APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jauhkan kain putih itu Dariku

Jauhkan kain putih itu Dariku

Terbangun dengan napas memburu dan tubuh gemetar, Alana dilingkupi ketakutan akibat mimpi buruk. Tatapannya terpaku pada kain putih di sudut kamar saat keringat dingin membasahi wajahnya. Bagi Alana, objek itu bukan benda biasa, melainkan pemicu teror mistis di luar nalar. Ia bertekad menyingkirkan kain tersebut karena kehadirannya selalu membawa petaka, meski orang lain menganggap warna putih sebagai simbol kesucian dan kebaikan.
Bab
Bagikan

Bab 2

“Tapi semalam Alana mendengar suara wanita sedang berdehem Bu, dua kali berturut-turut suara itu terdengar keras dari luar kamar Alana, karena merasa takut, Alana menarik selimut dan segera tidur,” ucap Alana sambil memotong satu papan tempe.

“Ibu tidak mendengar apapun Alana, mungkin itu karena kamu sedang merasa gelisah sebab mimpi buruk yang kamu alami. Jangan terlau di pikirkan,”ucap ibu bergegas mengambil wajan untuk menggoreng tempe yang ada di tangan Alana.

Flashback.

Sekitar jam delapan malam, Alana memasuki ruang kelas untuk mengikuti kelas design, dosen menjelaskan materi di depan kelas, kemudian memberikan tugas design,

“Bapak pulang duluan, karena ada tugas mendadak di luar jam kampus, bapak memberikan kalian mengumpulkan tugas sampai jam 10 malam di loket administrasi kampus. Kumpulkan tugas kalian kepada Pak Danang, jika lewat jam 10 malam atau kalian kumpulkan esok pagi, maka tugas kalian tidak akan bapak terima, bapak anggap kalian tidak mengerjakan tugas,” tukasnya lalu berjalan keluar dari ruangan kelas Alana.

“Huu!”

Sekeluarnya dosen dari ruangan Alana, ruang kelas Alana menjadi sangat ribut. Semua teman sekelasnya sibuk mengerjakan tugas, mereka tidak mau jika dianggap tidak mengerjakan tugas, untuk itu sebelum jam 10 malam, mereka sudah harus menyelesaikan tugas, termasuk Alana.

Kampus Alana mulai sepi, hanya terdengar suara riuh dari ruang kelasnya, sementara ruang kelas lain sudah pulang. Satu-persatu teman Alana keluar mengumpulkan tugas menuju loket administrasi. Alana segera berjalan membawa tugasnya menuju loket administrasi bersama temannya Lara, lampu lorong sudah dimatikan, kampus sangat sepi yang membuat kesan horror makin terasa menakutkan. Alana dan beberapa teman sekelasnya berlari keluar menuruni tangga, menuju parkir kendaraan. Alana menyalakan mesin motornya dan mengendarai motornya untuk pulang.

Ketika sampai gerbang kampus, palang kampus sudah tertutup, petugas satpam shift malam segera membukakan gerbang untuk mereka. “Terimakasih, Pak,” ucap Alana sambil kembali melajukan motornya, satpam hanya membalas Alana dengan senyuman.

Tepat di dekat gerbang, hanya berjarak beberapa meter dari gerbang kampus, pohon beringin besar berdiri tegak di tikungan jalan kampusnya. Lara sudah lebih dulu mengendarai motornya, dia terlihat melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, suasana malam itu semakin mencekam, dengan rasa takut Alana berteriak meminta Lara untuk mengunggunya.

“Lara tunggu!” ucapnya sambil melajukan motornya mencoba untuk mengejar Alana, tiba-tiba suara tangis bayi terdengar dengan keras di tikungan kampus di bawah pohon beringin,

“Oek! Oek!”

Alana tersentak mengingat ucapannya, pasalnya di tikungan ini tidak boleh mengatakan kata tunggu. Alana mencoba untuk melanjutkan laju kendaraannya dan mengabaikan suara yang di dengarnya. Dari spion motornya dia melihat sesuatu terbang di atasnya, sesosok wanita bergaun putih, yang tiba-tiba saja menghilang dari spion. Sesaat setelah itu, tiba-tiba saja kedua belah pundak Alana terasa berat, seperti ada yang menariknya, tengkuknya meremang, badannya terasa berkeringat. Lara yang dikejar sudah tak terlihat, sepertinya Lara tidak mendengar teriakan Alana.

“Ya Allah, mengapa pundakku teras berat,” ucap Alana seraya membaca bacaan Al-Qur’an sebisanya. Karena dalam kondisi seperti ini seolah bacaan yang ada di otaknya hilang begitu saja, dia lekas melafadzkan takbir, “Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar” hingga awalan ayat kursi mengalir dari bibirnya begitu saja.

“Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum. Laa ta’khudzuhuu sinatuw wa laa naum. Lahuu maa fis samaawaati wa maa fil ardh. Man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa bi idznih. Ya’lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum. Wa laa yuhiithuuna bi syai-im min ‘ilmihii illaa bi maa syaa-a. Wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardha wa laa ya-uuduhuu hifzhuhumaa Wahuwal ‘aliyyul ‘azhiim.”

Sampai Gapura Universitas pundaknya sudah tidak terasa berat lagi, rasa takutnya mulai berkurang. Suasana jalan raya lebih ramai jika dibandingkan jalanan beraspal menuju kampusnya. Alana terus mengendarai motornya menuju rumah, sampai di gang komplek rumahnya, Citra berdiri melambaikan tangannya. Alana menghentikan motornya.

“Kamu ngapain jam segini di sini Citra?” tanya Alana mengerem kendaraannya.

“Aku bara saja menjenguk bayi Mba Asih, dia pulang tadi dari sore dari rumah sakit,” jawab Citra, dia menaiki jok belakang motor Alana. “Tolong antar aku ke rumah Alana,” ucapnya membetulkan posisi duduknya.

Citra terlihat membawa satu bungkus bakso. “Kamu beli bakso di mana Citra, memang ada mamang bakso masih keliling jam setengah 11 seperti ini?” ucap Alana menancap gas motornya dan meluncur menuju rumah citra yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.

“Tadi aku beli bakso di mang bakso yang biasa mangkal di depan lapangan bulutangkis di depan sana Alana, waktu balik dari rumah Mba Asih,” ucapnya.

Sepersekian menit berlalu, Alana sampai di depan rumah Citra, saat Citra sudah turun dari motor Alana. Dia gegas melajukan motornya menuju rumahnya, yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari rumah Citra.

Sampai di rumah, Alana segera memasukan motornya ke dalam garasi. Dia masuk melalui pintu belakang rumahnya. Untuk yang kedua kalinya Alana merasakan pundaknya terasa berat, dia segera masuk ke dalam rumah, rumahnya sangat gelap.

“Assalamu’alaikum Bu, Alana pulang,” ucap Alana sambil menekan stop kontak lampu di pinggir jendela.

“Wa’alaikumussalam, kenapa baru pulang jam 11 malam Alana? Bisa tidak pulang dari kampus jangan kelayapan, kamu itu perempuan Alana, tidak baik perempuan pulang malam jam segini,” jawab Ibu Alana berjalan keluar dari kamar.

“Maafkan Alana Bu, ini salah Alana tidak memberitahukan ibu. Tadi di kampus ada kelas yang mengharuskan Alana untuk pulang jam 10 malam. Alana harus mengerjakannya malam ini juga, jika tidak tugas Alana di anggap gugur Bu,” terang Alana menjelaskan.

“Dosen kamu siapa, kok bisa mahasiswa dipulangkan jam 10 malam,” ucap ibu bergedumel.

“Dosen Alana namanya Pak Syahril, Bu, dia termasuk dosen killer di kampus Alana,” ucapnya meyakinkan ibunya.

“Sebelum tidur jangan lupa wudhu dulu, jika pulang larut malam seperti ini, barang kali ada makhluk halus yang mengikuti kamu di kampus atau mungkin di perjalanan. Makan malan sudah ada di meja makan, setelah makan langsung tidur,” ucap Ibu Alana masuk menuju kamarnya, dia menyalakan lampu dan televisi di dalam kamar, dan membesarkan volumenya.

Alana berjalan menuju meja makan, dia membuka tudung saji, ayam goreng dengan sambal lalapan terhidang di meja makan. Dia gegas mengambil piring, satu sendok nasi dari bakul berpindah dengan cepat ke piring Alana, tidak beberapa lama, makan malam Alana sudah selesai. Ibu Alana masih menonton televise di dalam kamar dengan pintu yang terbuka lebar.

“Bu, Alana naik dulu,” ucapnya seraya menaiki tangga dari kayu jati menuju kamarnya.

Sampai di kamar dia masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu sebelum tidur seperti yang di perintah ibunya.

***

Alana memberikan potongan tempe kepada ibunya, lalu masuk ke dalam kamar untuk mengambil handuk kimono yang di simpannya di dalam kamar.

“Ya sudah Bu, Alana mau siap-siap berangkat ke kampus,” ucap Alana dia masih kekeh dengan apa yang di dengarnya.

‘Tidak mungkin itu hanya reaksi dari rasa takutku, masalahnya deheman itu terdengar sangat jelas di telingaku,’ ucapnya dalam hati, sambil menggaruk kepalanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DANGEROUS MAN
9.8
Athur Paker, CEO ternama sekaligus mahasiswa, menyembunyikan sisi gelap yang haus darah. Kehidupan dinginnya berubah total saat ia terobsesi pada Shena, gadis ceria yang berani menolak ajakannya. Tak menerima penolakan, Athur memakai paksaan untuk mengklaim Shena. Kini, hidup damai Shena hancur dalam jeratan sang psikopat tanpa jalan keluar. Di tengah penderitaan itu, rahasia masa kecil mereka mulai terkuak. Akankah identitas asli Athur membawa petaka baru bagi masa depan Shena?
Sampul Novel Dendam dan kehilangan
9.1
Hidup Ardian, seorang polisi muda berprestasi, seketika hancur saat sang istri tercinta, Mira, ditemukan tewas secara tragis. Mira yang bekerja sebagai wartawati kriminal gugur di tengah tugasnya meliput kasus pembunuhan berantai, kasus yang juga sedang ditangani oleh Ardian. Di depan jasad Mira dan sang ayah mertua, Ardian mengucap sumpah setia untuk mengungkap misteri ini. Ia bertekad memburu sang pelaku dengan tangannya sendiri guna menuntut balas atas kematian istrinya.
Sampul Novel Jahatnya Pacar Kakakku
9.5
Rencana menghadiri festival musik bersama sahabat berubah menjadi mimpi buruk mengerikan dalam novel horor ini. Akibat salah paham, kekasih Calvin mengunci sang protagonis di toilet, menuduhnya menggoda pacar orang, lalu menyiksanya secara sadis. Korban disiram air pel, ditampar, dilucuti, hingga kulitnya disolder dengan tulisan hinaan. Saat Calvin tiba, adiknya sudah tidak dikenali lagi, sementara pelaku berdalih mengira korban hanyalah adik angkat, bukan adik kandung Calvin.
Sampul Novel Misteri Desa Purnama
8.8
Niat Aldi melepas penat kuliah di Desa Purnama yang sunyi berujung petaka. Kedatangannya di sana justru membangkitkan kekuatan supranatural misterius dari dalam dirinya. Kini, ia terjebak di tengah rentetan teror gaib mencekam yang berada di luar nalar manusia. Akankah Aldi berhasil selamat dari ancaman mistis di desa terpencil tersebut, ataukah perjalanan liburan ini akan selamanya menjadi mimpi buruk yang tiada akhir?
Sampul Novel Rahasia Kelam Suamiku
8.8
Mimpi burukku dimulai di sebuah vila Puncak. Di sana, aku mendapati adik Baskara yang dikira telah tiada rupanya masih hidup. Suami dan orang tuaku bahkan merawat anak hasil hubungan gelap mereka. Lima tahun lamanya aku diperalat demi menutupi skandal keji ini. Kini, Baskara berniat menjebloskanku ke rumah sakit jiwa. Usai membakar vila itu untuk kabur, aku terpaksa bersekutu dengan rival terbesar suamiku demi membalas pengkhianatan mereka.
Sampul Novel RAHASIA SANG BODYGUARD
8.3
Hidup Kinara berubah menjadi teror mengerikan. Demi keselamatan, ia menyewa bodyguard tampan bernama Satria. Meski begitu, Nara tetap waspada karena baginya ketampanan adalah tipu daya. Saat Satria mulai mendekatinya, sebuah rahasia gelap perlahan terungkap. Identitas asli sang pengawal ternyata adalah Ghazi Ammar Fahrezi, sosok misterius yang terhubung erat dengan trauma masa lalu Nara yang sangat kelam.