APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jika Nanti Jatuh Cinta Lagi

Jika Nanti Jatuh Cinta Lagi

Kegagalan rumah tangga bersama Irina serta pedihnya kehilangan Elvin Eleanor membuat Ervano Bhalendra enggan membuka hati kembali. Chef tampan ini menganggap pernikahan sebagai masa lalu kelam yang harus dikubur dalam-dalam. Namun, keyakinan Ervan goyah setelah dirinya bertemu dengan Magisa Prastiwi. Kehadiran Magisa secara perlahan meruntuhkan sikap dingin Ervan, menuntunnya kembali menemukan keberanian untuk mengejar cinta sejati yang sempat ia lupakan.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Morning miss Gisa."

"Morning Satria."

"Haiii Miss Gisa."

"Haiii Nadira."

"Hello Miss Gisa."

"Hello princess Keana."

"Morning my beauty Miss Gigi."

Gisa mendadak menghentikan langkahnya di depan kelas nursery 2, dimana bocah lelaki yang memanggilnya berdiri menyambut kedatangannya.

"Morning little Gigi." balas Gisa seraya berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan bocah kecil berambut ikal di depannya. Si bocah yang didekati Gisa justru menggoyang-goyangkan tubuhnya ke kanan dan kiri dengan gerakan menggemaskan.

"Gigi tumben nih dateng lebih pagi?" tanya Gisa pada pemilik pipi bulat bernama Narendra Giri tersebut.

"Yes Miss, soalnya pak Damar sakit jadi gak bisa anterin go to school."

Gisa mengangguk pelan. Damar yang disebutkan Giri tadi adalah pria paruh baya yang beberapa hari lalu selalu mengantarkan Giri ke sekolah. Supir pribadi Giri tersebut biasa terlihat di depan pagar sampai Giri benar-benar masuk kelas tanpa drama tantrum dan sebagainya.

"Terus tadi diantar siapa ke sekolah?"

"Diantar papaku dong, abis drop kak Tama di sekolahnya terus antar Giri ke sini, ngebut wuzzz… gitu Miss." jawabnya sambil melebarkan kelopak matanya dan berkedip-kedip ceria.

"Iiih... Ini tumben banget masih belepotan susu gini mulutnya." refleks Gisa yang masih berjongkok mengambil tissue basah dari dalam sakunya dan membersihkan tepian mulut balita itu.

"Ini matanya juga masih ada beleknya sayang." lanjut perempuan itu lagi setelah menghembus napas kasar. "Tumbenan banget deh Gigi."

Tak menjawab, si bocah balita yang ditanya justru mengangkat bahunya tak tahu menahu. "I don't know miss, tanya papa aja." serunya sambil mengerucutkan bibir.

"Emang mbak susternya nggak rapihin dulu?"

"Mbak Narti?" tanya Giri langsung diangguki Gisa.

"Mbak Narti gak dateng Miss, bolos lagi. Maybe?"

Bolos?

Ckkk... Anak ini, bukannya bolos. Bisa jadi si susternya yang kali ini bernama Narti Narti itu sudah hengkang lantaran tak sanggup dengan tingkah luar biasa anak majikannya.

Terkekeh kecil, Gisa lantas membuang tissue basah yang sudah ia gunakan, lalu berpamitan pada si kecil Giri. "Okay udah cakep lagi, sekarang Miss Gisa ke ruang guru sebentar ya." pamit Gisa lantas berdiri. Namun baru selangkah ia pergi, ujung blousenya ditahan oleh tangan kecil bocah yang usianya belum genap empat tahun itu.

"Itutt Miss." gumam Giri lagi-lagi menarik ujung blouse yang dikenakan Gisa.

"Hmm? Kenapa sayang?" Gisa menoleh dan mengusap samar punggung tangan Giri.

"Ituttt Miss Gisa." cicit Giri dengan memasang puppy eyes yang menggemaskan. "Boleh dong. Iya dong Miss. Jawab iya. gitu dong Miss." lanjutnya kini mengerucutkan bibir.

Tak langsung menjawab, Gisa malah berpikir cepat. Padahal ia berniat menghabiskan sarapan nasi uduknya dengan tenang pagi ini, tapi jika Giri terus membuntutinya seperti kemarin... mungkin gadis itu harus menahan lapar lagi hingga istirahat siang jam sebelas nanti.

"Boleh kan Miss?" rengek Giri tak sabar menunggu anggukan kepala Miss kesayangannya.

"Tapi janji.." Gisa mengangkat telunjuknya. "Duduk anteng, pinter, gak lari-larian di dalem ruangan. Deal?" lanjut Gisa kini mengulurkan kelingking kecilnya.

Gisa masih ingat benar di hari kedua masa trial Giri di Eleven Preschool ini, bocah itu tak henti-hentinya membuntutinya dengan berlarian ke sana kemari. Hingga kemarin berhasil membuat meja kerjanya di ruang guru banjir lokal karena Giri menumpahkan botol air berukuran besar milik Gisa.

"Deal Miss Gigi." senyum Giri melebar sempurna tatkala Gisa menyetujui pintanya.

Mengambil napas panjang, akhirnya Gisa memutuskan untuk menggandeng balita itu guna mengikuti langkahnya menuju ruang guru yang tinggal beberapa meter lagi.

"Kayaknya jadi nih Giri sekolah disini.." ucap Amira ketika lagi-lagi melihat Gisa sudah menggandeng murid barunya untuk masuk ke ruangan.

"Harus jadi dong, tuh udah nempel banget sama Miss Gisa." jawab Ana sambil terkekeh geli.

"Sstt... dilarang ghibah pagi-pagi, gue laper." saut Gisa saat mendengar kasak kusuk dari teman-teman seprofesinya.

"Apa hubungannya ghibah sama laper?" bisik Amira mencondongkan tubuhnya mendekati meja. Gisa.

"Kalau gue laper gak bisa bales mulut laknat kalian yang ngumpanin gue buat jadi nanny nya Giri." Gisa ikut berbisik karena tak ingin muridnya mendengar sang guru yang lancar bergosip pagi dengan bahasa non formal elo-gue nya.

"Ehh by the way Gis, kemaren Lo jadi ketemu sama bokapnya Giri kan?" tanya Ana lagi.

Gisa mengangguk pelan sambil sibuk mengeluarkan bungkusan nasi uduk yang ia beli ketika perjalanan menuju sekolah tadi.

"Terus?" ganti Amira yang penasaran.

"Terusin aja sendiri." jawab Gisa acuh tak acuh.

"Ckk ... Serius gue Gis, Giri jadi kan sekolah disini setelah trial dua minggu?"

"Gak ada obrolan apa-apa lagi sih, abis gue serahin Giri ke gendongan bapaknya gue langsung ngibrit pulang. Pegel tau berjam-jam pangku di iting Gigi itu." desis Gisa seraya melirik Giri yang sibuk merapikan spidol warna warni di meja kerjanya. Memastikan sekali lagi agar bocah itu tak mendengar percakapan yang membicarakan tentang dirinya.

"Kalo Giri jadi masuk sini kan setidaknya bonus performance lo bisa nambah dodol, iih gimana sih?"

"Iya juga sih, kemren tuh gue keburu capek mbak An, makanya gue langsung cabut begitu Giri diambil alih bokapnya." jawab Gisa dengan mulut penuh makanan. Perempuan berusia dua puluh tujuh tahun itu memang tak sempat memikirkan untuk bertanya mengenai keputusan orang tua Giri terkait kelanjutan sekolah putranya.

"Elo mah Gis, kesempatan tau."

"Kalo udah cocok juga pasti akan daftar mbak." bela Gisa. "Nanti juga bokapnya kesini, nanti gue tanyain deh, feeling gue sih kuat banget kalau Giri pasti bakalan lanjut daftar beneran di sini." lanjut Gisa masih dengan mulut penuh makanan.

"Pak Ervan nanti kesini?" tanya Amira antusias.

"Seinget gue emang namanya Ervan, Ervano Bhalendra."

"Serius Gis?" gantian Ana yang terbeliak hingga berdiri dari kursinya.

"Kenapa dah?"

"Ckkk ... Lo kudet amat sih Gisa, sampe gak tau Ervano Bhalendra itu siapa?" ledek Amira.

"Bapaknya Giri kan?" jawab Gisa dengan santainya.

"Astaga naga Gisa ... repot amat ngobrol sama manusia jaman batu yang jauh dari sosial media macem Lo ya?" Ana menepuk keningnya tak habis pikir dengan sahabat baiknya ini.

Kenapa sih?

Emang Ervano Bhalendra siapa sih?

Penting gitu?

Gisa masih diam, sambil menatap bergantian pada kedua rekan kerjanya itu. Dia sendiri tak paham letak kesalahannya dimana. Bukannya wajar saja kalau dirinya enggan bersinggungan dengan sosial media yang isinya hanya itu-itu saja.

"Tanya sendiri sono sama anaknya." pekik Ana lantas mengendikkan dagu ke arah Giri yang masih duduk tenang di kursi kecil dekat dengan meja kerja Gisa.

'Heii, Gigi Giri, bapak kamu siapa sih? emang orang penting gitu?' pekik Gisa hanya hanya mampu ia teriakkan dalam hati.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Arwah Istri Sah
9.1
Demi membalas penderitaan selingkuhannya yang sempat terjebak di dalam mobil, seorang suami miliarder tega menghukum istri sahnya dengan sangat kejam. Tanpa memedulikan jeritan dan penjelasan sang istri, ia mengurungnya di dalam peti kayu yang dipaku rapat. Ditinggal berlibur selama seminggu bersama wanita idaman lain, sang suami tidak pernah menduga bahwa hukuman sadis itu akan berakhir fatal. Saat peti akhirnya dibuka kembali, sang istri telah kehilangan nyawa dalam kondisi mengenaskan, meninggalkan jasad dingin yang penuh luka.
Sampul Novel Berakhirnya Janji Setia Empat Puluh Tahun
8.7
Sebuah rahasia kelam terungkap saat seorang istri membersihkan laptop suaminya dan menemukan ribuan video vulgar sang suami bersama sahabat baiknya sendiri. Selama empat puluh tahun, ia memercayai alasan suaminya yang mengaku sakit setelah ia melahirkan, hingga mereka hanya menjalani pernikahan platonis tanpa keintiman fisik. Setelah seumur hidup berkorban, bekerja keras, dan membesarkan anak-anak mereka, wanita ini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa seluruh hidup dan janji setia suaminya hanyalah sebuah kebohongan besar yang terencana.
Sampul Novel Breaking Bad: Menikah dengan Iblis
7.8
Pernikahanku berubah menjadi neraka saat menyadari suamiku adalah pria berhati iblis. Tubuhku kian melemah, memicu kecurigaan bahwa dia tengah meracuniku perlahan. Berbagai kejanggalan pun mulai terungkap, mulai dari pelayan yang memata-matai hingga keraguan atas asal-usul anak kandungku sendiri. Terperangkap dalam rumah tangga yang menyiksa ini, aku bertekad membongkar seluruh rahasia kelamnya serta menuntut balas dendam, walau harus mempertaruhkan nyawaku.
Sampul Novel Identitasku Dipakai di Pernikahan Mantanku
7.9
Hidup Rani hancur setelah Angela mencuri identitasnya untuk menikahi Azlan Bagaskara. Tak hanya merebut sang kekasih, sahabatnya itu bahkan memaksanya menjadi pelayan di rumah mereka. Setiap hari, Rani harus menahan kepedihan menyaksikan kemesraan palsu mantan pacarnya bersama Angela. Di tengah penderitaan batin yang tiada henti, akankah Rani terus terpuruk dalam diam, atau bangkit memperjuangkan keadilan atas pengkhianatan kejam yang merusak masa depannya?
Sampul Novel JERAT CINTA DETEKTIF TAMPAN
9.3
Tiga tahun menjadi asisten detektif Arsen dalam misi berbahaya, Leina diam-diam mencintainya. Namun, Arsen selalu menolak perasaan itu karena jurang usia dan ancaman musuh yang mengintai pekerjaan mereka. Meski terluka oleh sikap dingin sang detektif, Leina enggan menyerah. Bahaya kini mengancam saat para musuh mulai mengincar Leina untuk menjatuhkan Arsen. Akankah Arsen tetap menjauh demi melindunginya, atau justru menyerah pada cinta?
Sampul Novel Mr. G itu Bos-nya!
9.6
Tepat pada hari istimewa mereka, Briana Jeany dikhianati oleh sang kekasih, Alex. Di tengah amarah yang membara, ia nekat mendekati pria asing berinisial Mr. G dan membayarnya karena dikira pria sewaan. Sialnya, sosok tersebut ternyata adalah bos barunya yang kini dendam karena merasa harga dirinya diinjak-injak. Ketika sang bos mulai membalas dendam hingga memicu benih cinta, Alex justru datang lagi membawa janji pernikahan. Briana pun terjebak di antara masa lalu dan bosnya.