APKDock Logo
Sampul Novel Istri Yang Tak Dirindukan

Istri Yang Tak Dirindukan

9.5 / 10.0
Lima tahun lamanya seorang istri setia menanti kepulangan suaminya yang merantau. Selama itu, ia hanya menerima nafkah ala kadarnya yang dititipkan melalui tetangga tanpa kabar pasti. Namun, penantian panjang itu berakhir tragis saat sang suami pulang membawa kejutan pahit. Bukannya melepas rindu, ia justru menjatuhkan talak demi wanita lain yang telah dinikahinya secara diam-diam hingga memiliki anak. Sebuah pengkhianatan yang menghancurkan hati.

Istri Yang Tak Dirindukan Bab 1

"Mas Anan!"

Saat wajah lelaki yang kurindukan selama lima tahun kini datang menemuiku tepat berdiri di hadapanku.

Lelaki yang sangat kurindukan bertahun-tahun merantau kini telah pulang dengan membawa kesuksesan. Ia pulang dengan membawa mobil mewah bermerek dan memakai pakaian rapi. Seperti pekerja kantoran dan di tangan kirinya tersemat jam bermerek berharga mahal. Ia pulang membawakan oleh-oleh untuk kedua anakku.

"Mas," panggilku lembut.

Lelaki yang kurindukan masih tak bergeming menatap rumah yang dulu ia tinggalkan masih tetap sama, reot dan sudah tua. Bahkan tambalan atapnya pun masih terlihat bocor kala hujan datang dengan deras membasahi bumi.

"Mas Anan," panggilku lagi. "Lihatlah anak kita sekarang sudah besar! Nara putri kita, sudah berumur lima tahun sejak kepergianmu. Dia cantik bukan? Habib juga sudah berumur sepuluh tahun sejak Mas pergi merantau meninggalkan kami," ucapku sembari menggendong Nara putri bungsuku.

Mas Anan meraih Nara yang ada dalam gendonganku. Ia memeluk dan mencium Nara bertubi-tubi sembari meneteskan air mata. Mas Anan sudah lima tahun merantau di kota Jakarta. Ia tidak pernah sekali pun pulang kerumah gubuk tuaku. Tiap bulan hanya mengirimkan uang belanja yang ia titipkan pada tetanggaku yang kebetulan berdekatan dengan tempat tinggalnya. Jika aku rindu padanya maka aku akan meminjam telepon tetangga untuk menanyakan kabarnya.

"Ayi, aku hanya pulang sebentar untuk mengabarimu. Tapi, bukan untuk kembali padamu," ucapnya kemudian.

"Maksudnya?"

"Ayi Fradila, mulai sekarang kau, aku bebaskan dari kewajibanmu. Aku menalakmu. Surat perceraian segera akan aku urus. Masalah biaya kamu tidak usah kawatir aku yang akan menanggung semuanya," lanjutnya.

Jantungku berhenti berdetak seketika mendengar ucapan talak dari lelaki yang kurindukan selama bertahun-tahun. Bagai anak panah tepat mengenai jantungku, kata-kata talak itu membuat tubuhku lunglai seketika. Bak petir menyambar di siang hari Mas Anan dengan begitu mudah menjatuhkan kata talak tepat di hari kedatangannya.

Selama lima tahun aku menunggunya di sini kembali. Saat ia datang hanya menghadiahiku talak. Lelaki bertubuh tinggi dan berkulit putih tersebut telah memberiku dua orang anak. Saat ia pamit merantau untuk mengadu nasib putri bungsuku masih berumur tiga bulan. Dan yang sulung berumur lima tahun.

Masih kuingat saat melepas kepergiannya berjanji akan segera kembali membawa keberhasilan hidup yang lebih baik dan akan membawaku beserta kedua buah hati kami jika ia sukses dan bisa mempunyai rumah yang lebih layak dari yang sekarang aku tempati.

Rumah yang aku tempati adalah rumah peninggalan kedua orang tuaku yang sudah reot dan bocor di sana-sini. Dindingnya pun sudah lapuk digerogoti rayap. Para tetangga yang iba membantuku memperbaiki ala kadarnya dengan menempel dinding yang keropos dengan papan bekas seadanya.

"Dek, Mas pamit merantau. Jaga baik-baik anak kita! Jika nanti aku kembali dan berhasil akan kubawa kalian pindah ke rumah yang lebih bagus dari ini," ucapnya sembari mencium keningku.

"Sebenarnya aku keberatan Mas pergi merantau. Kami masih membutuhkanmu di sini Mas. Apalagi Nara masih berumur tiga bulan, ia masih membutuhkan kasih sayang ayahnya," kataku sembari menangis.

Dengan lembut Mas Anan mengusap air mataku yang menetes di pipi. Sementara Nara, bayi mungilku masih dalam gendongannya.

"Percayalah padaku. Aku akan kembali menjemputmu dan anak-anak jika sudah berhasil. Do'a'kan aku selamat sampai ke tujuan dan berhasil. Agar bisa membahagiakanmu dan anak kita berdua," bisiknya lembut.

Aku mengangguk. "Iya, Mas."

Kupeluk tubuh lelaki yang sangat kucintai selama lima tahun sudah menemani perjalanan hidupku mengarungi bahtera rumah tangga. Kulepas kepergiannya di ambang pintu bersama kedua permata hatiku. Mas Anan pergi dengan menumpang pada sebuah mobil pik up milik tetanggaku yang mengantar dan menjual barang dagangnya ke Jakarta tiap bulan.

Tetanggaku punya bisnis menjual buah pisang ke Jakarta setiap satu bulan sekali ia pasti akan menjual barang dagangannya bila sudah ada yang meminta banyak. Tidak hanya buah pisang yang menjadi bisnisnya, tapi juga buah jeruk yang ia ambil dari petani jeruk yang ada di daerah Berastagi. Kulepas kepergian lelaki yang sangat aku cintai dengan derai air mata. Senja itu menjadi kelabu saksi bisu melepas kepergian Mas Anan merantau ke kota Jakarta.

"Asalamualaikum, Bunda," ucap Habib yang baru pulang mengaji dari rumah Ustaz Rahman.

Ucapan salam Habib membuyarkan lamunanku.

"Waalaikumsalam, Nak," jawabku. Segera kuhapus air mata yang sedari tadi menggenang di pipiku dengan menggunakan hijab syar'i yang aku pakai.

Habib segera menyalamiku dengan tazim dan memciumnya. Begitu pula dengan Mas Anan tak lupa ia salami dan mencium punggung tangannya.

"Ayah," seru Habib.

Segera saja Habib menghambur dalam pelukkan ayahnya. Kerinduan yang sudah bertahun-tahun ia nantikan untuk bertemu dengan ayahnya kembali kini telah terobati. Sayang hari ini adalah hari terakhir ia akan memeluk ayahnya, karena setelah ini Mas Anan akan kembali ke Jakarta.

"Nak, kamu sudah besar dan tampan sekali. Ayah, bangga melihatmu menjadi anak sholeh. Tetaplah seperti ini! Jadilah anak yang berbakti pada orang tua," ucap Mas Anan mengusap rambut Habib.

"Ayah, aku sangat merindukanmu. Bunda juga," celotehnya. "Ayah, pasti pulang untuk menjemput Bunda dan kami' kan?"

Mas Anan menghela napas berat. "Maafkan Ayah, Nak. Ayah, kembali bukan untuk menjemput kalian. Tapi ...." Mas Anan menjeda ucapannya.

"Tapi, apa Yah?" tanya Habib penasaran.

"Ayah, kesini karena ingin bercerai dengan Bunda."

Aku hanya berdiri di pojokkan ruang tamu yang berukuran sempit sembari menyembunyikan tangisku. Aku tidak ingin kelihatan lemah di hadapan anak lelakiku.

"Nak, ayahmu hanya sebentar ke sini. Setelah ini ia akan kembali ke kota Jakarta. Setelah kamu besar nanti kamu bisa menemuinya di kota Jakarta," selaku.

Memberi pengertian padanya agar dia tidak berkecil hati karena ayahnya setelah ini tidak akan pernah kembali ke sini.

"Tapi, kenapa Bunda?" tanyanya lagi. "Ayah, barusan saja kembali sudah mau pergi lagi. Emang Ayah gak sayang sama kita?"

Ucapan Habib terasa menusuk-nusuk jantungku dengan ribuan jarum runcing yang tajam. Aku berusaha setegar mungkin di hadapan kedua buah hatiku agar tidak kelihatan lemah. Mas Anan hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan Habib. Meskipun Habib hanyalah seorang bocah berumur sepuluh tahun tahun tapi Habib sangat cerdas. Di kelas satu sampai sekarang, ia selalu mendapat juara satu umum dalam semua mata pelajaran. Dalam mengaji Habib juga di percaya Ustadz Rahman untuk mewakilinya mengajar anak di bawah umurnya.

Setiap bulan Ustaz Rahman akan membayarnya dengan upah ala kadarnya sebagai jasa telah membantu meringankan pekerjaanya. Kami setiap hari hanya bertahan hidup dari pengiriman Mas Anan yang hanya dua ratus ribu per bulan. Itu pun ia kirim lewat tetangga Pak Nurmin yang biasa menjual barang dagangnya ke Jakarta melalui penyeberangan Lampung pelabuhan Bakauheni.

Tentu saja aku tidak bisa hanya mengandalkan hasil uang kiriman Mas Anan yang berjumlah sedikit. Setiap hari aku harus mengambil cucian warga Kampung dan menyetrikanya hingga rapi barulah mendapat upah untuk mencukupi kebutuhan dapur. Untuk biaya yang lainnya membayar uang sekolah Habib atau pun membayar tagihan listrik tiap bulan aku harus menjual kue dan menitipkannya ke warung-warung tetangga barulah bisa terbayar itu pun kadang kue buatanku banyak yang sisa.

Jika sudah sore hari barang daganganku tidak laku, aku akan memberinya pada anak panti yang di pimpin oleh Ustaz Rahman. Letak panti tersebut di ujung jalan kampung.

"Nak, Ayah dan Bunda sekarang sudah bercerai. Kami tidak akan mungkin bersatu kembali," jelas Mas Anan.

"Ayah, bercerai itu apa?" tanya Habib polos.

Mas Anan terdiam. Dia tidak mampu menjawab pertanyaan Habib yang mampu menohok hatinya. Dengan susah payah ia menelan salivanya.

"Sayang, suatu hari nanti kamu akan mengerti jika sudah besar," potongku memberi penjelasan.

Kuraih tubuh kurus Habib yang tinggi dan memeluknya dengan erat, tanpa terasa air mataku mengalir deras, sementara putri kecilku masih bermain dengan boneka pemberian ayahnya. Putri kecilku Nara tak sedikit pun bertanya tentang Mas Anan, karena memang sedari kecil ia tidak pernah melihat wajah Ayah kandungnya.

Berbeda dengan Habib yang saat itu sudah berusia lima tahun, ia sudah bisa mengenali wajah ayahnya. Hatiku terasa teriris-iris dengan pisau merasakan sakit dan perih yang begitu dalam saat lelaki tampan di hadapanku dengan mudah menghadiahiku talak.

Selama lima tahun lamanya aku menunggu kedatangannya kembali, tapi saat ia datang bukan manisnya cinta atau terobatinya rindu yang membara, aku dapatkan. Tapi kata talak yang ia hadiahkan.

"Nak, ini hadiah dari Ayah untukmu," Mas Anan mengeluarkan bungkusan dari peper bag dan memberikannya pada Habib. "Pakailah untuk mengaji!"

Sepasang baju koko dan peci hitam di keluarkan dari peper bag yang ia bawa tadi. Mas Anan memberikan Habib baju koko baru lengkap dengan pecinya. Ia memberikan baju itu pada Habib. Lalu, menghujani Habib dengan ciuman.

"Maafkan Ayah, Nak. Ayah belum bisa membahagiakanmu. Setelah kamu besar nanti Ayah harap kamu akan mengerti dan memaafkan Ayahmu ini," ucap Mas Anan lirih.

Setelah itu ia beringsut dari tempat duduknya hendak meninggalkan gubukku.

"Ayah," panggil Habib. Mas Anan seketika menoleh kebelakang dan menghentikan langkahnya.

"Jaga Bunda dan adikmu Habib! Jadilah anak yang sholeh dan membanggakan orang tua." Mas Anan mengucapkan kalimat itu dengan mata yang berkaca-kaca. Sedetik kemudian ia berlalu keluar dari gubukku dan masuk ke dalam mobil mewahnya.

Habib mengejar ayahnya yang sudah memasuki mobil dan memanggil nama Mas Anan dengan nyaring.

"Ayah, jangan pergi! Kami merindukanmu," ucapnya sambil berlari mendekati mobil Mas Anan.

Namun, Mas Anan tidak menghiraukan panggilan Habib yang memanggilnya sembari mengetuk pintu mobilnya. Mas Anan malah menutup kaca mobilnya dan melajukan menjauh dari gubukku.

Sekilas kulihat di mobilnya duduk seorang wanita cantik berkacamata hitam duduk di sebelahnya dengan tersenyum tipis. Mas Anan sudah mempunyai wanita lain yang lebih cantik hingga memilih membuangku dan meninggalkanku dengan anak-anak.

Kupeluk Habib yang masih menangis melepas kepergian ayahnya. Lambat-laun mobil Mas Anan hilang menjauh sampai yang terlihat hanya seperti titik hitam.

***

Bersambung.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Istri Yang Tak Dirindukan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel 66 Kali, Aku Tak Lagi Mencintaimu
8.8
Setelah enam puluh enam kali melamar, Vincent akhirnya berhasil meluluhkan hati pasangannya di upaya ke-67. Di awal pernikahan mereka, sang istri menyiapkan enam puluh enam kartu maaf yang bisa digunakan Vincent setiap kali ia berbuat salah. Namun selama enam tahun berumah tangga, Vincent terus-menerus memicu kemarahan istrinya demi membela teman masa kecilnya, hingga kartu-kartu itu perlahan habis dihapus. Saat kartu ke-64 digunakan, Vincent baru menyadari ada perubahan dingin yang tidak biasa.
Sampul Novel Malaikat dalam Gaun Baru
9.0
Jiwa seorang wanita berpindah secara ajaib ke dalam raga istri seorang miliarder kaya raya. Di balik kemewahan tersebut, ia hanya menerima perlakuan dingin dari sang suami. Situasi kian rumit ketika mantan kekasih suaminya hadir kembali, memicu tuntutan perceraian. Ia pun memilih pergi dengan lapang dada. Namun, perpisahan ini justru menjadi titik balik tak terduga yang mendekatkan mereka kembali dalam takdir cinta yang baru.
Sampul Novel Paper Mind
9.6
Demi bahagia, tiap orang punya cara sendiri melupakan luka masa lalu. Namun, bagaimana jika ingatan akan jati diri sendiri mendadak hilang tanpa bekas? Di sudut lain, ada yang harus terjebak selamanya bersama trauma terburuk tanpa bisa melupakannya. Lewat persimpangan batin ini, kita diajak memahami bahwa memori bukan sekadar lembaran masa lalu, melainkan fondasi paling krusial yang menentukan arti hidup sekaligus eksistensi sejati manusia.
Sampul Novel Pengantin Bekas CEO
9.1
Malam pertama Nadine hancur oleh hinaan sang suami, yang ternyata hanya kedok untuk menutupi perselingkuhannya. Usai bercerai, ia harus menghadapi cemoohan orang-orang karena status jandanya. Namun, takdir berubah saat seorang CEO kaya raya datang untuk meminangnya. Walau Nadine merasa tidak layak bersanding dengannya akibat masa lalu tersebut, sang miliarder rupanya telah lama mengincarnya. Kini, ia siap membuktikan ketulusan cintanya sekaligus membungkam para pencela Nadine.
Sampul Novel Perawatan Khusus untuk Ibu Hamil
9.4
Terjebak dalam pelukan hangat seorang pria misterius, protagonis wanita dalam novel modern ini tidak berani bergerak sedikit pun saat sentuhan intim mulai membakar gairahnya. Di saat yang sama, majikannya dan sang kekasih sedang bermesraan di kamar sebelah. Suara bisikan menggoda di telinganya memicu hasrat terlarang yang sulit dikendalikan. Di tengah situasi yang menegangkan ini, ia mulai mempertanyakan kewarasannya saat keinginan serupa mulai tumbuh dalam dirinya.
Sampul Novel Terapis Pembawa Petaka
8.7
Di pusat pemulihan pasca-persalinan, seorang istri menghadapi terapis yang tiba-tiba bersikap agresif saat suaminya yang merupakan manajer umum kaya datang menemani. Terapis itu terus menyindir fisik sang istri, menuduhnya operasi plastik hingga melarangnya menyusui. Ketika pasangan ini mengabaikannya dan mulai mendiskusikan nama bayi pertama mereka, sang terapis justru memotong pembicaraan dengan klaim mengejutkan bahwa sang istri sebenarnya sudah pernah melahirkan anak sebelumnya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan