnya. Astaga, apakah ini akan segera dimulai?
Aku ingin sekali keluar dan menyelamatkan Karina, tetapi dengan keadaanku saat ini, aku tidak tahu harus berbuat apa.
Saat aku bingung dan panik, suara desingan mulai terdengar dari arah talenan dapur. Aku melirik ke sana dan pemandangan yang kulihat sungguh tidak terduga. Mereka bertiga mulai beraksi dengan cara yang kasar dan tidak sopan.
Adegan yang begitu menggetarkan itu membuat pikiranku kosong sejenak. Aku bahkan lupa bahwa Karina mengalami semua ini dalam keadaan terpaksa.
Dalam posisi membungkuk, pikiran liar tiba-tiba terlintas di benakku. Bagaimana kalau yang terbaring di sana adalah aku? Jika seorang wanita seusia Karina bisa membuat mereka begitu menginginkannya, bukankah mereka akan tergila-gila padaku jika aku yang ada di sana?
Astaga, Karina menggunakan mulut dan bagian bawahnya untuk memuaskan mereka bertiga. Semua bagian tubuhnya bisa merasakan keperkasaan itu. Ini benar-benar ... seru sekali! Tanpa sadar, aku mengeluarkan suara desahan.
Tiba-tiba, suasana di luar hening sejenak.
"Sepertinya ada orang di dalam lemari!" teriak salah seorang pria dengan kaget.
Gawat! Suaraku terlalu kuat! Kali ini mereka pasti menemukanku!
Kalau mereka menemukan bahwa istri rekan mereka tidak mengenakan pakaian apa pun di dalam lemari, harus bagaimana aku menjelaskannya?
Selain itu, apa mereka akan menggunakanku untuk menggantikan Karina? Apakah aku yang akan diletakkan mereka di talenan itu dan dibuka kakinya, lalu ....
Memikirkan hal ini, kakiku gemetaran hebat. Pada saat ini, aku melihat seorang pria berjalan ke arah lemari tempat aku bersembunyi. Yang lebih menakutkan lagi, aku melihat betapa besarnya ukuran kejantanan pria itu ....
Anda Mungkin Juga Suka





