APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jebakan Cinta Pertama untuk Kesayangan Bos

Jebakan Cinta Pertama untuk Kesayangan Bos

Agnes bermimpi menata ulang hidupnya setelah delapan tahun yang kelam. Namun, asa itu hancur saat Gerald Ogawa, cinta pertamanya, muncul kembali. Alih-alih membawa kasih, Gerald datang penuh dendam atas pengkhianatan masa lalu dan berniat merebut posisi kerja Agnes. Di tengah himpitan tersebut, Agnes harus tegar berjuang sendirian demi menghidupi sang buah hati. Sanggupkah ia bertahan dari kekejaman Gerald ketika rahasia lama mulai terbongkar dan menguji kembali perasaan mereka?
Bab
Bagikan

Bab 2

Deg!

Kenop pintu itu tidak jadi digerakkan Agnes.

Tubuh Agnes membeku bersama permintaan yang lugas, terdengar jelas di telinga perempuan itu.

Kepalanya menoleh perlahan dengan sorot nanar dan dibalas senyum merendahkan Gerald. “Bukan hal sulit dibandingkan harus resign, kan?”

“Dari dulu kamu sudah mempersilakan banyak pria menikmati tubuh kamu.”

Dentuman keras menohok dalam dada Agnes bersama luka menganga, kian tergores semakin dalam. Gerald menarik luka masa lalu di antara keduanya.

“Jadi, aku juga ingin mendapatkan keuntungan yang sama. Karena aku sudah lama nggak mencicipi tubuh kamu lagi,” tekannya tersenyum puas.

Tangan Agnes bergetar, membuka terburu kenop pintu dan meninggalkan ruang kerja Gerald dengan bulir air mata yang semakin deras turun membasahi kedua pipi Agnes.

Perempuan itu menulikan indera pendengaran saat kalimat Gerald terngiang, menghentak dan meremukkan perasaan Agnes.

Ia memilih menjauh dari siapa pun, kembali ke unit di mana para karyawan memiliki kamar masing-masing di resort.

Hari ini Agnes hancur dan dipermalukan tanpa bisa diberi kesempatan untuk dihargai. Jabatan yang sudah diterima dan dinikmati Agnes tiap harinya, dilalui semakin sulit. Posisi Agnes berada di bawah satu tingkat Gerald, tapi ia layaknya seorang bawahan rendah yang tidak bisa diberikan perlakuan baik. 

**

“Saya tidak sengaja melakukannya, Bu ....”

Agnes bersandar lemah di kursi kerjanya. Kepala perempuan itu berdenyut, meskipun isak tangis salah seorang perempuan yang duduk di hadapannya terus saja terdengar jelas.

“Tapi keadaan kemarin memang sangat kacau dan pihak mereka tidak mentolerir kesalahan tersebut.”

Karyawan dari Divisi Food & Production itu menunduk sambil menjelaskan kesalahan fatalnya. Agnes memijat pelipis, mendapati kesalahan ada pada stok daging dan peralatan elektronik resort.

Dua orang bersangkutan dari divisi tersebut mengakui kelalaian mereka tidak melakukan observasi kembali, termasuk beberapa jam sebelum pesta dimulai.

“Ini rekaman CCTV yang memperlihatkan pihak pesta marah di ruang peralatan kami, Bu,” cetus pria yang lima tahun lebih tua dari Agnes menyodorkan iPad-nya.

Ia bertanggung jawab sebagai engineering.

Agnes menyugar kasar rambutnya dan merasa gelisah ketika menatap dua orang di hadapannya. “Kenapa kalian tidak ada satupun yang mengabari saya tentang permasalahan ini sejak kemarin? Kenapa harus saya yang mencari tahu lebih dulu?”

Perempuan itu mendesah frustrasi.

“Maaf, Bu. Tapi tepat hari minggu pesta akan dimulai. Ponsel Bu Agnes tidak aktif.”

“Ya Tuhan ....”

Agnes menyangga kepalanya dengan satu tangan di atas meja. Ia merutuki kebodohannya, lupa mengenai ponselnya sendiri dan waktu acara yang berlangsung.

Ia mematikan total ponsel saat berada di Jakarta. Perempuan itu berniat menghabiskan banyak waktu dengan putra kecilnya, menikmati kebersamaan yang sudah dua minggu lebih tidak ia temui.

Sebelum kembali ke Jakarta, Agnes sudah memastikan observasi di lapangan telah rampung dan ia yakin semua acara akan berlangsung lancar tanpa kehadirannya. Namun, kali ini ia salah besar dan tidak memikirkan risiko selanjutnya.

Perempuan itu memutuskan untuk sendiri, memikirkan hal apa yang masih bisa ia lakukan. Ruang kerja Agnes hening, membiarkan dirinya kembali menyesali dan mencoba mengingat semua hal teknis dan persediaan daging tidak ada yang buruk.

“Lo emang nggak pantas ada di jabatan ini, Agnes.”

Suara mengejek itu membuat Agnes mendongak.

Titania tersernyum miring sambil berjalan masuk ke arah meja kerja Agnes. “Gimana? Udah puas selama enam bulan lo di posisi ini, merasa selalu aman?”

“Lihat, kan? Sekali tersandung masalah, lo ngerasa paling frustrasi?”

Rahang Agnes mengetat melihat perempuan seusianya—menganggap ia sebagai rival—mengejek kinerja Agnes bersama tim.

Sorot angkuh dengan melipat kedua tangan di dada, membuat Agnes muak berhadapan dengan Titania. “Mereka sudah melakukan yang terbaik. Kesalahan pertama yang dilakukan beberapa orang selama mereka dalam naungan gue hampir enam bulan ini,” cetusnya mengabaikan Titania.

Perempuan dengan tinggi 169 senti itu mendengkus, menatap sinis Agnes yang mengabaikannya. “Lo emang nggak pantas berada di jabatan ini. Seharusnya gue yang berada di sini dan lo lebih baik pergi dan mengurusi anak yang lo tinggal di Jakarta.”

“Bisa berhenti bawa anak gue dalam permasalahan ini?” tanya Agnes tajam.

Posisi Titania sebagai Assistant General Manager tidak pernah menguntungkan Agnes.

Kali pertama setelah resort dipimpin Gerald satu minggu lalu. Titania mulai menunjukkan topeng aslinya, membenci Agnes habis-habisan. Posisi yang diinginkan Titania, dirasakan perempuan itu sudah direbut Agnes. Karena Titania jauh lebih dulu bekerja di salah satu aset penting keluarga Ogawa, tiga tahun lalu.

Titania membiarkan Agnes berdiri dan menatapnya datar. “Lo nggak pernah berpikir, kalau gue tersandung masalah, artinya lo juga kena? Kita masih ada hubungan pekerjaan dan selayaknya lo membantu gue.”

“Buat apa? Gue nggak peduli, tuh,” balasnya menyeringai puas mendapati wajah kulit putih Agnes memerah.

Ia bahagia kehadiran bos baru pengganti Liam Ogawa semakin memudahkan Titania menghancurkan Agnes.

Titania tertawa renyah. “Well, gue berharap lo hengkang dari jabatan dan juga tempat ini. Biar gue ada kesempatan menduduki posisi lo.”

“Gue nggak akan pergi dari sini,” desis Agnes dan membuat Titania membeku, mendapati sorot tajam Agnes tanpa diduga Titania.

“Karena mencari pekerjaan iini nggak mudah gue dapatkan dan terlebih ... posisi ini sangat menguntungkan gue, menguntungkan kehidupan gue yang nggak sendirian di Jakarta.”

“Banyak pengeluaran yang harus gue tutupi sebagai single parent, termasuk membayar babysitter. Lo terlalu mudah berpikir karena berstatus lajang. Jadi, jangan menyuruh gue pergi dari sini untuk hal yang nggak lo pikirkan sebelumnya.”

“Tanggung jawab gue lebih besar dibandingkan lo ... anak manja,” desis Agnes berlalu dari ruangan dan menutup kasar pintu.

Titania tertegun dan beralih dengan senyum tidak sempurna. Ia merasa diinjak harga diri, dipermalukan oleh Agnes setelah sebelumnya Titania puas melihat Agnes di ruang rapat.

“Sial!” umpat Titania menyugar kasar rambutnya.

“Berani-beraninya dia menghina gue,” ucap Titania mengetukkan heels, merasa darah perempuan itu mendidih dan emosi yang tidak stabil.

Titania akan membuat perhitungan pada Agnes di lain waktu. “Gue nggak pernah mau berada di bawah tekanan lo, Agnes. Tunggu ... gue pastikan lo akan keluar dari resort ini,” lanjutnya berlalu cepat, meninggalkan ruangan memuakkan bagi Titania.

**

Gerald melihat santai rekaman yang menunjukkan seorang perempuan berjalan menuju ruang kerjanya, tergesa.

Hari ini ia datang tidak dengan kepala tertunduk sambil mengusap bulir air mata. Tepat di hari kedua, perempuan itu datang membawa berkas dan beberapa data pendukung mengenai kesalahan event minggu lalu.

“Stok daging dari pabrik baru datang tiga hari lalu dari supplier, Pak. Artinya, daging tersebut masih sangat layak dikonsumsi dan sudah diolah dengan sangat baik.”

“Mengenai pemeliharaan bagian alat di lapangan, semua sudah di service berkala,” sambung Agnes menunjukkan beberapa lembaran pada Gerald.

“Tidak sepenuhnya kesalahan berada di tim saya dan mereka sudah melakukan sebaik mungkin.”

“Apa kamu tidak membaca lengkap kelayakan makanan di resort ini?”

Agnes tertegun.

Ia melihat Gerald menunjukkan berkas lain di sisi tangan kanan pria itu, menyodorkan tepat di hadapan Agnes. “Silakan dibaca saksama.”

Di sana, seluruh peraturan dan kesalahan teknis tidak bisa ditolerir. Termasuk stok daging yang masuk haruslah maksimal dua hari setelah tiba di gudang produksi dan dimasak tidak lebih dari dua hari juga.

Bahkan, Agnes menerima dan membaca konsekuensi dari tiap pelanggaran—kesalahan ringan, sedang dan berat—tergantung dari pemilik resort yang baru. “Ini ... bukan aturan yang saya baca hampir enam bulan lalu.”

Gerald menaikkan sebelah alisnya. “Apa maksud kamu?”

“Sekarang kamu dan karyawan dari divisi lain berada di bawah naungan saya, bukan Bapak Liam Ogawa, selaku Ayah saya.”

“Jadi, peraturan ini sudah direvisi lama, dua minggu sebelum jabatan ini saya ambil alih,” tekannya dan membuat Agnes membeku.

“Kamu memang nggak pernah layak berada di resort ini, Agnes Zefanya.”

“Janda anak satu yang merepotkanku dan merusak reputasi dari salah satu aset terpenting keluargaku. Kamu pikir, aku mau menampung perempuan bodoh seperti kamu?”

Dada Agnes terasa sesak.

Pelupuk matanya kembali berair.

Ucapan Gerald terlalu sakit dirasakan Agnes dalam satu minggu terakhir, termasuk ketika hari ini usahanya tidak dihargai. Perubahan secara mendadak tanpa Agnes ketahui sama sekali, dilakukan Gerald sesuka hati.

“Mau kamu apa, Ge?” suara Agnes tampak bergetar.

“Mauku? Kamu keluar dari sini.” Ia menekan tajam untuk bagian yang selalu diharapkan Gerald.

Agnes menggeleng tegas.

Ia sudah berusaha sebaik mungkin sejak satu hari lalu, mengumpulkan beberapa bukti dan keyakinan akan diberikan kesempatan sekali lagi. Karena Agnes meyakini kinerjanya tidaklah buruk setelah akan genap enam bulan di sini.

“Kamu egois dan kamu semena-mena dengan jabatan barumu. Apa kamu pikir, aku karyawan baru dalam hitungan hari? Selama enam bulan aku berada di sini dan baru minggu lalu ... aku mengetahui kamu anak dari pemilik resort ini, lalu berakhir dengan masalahku selalu dipandang cacat sama kamu,”

“Seharusnya bagus, kan? Kamu bisa sadar kalau kamu nggak perlu ada di sini, satu ruang rapat dan beberapa hal lain yang memungkinkan aku sama kamu dalam keadaan yang sama? Karena dari awal aku membenci kehadiran kamu.”

“Aku masih membiarkan kamu pergi dari resort ini tanpa mengganti uang ganti rugi.”

“Nggak. Aku masih memiliki anak yang harus kupertahankan kehidupannya. Kesempatanku masih ada untuk berada di sini, dilihat dari track record.”

“Aku bakal bertanggungjawab untuk kesalahanku, tapi kasih aku kesempatan sekali lagi.”

Ucapan tegas Agnes menghadirkan tarikan senyum Gerald di sudut bibirnya. “Ini artinya, kamu harus tidur denganku.”

Agnes membeku, merasa ucapan Gerald dua hari lalu hanyalah bualan dan ia merasa pria itu tidak akan pernah melakukannya sama sekali.

“Kamu ....”

“Kenapa? Lupa? Kamu udah nggak terikat sama pria mana pun. Kenapa harus kelihatan kaget dan takut? Siapa yang akan marah?”

“Bukannya kamu juga udah nggak ada harga diri lagi?” tanya dirut itu sekali lagi.

Tubuh Agnes gemetar.

Dadanya bergemuruh kuat kembali diberi luka oleh Gerald. “Apa di mata kamu, aku memang nggak ada harga dirinya lagi, Ge, meskipun kita pernah bersama di masa lalu?”

Pertanyaan tersebut memantik kebencian Gerald.

Rahang pria itu mengetat dan wajah Gerald berubah menggelap. Kedua tangan pria itu mengepal di atas meja bersama deru napas melihat sorot terluka yang dilayangkan Agnes.

“Satu luka yang aku goreskan ke kamu. Tapi lebih dari satu luka yang kamu kasih ke aku? Seburuk itu aku di mata kamu, Ge?”

“Sangat tepat. Karena aku ingin menghancurkan tubuh dan perasaan kamu mulai detik ini, Agnes.”

“Hanya ada dua pilihan.”

“Pergi dari jabatan yang sudah kamu ambil selama hampir enam bulan ini. Atau tidur denganku semalam.”

“Karena perempuan murahan, selayaknya diperlakukan serupa.”

Gerald menilik Agnes dengan tatapan merendahkan.

“Pengkhiatan kamu aku balas dengan kenikmatan. Aku rasa itu nggak buruk dan justru ... menjadi keuntungan tersendiri buat kamu yang nggak pernah disentuh pria manapun lagi.”

**

Agnes menangis di pinggir pantai. Deburan ombak tidak akan membuat tangisnya sampai terdengar orang lain.

Ia sendiri.

Memeluk kedua lutut dan membiarkan angin malam menusuk kulit tubuhnya yang hanya memakai dress selutut.

Kedua bahu Agnes berguncang. Perempuan itu menenggelamkan wajah di antara lutut, merasa kalimat perih itu menggema di telinganya.

Pria yang berstatus Atasannya begitu kuat ini menghancurkan diri Agnes. Gerald seolah ingin membuka masa lalu di antara keduanya dan di saat itu ... menjadi titik rendah kehidupan percintaan Agnes.

Luka delapan tahun lalu, ternyata tidak mengering sempurna.

**

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cintanya Bersinar Dalam Kegelapan
9.4
Julian dulu terabaikan dalam hidup Sienna, meski dialah pencuri ciuman pertama gadis itu saat gelap. Ketika takdir meruntuhkan dunia Sienna dan memaksanya menikahi pria lain, Julian kembali. Namun, ia tidak lagi lemah. Kini sebagai pria berkuasa, Julian hadir di titik terendah Sienna untuk melindunginya. Lewat lamaran pernikahan yang penuh keyakinan, ia siap membuktikan bahwa cinta tulusnya tiada tanding.
Sampul Novel Di Antara Tangis Anakku dan Diam Suamiku
9.8
Kiyano sekarat di koridor rumah sakit usai dipaksa menyerahkan jantungnya demi Sheilla, cinta pertama suaminya. Di ambang ajal, putra mereka yang berusia enam tahun memohon pertolongan sang ayah. Alih-alih peduli, sang suami menuduh istrinya berbohong dan mengusir anak mereka. Demi menyelamatkan ibunya, bocah itu menyerahkan Kalung Penjaga Umur miliknya untuk menyewa kamar. Namun, Sheilla sengaja menghalangi kamar tersebut demi menempatkan anjing peliharaannya atas izin suaminya.
Sampul Novel Di Nikahi Majikan
9.3
Kehidupan Ana mendadak berubah setelah sang majikan melamarnya secara tiba-tiba. Pria kaya itu merasa hanya Ana yang selalu setia mendampinginya, bahkan hanya masakan buatannya yang cocok di lidahnya. Di tengah kesibukan Bella, pria itu justru memilih melamar asisten rumah tangganya sendiri. Namun, Ana didera kebimbangan besar karena statusnya yang masih seorang siswi sekolah. Akankah ia menerima pinangan tersebut demi masa depan yang penuh ketidakpastian?
Sampul Novel Gairah Liar Sang CEO
9.7
CEO Rafael Aditya Syahreza yang gemar berganti kekasih menjebak Vanessa setelah sebuah ketidaksengajaan di ranjang. Siapa sangka, Vanessa adalah pacar Adrian, adik kandung Rafael sendiri. Hubungan ini dimanfaatkan Rafael demi memuaskan hasrat sekaligus menuntaskan dendam masa lalu. Akankah ia berhasil merebut Vanessa dari sang adik? Bagaimana nasib Vanessa saat tahu dirinya hanya alat balas dendam, dan mampukah ia menerima kenyataan pahit itu?
Sampul Novel Hakikat cinta yang kau nodai
9.1
Delapan tahun Hana bersabar memaafkan perselingkuhan Devan yang terus berulang, hingga akhirnya ia memilih bercerai. Di tengah kepedihan, muncul Rama, pewaris saleh dari Abimana Group yang membawa ketenangan. Namun, hubungan mereka terbentur status janda dua anak yang disandang Hana dan ketatnya hierarki bisnis keluarga Rama. Akankah anak-anak Hana menerima kehadiran Rama, atau justru Devan yang kembali datang mengejar mantan istrinya?
Sampul Novel ISTRI SIMPANAN CEO
8.0
Almaira, seorang wanita lajang nan menawan, nekat menjadi istri simpanan Daffa, CEO tambang yang kaya raya. Meski bergelimang harta, Daffa merasa hampa karena sang istri sah belum juga memberinya keturunan. Terdesak kebutuhan ekonomi, Almaira pun bersedia memenuhi hasrat pria itu. Namun kini, ia justru terjebak dalam dilema moral dan batin yang mendalam, mempertanyakan kebahagiaan hidupnya yang hanya dianggap sebagai pemuas nafsu suami orang.