APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Mandul, Tak Pernah dicintai

Istri Mandul, Tak Pernah dicintai

Tiga tahun Alina bertahan dalam pernikahan dingin bersama Rayhan, sembari menahan caci maki keluarga yang menuduhnya mandul. Impiannya memiliki anak sirna karena sang suami sama sekali tidak menginginkan kehadirannya. Di tengah sikap acuh tak acuh Rayhan dan rasa hampa tanpa cinta, Alina akhirnya mencapai batas kesabaran. Di rundung kepedihan mendalam, ia mulai meragukan masa depan hubungan mereka. Haruskah Alina tetap bertahan dalam pernikahan yang terus menorehkan luka?
Bab
Bagikan

Bab 2

Alina duduk dalam kesunyian setelah Rayhan pergi bersama Sita. Meja makan yang sebelumnya tampak penuh dengan harapan kini terasa begitu kosong. Makanan yang ada di depannya hanya menjadi objek yang menunggu untuk disentuh, namun tak ada hasrat untuk menyentuhnya. Semua terasa tidak berarti lagi.

Hatinya dipenuhi perasaan yang tak bisa dijelaskan, perasaan yang bercampur aduk antara amarah, kecewa, dan kebingungan. Ia sudah mencoba bertahan, berusaha mengabaikan semua yang menggores luka, tetapi rasanya semakin sulit. Setiap detik yang berlalu hanya semakin memperjelas bahwa ia terperangkap dalam hubungan yang tak lagi memberinya kebahagiaan.

Setelah beberapa saat, Alina bangkit dan berjalan ke kamar tidurnya. Semua perasaan yang ia coba sembunyikan kini datang menyerang tanpa ampun. Ia duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang terbuka, membiarkan angin malam mengalir masuk. Ada sesuatu yang begitu sunyi, begitu sepi dalam dirinya.

Pernikahan mereka tak pernah seperti yang ia harapkan. Sejak awal, Rayhan selalu tampak terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Alina tahu ia datang dari keluarga yang mapan dan kaya raya, namun ia tidak pernah menduga bahwa pernikahan mereka akan berjalan seperti ini. Tidak ada kehangatan, tidak ada cinta yang mengalir, hanya rutinitas yang membosankan dan komunikasi yang semakin menipis.

Di luar, suara riuh kota seolah mengingatkannya betapa jauh ia merasa dari dunia yang pernah ia kenal. Dunia yang dulu penuh dengan impian dan harapan. Kini, ia hanya terjebak dalam kenyataan yang menghancurkan.

Alina teringat kembali dengan kata-kata yang dilontarkan Rayhan beberapa hari yang lalu, saat mereka berbicara tentang anak.

"Aku tidak ingin punya anak, Alina. Tidak sekarang."

Kata-kata itu datang begitu datar, tanpa penyesalan atau keinginan untuk memahami perasaannya. Ia ingin berbicara lebih jauh, menanyakan mengapa, tapi Rayhan sudah terlalu jauh, terlalu terkunci dalam dunianya sendiri.

Alina menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikirannya yang gelap. Tetapi, semakin ia berpikir, semakin ia merasa terperangkap dalam hubungan yang hanya berjalan karena kewajiban, bukan karena cinta.

Keesokan harinya, Alina memutuskan untuk keluar dari rumah sejenak. Ia butuh waktu untuk menenangkan pikirannya, mencari sesuatu yang bisa mengembalikan semangat hidupnya yang hampir hilang. Ia pergi ke taman kota, tempat yang dulu sering ia kunjungi saat pertama kali datang ke kota ini. Di sana, ia bisa merasakan angin segar yang menyejukkan, melihat orang-orang yang berjalan dengan penuh kebahagiaan. Itu adalah pemandangan yang semakin jarang ia rasakan di rumahnya sendiri.

Langkah kakinya terhenti saat ia melihat seorang wanita muda duduk di bangku taman, dengan mata yang penuh dengan harapan. Alina tidak bisa mengabaikan rasa penasaran yang menyentuh hatinya. Wanita itu tampak begitu familiar, meskipun ia tidak bisa mengingat di mana ia pernah melihatnya.

Dengan langkah ragu, Alina mendekatinya dan duduk di sebelahnya. Wanita itu menoleh dan tersenyum, mengungkapkan senyum yang penuh dengan kehangatan, sebuah senyum yang begitu langka di dunia yang kini ia jalani.

"Maaf, boleh aku duduk di sini?" tanya Alina dengan suara pelan, merasa canggung.

Wanita itu tersenyum lebih lebar, "Tentu, silakan."

Alina duduk, merasakan ketenangan yang aneh. Di tempat ini, dengan wanita asing ini, ia merasa sejenak lepas dari tekanan yang selalu ada dalam hidupnya.

"Namaku Sofya," kata wanita itu dengan nada ramah.

"Alina," jawabnya singkat, merasa sedikit lega berbicara dengan seseorang yang tak mengenalnya.

Sofya menatap Alina dengan penuh perhatian. "Kamu terlihat seperti ada yang mengganggu pikiranmu. Apa kamu baik-baik saja?"

Alina terdiam sejenak, menimbang-nimbang apakah ia bisa membuka dirinya pada orang yang baru ditemui. Tapi, ada sesuatu dalam tatapan Sofya yang membuatnya merasa nyaman. Tanpa sadar, kata-kata itu meluncur begitu saja.

"Saya... Saya merasa terperangkap dalam pernikahan yang tak pernah saya inginkan. Rasanya semua hanya rutinitas, tak ada cinta, tak ada perhatian. Saya lelah..." suara Alina mulai bergetar saat ia mengungkapkan perasaan yang selama ini dipendamnya.

Sofya mendengarkan dengan seksama, tanpa menyela. Setelah beberapa detik, ia berbicara dengan lembut, "Kadang, kita memang terjebak dalam situasi yang sulit. Tapi, kamu punya hak untuk bahagia, Alina. Jika pernikahan itu tidak membuatmu bahagia, mungkin sudah waktunya untuk bertanya apakah kamu masih bisa bertahan, atau jika kamu harus mencari jalan keluar."

Alina menunduk, merenungkan kata-kata Sofya. Sudah berapa lama ia mencoba bertahan hanya karena rasa tanggung jawab, hanya karena merasa itu adalah kewajiban?

"Saya takut," Alina mengakui, suaranya hampir berbisik. "Saya takut jika saya melepaskan, saya akan kehilangan segalanya. Saya takut jika saya memilih untuk bahagia, saya akan menyakiti banyak orang."

Sofya menatapnya dengan penuh empati. "Terkadang, bahagia itu bukan tentang tidak menyakiti orang lain, tapi tentang tidak menyakiti dirimu sendiri. Kamu tidak bisa mengorbankan kebahagiaanmu hanya untuk menyenangkan orang lain."

Alina terdiam, memikirkan kata-kata itu. Selama ini, ia selalu berusaha mengorbankan dirinya untuk menjaga perasaan orang lain, terutama Rayhan. Tapi sekarang, setelah mendengarkan Sofya, ia merasa ada sesuatu yang mulai terbuka dalam dirinya.

"Terima kasih," katanya pelan, seolah kata-kata itu bisa membawa sedikit kelegaan di hatinya.

Sofya tersenyum, "Terkadang, kita perlu keluar dari bayang-bayang ketakutan kita dan mulai melihat bahwa kebahagiaan itu bukan sesuatu yang bisa kita cari di luar, tapi harus dimulai dari dalam diri kita sendiri."

Alina mengangguk perlahan, merasa ada secercah harapan baru yang muncul dalam hatinya. Mungkin inilah saatnya untuk memilih jalannya sendiri, untuk mencari kebahagiaan yang sudah lama ia tinggalkan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dikhianati Saat Hati Masih Percaya
9.3
Nayara terpaksa menikah siri dengan Darryl Adraya demi melunasi utang. Kejadian ini membuat Arkan Ravendra kehilangan calon pengantinnya dan bersumpah untuk merebut Nayara kembali. Di sisi lain, Laras yang merupakan istri sah Darryl merasa dikhianati hingga terjerumus ke dalam perselingkuhan. Kini, Nayara terjebak di antara obsesi keluarga Arkan dan hinaan keluarga Darryl. Akankah ada cinta yang tumbuh di tengah paksaan, atau justru kehancuran yang tersisa akibat balas dendam?
Sampul Novel Gadis Lugu Menemukan cinta Sejatinya
7.9
Setelah dikhianati oleh tunangan yang berselingkuh dengan gadis miskin yang pernah ditolongnya, hidup sang protagonis hancur. Ia dipaksa mendonorkan ginjal hingga kehilangan janinnya, lalu ditipu hingga keluarganya terlilit utang besar. Tragedi ini memaksa ia dan ibunya mengakhiri hidup dengan melompat dari gedung. Namun, keajaiban datang saat ia terbangun kembali di masa lalu, tepat sepuluh menit sebelum keputusan fatal untuk mendanai gadis tersebut dibuat.
Sampul Novel Obsesi Kencan Buta Sang Pewaris
8.0
Niat Livia menolong sahabatnya dengan menggantikan posisi di kencan buta malah berujung petaka. Kepribadiannya yang ceria justru memicu obsesi mendalam pada diri Damien Remington, sang pewaris tunggal konglomerat yang dingin dan misterius. Keadaan kian pelik ketika Livia menghilangkan jam tangan mewah milik Damien. Kini ia terseret dalam jerat kekuasaan sang miliarder, berjuang keras melepaskan diri dari kungkungan obsesi Damien yang kian gelap dan mengikatnya.
Sampul Novel Pengkhianatan Istriku
9.7
Danu ditinggalkan begitu saja oleh Sakira, istrinya yang lebih memilih mengejar lelaki bergelimang harta dan tega membuang bayi mereka. Namun, takdir berbalik kejam pada Sakira. Usai didepak oleh suami barunya, ia kini hidup melarat sembari berjuang melawan kanker paru-paru yang menggerogoti tubuhnya. Impian akan kemewahan sirna tak bersisa, menyisakan penyesalan teramat dalam di tengah kondisi fisiknya yang kian ringkih dan kehancuran finansial yang total.
Sampul Novel Suami Tiga Bulan
8.5
Manda, seorang direktur sukses berusia 35 tahun, terancam dicopot dari jabatannya jika tidak cepat menikah dan punya anak demi memenuhi syarat sang Oma. Di tengah keputusasaan, ia menawarkan kesepakatan gila kepada Adam, sekuriti tampan yang sedang terlilit utang. Manda bersedia melunasi seluruh utang Adam, asalkan pria itu mau menjadi suaminya selama tiga bulan dan membuatnya hamil. Akankah pernikahan kontrak ini berhasil menyelamatkan karier Manda?
Sampul Novel Suamiku Menuduhku Selingkuh
9.1
Pertemuan santai dengan sahabat mendadak berubah menjadi kekacauan brutal saat meja mereka dihantam hingga terbalik. Sekelompok orang asing tiba-tiba mengepung dan melontarkan tuduhan perselingkuhan keji sambil merekam kejadian tersebut. Ketika situasi memanas hingga temannya terluka akibat hantaman kursi, sang istri bertindak cepat untuk melindunginya. Ia segera menghubungi polisi serta pengacara guna memproses perceraian dengan suaminya, Ben, tanpa memberinya sepeser pun harta.