APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jika Nanti Jatuh Cinta Lagi

Jika Nanti Jatuh Cinta Lagi

Kegagalan rumah tangga bersama Irina serta pedihnya kehilangan Elvin Eleanor membuat Ervano Bhalendra enggan membuka hati kembali. Chef tampan ini menganggap pernikahan sebagai masa lalu kelam yang harus dikubur dalam-dalam. Namun, keyakinan Ervan goyah setelah dirinya bertemu dengan Magisa Prastiwi. Kehadiran Magisa secara perlahan meruntuhkan sikap dingin Ervan, menuntunnya kembali menemukan keberanian untuk mengejar cinta sejati yang sempat ia lupakan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sudah hampir satu jam Gisa menemani Giri seorang diri di dalam kelas. Jam pelajaran para balita ini sudah berakhir beberapa saat yang lalu, dan lagi-lagi tinggal Giri seorang yang belum dijemput hingga waktu menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Mundur satu jam dari waktu yang seharusnya.

"Giri ngantuk?" Gisa bertanya tepat ketika bocah berambut ikal itu menguap untuk yang ke empat kalinya. Menggemaskan.

"Yes Miss, I'm so sleepy.. I boleh tidur?" tanya bocah dengan pipi bakpau itu malu-malu kucing.

"Of course, sini.. sini lebih dekat sama Miss Gisa. Tiduran sini dulu." Gisa duduk bersila di atas matras tebal di tengah kelas yang sudah ia bersihkan dari berbagai macam mainan balita. Setelah perempuan itu menepuk bantal panjang bermotif Spiderman beberapa kali, barulah Giri paham dengan maksud dari wali kelasnya itu.

"Miss." Gisa menoleh pada Giri yang menarik seragam batik yang ia kenakan.

"Kenapa ganteng?"

"Aku kapan pulang?" tanya balita itu lagi setelah merebahkan kepala di atas bantal empuk yang ditawarkan Gisa.

"Nunggu jemputan dong Gigi. Pak Damar atau Papa yang hari ini jemput?"

"Hmm... Siapa ya?" Giri memutar bola matanya dengan gerakan yang lucu.

"Kayaknya sih Papa, Miss... soalnya Pak Damar belum masuk."

"Emang Papa gak kerja?" jiwa ingin tau Gisa tiba-tiba tergelitik untuk kembali bertanya.

"Kerja doong, habis jemput sekolah langsung kerja lagi."

"Kerja dimana emang?"

Kan?

Jika sudah bertanya sekali, Gisa tak bisa begitu saja berhenti.

"Papa aku tuh tukang masak-masak gitu Miss, pinter banget masakin aku yang yummy-yummy, di kistal viu yang kemarin itu." jawab Giri dengan bahasa yang masih acak-acakan.

"Crystal View?"

"Yess, itu maksudnya Miss."

Gisa manggut-manggut saja seolah paham. Meskipun ia masih ingin bertanya, tapi tak tega juga setelah melihat mata sayu Giri yang berkedip-kedip lelah. Hmmm... Dasar anak kecil ya. Main-main, makan, lelah lanjut tidur. Ritme kehidupan yang begitu dirindukan banyak orang dewasa.

"Miss..." lirih Giri lagi sampil menarik pelan siku Gisa.

"Hmm... Kenapa lagi Gigi? Mau pipis?"

Giri menggeleng.

"Hungry?"

Lagi-lagi bocah itu menggelengkan kepalanya.

"Terus?"

"Bobo situ kayak kemarin boleh kan... Miss?" bujuk bocah gemuk itu sambil melirik ragu pada pangkuan Gisa.

"Dipangku Miss Gisa maksudnya?" ulang Gisa yang langsung diangguki Giri. Lengkap dengan cengiran lebar yang menampakkan gigi-gigi kecilnya yang berderet rapi.

"Kalau boleh Miss. Miss Gisa wangi banget, Giri suka. Bisa langsung bobo nyanyak gitu." jujurnya sambil menunduk malu-malu.

Nyanyak? aah.. mungkin maksudnya nyenyak.

Gisa terkekeh kecil tak langsung mengiyakan, karena gadis itu malah terhipnotis dengan manisnya Narendra Giri ini ketika meminta ijin padanya. "Sini.. sini. Tentu aja boleh." Gisa mendorong meja kecil di hadapannya lantas menepuk pahanya pelan. Memberi isyarat pada murid barunya itu untuk mendekat dan merebahkan diri di pangkuannya.

Kedua bola mata Giri lantas bersinar cerah. "Thank you Miss Gigi."

"Miss Gisa."

"Tapi Miss panggil aku Gigi Gigi..." protes Giri sambil manyun.

"Habis kamu lucu banget sih kalau senyum sampe kelihatan gigi kelincinya gitu." Gisa mencubit emas salah satu pipi bulat Giri.

"Oke deal. Thank you Miss Gisa." ucap Giri lantas memejamkan mata ketika sudah merebahkan diri di pangkuan Gisa.

Entah sudah berlangsung berapa lama, Giri tertidur dengan meringkuk di pangkuan wali kelasnya. Gisa tak memperhatikan karena ia sendiri sibuk dengan laptop kecil yang ia letakkan di sebelah kanannya. Sengaja ia geser meja kecil laptopnya agar tak mengganggu gerakan Giri.

Sampai suara ketukan dan salam menginterupsi gerakan tangannya kala mengusap pelan punggung balita tiga tahun itu.

"Selamat siang Miss."

Gisa refleks menoleh. Namun gerakannya sangat terbatas karena si balita gemuk yang masih tertidur pulas di pangkuannya.

"Maaf Miss... Sekali lagi maaf, tadi masih ada rapat di sekolah anak sulung saya." pria yang mengaku ayah dari Narendra Giri ini membungkuk pelan lantas berjalan berlahan ke sudut kelas dekat papan tulis. Tempat dirinya sedang menyandarkan punggung.

Gisa memaksakan senyum ketika pria dewasa itu tersenyum canggung padanya. "Iya pak, bisa dimaklumi." ucapnya masih memasang cengiran kuda yang tampak sekali jika ia terpaksa melakukannya.

"Giri bolehkan langsung saya bawa pulang?"

Hellawww... situ bapaknya kan? Kenapa masih tanya wahai bapak ganteng?

Ingin sekali Gisa menyuarakan isi kepalanya, namun ia masih bisa bersikap normal dan wajar pada calon wali kelas yang akan mendaftarkan putranya ke Eleven preschool ini.

Ehh.. jadi daftar kan?

Harus jadi dong, pokoknya harus. Biar pengorbanan Gisa hingga pahanya terasa kaku tak sia-sia. Tekad Gisa dalam hati.

"Boleh pak Ervan, tentu saja boleh. Tadi Gigi... ehmm Giri maksud saya. Dia kelelahan bermain, dipadukan dengan kekenyangan dan berakhir dengan ketiduran. All is well. Bapak boleh langsung bawa pulang. Kasian kalau harus tidur di matras kayak gini terlalu lama." jawab Gisa menahan ekspresinya sebiasa mungkin.

"Ma.. makasih banyak Miss Gisa."

"Your welcome pak Ervan."

Baru saja Ervan melangkah keluar kelas, sampai Gisa memanggilnya lagi karena teringat sesuatu.

"Maaf pak Ervan." panggilnya cepat sebelum ayah Giri itu melenggang pergi meninggalkan sekolah.

"Iya Miss."

"Masa trial Giri akan berakhir tiga hari lagi. Hmmm.. Giri jadi didaftarkan ke sini kan pak?" tanyanya tak ingin berbasa-basi terlalu lama. Kasihan juga jika membayangkan lengan pria itu akan kram dalam waktu lama jika terus menerus menggendong putra keduanya.

"Aah.. itu, tentu saja Miss. Saya akan daftarkan giri di sini. Jarang sekali Giri bisa cepat akrab dengan orang asing. Jadi saya rasa, mendaftarkan Giri disini adalah pilihan yang tepat."

Good!! Gisa mengepalkan tangannya yang ia sembunyikan di belakang punggung.

"Saya ambilkan form pendaftarannya kalau begitu ya pak. Nanti bisa bapak isi dirumah, besok atau lusa bisa dikembalikan sekaligus dengan dokumen pelengkapnya." kali ini perempuan itu mengembangkan senyum tulusnya. "Tolong tunggu sebentar."

Gisa dengan cepat memakai flat shoes berwarna merah menyala yang ia letakkan di rak paling bawah, lantas berjalan cepat menuju ruang guru. Sedangkan Ervan hanya mengangguk samar dengan pose tak jauh berbeda dari patung yang biasanya terpasang di tengah kota. Kaku, tegap, dan tanpa ekspresi.

"Naah... Ini form nya ada.. satu, tiga, lima.. hmm ada enam lembar pak. Silakan diisi lengkap, nanti dikumpulkan langsung ke saya atau ke bagian administrasi di sebelah ruang guru." Gisa berbinar ketika menyodorkan beberapa lembar formulir yang ia masukkan dalam map kuning itu.

Tapi tiba-tiba senyumnya lesap ketika si ayah balita bernama Giri itu hanya diam bak patung yang baru saja kering karena sinar matahari yang siang ini begitu ganas menyapa kulitnya.

Hellow... Kenapa si bapak Gigi ini diem-diem bae? Masa ia gak jadi daftarin anaknya.

"Ini pak." ulang Gisa pelan.

"Anu Miss, maaf. Hmm... boleh minta tolong bawakan formulirnya sampai ke mobil saya. Ta- tangan saya kram."

Kaan, benar lagi tebakan Gisa. Si balita gemuk dengan rambut ikal yang lucu itu beneran bikin lengan sang ayah kram. Padahal baru beberapa menit. Tapi memang menggendong balita segemuk dengan giri dengan posisi seperti itu— leher ditopang lengan kiri, sedang tubuh bagian bawah ditahan dengan lengan kanan, bisa membuat lengan cepat kram.

Ckkk... dasar!!

Udah punya anak dua kenapa gak tau trik gendong anak biar gak cepet pegel sih?

"Ooh ... oke, siap pak, siap."

Gisa berjalan cepat sembari menunduk ketika mengekor si pak Ervan yang tangannya sedang kaku karena anak bungsunya ini. Persis sekali seperti nanny yang sedang membuntuti kemana saja sepasang majikannya pergi.

But heiii ... Gisa itu bukan nanny loh!!

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayah CEO Pengen Pelukan
9.1
Akibat pengkhianatan orang terdekat, Nadia terpaksa melewati satu malam bersama lelaki asing. Penyesalan melanda dirinya, tetapi paras rupawan pria itu justru membuatnya salah tingkah hingga nekat meninggalkan sejumlah uang sebelum kabur. Kresna, pria misterius tersebut, merasa sangat direndahkan karena diperlakukan bak lelaki bayaran. Diselimuti amarah, ia langsung menyuruh asistennya melacak identitas Nadia lewat CCTV hotel untuk menuntut balas.
Sampul Novel Bismillah, Aku Ikhlas
8.2
Pernikahan yang didambakan harmonis justru berujung pilu akibat lisan tajam sang ibu mertua. Setiap hari, seorang istri harus menahan tuduhan mandul dan cercaan atas pernikahan mereka, sembari memikul beban urusan domestik yang tiada henti. Tekanan batin kian berat saat ia terus dituntut segera menghadirkan cucu. Di tengah perlakuan semena-mena ini, ia kini berada di titik krusial untuk menentukan pilihan: tetap berjuang bertahan atau menyudahi segalanya.
Sampul Novel Istri Di Atas Kertas
8.9
Queena Bulan Latief terperangkap dalam pernikahan perjodohan yang penuh kepedihan. Tepat setelah akad nikah, kenyataan pahit menghantamnya: sang suami ternyata telah mempunyai wanita lain. Walau hukum mencatat Bulan sebagai istri pertama yang sah, pada kenyataannya dia hanyalah yang kedua di hati sang suami. Impian Bulan untuk menjadi satu-satunya kini sirna. Ia pun terpaksa berjuang menjalani takdir yang rumit dan bertahan di tengah dilema berbagi cinta dengan madunya.
Sampul Novel Jebakan Utang Mafia
8.8
Evelyn Rossi harus menanggung utang peninggalan sang kakek kepada bos Kartel La Sanguina yang kejam, Riccardo Valentini. Saat bekerja di kedai pizza kedok mafia, Evelyn justru memicu obsesi gelap Riccardo. Ia sempat melarikan diri dan dilindungi oleh kepala mafia Rusia, Nikolai Volkov, selama empat tahun. Namun, Riccardo berhasil menculiknya kembali. Kini, Evelyn terjebak di tengah perseteruan maut antara obsesi posesif Riccardo dan ketulusan cinta Nikolai.
Sampul Novel Passionate Hubby
9.3
Di usia 22 tahun, Ayyana Binar Keana mendambakan pernikahan yang penuh kehangatan. Namun, realita berkata lain karena Biru Evaksa Aiden, suaminya yang berusia 29 tahun, mengidap kelainan medis tertentu. Kondisi ini membuat rumah tangga mereka yang berjalan sebelas bulan belum dikaruniai anak. Akibat sang suami tak bisa menunaikan nafkah batin, Ayyana pun masih menjaga kesuciannya. Hal ini memicu konflik mendalam di antara keduanya.
Sampul Novel PELUKAN HANGAT PAPA MERTUA
8.6
Sepuluh tahun Luna terjebak pernikahan hampa bersama Eric yang terus berselingkuh. Demi lari dari jerat perjanjian keluarga, ia mabuk hingga berakhir di ranjang Brian, ayah mertuanya yang menduda. Tergoda pesona Luna, Brian pun hanyut dalam hubungan terlarang demi mengusir sepi meski didera rasa bersalah pada putranya. Begitu Eric menceraikan Luna demi selingkuhannya yang hamil, rahasia ini terbongkar, memicu keputusan mereka untuk bersatu.