
Kakak Iparku, Pengagum Rahasiaku
Bab 3
Langkah kaki pria itu semakin mendekat, membuat napasku kian memburu. Jantungku seperti akan meloncat keluar dari dalam tubuhku. Aku menutup mata, berharap dia tiba-tiba berubah pikiran dan mengabaikanku. Namun, harapanku pupus saat dia membuka pintu lemari dengan keras.
Dalam sekejap, rasanya udara di ruangan itu membeku. Tatapan kami bertemu, dan aku bisa melihat keterkejutan di wajah pria itu. Di belakangnya, dua pria lain dan Karina juga menatapku dengan mata terbelalak.
Punggungku bersandar di dinding lemari, otot-ototku tegang, dan aku merasa tak tahu harus berbuat apa. Dengan gugup, aku menatap pria di depanku. "Itu ... itu ...."
Aku mencoba mengatakan sesuatu, tapi tidak ada satu kata pun yang keluar. Aku hanya bisa menggunakan pakaian di dalam lemari untuk menutupi tubuhku.
Suasana menjadi sangat hening, sampai akhirnya dia yang memecah keheningan. "Kamu istri Wandy?" tanyanya dengan nada datar. Aku mengangguk pelan.
Dua pria lainnya sudah mulai pulih dari keterkejutan mereka. Dengan senyum sinis, mereka mulai berjalan mendekatiku. "Jadi, tadi ...."
Menyadari situasiku yang genting, aku buru-buru menjelaskan, "Aku nggak melihat apa-apa, sungguh."
Aku memeluk pakaian itu erat-erat dan bersiap untuk lari, tetapi langkahku terhenti oleh tangan yang mengadangku.
Aku panik dan berusaha menjelaskan lebih lanjut. "Aku cuma dengar kalian libur, jadi aku datang untuk memberi kejutan pada suamiku. Aku benar-benar nggak tahu apa-apa dan aku nggak melihat atau mendengar apa pun."
Meskipun sebelumnya pikiranku sempat dipenuhi dengan bayangan-bayangan liar, itu semua hanya fantasi.
Aku memang memiliki dorongan kuat dalam hal seksual, tetapi itu hanya untuk suamiku. Aku bisa memintanya berkali-kali, tetapi aku tidak akan pernah menyerahkan diriku kepada orang asing, apalagi tiga sekaligus.
Saat aku mencoba melewati mereka untuk pergi, Karina tiba-tiba menarik tanganku dari atas dengan nada memohon. "Nak, kumohon, selamatkan aku. Bawa aku pergi bersamamu."
Aku ingin membantunya, tapi aku tahu itu hampir mustahil. Pria-pria itu pasti tidak akan membiarkan kami pergi begitu saja. Aku berencana keluar terlebih dahulu, lalu mencari bantuan atau melapor ke polisi.
Dengan berat hati, aku berkata, "Maaf, Bi, aku nggak bisa. Tolong jangan persulit aku. Aku benar-benar nggak tahu apa-apa."
Setelah berkata demikian, aku melepaskan tangannya dan berjalan menuju pintu. Namun, saat satu kakiku baru saja melangkah keluar, sebuah tangan kasar menarikku kembali ke dalam.
"Sayang, puaskan kami saja dulu." Mereka tidak berencana hendak membiarkanku pergi begitu saja. Tangannya yang kasar mulai menggerayangi tubuhku dengan kasar.
Dengan terkejut, aku memberikan peringatan, "Jangan sentuh aku!"
Namun, mereka malah semakin menjadi-jadi setelah melihat reaksiku. Aku mulai ketakutan dan menangis sambil memohon, "Jangan, kumohon!"
"Jangan pura-pura. Lihat saja sebasah apa bagian bawahmu itu. Dasar genit."
Penghinaan seperti ini malah membuat hatiku bergejolak. Aku menggigit bibir bawahku karena tidak ingin mengakui bahwa aku adalah wanita sehina itu. Namun, reaksi biologisku justru mengingatkanku bahwa aku membutuhkan belaian pria saat ini juga.
"Nggak, jangan ...." Perlawananku ini sama sekali tidak bisa menang dari tenaga ketiga pria yang kuat itu. Aku ditekan ke dinding dan dilecehkan habis-habisan oleh ketiga pria itu.
Kenikmatan yang berkali-kali itu membuatku tidak bisa menahan desahanku.
Salah satu dari mereka mengejekku, "Dasar pelacur, kamu memang dilahirkan untuk dilecehkan pria. Lihat bagian bawahmu ini ... basah sekali."
Reaksi biologisku ini membuatku sangat malu. Dengan wajah tersipu, aku berusaha menjepit kakiku untuk menghalangi mereka memasukkannya ke dalam tubuhku. Namun tak disangka, hal ini malah membuat tangan mereka semakin erat bersentuhan dengan kulitku.
"Hahaha, pelacur ini sudah nggak sabaran. Jangan buru-buru, aku akan memuaskanmu!"
"Bukan, aku nggak ...," sergahku dengan tak berdaya.
Mereka masing-masing memegang salah satu kakiku, membuat tubuhku tergantung di udara. Karena tiba-tiba kehilangan keseimbangan, aku terpaksa memeluk leher salah satu dari mereka untuk menahan diri.
Saat itu, keinginan dalam diriku memuncak. Gelombang kuat dari hasrat untuk merasakan tekanan dan penaklukan pria itu menghantamku tanpa ampun. Namun, di sisi lain, moral dalam hatiku menolak keras untuk melakukan pengkhianatan terhadap suamiku.
Aku terperangkap dalam konflik batin yang menyakitkan. Di satu sisi, berharap mereka segera mempermalukanku. Di sisi lain, aku menginginkan mereka melepaskanku begitu saja.
Kedua perasaan yang saling bertentangan ini membuatku nyaris kehilangan kendali atas diriku sendiri. Aku merasa hampir runtuh oleh tekanan yang begitu kuat.
Pada saat ini, Karina mengambil kesempatan saat mereka sedang menodaiku untuk melarikan diri. Namun, sebelum dia berhasil keluar, Karina telah ditarik kembali oleh salah seorang pria dan ditampar.
"Jalang, sebentar lagi giliranmu. Kamu nggak sabar lagi ya? Kalau gitu, biar kupuaskan dulu kamu!" Sambil berkata demikian, dia pun menekan tubuh Karina ke lantai.
Sementara itu, kedua pria lainnya juga menekan tubuhku, sama persis seperti pose Karina. Detik berikutnya, celanaku dan Karina dilepas dengan kasar. Aku memejamkan mataku dengan pasrah ....
Anda Mungkin Juga Suka





