APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Tuan Jhason

Istri Tuan Jhason

Pascapenyelamatan dirinya oleh Jhason, kehidupan Kara berubah sepenuhnya hingga kini mereka bertunangan. Sayangnya, hubungan mereka diterpa banyak ujian berat yang mengancam kebersamaan itu. Keadaan kian pelik ketika mantan pacar Kara mendadak hadir kembali. Pertemuan dengan masa lalunya ini memicu gejolak batin yang hebat pada Kara, memancing keraguan mendalam untuk terus berkomitmen dan setia mendampingi Jhason.
Bab
Bagikan

Bab 2

Mentari telah bersinar kini gadis cantik itu sudah ceria lagi dan tidak terasa ia pun sudah satu bulan bekerja di rumah Tuan Jhason, Kara dialah gadis yang di selamatkan oleh Jhason saat di rumah bordil.

Seharian ini Kata di sibukkan oleh Kakak senoirnya dan membuatnya lelah tidak ada waktu untuk istrahat, Kara hanya bisa menggangukan kepalanya saja karena dialah yang paling muda di antara yang lainnya.

Seperti hari ini saat semua pelayan telah selesai dengan tugasnya tetapi tidak dengan Kara ia masih harus mengantarkan pakaian yang sudah selesai di setrika oleh pelayan lain lalu kepala pelayan Susi menyuruh Kara untuk mengantarkan pakaian milik Tuan Jhason.

Sebenarnya Kara ingin sekali menolak permintaannya tetapi kepala pelayan Susi memohon kepadanya, dan mau tidak mau Kara harus mengantarkan pakaian milik Tuan Jhason. Menarik napas dalam sebelum Kara masuk ke dalam kamar Tuan Jhason, ia pun mengetuk pintu terlebih dahulu dan sudah dia puluh menit Kara menunggu tetapi pintu belum di buka juga.

Dia pun mencoba membuka handel pintu perlahan menyembulkan kepalanya ia ingin tahu apa Tuan Jhason ada di dalam atau tidak, terdengar suara gemercik air di kamar mandi lalu Kara menghembuskan napas lega.

Akhirnya Kara pun masuk ke dalam kamar Tuan Jhason lalu ia pun meletakan pakaiannya, baru saja ia akan melangkah keluar lalu ada yang memanggilnya.

"Siapa kau?" ujar Jhason dengan menatap datar Kara.

Mendengar hal itu langkah kaki Kara pun terhenti lalu ia pun membalikkan badannya dengan sedikit membungkuk.

"Sa-saya Kara, Tuan." ucap Kara dengan tubuh bergetar."Tuan yang menyelematkan saya di rumah bordil itu."ucap Kara dengan menundukkan kepalanya.

Jhason sedikit mengerutkan keningnya lalu ia pun melangkahkah kakinya mendekati Kara yang sedang gugup, Jhason hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya hingga terlihat jelas roti sobek yang di idamkan seluruh kaum hawa.

Salah satu tangan Jhason menempel pada tembok dan tangan satu lagi memegang dagu Kara, ia ingin melihat sepolos apa gadis yang ia selamatkan perlahan-lahan Kara pun menatap wajah tampan Jhason dengan raut wajah yang begitu membingungkan bagi Jhason.

Dia melihat mata Kara sudah berkaca-kacs bahkan jika berkedip pun maka air mata itu siap meluncur bebas, sedangkan Kara sudah ketakutan melihat wajah Jhason yang menurutnya menakutkan.

"Bukankah wanita suka seperti ini." ucap Jhason ia memegangi dagu Kara dan juga menatapnya begitu dalam.

"Tuan, aku masih kecil bisakah kau lepaskan aku." jawab Kara dengan takut.

Lalu Jhason pun segera melepaskan tangannya dari dagu Kara dan Kara pun bisa bernapas lega, lalu ia pun menundukkan kepalanya dan bergegas keluar dari kamar Jhason.

Sebelum Kara menghilang di balik pintu Jhason pun memanggilnya kembali dan membuat langkah kaki Kara terhenti.

"Siapa namamu?" tanya Jhason memastikan.

"Kara, Tuan." jawab Kara, lalu ia pun tersenyum manis dan berlalu pergi.

Jhason pun menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti dan tersenyum manis.

"Kara."

***

Sementara di kediaman Albert seorang pria paruh baya dan juga istrinya sedang membicarakan tentang masa depan putranya, hingga saat ini putranya pun belum juga menikah dan hal itu membuat kedua orang tuan renta itu harus berpikir kerasa bagaimana ia bisa mendapatkan jodohnya.

"Papa, bagaimana nasib putra kita, bahkan sampai sekarang pun ia belum menikah. Dia masih belum bisa melupakan mantan kekasihnya itu dan membuatku begitu khawatir." ucap wanita paruh baya itu yang begitu khawatir.

"Kau tenang saja, jika sampai hari ini anak itu belum mendapatkan jodohnya maka aku akan mengaturnya." ucapnya lalu memeluk erat sang istri.

Tak butuh waktu lama orang yang mereka tunggu akhirnya datang juga lalu sepasang suami-istri itu tersenyum manis. Seseorang pun dan para pelayan saling menunduk hormat.

Lalu kepala pelayan menghampiri dan sedikit membungkukkan badannya."Selamat malam Tuan Muda, anda sudah di tunggu oleh Nyonya."

"Baiklah, terima kasih Paman Zhang."

Dia pun melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga dan di sana kedua orang tuanya sudah menunggu kedatangannya, setelah menyelesaikan pekerjaan di kantornya ia pun di telepon untuk segera pulang ke rumah. Dan mau tidak mau pun ia akhirnya datang juga dengan sedikit paksaan dari sang ibu yang telah melahirkannya.

"Akhirnya kau datang juga Jhason." ucap Nyonya Ervina dengan tersenyum manis.

Jhason pun mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan ia pun segera duduk di hadapan kedua orang tuanya. Sedangkan Tuan Albert menatap datar ke arah putranya.

"Bisakah kau tidak bersikap seperti itu." ucap Tuan Albert menatap sang putra.

Jhason pun menjawab dengan entengnya dan membuat Tuan Albert kesal tetapi Nyonya Ervina melerainya, karena ada hal yang lebih penting daripada pertengkaran mereka berdua.

"Karena aku adalah kau, Papaku tercinta." jawabnya datar.

"Kau selalu saja."ucapan Tuan Albert pun langsung di potong oleh Nyonya Ervina.

"Cukup itu tidak penting, ada hal yang lebih penting." ucap Nyonya Ervina menatap keduanya dengan serius.

Jika Nyonya Ervina sudah mengatakan hal seperti itu maka kedua pria itu terdiam dan mulai mendengarkan apa yang akan di katakan oleh Nyonya Ervina.

"Papa dan Mama sudah memutuskan jika kau akan di jodohkan dengan teman Mama, dan Papamu setuju. Jadi besok kau bersiaplah untuk bertemu dengan calon istrimu." ucap Nyonya Ervina menatap Jhason.

"Cck merepotkan." gumamnya, lalu Jhason pun terpikirkan sesuatu dan ia pun memberi tahu kedua orang tuanya."Aku sudah punya calon, Mama. Jadi kalian saja yang datang ke rumahku."

Mendengar hal itu pun kedua orang tua Jhason langsung melotot dan mereka berdua pun memastikan kembali dengan ucapan Jhason. Jhason pun mengangguk setuju, kedua orang tuanya pun bisa bernapas lega jika besok pagi kedua orang tua Jhason akan datang ke rumahnya.

Hari pun semakin sore lalu Jhason memutuskan untuk pulang ke rumahnya, bahkan ia tidak mau menginap di rumah orang tuanya dengan alasan pekerjaannya masih banyak.

Nyonya Ervina sebenarnya tidak setuju dengan keputusan Jhason tetapi Jhason terus meyakinkan Nyonya Ervina, dan Nyonya Ervina pun luluh mau menuruti kemauan Jhason.

Kini mobil Jhason sudah terpakir di garasi lalu ia pun melangkahkan kakinya danasuk ke dalam, lalu kepala pelayan Susi pun menghampiri sang majikan. Dan ia pun membawakan tas kerja milik Jhason.

Jahson pun duduk di sofa ruang keluarga dan ia pun menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah, setelah menaruh tas kerja milik Jhason lalu kepala pelayan Susi segara ke dapur ia pun membuatkan minuman untuk Jhason.

Jahson pun menerimanya dan ia pun mulai bertanya tentang Kata yang seharian di rumahnya, lalu kepala pelayan Susi pun mengatakan semuanya dan tanpa sadar ada senyuman tipis di sudut bibir Jhason yang tidak terlihat.

"Baiklah, kau boleh istirahat kepala pelayan." ujar Jhason, ia pun segera bangun dari duduknya.

"Baik Tuan, selamat malam."

Jhason pun menganggukkan kepalanya saja, lalu ia pun melangkahkan kakinya menaikk anak tangga menuju kamarnya, lalu ia pun masuk ke dalam kamar.

"Semoga ini keputusan yang benar."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Rahasia Sang Presdir
8.2
Kehidupan Ariana hancur akibat pengkhianatan ibu tirinya, memaksanya menjadi ibu pengganti bagi miliarder berhati dingin. Usai melahirkan, sang presdir dengan kejam merebut bayinya agar tidak perlu terikat pernikahan. Namun, seiring berjalannya waktu, kebekuan hati pria itu mulai mencair. Di tengah kepedihan dan perpisahan paksa tersebut, benih cinta tak terduga perlahan tumbuh di antara mereka, perlahan mengubah dendam menjadi kehangatan.
Sampul Novel Bukan Kisah Peterpan Tinkerbell
8.6
Haera merenungkan analogi Peter Pan yang membahagiakan Wendy tanpa bisa bersamanya, mirip hubungan idola dan penggemar. Namun, sudut pandangnya berubah saat membahas Tinker Bell yang setia. Di tengah proses menulis, ia menyadari bahwa meski Wendy tak tergapai, Tinker Bell akan selalu mendampingi Peter Pan. Ini adalah kisah tentang ketulusan serta perasaan mendalam yang tersimpan rapat di balik kedok persahabatan.
Sampul Novel Gadis Nakal Itu Milikku
9.4
Grace terduduk tak berdaya, hancur setelah dipermalukan oleh Edward. Keangkuhan yang biasa ia miliki kini sirna sepenuhnya. Di sela tangisan Grace, Edward datang mendekat, mendekapnya dengan erat sembari meminta maaf. Ia berterus terang bahwa amarahnya tersulut akibat cemburu melihat kebersamaan Grace dengan Kevin. Walau sempat kehilangan kendali, Edward akhirnya menyadari kekacauan hatinya. Ia pun mengecup kening Grace, mencoba mengutarakan rasa sesak di dada yang selama ini tak ia mengerti.
Sampul Novel Hati Seorang Perempuan
9.3
Senjahari Semesta Alam dengan ikhlas merelakan dirinya diceraikan oleh suaminya sendiri demi menikahi Mega Mentari--anak perempuan pemilik perusahaan yang mengaku dihamili oleh suaminya sendiri, Abimanyu Wicaksana. Sementara itu Halilintar Sabda Alam-- kakak sulung Mega Mentari. Pemilik beberapa perusahaan properti raksasa negeri ini, jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Senja, yang diperkenalkan oleh mertuanya sebagai adik bungsu Abimanyu. Abimanyu yang merasa dijebak sebagai kambing hitam dalam masalah hamilnya Tari, terus berusaha mencari kebenaran yang sesungguhnya agar bisa meraih kembali hati Senja. Sementara Sabda yang awalnya jatuh cinta pada Senja, menjadi salah faham saat secara tidak sengaja memergoki Abimanyu memesrai Senja bukan seperti seorang kakak terhadap adiknya, melainkan seperti seorang laki-laki yang tengah mabuk asmara. Sabda yang gelap mata malah akhirnya menjebak Senja dan menanamkan benihnya dirahim Senja. "Saya mohon, jangan memperlakukan Saya seperti ini. Saya punya salah apa pada Bapak? Laki-laki sejati tidak akan menggunakan kekuatannya untuk memaksakan dirinya terhadap seorang perempuan. Saya mohon jangan mengotori saya. Demi Allah saya bersumpah, saya tidak seperti apa yang ada dalam pemikiran, Bapak." (Senjahari Semesta Alam) "Salah kamu adalah, karena kamu telah menjadi duri dalam daging dalam rumah tangga adik saya! Kamu fikir saya tidak tahu akan hubungan terlarang kamu dengan Abimanyu? Kalian berdua itu incest, dan itu amat sangat menjijikkan! Kita lihat saja, setelah ini kamu masih bisa memandang dunia dengan kepala tegak, atau kamu akan melata seperti ular di kaki Saya!" (Halilintar Sabda Alam)
Sampul Novel Kekayaanku, Keluarga Benalunya
9.0
Sebagai dokter bedah saraf kaya, aku membiayai suami kaptenku dan keluarganya yang parasit, bahkan melunasi utang 75 miliar mereka. Namun saat liburan mewah ke Monako, suamiku malah memberikan kursi jet pribadiku pada mantan kekasihnya, Dahlia, dan membuangku ke penerbangan berbahaya. Setelah menyaksikan pengkhianatan mereka di ranjangku sendiri di tengah persekongkolan jahat itu, kini saatnya aku membalas dendam dan menghancurkan segalanya.
Sampul Novel Kesempatan Kedua, Luka Terakhir
9.3
Niat baik berujung petaka. Usai membelikan teh susu pesanan rekan kerja yang hamil, protagonis dituduh sengaja menggugurkan kandungan tersebut. Fitnah di rumah sakit ini memicu kemarahan keluarga korban yang memukulinya dan menuntut ganti rugi dua miliar rupiah. Demi keadilan, ia melaporkan kasus ini ke polisi dan bersiap menuntut balik. Namun, sebelum hukum bertindak, ia tewas mengenaskan setelah didorong oleh ibu mertua korban hingga dilindas truk.