APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jauhkan kain putih itu Dariku

Jauhkan kain putih itu Dariku

Terbangun dengan napas memburu dan tubuh gemetar, Alana dilingkupi ketakutan akibat mimpi buruk. Tatapannya terpaku pada kain putih di sudut kamar saat keringat dingin membasahi wajahnya. Bagi Alana, objek itu bukan benda biasa, melainkan pemicu teror mistis di luar nalar. Ia bertekad menyingkirkan kain tersebut karena kehadirannya selalu membawa petaka, meski orang lain menganggap warna putih sebagai simbol kesucian dan kebaikan.
Bab
Bagikan

Bab 1

Di dalam bangunan rumah dua lantai yang tidak terlalu besar, Alana tinggal bersama kedua orang tuanya, dan kedua adiknya, Adzriel dan Qiara.

Alana Ramdhani, itu adalah nama lengkapnya, Alana sekarang berusia 23 tahun, dia sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri jurusan Arsitektur, semester Akhir.

Suara derap langkah Alana terdengar di atas lantai kayu jati, dia sedang menuju kamarnya untuk tidur, dia segera mematikan lampu kamar dan membaringkan badannya di atas ranjang, jarum jam menunjukkan pukul 02.33 malam, remang cahaya bulan menerobos menuju kamar Alana melewati jendela kamarnya yang tiba-tiba terbuka,

“Praak!”

“Wush.”

Suara napas Alana terengah-engah, sekali lagi Alana mengalami mimpi buruk, keringat mengalir deras dari pelipisnya menuju leher, badannya bergetar hebat, kepala Alana bergerak ke kiri dan ke kanan secara terus-menerus,

“Aku sedang berada di mana?” ucapnya.

Alana berjalan melewati sebuah lorong panjang rumah sakit menuju jalan raya, kepulan asap putih menghalangi jarak pandangnya, angin berhembus kuat di sekeliling Alana, membuat jendela rumah sakit terbuka dan tertutup dengan tiba-tiba, pandangan Alana tertuju pada papan nama rumah sakit yang terlihat kotor di penuhi debu dan beberapa bagiannya sudah penyok, terlihat tanaman liar menjalar di papan nama rumah sakit,

Rumah Sakit Permata. “Mengapa rumah sakit ini sangat sepi tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini?” gumamnya sambil berjalan menuju gerbang rumah sakit, mobil ambulan yang bertandang di parkiran rumah sakit tampak kotor dan penyok di bagian belakang.

Alana memegang tengkuknya yang meremang, tiupan angin terasa berhembus di telinganya.

“Astagfirullahal’adzim.” Dengan sigap dia menoleh ke belakang, namun tidak ada siapapun yang berada di sekitarnya. Alana mengedarkan pandangannya dengan liar, sesosok wanita bergaun putih lusuh rambut panjang menjuntai aur-auran berdiri di sudut rumah sakit. Belum sempat memperhatikan wajahnya, Alana berbalik dan berjalan secepatnya menuju gerbang. Perasaan takut menyelimuti Alana, tubuhnya gemetar, sosok bayangan putih sekilas melintas dari hadapan Alana, tidak jauh dari posisi Alana memijakkan kakinya, di depannya, seorang anak kecil berdiri dengan pakaian lusuh memeluk boneka. Anak perempuan itu melambaikan tangannya memanggil Alana, wajahnya sangat pucat, kedua matanya bolong, dalam sekejap mata anak itu berpindah posisi ke depan Alana, dan memegang tangan Alana,

“Aaaaa!”

Saat Alana sedang berusaha melepaskan pegangan anak perempuan itu dari tangannya, anak itu tiba-tiba menghilang dari hadapan Alana, dengan napas terengah-engah, dia berusaha berlari menjauh dari rumah sakit kosong tak terpakai.

***

“Alana! Alana bangun!” ucap ibunya, sambil menggoyangkan tubuh Alana. “Qiara tolong ambilkan air minum!” ucap ibu kepada Qiara-adik perempuan Alana.

“Baik, Bu,” ucapnya sambil berjalan menuju dapur.

Kedua mata Alana terbuka lebar, ia terbangun dari mimpinya dengan napas yang tersengal-sengal dan badan yang bergetar.

“Bu ….” Suaranya terdengar lemah dan serak. “Alana mimpi buruk lagi,” ucapnya.

“Ya, ibu tahu, suara mengigau kamu terdengar sampai ke kamar ibu dan Qiara,” ucap ibu sambil memeluk anak sulungnya.

Qiara berjalan memasuki kamar Alana membawa satu gelas air putih, dan langsung memberikannya kepada Alana, dia segera meminumnya hingga tetesan terakhir.

“Ya sudah, lebih baik sekarang kamu mengambil wudhu dan salat malam,” ucap ibunya seraya berjalan keluar dari kamar Alana.

“Ya, Bu,” jawab Alana.

Alana berjalan menuju kamar mandi dengan rasa takut yang masih menyelimutinya, memutar keran lalu membasuh mukanya hingga kaki, dengan berwudhu dengan tertib, lalu berdo'a di luar kamar mandi. Dia mengambil mukena miliknya yang tergantung di dalam lemari, kemudian menunaikan salat tahajjud.

“Allahuakbar.”Seruan takbir menjadi tanda bahwa Alana sudah memulai salatnya, sekitar 15 menit berlalu, dua rakaat salat tahajjud sudah selesai Alana laksanakan. Setelah berdo' a dia menyimpan kembali mukenanya ke dalam lemari.

Alana melihat ke arah jendela yang terbuka lebar. "Rasanya aku sudah menutup jendela dengan rapat sebelum aku beranjak tidur, tapi kenapa jendela ini bisa terbuka dengan sendirinya,” ucapnya bergumam.

Alana segera menutup jendela dengan rapat, dia melihat ke luar jendela, tapi hanya terdengar gonggongan anjing yang terdengar sangat mengerikan.

“Auuuuu!”

Tidak mau berlama-lama di dekat jendela dia beranjak ke tempat tidur untuk berbaring dan menarik selimutnya. Alana menatap ke arah kain berwarna putih yang tergantung di sudut ruangan. Dia merasa seolah seseorang sedang memperhatikannya dari balik kain warna putih, dia memberanikan diri untuk kembali menuju stop kontak dan menyalakan lampu kamarnya. Kain berwarna putih itu adalah sarung yang di gantungnya tadi sore.

“Ada apa dengan kain putih ini, mengapa aku merasa seolah ada energi negative yang menyerap energiku, setiap kali ada kain putih ini di sekitarku. Entah itu mimpi buruk atau kejadian mistis,” ucap Alana sambil menggantung kembali kain putih itu ke tempat semula.

“Hah, tidak mungkin, pikiranku pasti salah, bagaimana mungkin kain putih membawa energi negative untukku, sementara kain ihram untuk ibadah haji saja berwarna putih. Lebih baik aku membuang jauh pikiran burukku mengenai kain putih ini, dan melanjutkan tidurku,” ucap Alana dalam hati.

Alana kembali ke tempat tidur tanpa mematikan lampu kamar. Dia mengambil ponsel yang di letakkannya di atas meja dekat ranjang, satu pesan masuk dari Citra belum terbaca oleh Alana, citra adalah teman satu kampus dan satu kompleks dengannya, “Alana sore ini aku berangkat ke rumah keluargaku di Sukamulya untuk empat hari ke depan,” ucapnya.

“Bukankah tadi malam aku berjalan bersama Citra di gang sebelah? Kalau citra ke rumah keluarganya sore tadi, lantas aku bersama siapa tadi malam?” ucap Alana dengan mulut menganga, bagaimana bisa?

Alana ingin menelepon Citra, namun ini masih waktu tengah malam, jam menunjukan tepat pukul 03.00 dini hari.

“Ehem!”

“Ehem!”

Suara orang berdehem terdengar keras dari luar kamar Alana, dia menajamkan pendengarannya. Namun suara itu sudah tidak terdengar lagi, rambut tangan Alana berdiri, bulu kuduknya meremang. Dengan lampu yang masih menyala, dia tidur bersembunyi di balik selimut.

“Kukuruyuk!”

“Kruyuk!”

Suara kokok ayam tetangga sebelah membangunkan Alana dari tidurnya, ponselnya masih berada dalam genggaman tangannya, suara azan subuh terdengar dari speaker masjid, dia melihat jam di layar ponselnya sudah menunjukkan waktu subuh,

“Alana ayok bangun, salat subuh Nak, kita salat berjama'ah sama bapak,” ucap ibunya terdengar dari balik pintu.

Alana mengumpulkan semua keberanian, berjalan menuju pintu dan memutar gagang pintu kamarnya.

“Krieet ….”

Ibunya berdiri di depan pintu dengan wajah yang basah, “Ya Bu, sekarang Alana segera menyusul ke mushalla (masjidul bait),”ucap Alana sambil melangkah menuju lemari untuk mengambil mukena.

“Cepat Alana, bapak sudah menunggu kita,”ucap ibunya seraya berjalan menuju mushalla.

Alana segera mempercepat langkahnya untuk mengambil air wudhu dan mengenakan mukenanya, dan menunaikan salat berjama'ah bersama keluarganya.

“Assalamu'alaikum warahmatullah.”

“Assalamu'alaikum warahmatullah.”

Pagi menjelang, fajar mulai tampak, Alana sedang membantu ibunya memotong sayur yang sedari tadi sedang mencuci piring. “Yang cepat sedikit Nak masaknya, bentar lagi bapak berangkat kerja, dia harus sarapan,” ucap ibunya.

“Bu, tadi malam waktu Alana sedang membaringkan badan, suara orang berdehem terdengar dari luar kamar Alana, apa semalam ibu berjalan melewati kamar Alana?”tanya Alana.

“Tidak Alana, selesai membangunkan kamu dari mimpi buruk, semalam ibu langsung masuk ke dalam kamar, ibu tidak kemana-mana lagi,”jawab ibu yang sedang sibuk mencuci piring di wastafel.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ibuku Kuyang?
8.2
Kecurigaanku memuncak saat Ibu tiba-tiba enggan makan bersama kami. Suasana desa pun makin mencekam dengan rumor hilangnya bayi-bayi secara misterius. Keanehan berlanjut karena setiap tengah malam, Ibu selalu menghilang tanpa jejak. Rahasia gelap apa yang sebenarnya dia sembunyikan? Aku mulai meragukan sosok yang telah melahirkanku tersebut. Apakah dia benar-benar manusia biasa, ataukah sesosok siluman mengerikan?
Sampul Novel Kisah Cinta di Batukarut
8.6
Lihar kini memimpin bisnis pasir di Batukarut, menggantikan Pak Ajat yang diam-diam menaruh dendam. Didampingi Dadun dan Om Joni, Lihar harus menghadapi sabotase pekerja serta teror mistis garam misterius yang memicu kecelakaan beruntun. Di tengah kekacauan itu, hubungan asmaranya dengan Yeti retak akibat kehadiran Erom hingga memicu konflik warga. Meski sukses mempertahankan bisnisnya dari serangan gaib, Lihar harus menerima kenyataan pahit saat kariernya stabil namun kisah cintanya hancur.
Sampul Novel My Ghost
8.4
Syafira akhirnya paham mengapa apartemennya disewakan dengan harga miring. Di balik ketakutan para tetangga, hunian itu dihuni hantu tampan yang justru memikat hatinya. Alih-alih lari, fantasi romantis Syafira malah membuncah saat merasakan dekapan dingin sang arwah. Namun, benturan logika dua dunia perlahan mulai mengusik pikirannya. Akankah jalinan asmara beda alam ini berujung bahagia seperti kisah-kisah fiksi yang kerap ia tulis?
Sampul Novel Rahasia Gelap Istriku
9.7
Demi menuruti desakan ibunya untuk segera menikah, Satria memilih meminang Kinanti. Wanita itu adalah janda mendiang Pak Lurah yang meninggal secara janggal. Kinanti menerima lamaran tersebut, tetapi dengan satu syarat ganjil: Satria dilarang menemaninya di kamar belakang tiap malam Jumat Kliwon. Meski awalnya setuju demi cinta, Satria mulai didera rasa penasaran yang besar. Ia pun bertekad mengungkap misteri mengerikan yang disembunyikan sang istri di dalam ruangan itu.
Sampul Novel Terlahir Kembali: Menyelamatkan Anakku Dari Sahabatku
8.6
Saat sahabatnya mengalami kerontokan rambut parah, sang protagonis menolak meminjamkan ASI miliknya. Sahabatnya kemudian membeli ASI terinfeksi dari internet hingga tertular penyakit. Menyalahkan penolakan tersebut, sang sahabat menyusup ke rumah dan mencekik anak perempuan protagonis hingga tewas menggunakan rambutnya. Setelah membalas dendam secara brutal, sang ibu tiba-tiba terbangun dan kembali ke masa lalu, tepat di hari saat permintaan ASI itu pertama kali diajukan.
Sampul Novel The Dawson Clan
9.6
Terasing di kegelapan, Cliff harus bertahan hidup dengan darah dan menjauhi matahari. Wafatnya sang ibu menuntunnya pada kenyataan bahwa ia adalah vampir blasteran klan Dawson yang mulia. Namun setelah bersatu dengan keluarga sang ayah, ia malah diasingkan dan terlibat asmara terlarang dengan tunangan saudaranya. Saat sebuah malapetaka hebat menyulut amarahnya, Cliff bertransformasi menjadi pemburu kejam yang bersumpah untuk memusnahkan seluruh silsilah darah Dawson.