APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel JERAT CINTA TUAN MAFIA

JERAT CINTA TUAN MAFIA

Dikhianati oleh kekasihnya hingga hancur, Louisa terperosok ke dalam bahaya besar yang mengancam keselamatan jiwanya. Di tengah situasi kritis, sesosok pria misterius datang menolongnya. Terbawa emosi yang kacau, Louisa nekat menawarkan imbalan berani kepada penolongnya itu. Tindakan ceroboh ini justru menyeret Louisa masuk ke dalam lingkaran kehidupan sang pria yang penuh marabahaya, mengubah jalan hidupnya untuk selamanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Louisa menatap langit-langit yang tinggi di atasnya, menyadari bahwa itu bukan langit-langit kamarnya. Ia mengedipkan mata untuk memfokuskan penglihatan, tetapi matanya yang berat membuat ia merasa sakit kepala yang menyiksa.

Louisa mengerang keras dan menggeliat seperti kucing dan otot-ototnya langsung menjerit karena kekakuan yang menyakitkan. Ia juga merasakan rasa ngilu dan pegal pada bagian-bagian tertentu tubuhnya.

Pada saat itu ia menyadari bahwa di bawah selimut tebal yang lembut ia sama sekali tidak mengenakan apa-apa.

Louisa panik. Ia bangkit dengan cepat dan mengerang, memegangi kepalanya yang berat. Apa yang terjadi? Kenapa ia ada di tempat asing? Di mana pakaiannya?

Louisa melepas selimut dan berdiri berpegangan pada sisi tempat tidur. Ia menarik selimut dengannya dan menggunakannya sebagai penutup untuk tubuhnya. Ia melihat sekeliling dan mencoba mendengar apakah ada suara asing di ruangan itu.

Sepertinya ia sendirian, di penthouse yang mewah dan elegan dan siapa pun yang menyewa penthouse ini pasti sangat kaya karena kemewahan tempat ini tidak main-main.

Louisa melihat setumpuk pakaian terlipat rapi di nakas, bahkan tasnya ada di atas bajunya dan sepatu ketsnya diletakkan di bawah nakas.

Louisa melihat pintu kaca di dinding barat dan mengira itu adalah pintu menuju kamar mandi. Dia mengambil pakaiannya dan pergi ke kamar mandi, masih menutupi tubuhnya dengan selimut.

Bahkan kamar mandinya sangat luas dan indah. Dinding dan segala perlengkapan di dalamnya didominasi warna hitam dan emas, kontras dengan warna kamar tidur yang didominasi warna gading dan perak.

Louisa melihat pantulan tubuhnya yang terpantul di kaca. Bercak merah tua dari cupang segar membuat kulitnya berpola seperti macan tutul. Ia mengamati leher dan bahunya, lalu turun ke dada dan perutnya.

"Aargghhh... ada apa ini," teriak Louisa lemah. Paha bagian dalam juga memiliki tanda dan ia merasa ngilu pada pusat tubuh dan dadanya.

Louisa malu melihat bayangan dirinya sendiri dan cepat-cepat memakai baju lalu hampir berlari keluar kamar mandi, saat matanya melihat setumpuk kain putih di dekat pintu.

Ia melewati tumpukan kain itu ketika  masuk ke kamar mandi ini dengan terburu-buru. Jantung Louisa berdetak dua kali lebih cepat saat ia menyentuh kain itu.

Rupanya itu adalah sprei yang sudah digunakan. Kain itu diletakkan di sana agar petugas kebersihan bisa mengambilnya nanti. Perasaan tidak enak membuat Louisa bergerak untuk merentangkan seprai dan dia jatuh lemas di lantai kamar mandi, ketika melihat bercak darah kering di kain berwarna gading.

Louisa dengan cepat menggulung kain itu, beberapa saat setelah kekuatan dan kesadaran akan sekelilingnya pulih. Ia keluar dari kamar mandi, membawa kain sprei bekas pakai di tangannya dan mengambil telepon di meja nakas.

Suara wanita yang ramah menyapa Louisa saat panggilan tersambung ke resepsionis. "Halo, selamat siang, saya Ailee, resepsionis hotel Blue Diamond yang bertugas hari ini. Ada yang bisa saya bantu?"

"Err... Miss Ailee, ini... err... di mana saya sekarang?" Louisa bertanya dengan bingung dan merasa bodoh dengan pertanyaan yang dia ajukan.

"Anda berada di penthouse Blue Diamond Hotel, Nona. Apakah Anda membutuhkan sesuatu? Kami akan segera membawanya untuk Anda."

“A-Aku ... Umm... Apa kau tahu siapa yang membawaku ke sini? Tadi malam?”

"Tunggu sebentar. Ah, Anda mendaftarkan pemesanan penthouse atas nama Louisa Amara Lee."

Louisa terkesiap. Bagaimana dia bisa memesan penthouse mewah ini atas namanya sendiri? Tabungan di rekeningnya saja tidak akan cukup untuk membayar tempat ini selama dua jam. Pasti ada yang salah.

Louisa begitu saja menutup telepon dan mengambil teleponnya sendiri, untuk menelepon seseorang. Ia memakai sepatunya sambil menunggu panggilannya dijawab.

Oh, sialan! Linda tidak mengangkat telepon. Dia mungkin sedang tidur atau mungkin sedang keluar dan tidak membawa ponsel.

Louisa keluar dari kamar tidur dan melihat ruang tamu luas yang terbuka langsung ke ruang makan dan dapur yang bersih. Ada sesuatu yang harum di ruangan ini dan secara naluriah perutnya berbunyi keroncongan.

Louisa berjalan ke meja makan besar dengan enam kursi elegan di sekeliling meja dan melihat piring saji tertutup di atasnya. Ia mengulurkan tangan, membuka salah satu penutup dan tertegun.

Hidangan lobster yang menggoda disajikan di piring. Louisa tergoda untuk membuka penutup lain, tetapi ketakutan mengalahkan keinginan untuk memeriksa dan rasa laparnya. Dia melihat sebotol air mineral dan strip obat penghilang rasa sakit di dekat piring dan mengambil keduanya saat dia berlari ke pintu.

Louisa berdiri bingung di pintu penthouse. Iaa melihat pintu lift khusus dan berpikir untuk tidak menggunakan fasilitas itu. Ia takut, siapa pun yang menyewa penthouse itu memakai namanya, orang itu bisa kembali kapan saja.

Louisa berlari ke ujung koridor dan melihat pintu darurat. Ia membuka pintu dan berlari menuruni tangga. Sekilas saat dia berlari, dia melihat nomor lantai tempat dia berada. Ya Tuhan, lantai 15.

Perasaan takut membuat adrenalin dalam darah Louisa berpacu. Seluruh tubuhnya sakit, kepalanya sangat pusing, dan ia harus berlari menuruni tangga dari lantai 15.

Di lantai 6 Louisa berhenti dan dengan cepat memakan dua butir obat penghilang rasa sakit yang dia bawa sebelumnya dan minum banyak-banyak.

Ia hampir pingsan ketika akhirnya menginjakkan kaki di lantai dasar yang ternyata mengarah ke tempat parkir. Mata Louisa seperti buta, ketika ia akhirnya keluar ke jalan, setelah melewati tempat parkir yang remang-remang.

Ia mencegat taksi, masuk ke dalam, dan mengatakan alamat kepada pengemudi dengan terengah-engah. Louisa mencoba menelepon Linda lagi dan dia hampir berteriak ketika mendengar suara Linda di seberang.

"Lou! Kemana saja kau?" teriak Linda marah. "Aku mendengar apa yang terjadi padamu dan aku panik ketika kau menghilang. Ponselmu tidak dapat dihubungi dan kau tidak meninggalkan pesan sama sekali. Aku akan pergi ke polisi jika belum mendengar kabar darimu sore ini!"

Mendengar suara Linda yang memarahinya, Louisa menangis. "Linda, aku kehilangannya."

"Apa? Apa yang hilang?" Linda bertanya dengan panik. "Kau dimana sekarang? Katakan tempatnya dan aku akan menjemputmu. Aku ada di sekitar kampus."

"Aku di dalam taksi, menuju rumah. Aku ... baik-baik saja, hanya sakit kepala." "

"Ya Tuhan, Lou, apa yang terjadi? Apakah kau dirampok? Di mana kau sepanjang malam?"

Louisa menyeka air matanya ketika melihat taksi yang membawanya telah memasuki area apartemen tempat tinggalnya bersama Linda. "Tunggu, tunggu, jangan tutup dulu," kata Louisa, mengetuk ringan di jendela, memberi isyarat kepada sopir taksi untuk berhenti. "Aku akan membayar taksi dulu."

"15 dolar," kata sopir taksi setengah baya itu. "Beri saya uang tunai karena mesin gesek saya mengalami masalah."

Louisa menjepit telepon di antara telinga dan bahunya, lalu mengambil dompet dari tas tangan. Saat dompetnya keluar, sebuah amplop biru jatuh dari tas ke lantai taksi.

Louisa dengan cepat membayar ongkos taksi, mengambil amplop biru di lantai taksi dan keluar.

"Lou, apakah kau masih di sana? Apakah kau sudah di rumah?" Linda bertanya.

"Ya, ya, aku baru saja turun dari taksi. Tunggu sebentar, ada amplop jatuh dari tasku ketika mengambil dompet. Amplop itu bukan milikku."

"Amplop apa?" Linda bertanya dengan rasa ingin tahu. "Aku juga akan pulang sekarang. Kau tunggu di rumah,aku akan membawakan makanan."

Louisa membuka amplop tebal dan berat itu, tertegun sejenak, lalu berteriak. "YA TUHAN!"

***

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Crazy Maid ( Indonesia )
8.5
Felicity Jolicia Addison, gadis manja yang asing dengan urusan dapur, nekat menyamar sebagai Cia. Demi mendapatkan jet pribadi dari ayahnya, ia rela menjadi pelayan Jerrald Nataniel Mendez, pengusaha jet asal Spanyol. Jerrald dibuat pusing oleh ketidakmampuan Cia yang hampir membakar dapur saat merebus air. Meski dianggap gila karena boros dan polos, interaksi unik pelayan amatir dan majikan angkuh ini perlahan menumbuhkan benih cinta di antara mereka.
Sampul Novel Gara-Gara Taruhan
7.9
Tekanan besar melanda delapan pria lajang rupawan saat orang tua mereka menuntut pernikahan segera. Tanpa kekasih dan dikejar tenggat waktu kawin paksa yang sepihak, mereka harus bergerak cepat. Sebagian mulai berjuang memburu cinta sejati dalam waktu singkat, sementara yang lain menyusun taktik cerdik demi lolos dari perjodohan. Saksikan keseruan perjuangan unik kedelapan pria ini dalam menghadapi kemelut drama kehidupan mereka.
Sampul Novel Kiss for Prince Kouza
9.3
Saat mendaki gunung dengan rekan kerjanya, Myan mengalami nasib nahas terjatuh ke jurang. Bukannya tewas, ia justru tersadar di sebuah padang rumput asing yang misterius. Di sana, seorang pria asing berbusana unik tiba-tiba turun dari kuda putihnya, lalu berlutut memberi hormat. Lelaki misterius itu menyebut Myan sebagai sosok Sang Pembebas yang dinanti-nantikan. Siapa sebenarnya bangsawan itu dan ke mana Myan terlempar? Kisah petualangan Myan di dunia baru yang penuh misteri pun dimulai.
Sampul Novel Melepas Daster Burukku
7.8
Sartika hancur setelah Riya, sepupu suaminya, mengaku menjadi selingkuhan Roni. Rasa sakitnya kian dalam karena suaminya kerap merendahkan penampilannya yang kusam di hadapan Riya. Ogah terpuruk, Sartika mengubah dirinya menjadi sosok yang anggun dan menyiapkan rencana pembalasan yang matang. Saat Roni mulai mengemis maaf, mantan kekasih Sartika datang menawarkan kembali cintanya. Sartika pun dihadapkan pada pilihan sulit antara masa lalu atau lembaran baru.
Sampul Novel Suami Berengsek, Istrimu Kini Hamil Anak Big Boss!
9.6
Tiga tahun menikah, Shanaya menyadari Adrian hanya mencintai kakak iparnya. Sadar hanya dianggap istri penurut, ia diam-diam menyiapkan perceraian tanpa mengusik suaminya. Saat Shanaya sukses menciptakan obat kanker legendaris dan dipuja dunia, Adrian berlutut penuh penyesalan memohonnya kembali. Namun, segalanya terlambat ketika sosok pria paling berkuasa yang dingin dan tak tersentuh merengkuh pinggang Shanaya, menegaskan bahwa wanita itu kini siap melangkah ke pelaminan bersamanya.
Sampul Novel Triplets Secret Lover
8.4
Pasca dikhianati Hans Graham yang berselingkuh dengan dua pria, hidup Ann Davis hancur hingga ia bertemu J. Carter, sang CEO Carter Group. Insiden mabuk mempertemukan mereka dalam kesepakatan pernikahan kontrak setahun demi menghindari Merry Smith. Namun, pernikahan ini justru membuka tabir misteri kebakaran yang menewaskan ayah Ann. Di tengah konspirasi Franz Smith dan rahasia sang miliarder, mampukah Ann mengungkap kebenaran dan menemukan cinta sejatinya?