APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jodohku Seorang Janda Kaya Raya

Jodohku Seorang Janda Kaya Raya

Kisah cinta tumbuh di antara Lintar, pemuda yang ulet, dan Dewi, seorang janda yang sukses menjabat sebagai CEO. Walau awalnya terasa canggung, perasaan tulus mulai menyatukan mereka. Rintangan besar menghadang saat paman Lintar menentang keras hubungan ini. Demi mempertahankan cintanya pada janda kaya tersebut, Lintar berjuang keras meyakinkan orang tuanya. Simak perjuangan emosional Lintar dalam meraih kesuksesan sekaligus kebahagiaan sejati bersama wanita dambaannya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Tok! Tok! Tok!

"Lintar! Keluar kamu!" teriak seorang wanita paruh baya, berdiri angkuh di depan pintu rumah sederhana milik seorang pemuda yang bernama Lintar.

"Itu Bu Rasti kenapa, Mbak?" tanya seorang wanita bertubuh tambun sambil mengerenyitkan dahi. Kebetulan saat itu, ia sedang berbelanja di sebuah warung tidak jauh dari kediaman Lintar.

"Nggak tau, mungkin Bu Rasti kesurupan kali," jawab seorang wanita setengah baya sambil tertawa-tawa.

"Ah, Mbak. Bisa aja."

"Baru tau yah? Bu Rasti dari dulu emang gitu ... sombong, angkuh, dan sok kaya," sahut seorang ibu yang mengenakan kerudung biru, mencemooh sikap Rasti yang sudah bersikap keterlaluan.

Rumah sederhana yang didominasi dengan warna cat biru langit pada dindingnya, itu merupakan kediaman Lintar yang berdiri kokoh di antara deretan rumah-rumah penduduk lain yang ada di pinggiran jalan utama desa tersebut.

Sudah hampir 5 tahun lamanya, Lintar mendiami rumah tersebut seorang diri, karena kedua orang tuanya telah meninggal dalam sebuah kecelakaan.

"Lintar!" Wanita paruh baya itu kembali berteriak dengan suara lebih keras dari sebelumnya.

Lintar yang saat itu masih terlelap tidur tidak mendengar suara teriakan dari Rasti—seorang wanita paruh baya yang paling angkuh di lingkungan kampung tersebut.

Karena masih belum mendapat tanggapan dari sang pemilik rumah, maka Rasti pun berteriak lagi, "Lintar! Jangan pura-pura tuli kamu, yah. Buka pintunya! Saya mau bicara penting dengan kamu." Suara teriakan Rasti semakin terdengar keras, tangannya pun tak mau berhenti terus mengetuk-ngetuk daun pintu rumah tersebut. Bahkan tak segan-segan, ia menggedor pintu rumah itu dengan kasarnya.

Dengan demikian, Lintar langsung terbangun dari tidurnya, karena merasa terganggu oleh kerasnya suara teriakan Rasti.

"Ya, Allah! Siapa sih, itu?" desisnya masih dalam kondisi mengantuk.

Setelah itu, ia langsung bangkit dari tempat tidurnya, dan bergegas melangkah keluar dari dalam kamar. "Iya, Bu. Tunggu sebentar!" Lintar menyahut sambil melangkah ke arah pintu, kemudian langsung membukanya.

Sejatinya, Lintar masih dalam kondisi ngantuk berat, setelah semalaman tidak dapat tidur. Siang itu, ia baru saja memejamkan matanya, karena baru selesai mengerjakan tugas perusahaan dari bosnya yang ia bawa ke rumah.

Setelah pintu terbuka, tampak seorang wanita paruh baya bertubuh gempal tengah berdiri angkuh di depan pintu rumahnya. Raut wajah Rasti tampak memerah, ketus, dan penuh amarah, sorot matanya yang tajam menatap sinis wajah Lintar.

"Bu Rasti! Ada apa, Bu?" sapa Lintar dengan sikap ramahnya. Lintar langsung mempersilahkan tamunya itu untuk duduk di sebuah kursi yang ada di teras kediamanya, "Silahkan duduk dulu, Bu!"

"Tidak perlu!" jawab Rasti ketus.

Sekilas dapat dipahami oleh Lintar, bahwa wanita paruh baya itu sedang dilanda kegusaran. Namun, Lintar tetap menunjukkan rasa hormat dan sopan santun terhadap tamunya itu.

"Kamu sengaja tidak langsung membuka pintu karena ingin mempermainkan saya?!" bentak Rasti penuh emosi, suaranya keras terdengar sangat nyaring. Napasnya pun terdengar menderu-deru menahan rasa emosi yang berkecamuk dalam jiwa dan pikirannya.

Dua bola matanya yang tajam terus menatap wajah Lintar penuh kebencian. Seakan-akan, ia hendak menelan mentah-mentah pemuda itu.

"Maaf, Bu. Tadi saya sedang tidur di dalam kamar, saya tidak mendengar teriakan Ibu, dan tidak bermaksud untuk mempermainkan Ibu," kata Lintar menjelaskan.

Rasti menarik napas dalam-dalam, matanya yang tajam terus menatap wajah Lintar penuh kegusaran. "Saya ingin bicara dengan kamu," kata Rasti masih bersikap sinis.

"Ada masalah apa ya, Bu?" tanya Lintar penasaran.

Pemuda itu tetap berusaha tenang dan bersikap ramah terhadap tamunya tersebut. Karena walau bagaimanapun, Rasti adalah ibunya Eva—sahabat dekatnya.

"He, kamu jangan sok bersikap baik di hadapan saya!" bentak wanita paruh baya itu sambil menatap tajam wajah Lintar.

Meskipun sudah dibentak secara kasar, Lintar masih bersikap tenang dan tidak mau menanggapi sikap kasar dari tamunya itu. Lintar berpikir, walau bagaimanapun Rasti adalah orang yang lebih tua darinya, dan harus tetap dihormati sebagai mana mestinya.

Melihat Lintar hanya diam saja, Rasti tampak semakin geram. Lantas, ia pun kembali membentak, "Kamu punya kesalahan besar terhadap anak saya! Apa kamu tidak menyadarinya?" tanya Rasti bernada tinggi.

Lintar tampak kaget mendengar perkataan yang terlontar dari mulut wanita paruh baya itu, sikap Rasti memang sudah sangat keterlaluan. Tiba-tiba datang dan langsung memaki-maki dirinya. Meskipun demikian, Lintar tetap bersikap sabar dan berusaha tenang dalam mengendalikan amarahnya agar tidak terpancing oleh sikap angkuh wanita paruh baya itu.

Dengan lirihnya, Lintar pun kembali berkata, "Maaf ya, Bu. Kenapa Ibu tiba-tiba memarahi saya? Ada persoalan apa ya, Bu?" Lintar bertanya sambil mengerenyitkan kening.

"Saya ingatkan kamu, jangan pura-pura pikun! Kamu sudah menyakiti perasaan anak saya, kamu harus bertanggung jawab. Karena ulah kamu anak saya kabur dari rumah!" bentak Rasti. Dia sudah tidak dapat mengendalikan amarahnya, sikapnya terhadap Lintar semakin kasar saja.

"Astaghfirullaahal'adziim, Ibu tidak seharusnya bersikap seperti ini!" ucap Lintar lirih.

"Kamu mau ceramah di hadapan saya?" tanya Rasti kasar.

"Mohon maaf ya, Bu. Bukan itu maksud saya, jika memang ada persoalan, sebaiknya kita selesaikan dengan baik-baik!" jawab Lintar lirih.

Lintar berusaha untuk menenangkan Rasti dengan harapan amarah dalam jiwa dan pikiran wanita paruh baya itu sedikit mereda.

"Kamu jangan coba-coba mengajari saya!" bentaknya sambil menatap tajam wajah Lintar.

Rasti merupakan orang paling kaya di kampung tersebut. Akan tetapi, banyak warga yang tidak suka terhadap dirinya, karena keangkuhan dan sikap sombong yang dimilikinya. Bahkan para tetangganya pun tidak ada yang mau bergaul dengannya.

Lintar mengerutkan kening, lalu menjawab dengan sikap tenang, "Perasaan, saya tidak pernah melakukan hal buruk terhadap putri Ibu. Hubungan saya dengan Eva baik-baik saja kok, Bu," kata Lintar berusaha membela diri.

Rasti tidak mau peduli dengan perkataan Lintar. Mendengar penjelasan Lintar seperti itu, ia malah semakin geram saja, dua bola matanya tajam menatap wajah Lintar yang berdiri di hadapannya.

"Kamu sudah menolak mentah-mentah cinta anak saya. Lantas, kamu bilang tidak ada persoalan apa-apa?!" bentak Bu Rasti.

Dengan segenap kesabaran yang dimilikinya, Lintar hanya menghela napas dalam-dalam. Tidak sepatah kata pun terlontar dari mulutnya, sehingga membuat Rasti tambah semakin gusar.

"Seharusnya orang miskin seperti kamu ini bersyukur. Karena anak orang terkaya di kampung ini sudah menyukaimu!"

Perkataan Rasti sangat menyakitkan sekali. Namun, Lintar hanya diam saja, ia tidak mau meladeni kemarahan wanita paruh baya bertubuh gempal itu. Lintar tampak bingung dan harus berkata apa lagi, supaya Rasti dapat memahami penjelasan darinya. Sehingga, Lintar mulai mengambil sebuah keputusan untuk mengalah, karena tidak ada faidahnya jika terus berdebat terlalu lama dengan wanita paruh baya yang super sombong itu.

Lintar menarik napas dalam-dalam, kemudian berkata lagi, "Baik, Bu. Saya akan mencari Eva sampai saya menemukannya" tegas Lintar.

* * *

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Dua Pilihan
8.2
Bagi Sabrina, jodoh sepenuhnya misteri Ilahi. Ia selalu konsisten mendoakan satu pria yang diimpikan jadi suaminya. Sayang, impian itu runtuh ketika sang ayah tiba-tiba menjodohkannya dengan Agam, sosok asing yang tak pernah ia ketahui. Kini, setelah terikat pernikahan yang dingin tanpa rasa cinta, Sabrina dihadapkan pada pilihan sulit. Mampukah ia melupakan sosok di masa lalunya dan belajar menerima serta mencintai Agam seutuhnya?
Sampul Novel Kembalinya Mantan Istriku yang Luar Biasa
8.8
Tiga tahun Elsa terikat pernikahan tanpa pernah melihat wajah suaminya. Begitu didepak demi perempuan lain, ia memutuskan bangkit dan mengungkap jati diri aslinya. Publik pun gempar saat tahu Elsa adalah peretas ulung, agen rahasia, sekaligus ilmuwan genius. Menyadari kehebatan mantan istrinya yang dulu disia-siakan, pria itu kini bersujud memohon maaf. Ia bahkan siap menyerahkan seluruh kekayaan serta jiwanya demi merebut kembali hati Elsa.
Sampul Novel Menikahi Ayah Kekasihku
8.0
Celeste terpaksa menikahi taipan berkuasa, Dominic Mercer. Namun, pernikahan ini menjadi mimpi buruk saat ia menyadari bahwa suami barunya adalah ayah kandung Adrian Mercer, pria yang menjadi kekasih rahasianya selama tiga tahun. Kini Celeste terjebak dalam dilema besar di rumah tangga barunya yang dingin. Ia harus memilih antara jujur atau terus bungkam. Jika rahasia ini tercium oleh Dominic yang kejam, bahaya besar siap menghancurkan hidup Celeste dan Adrian.
Sampul Novel Passionate Hubby
9.3
Di usia 22 tahun, Ayyana Binar Keana mendambakan pernikahan yang penuh kehangatan. Namun, realita berkata lain karena Biru Evaksa Aiden, suaminya yang berusia 29 tahun, mengidap kelainan medis tertentu. Kondisi ini membuat rumah tangga mereka yang berjalan sebelas bulan belum dikaruniai anak. Akibat sang suami tak bisa menunaikan nafkah batin, Ayyana pun masih menjaga kesuciannya. Hal ini memicu konflik mendalam di antara keduanya.
Sampul Novel Sentuhan Panas Pelayan Bar
9.2
Kayla harus membanting tulang sebagai pelayan bar sekaligus berkostum badut demi menyambung hidup. Takdir membawanya bertemu Andreas dalam dua kondisi berbeda. Di bar, Andreas terpikat oleh pesona Kayla hingga menawarinya pekerjaan model. Di sisi lain, Andreas malah jatuh cinta pada sosok badut jalanan, tanpa tahu bahwa itu adalah Kayla, model yang sangat ia benci. Rahasia identitas ganda ini kini mengancam hubungan mereka dalam pusaran konflik cinta dewasa.
Sampul Novel Terima Kasih atas Luka yang Kau Berikan, Mas!
8.5
Kehangatan sikap Bram kini sirna tanpa bekas. Hatiku hancur saat menyaksikan suamiku sendiri berselingkuh dengan adik kandungku. Demi buah hati dan keutuhan rumah tangga, aku mencoba memaafkan mereka. Namun, setahun berlalu, pengkhianatan itu kembali terulang. Lewat pesan singkat yang tak senonoh, aku tahu hubungan terlarang mereka masih berjalan. Kini, aku dihadapkan pada pilihan sulit: terus bertahan atau mengakhiri pernikahan yang menyakitkan ini.