APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istriku selingkuh

Istriku selingkuh

Bagaimana jadinya saat wanita yang paling kucintai justru mengkhianati pernikahan kami? Kenyataan pahit bahwa istriku telah berselingkuh seketika meruntuhkan seluruh kepercayaan yang selama ini kurawat dengan sepenuh hati. Kini, di tengah luka batin yang teramat perih dan gejolak emosi yang membara, aku dituntut untuk mengambil keputusan besar. Aku harus segera menentukan arah dan masa depan rumah tangga kami yang kini tengah berada di ambang kehancuran.
Bab
Bagikan

Bab 2

BAB 2:

Manuver Terakhir

Suara tegas terdengar memecah keheningan di anjungan, bercampur dengan deru mesin tugboat dan denting peralatan navigasi.

"LEFT twenty..." seru sang pilot kapal berkebangsaan Tiongkok.

"Left twenty..." Prast, sebagai juru mudi, mengulang komando itu dengan lantang dan yakin, memutar roda kemudi sesuai instruksi.

Kapal kargo raksasa itu bergerak perlahan, membelah air keruh pelabuhan. Dua tugboat, seperti anjing penjaga yang setia, membantu mendorong dan menarik lambung kapal agar sandar dengan mulus ke dermaga. Prast masih berdiri tegak di balik kemudi, matanya fokus, menunggu komando berikutnya.

"Ship steady..."

"Ship steady..." Prast selalu mengulang setiap perintah, memastikan komunikasi berjalan sempurna.

Sudah bertahun-tahun ia melakoni peran ini. Sejak masih bujangan, hingga kini ia telah berstatus ayah. Tangannya cekatan, gerakannya efisien. Namun, kali ini ada perasaan berbeda. Ini adalah pelabuhan terakhirnya. Hari ini, ia dan beberapa rekan kerjanya akan sign off-turun kapal-dan kembali ke rumah. Penggantinya sudah dijadwalkan tiba.

Saat kapal akhirnya terikat kuat di dermaga, Prast menghela napas lega, senyumnya mengembang. Tugasnya selesai. Ia menuruni tangga dari anjungan, membawa serta tas berisi harapan.

Janji di Ruang Tunggu

Wajah Prast bersinar bahagia, seolah memancarkan cahaya dari tiket pesawat di tangannya: Shanghai-Jakarta. Namanya, Prastian Utama, tertulis jelas di sana.

Beberapa jam kemudian, ia dan teman-temannya sudah duduk menunggu panggilan boarding. Mata Prast menyapu kawan-kawannya, yang rata-rata terlihat letih namun bahagia. Pandangannya terhenti pada Davin, Mualim Satu kapal, yang duduk di depannya dengan tatapan kosong yang disamarkan senyum tipis.

"Chief!" panggil Prast pelan.

Davin menoleh dan tertawa kecil. "Panggil nama aja, Bro. Sudah selesai dinas, kita sekarang cuma penumpang biasa."

"Vin," Prast merendahkan suaranya, "Jadi, gimana rencana lo buat bini lo? Lo bilang sudah dapat gambaran."

Senyum Davin melebar, senyum yang terasa sedikit getir tapi penuh tekad. Sejak ia berbagi cerita panjang lebar dengan Prast beberapa waktu lalu, Davin seakan telah menerima dan mempersiapkan diri.

"Jadi... gue sudah tahu pasti apa yang harus gue lakukan. Gambarannya sudah jelas."

Prast maju sedikit, penasaran. "Gimana rencananya? Ceritain dong."

Davin menggeleng pelan. "Nanti saja kalau sudah di Jakarta kita ketemuan. Biar waktunya leluasa, kita bisa ngopi santai." Ia mencondongkan badan. "Gue sudah nyusun rencana... dan yang pasti gue butuh bantuan lo, Prast."

Prast langsung menepuk bahu Davin. "Lo butuh gue bantu, bilang aja. Ready!"

"Elu bantu gue ya?" tanya Davin, menatap lurus ke mata Prast.

"Siap!" jawab Prast tegas sambil tersenyum lebar. Janji telah terucap.

Senyum yang Menyimpan Rahasia

Waktu berjalan cepat. Setelah transit di Changi, para pelaut itu akhirnya keluar dari Bandara Soekarno-Hatta. Wajah mereka begitu ceria, walaupun lelah setelah menempuh perjalanan panjang dari Shanghai. Aroma khas Jakarta menyambut mereka.

Di tengah hiruk pikuk area penjemputan, Prast dan Davin berpisah. Hanya Prast yang dijemput keluarganya. Istrinya, Santi, sudah berdiri menunggu.

"Mas Prast!" sapa Santi sambil memeluk. Matanya beralih ke Davin. "Mas Davin, apa kabar? Lama nggak ketemu!"

"Baik, Mba Santi. Alhamdulillah. Kalian apa kabar?" jawab Davin ramah.

Sambil berbasa-basi, Santi sempat melontarkan pertanyaan yang menusuk hati Davin. "Kok nggak dijemput Mba Sabrina, Mas?"

Davin hanya menjawab dengan senyuman yang teramat tipis. Prast melihat senyum itu dan mengerti. Ia maklum dengan masalah yang sedang terjadi di keluarga Davin. Ia juga tidak menceritakan masalah Davin kepada Santi. Ia tidak mau istrinya berubah pandangan terhadap Sabrina, karena Santi dan Sabrina sudah akrab.

Sepanjang persahabatan Prast dan Davin, istri-istri keduanya pun menjadi akrab. Tak jarang keluarga mereka liburan bersama. Tak pantas juga menceritakan keburukan tentang Sabrina ke istriku... batin Prast. Biarlah Santi tetap menganggap keadaan rumah tangga sahabatnya baik-baik saja.

"Oke, Prast, gue pamit dulu," ucap Davin. Ia menoleh ke Santi. "Mbak, pamit yaa."

"Hati-hati, Mas. Salam buat Sabrina yaa," sahut Santi tulus.

Davin mengangguk. Prast memajukan tubuhnya. "Jadi besok ya, Vin? Abis Dzuhur?"

"Sip! Assalamu'alaikum," kata Davin sambil mengangkat tangan, memberikan kode bentuk OK.

"Waalaikumsalam," jawab Prast dan Santi bersamaan.

Pertanyaan di Dalam Mobil

Begitu Davin menjauh, Santi langsung menatap suaminya, meminta penjelasan.

"Memang mau kemana besok, Mas sama Davin?" cecar Santi.

Prast tersenyum. "Oh, besok cuma mau tukar dolar barengan, Sayang. Terus sekalian ke kantor laporan."

Rencana Prast bertemu Davin besok sebenarnya lebih dari sekadar menukar dolar dan ke kantor. Mereka berdua hendak membahas dan menuntaskan masalah keluarga Davin. Tentu lebih baik Santi tidak mengetahui masalah itu.

"Mas, kok tukar dolar sama Davin?" rajuk Santi. "Biasanya kan sama aku."

"Hehe. Davin yang ngajakin, Sayang. Nggak enak Mas tolak," Prast beralasan.

Santi memanyunkan bibirnya. "Takut yaa dolarnya diambil aku?"

"Haha. Kagalah, Say. Nanti juga kamu kebagian," jawab Prast gemas, sambil mengusap kepala istrinya.

Prast merangkul Santi, mengajaknya segera pulang karena malam semakin larut. Ini pertama kalinya ia dijemput hampir tengah malam, sehingga Santi tidak membawa serta anak mereka. Dalam perjalanan pulang, Prast hanya duduk di kursi penumpang, membiarkan Santi yang mengemudi.

Tidak banyak obrolan, hanya ungkapan rindu yang terucap. Sesekali Prast menutup matanya, membayangkan kehidupan yang akan terjadi di keluarga Davin, sahabatnya.

Semoga masalah di keluarga Davin tidak terjadi di keluarganya. Prast sudah sepuluh tahun berumah tangga dengan Santi dan dikaruniai seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun.

Santi adalah wanita luar biasa di mata Prast. Meski tak cantik-menurut standar umum-ia adalah tipe istri yang mandiri. Ia tidak sepenuhnya mengandalkan gaji suaminya yang pelaut. Sembari mengurus anak, ia juga berjualan kue secara online. Kemandirian itu juga ia ajarkan pada anaknya.

Buatku sebagai pelaut, menikahi wanita yang tidak terlalu cantik ada keuntungan tersendiri. Godaan dari luar jika wanita cantik hidup sendiri tentu lebih besar. Itu yang membuatnya tidak terlalu khawatir meninggalkan Santi.

Mungkin karena kecantikan itu pula yang membuat terjadinya masalah di keluarga Davin... batin Prast. Tapi pasti ada masalah lain sehingga Sabrina bisa berbuat seperti itu. Ini yang nanti harus ia bicarakan besok dengan Davin.

"Mas!" sentak Santi, membuyarkan lamunan Prast.

"Ehhh, yaa?"

"Mau mampir nggak ke McD? Kita supper?" tanya Santi, saat mobil mulai keluar dari jalan tol.

"Nggak usah, Yang... Langsung pulang aja. Udah ngebet nih..." Prast tersenyum nakal.

Santi balas menatap genit. "Ngebet ngapain, Mas?"

"Kangenlah... ha ha!"

Keheningan Hotel

Akhirnya Prast sampai di rumah. Ia menengok anaknya yang sudah tertidur lelap. Ia tidak membangunkannya-meski rindu-karena besok pagi anaknya harus sekolah.

"Mau teh ya, Mas?" tawar Santi.

"Boleh, Yang," sahut Prast, merebahkan badannya di sofa.

Rasanya tenang setelah delapan bulan bekerja, kini ia kembali berada di rumah. Apa Davin merasakan hal yang sama ya? batin Prast.

Diambilnya ponsel.

(Prast): Assalamu'alaikum, Bro. Gue sudah di rumah. Gimana elu?

(Davin): Waalaikumussalam... hahaha, gue kaga pulang, Bro! sahut Davin, diiringi suara tawa yang terdengar agak dipaksakan.

(Prast): Lhaaa?? Terus lu ke mana?

(Davin): Gue nginep di hotel.

(Prast): Sabrina gimana? Dia nggak tahu? cecar Prast, penasaran.

(Davin): Dia nggak tahu gue sudah pulang. Gue nggak kasih kabar juga kalau gue pulang. Dia tahunya gue masih onboard di kapal... jelas Davin. Biarin aja, sekalian gue juga mau jalanin rencana gue.

(Davin): (menggoda) Elu sini aja, nginep di rumah gue...

(Prast): Nggak lah! Nanti gue malah gangguin elu. Elu kan mau kangen-kangenan sama bini lu... hahaha!

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bangkitnya Istri yang Terbuang
8.2
Dian sangat terpukul saat Radit mengusirnya dengan kejam dan melempar koper bajunya. Sikap sang suami berubah drastis dan menyakitkan, terlebih dengan kehadiran wanita lain yang memandangnya penuh kebencian. Di tengah kondisi hamil delapan bulan, Dian harus menerima kenyataan pahit dicampakkan. Ia sempat memohon belas kasih demi bayi di kandungannya, tetapi Radit tetap tega mengusir sang istri tanpa peduli nasib calon anaknya.
Sampul Novel CEO itu Tunanganku
8.8
Dua puluh tahun Melisa setia menunggu cinta pertamanya hingga ia hampir mati rasa. Ketika mencoba bangkit, ia malah dimanfaatkan pria licik. Sementara itu, Rommy pulang sebagai pria sukses yang mapan namun masih memendam kepedihan masa lalu. Rommy pun datang untuk meminang Melisa. Sayangnya, pinangan itu ditolak karena Melisa tidak tahu tentang perjodohan masa kecil mereka. Di tengah berbagai ujian hidup, akankah kebenaran takdir masa lalu ini sanggup menyatukan kembali cinta mereka?
Sampul Novel Istri Idaman Tuan Ares
8.1
Pernikahan paksa tanpa cinta adalah mimpi buruk bagi siapa saja. Takdir pahit ini harus dijalani oleh Ares dan Anggun yang dipersatukan dalam perjodohan tanpa rasa. Meski batin mereka menolak keras, tidak ada jalan keluar untuk melarikan diri dari situasi pelik ini. Mereka terpaksa tunduk pada komitmen pernikahan yang tak diinginkan, karena tidak ada satu pun alasan kuat yang mampu membatalkan ikatan sakral tersebut.
Sampul Novel Makmum Kedua Suamiku Sahabat Baik ku
8.4
Kehidupan Aisyah hancur seketika saat sang suami meminta restu untuk menikahi sahabat karibnya. Demi mempertahankan rumah tangga, ia rela dimadu meski hatinya sangat terluka. Sayangnya, keputusan itu justru membawanya pada penderitaan baru. Suaminya berubah menjadi dingin, kasar, dan enggan memberikan kasih sayang. Di tengah cercaan dan ketidakadilan yang terus menerpa, sanggupkah Aisyah bertahan dalam pernikahan poligami ini?
Sampul Novel Menantu Yang Diusir Keluarga Suaminya
8.3
Zaireen harus berbagi rumah warisan mendiang ayahnya dengan Elvano dan mertuanya. Alih-alih bahagia, ia justru menjadi korban penindasan di kediamannya sendiri. Puncak kepedihannya tiba ketika sang suami berselingkuh, bahkan mendapat restu dari keluarganya. Tidak ingin terus diinjak-injak, Zaireen memutuskan untuk berhenti menangis. Kini, ia siap bangkit merebut kembali harga dirinya dan menghancurkan mereka semua lewat cara yang elegan.
Sampul Novel Pelaminan Tanpa Mempelai
9.3
Sebagai sekuel Enam Tahun Tanpa Malam Pertama, kisah ini menyoroti kepedihan seorang wanita akibat dosa masa lalu orang tuanya. Kehidupannya hancur saat sang kekasih pergi meninggalkannya di hari pernikahan. Takdir rumit kemudian menyeretnya ke dalam ikatan rumah tangga bersama putra dari musuh bebuyutan keluarganya. Mampukah ia bertahan menghadapi pernikahan yang penuh konflik dan dilema batin mendalam ini?