APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Insafnya Seorang Gigolo

Insafnya Seorang Gigolo

Menghadapi dunia jasa yang penuh godaan, seorang pria tetap kokoh memegang prinsip profesionalisme tinggi. Baginya, kepuasan mutlak setiap pelanggan adalah prioritas yang tidak bisa ditawar. Kisah ini menyoroti dedikasi totalnya dalam menyajikan pelayanan terbaik. Lewat setiap interaksi yang terjadi, ia membuktikan komitmen kuat untuk selalu menjaga standar kualitas layanan yang maksimal dalam pekerjaannya sehari-hari.
Bab
Bagikan

Bab 1

Jam menunjukkan pukul 10.00 pagi, biasanya penghuni kos berkumpul di ruang tamu, namun kini tidak ada satupun di antara mereka. Rasa penasaran menyeruak dalam diri, dan akhirnya aku segera menelpon Mbak Lala.

"Tut...tut..." 

"Hallo, Mbak?" 

"Hallo, Dek. Ada apa?" jawab Mba Lala.

"Lagi di mana, Mbak?" tanyaku.

"Aku di kos, kenapa?" jawabnya.

Aku terdiam sejenak, mencoba merangkai kata demi kata. Mengapa Mbak Lala berbohong kepadaku? 

Mungkinkah dia belum tahu bahwa aku kembali lebih cepat dari rencana? Aku mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan pembicaraan. 

"Tapi, kenapa tidak ada penghuni lain di sini, Mbak?" 

"A...pa... Kamu sudah pulang? Bukannya masih ada tiga hari lagi sebelum kontrakmu selesai?" Suaranya berubah, lebih berat dan tampak gelisah. 

"Itu tidak penting, yang lebih penting kenapa Mbak bohong?" tanyaku.

"Mbak segera ke sana! Nanti Mbak jelaskan." Jawabnya.

Seribu tanya menggelayut di kepala. Ada apa sebenarnya? Hatiku terasa berdebar, menanti penjelasan yang akan mengurai benang kusut yang terjadi di sini. Aku takut akan kebenaran yang sedang bersembunyi di balik kesunyian pagi ini.

Tanpa menjawabnya, aku segera mematikan teleponku. Sepertinya aku ketinggalan peristiwa penting. Sambil menunggu kedatangannya, aku kembali keluar untuk menemani Kak Anti dan Valen, sahabatku yang masih duduk di taman sambil memperhatikan sekeliling kompleks ini. 

"Bro, tangan lu beneran terkilir?" tanyaku dengan nada prihatin.

"Iya nih, bukan pertama kali sih. Biasanya kalau lagi di kampung nenek, sekali ditiup langsung lurus aja," jelas Valen sambil meringis kesakitan. 

Sebenarnya, aku masih merasakan sakit di sekujur tubuhku. Namun, aku berusaha tegar agar Kak Anti tidak terlalu khawatir. 

"Kita ke rumah sakit sekarang," kataku, berubah pikiran. 

"Masih bisa nyetir, kan?" tanyaku lagi. 

"Bisa saja. Kalau begitu, kita berangkat sekarang juga. Takutnya nanti susah baliknya," jawab Valen.

Sebelum berangkat, aku sempat mengirimkan pesan singkat ke Mbak Lala, namun tak ada balasan darinya. Lima belas menit kemudian, akhirnya kami sampai di rumah sakit umum di kota ini. Karena Valen termasuk pasien darurat, begitu tiba di depan pintu rumah sakit, aku langsung berlari ke petugas kesehatan. 

Tak berapa lama, Valen sudah ditangani oleh tim medis. Aku sebenarnya enggan mendapatkan perawatan di rumah sakit ini, namun Kak Anti memintaku untuk segera diobati di sini saja. Sekitar satu jam kemudian, aku keluar dengan beberapa perban yang hampir memenuhi wajahku. Sementara itu, Kak Anti masih tetap duduk sambil asyik mengutak-atik ponselnya. 

"Sok sibuk, padahal nggak punya pacar," celetukku ketika berdiri di sampingnya. 

"Sirik aja deh jadi orang," sahutnya dengan wajah tengil. 

Tiba-tiba, dalam lamunan, aku melihat bayangan Muti dan si duo kembar di kejauhan. Rasa penasaran menyergap, lantas aku menarik lengan Kakakku untuk mengikutiku. "Mau kemana?" tanyanya. 

"Ikuti saja dulu," jawabku sambil menariknya perlahan.

Awalnya, mereka seakan tidak mengenalku, jadi aku sedikit iseng bermain peran dengan mereka. 

"Pagi, Tante. Bolehkah saya bertanya?" ucapku dengan tampang polos. 

Meskipun ekspresi wajahku terlihat biasa saja, namun dalam hati, aku berusaha menahan tawa karena melihat wajah Muti yang langsung geram saat aku memanggilnya 

"Tante". 

"Apaan?" balas Muti ketus. 

Saat ini, tanganku masih menggenggam lengan Anti, entah dia nyaman atau tidak, tetapi dia tidak berusaha melepaskannya. 

"1 jam berapa ya, Tante?" tanyaku singkat, mencoba memancing reaksi mereka. 

Mereka tampak bingung, mengkerutkan dahinya, namun aku tak tahu apa yang mereka pikirkan. Biasanya, mereka sudah terbiasa dengan pertanyaan seperti itu. 

"Cukiii, apa penampilan aku terlihat seperti wanita sewaan?" ujar Muti kesal.

"Santai saja, Mbak," protes kak Anti tiba-tiba.

"Apa? Kamu mau belain cowokmu itu, ya? Ajarin dia tata krama dong, ini rumah sakit, bukan tempat umum," timpal Muti dengan langkah mendekat, nyaris menyentuh wajah kami. 

Suasana semakin tegang, percikan emosi dan perselisihan mulai meletup-letup, seolah tak ada jalan damai dalam pertengkaran ini.

Aku yang mulai melihat suasana semakin tidak mendukung, jadi aku mengakhiri keisenganku.

"Tante Muti, Mbak Pingka, dan Pingki," celetukku. 

Sejenak Muti keheranan menatapku, "Kamu siapa? Kenapa kamu mengenalku?" tanyanya heran.

"Apakah Tante kenal Alex?" tanyaku dengan harapan mereka langsung bisa menebakku.

" Alex, jadi kamu Alex ? Aku ngambek sama kamu! Masa di usia muda dan cantik ini, kamu panggil aku Tante?!" keluhnya sambil memasang wajah manjanya, yang membuatku tertawa.

"Hehehe, maaf, maaf. Jadi, kalian enggak kangen sama aku?" tanyaku sambil berlagak pede. 

"Enggak!" jawab mereka bertiga kompak, namun tak lama kemudian mereka berebutan untuk memelukku. Tiba-tiba Anti terlihat bingung dan tersingkir sejenak.

Anti ialah kakak kandungku, dan memiliki nama lengkap Risdayanti. Sebenarnya kebanyakan orang-orang memanggilnya Risda, namun aku lebih memilih memanggilnya Anti.

"Kalau mau peluk, antri dong. Enggak enak nih dilihatin orang," protesku hanya sekadar mengejek. 

Mereka pun melepaskan pelukannya dan Kak Anti langsung mengalihkan perhatiannya kepadaku. 

"Lex, itu siapa? Pacar baru kamu?" tanya Pingki sambil melirik Kak Anti. 

"Itu dia...," ucapku yang terpotong. 

"Saya Risdayanti, Mbak. Teman kecil Alex waktu di kampung," jawab kak Anti cepat sambil tersenyum ramah.

Namun, entah mengapa dia tak mampu mengungkapkan secara terus terang bahwa dia adalah kakak kandungku. Padahal aku tak memiliki masalah bila mereka mengetahui kenyataan itu. Tapi, demi mengikuti suasana pembicaraan kami, aku ikuti saja alurnya. 

"Oh, iya! Perkenalkan, aku Mutiara, dia Pingki dan Pingka," jawab Muti sambil memperkenalkan si kembar sekaligus.

"Lex, kamu nggak ketemu Mbak Lala? Tadi dia ke kosan nyusul kamu, loh," tanya Pingka.

"Sebenarnya, tadi, aku berniat menunggunya. Namun, ada temanku yang sedang dalam keadaan darurat. Aku harus segera membawanya kerumah sakit," jawabku.

"Habis berkelahi lagi pastinya kalian! Lihat saja mukanya sudah seperti mumi," celetuk Muti menebak.

"Hehe, hanya melakukan perlawanan saja kok," jawabku santai.

Tiba-tiba teringat sesuatu, aku bertanya, "Oh ya, lupa! Kalian ke sini jengukin siapa sih?"

Tepat saat itu, terdengar langkah kaki di belakangku. Dengan spontan, aku berbalik dan ternyata Mbak Lala dengan langkah tergopoh-gopoh mendekatiku.

"Ni anak nggak sabaran am...," ucapannya terpotong ketika ia sudah berada di depanku. Wajahnya berubah seketika, begitu melihatku. 

"Kamu kenapa, Dek? Habis berantem lagi?" tanyanya penuh kekhawatiran. 

"Husstt, itu nggak penting, Mbak. Yang pengin aku tanyain sekarang, kalian semua kesini jengukin siapa, sih?" tanyaku dengan nada menekan. 

"Rina, Dek. Rina udah ditemukan. Tapi keadaannya masih koma sampai saat ini," ujar Mbak Lala, kemudian langsung duduk di kursi besi yang disiapkan untuk setiap penjenguk.

Degggghhhh... 

Sesaat, detak jantungku seakan berhenti seketika mendengar ucapan Mbak Lala. Entah mengapa, saat mendengar kata 'koma', tubuhku langsung lemah tak berdaya. Aku tak mampu menahan kesedihan yang melanda, perlahan air mataku tercipta dan mulai menetes di sela-sela mataku.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Dalam Keheningan
9.3
Aria menjalani kehidupan yang sunyi sebagai seorang tunawicara yang terabaikan sejak lahir. Takdir membawanya menjadi nyonya di Keluarga Kurnia secara tidak sengaja, meski ia sadar sang suami, Ian, tidak pernah menaruh hati padanya. Situasi kian pelik ketika Letty, cinta pertama Ian, kembali dari luar negeri dan kembali dekat dengan suaminya. Menyadari posisinya yang kian tergeser, Aria memilih menyembunyikan kabar kehamilannya dan bersiap untuk mundur dari pernikahan tanpa cinta tersebut.
Sampul Novel Fanboy Romantis
8.5
Di depan kamera, Fayrin adalah aktris idola yang tampak sempurna. Namun, di balik layar, ia memiliki kepribadian angkuh yang membuat Kiky merasa sangat muak. Hubungan mereka berubah saat Kiky mulai mengenal sisi kelam sang artis lebih dalam. Rasa benci itu perlahan terkikis, berganti menjadi perasaan cinta yang kuat. Kini, Kiky bertekad untuk mendekati Fayrin dan memenangkan hatinya, meski ia harus menghadapi kenyataan sulit tentang perbedaan dunia mereka yang begitu besar.
Sampul Novel Gairah Ranjang CEO Kejam
9.2
Alice Morrigan terpaksa menggantikan sang kakak kembar, Berenice, yang kabur di hari pernikahannya dengan Nicholas Chevalier. Menjadi istri pengganti, Alice justru diperlakukan kejam layaknya budak. Ia kerap menerima siksaan fisik dan cambukan menyakitkan dari sang suami saat di ranjang. Kebebasan serta raga Alice dikungkung habis-habisan oleh Nicholas yang posesif. Di tengah penderitaan tiada akhir ini, sanggupkah Alice bertahan, atau ia akan berhasil meloloskan diri?
Sampul Novel Pernikahan Paksa Dosen Killer
8.2
Demi sebuah tantangan, Aurelia Safira yang polos soal cinta nekat mendatangi tempat misterius. Namun, keputusan itu membawanya pada insiden tak terduga dengan pria asing. Kekacauan hidup gadis 19 tahun ini memuncak saat ia dipaksa menikahi Darius Aksara, dosen killer yang paling ia takuti. Setelah menikah, Lia baru menyadari bahwa suaminya menyimpan rahasia kelam dan profesi yang mengancam nyawa. Kini, ia terjebak dalam pernikahan penuh bahaya.
Sampul Novel Reinkarnasi Dewi Kemem
8.2
Yi Yuen menjalani takdir sebagai reinkarnasi Dewi Keabadian demi mengungkap jati dirinya yang sejati di tengah badai intrik dan pengorbanan. Di sisi lain, sebuah momen manis tercipta saat Zhi Ruo terbangun dalam dekapan hangat sang suami, Li Quan. Lewat belaian lembut penuh kasih pada wajah Li Quan, kedekatan mereka begitu terpancar nyata. Meski sempat tersipu malu, kecupan hangat Li Quan menegaskan ikatan cinta mereka yang erat, mengakhiri penantian panjang dengan kebahagiaan yang mendalam.
Sampul Novel Sebuah Pengabdian
9.3
Impian Hamid menjadi tentara pupus seketika saat orang tuanya memaksa dirinya menjalani pernikahan dini yang tak pernah ia inginkan. Walau diselimuti amarah karena harus menikahi wanita asing, ia akhirnya mengalah demi berbakti. Siapa sangka, kehidupan pernikahan ini justru mendewasakan Hamid dan menuntunnya memahami arti pengabdian kepada Tuhan. Namun, badai ujian kini mulai mengancam komitmen mereka. Mampukah Hamid dan sang istri bertahan melewati cobaan demi menjadi abdi sejati?