APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Sah Hanya Dianggap Pembantu

Istri Sah Hanya Dianggap Pembantu

Aluna Maheswari menderita akibat sikap dingin Renandio serta pengkhianatan keluarga besarnya. Usai menggugat cerai, ia bertemu Dion Ardianata, duda kaya yang membesarkan putranya, Elvano, sendirian. Hubungan mereka bermula saat Aluna menyelamatkan Elvano dari kecelakaan. Bocah yang merindukan kasih sayang ibu itu pun mulai melekat padanya. Meski benih cinta tumbuh, masa lalu yang kelam dan orang-orang yang iri menjadi penghalang besar bagi kebahagiaan baru mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Beberapa hari berlalu sejak pertemuan Aluna dengan Elvano dan Dion. Namun pikirannya masih saja tertambat pada bocah kecil itu-dan tatapan mata pria yang seolah mampu membaca luka yang ia sembunyikan selama ini.

Aluna duduk di bangku kayu taman yang sama, tempat ia menyelamatkan Elvano. Angin sore menggoyangkan helaian rambutnya yang panjang dan terurai, sementara suara tawa anak-anak yang bermain di kejauhan mengisi udara. Tapi bukan tawa yang membuat hatinya hangat, melainkan suara langkah kecil yang ia kenali kini mendekat perlahan.

"Boleh aku duduk di sini?" tanya Elvano pelan, menatapnya dengan pandangan polos.

Aluna menoleh, tersenyum. "Tentu saja. Kamu datang sendiri?"

Elvano mengangguk. "Ayah sedang di mobil. Tapi aku lihat kamu di sini, jadi aku lari duluan."

Aluna tertawa kecil. "Kamu nakal ya."

Elvano menunduk, seperti takut dituduh nakal sungguhan. Tapi kemudian ia berbisik, "Aku cuma pengen ketemu tante Aluna. Di sekolah... aku dimarahi temanku lagi. Mereka bilang aku anak yang nggak laku diurus ibunya."

Kalimat itu menampar nurani Aluna. Ia menatap Elvano lekat-lekat, berusaha menyembunyikan emosi yang tiba-tiba melonjak di dadanya.

"Ayah bilang aku kuat. Tapi kadang... aku juga pengen ada ibu yang bisa peluk aku pas pulang sekolah," lanjut Elvano lirih.

Aluna memeluknya tanpa berkata-kata. Pelukan itu bukan hanya untuk menghibur Elvano, tapi juga untuk dirinya sendiri-seolah hatinya tahu bahwa ia dan anak ini saling menyembuhkan luka satu sama lain.

"Maaf ya, aku jadi nangis," gumam bocah itu sambil menyeka air matanya dengan lengan baju.

"Tidak apa-apa, Elvano. Menangis bukan berarti kamu lemah. Itu berarti kamu berani menunjukkan perasaanmu. Dan itu... itu jauh lebih kuat dari pura-pura bahagia."

Seseorang berdiri tak jauh di belakang mereka. Dion.

Pria itu menatap keduanya, namun kali ini tanpa ragu. Tatapan matanya dalam, tapi ada sesuatu yang berubah. Ia tak lagi hanya berterima kasih karena nyawa anaknya diselamatkan. Kini ada sorotan berbeda di matanya-ketertarikan, rasa penasaran, dan... harapan?

"Maaf kalau aku mengganggu," ucap Dion sambil melangkah pelan.

Aluna berdiri, sedikit canggung. "Tidak sama sekali. Elvano tadi tiba-tiba muncul."

Dion mengangguk, lalu berjongkok di depan anaknya. "El, kamu cerita lagi ya ke Tante Aluna?"

Elvano mengangguk dengan polos. Dion menatap Aluna sejenak sebelum akhirnya berkata, "Kamu punya cara yang tenang dalam menghadapi dia. Bahkan aku sebagai ayah kadang kehabisan cara."

Aluna menatap Dion, senyum tipis menggantung di bibirnya. "Mungkin karena aku tahu rasanya ingin didengar... tapi tidak ada yang peduli."

Dion tampak tertegun. Kalimat itu menembus lapisan tenang yang selama ini ia pertahankan.

"Aku punya kedai kopi kecil tak jauh dari sini. Kalau kamu tidak keberatan, mungkin... kamu bisa mampir besok sore?" tawar Dion dengan nada rendah.

Aluna ragu sejenak. Tapi kemudian ia mengangguk pelan. "Baik. Aku akan coba datang."

Dan saat Dion mengantar pulang Elvano, Aluna duduk kembali di bangku itu, memandangi langit sore yang mulai memerah. Entah kenapa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa... tidak sepenuhnya sendiri.

Kedai kopi milik Dion ternyata jauh dari bayangannya. Alih-alih mewah dan dingin seperti image pria itu, kedai ini hangat, dengan interior kayu dan aroma kopi yang menenangkan. Aluna tiba di sana menjelang pukul lima sore. Di sudut kedai, Dion sudah menunggu-tanpa jas mahal, hanya mengenakan kemeja putih digulung hingga siku. Ia tampak... manusiawi. Bukan lagi pria dingin dengan kekuasaan dan uang, melainkan seseorang yang menyimpan luka di balik senyum tenangnya.

"Aku tidak tahu kamu suka suasana begini," ujar Aluna setelah duduk.

Dion tersenyum, menuangkan kopi dari teko. "Kopi ini bukan tentang bisnis. Ini tentang pelarian."

Aluna mengangguk pelan. "Kita sama, ternyata."

Dion menatapnya, kali ini lebih lama dari sebelumnya. "Apa kamu mau cerita, Aluna?"

Pertanyaan itu membuat napas Aluna tercekat. Tidak banyak orang yang bertanya seperti itu. Dan lebih sedikit lagi orang yang benar-benar ingin mendengarnya.

"Aku dulu istri dari pria yang semua orang kira sempurna. Kaya, sopan di depan umum. Tapi di balik pintu rumah, dia... membunuhku perlahan. Dengan kata-kata. Dengan sikap dingin. Dengan pengkhianatan." Aluna berhenti sebentar, menahan suara gemetar. "Keluargaku pun lebih memilih membelanya. Karena uang. Karena status. Aku... keluar dari pernikahan itu tanpa punya siapa-siapa."

Hening mengalir di antara mereka. Dion tidak menyela, tidak memberi nasihat. Ia hanya mendengarkan.

"Aku juga ditinggal," akhirnya Dion bicara. "Istriku pergi karena dia menganggap aku terlalu sibuk. Terlalu serius. Dia bilang, cinta itu harus ringan. Sementara aku terlalu... berat untuk dia. Dia tidak hanya meninggalkan aku. Dia meninggalkan Elvano. Seorang ibu yang tak pernah menoleh ke belakang."

Aluna menunduk, menahan emosi yang membuncah.

"Luka kita berbeda... tapi rasanya sama, ya?" tanya Dion.

Aluna mengangguk pelan. Matanya mulai basah. "Dan mungkin karena itulah... kita bisa saling melihat."

Malam itu, ketika Aluna kembali ke apartemen kecilnya, ia menatap pantulan wajahnya di cermin. Ada sesuatu yang berbeda. Tidak, bukan karena pria tampan yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya. Tapi karena, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa dirinya... tidak rusak. Ia bukan wanita yang gagal, bukan juga istri yang tidak layak dicintai.

Ia adalah seorang perempuan yang pernah jatuh, pernah dihancurkan, tetapi perlahan-dengan tangan mungil Elvano dan tatapan dalam Dion-ia sedang belajar berdiri kembali.

Dan ia tahu, luka-luka itu belum hilang. Tapi mungkin... kali ini ia tidak harus menyembuhkan diri sendirian.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Hot Desire Mr. Thompson
9.4
Pernikahan perjodohan mempertemukan James dengan Elvira, sosok yang langsung membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Pesona Elvira serta kenangan malam pertama di limosin memicu obsesi mendalam pada diri James. Di sisi lain, Elvira sama sekali tidak mengetahui bahwa suaminya adalah seorang miliarder. Hubungan pernikahan mereka pun mulai diguncang prahara besar sejak kehadiran mantan kekasih James. Sanggupkah ketulusan cinta mereka bertahan melewati cobaan orang ketiga ini?
Sampul Novel Kembaran Obsesinya
8.5
Baskara Adinata menyewa jasaku, tetapi ketulusanku dibalas pengkhianatan. Dia memakai teknologi deepfake demi mengubah wajahku mirip kakak tiriku, Karininia, yang dia gila-gilaan puja. Saat Karininia memfitnahku, Baskara membiarkanku disiksa sampai tanganku hancur lalu menjeboskanku ke penjara. Demi warisan ibu, aku menerima tawaran ayah tiri untuk menikahi pria asing bernama Keenan Adiwijaya. Aku pun pergi jauh demi memulihkan hidup dari pria yang menjadikanku mainan.
Sampul Novel Lupakan Aku
8.0
Sita merajut kisah cinta yang indah dengan Raka, cinta pertamanya semasa kuliah. Di balik kebahagiaan mereka, sebuah tembok besar menghadang. Sita yang berasal dari keluarga biasa menyadari perbedaan status sosial yang sangat jauh dengan Raka, sang pewaris pengusaha kaya. Perbedaan kelas ini menjadi ujian berat bagi hubungan mereka. Sanggupkah cinta mereka bertahan tanpa restu, ataukah jurang kasta ini akan memisahkan keduanya untuk selamanya?
Sampul Novel My Sweet Dangerous Logan
9.6
Annabella dan miliarder Logan Mason hidup di dua dunia yang berbeda. Namun, demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan, Annabella nekat menawarkan kesepakatan pernikahan kontrak kepada Logan. Hubungan yang semula murni demi bisnis dan keuntungan timbal balik ini perlahan berubah. Di tengah kepura-puraan yang mereka jalani, benih-benih cinta yang tulus mulai tumbuh, membuat keduanya kini terjebak dalam perasaan yang tak lagi bisa mereka pungkiri.
Sampul Novel Nyawa Dibalas Nyawa
8.8
Dua tahun silam, Indah dipaksa mengakhiri hubungan cintanya demi menikahi Rendra, tunangan adiknya yang tunanetra. Kini, setelah penglihatan sang suami miliarder pulih, keluarganya justru menuntut Indah mengembalikan posisi tersebut kepada Mella. Dianggap tidak layak menyandang status Nyonya Saputra oleh ayahnya sendiri, Indah tidak lagi peduli. Di ambang kematian yang kian mendekat, ia rela melepaskan segalanya demi menyaksikan pembalasan setimpal bagi mereka setelah dirinya tiada.
Sampul Novel Saat Hati Menyesal
9.4
Diabaikan saat keguguran demi klien wanita suaminya, Richard, sang istri menanggung kepedihan mendalam. Setelah dikhianati berulang kali, ia memilih bercerai dan pergi. Penyesalan Richard yang terlambat tidak lagi berguna, terutama saat identitas asli sang mantan istri sebagai pemilik perusahaan terungkap ke publik. Kini, ia telah bahagia dengan kekasih barunya, sementara Richard berakhir menjadi manusia vegetatif dan meninggalkan tumpukan utang besar bagi wanita selingkuhannya.